Beranda > What I See > Perangkap Hoax

Perangkap Hoax

Fenomena hoax menjadi subur di Indonesia. Apalagi di saat penyelenggaraan demokrasi seperti saat ini, hoax menjadi, meminjam bahasa Arthur Schopenhauer, “intellectual poison” yang merajalela. Tidak ada yang menjadi “antidote” selain klarifikasi, cara ini adalah cara yang dipakai ketika informasi hoax menyebar. Hoax mungkin adalah virus, yang sulit dimatikan dan dimusnahkan. Mereka datang bergerombol, menyebar, dan membuat bencana informasi. Hal semacam ini telah terjadi di dunia ekonomi, dan sudah mulai menyebar di dunia perpolitikan Indonesia.

Hoax muncul karena adanya ketidakpastian informasi yang dimiliki oleh pengguna. Mereka umumnya tidak sabar dan tidak kritis dalam memilah informasi yang dibutuhkan. Hoax merajalela juga karena ketergesa-gesaan yang hadir di dalam dunia instan, mengolah informasi sedemikian cepat tanpa melalui proses validasi yang terjadi di dalam dunia pikiran. Ada proses yang disingkirkan ketika mengolah informasi, dan ini didukung oleh teknologi yang tanpa saring-menyaring langsung menyebarkan hoax dengan satu jari.

Ketika Enron jatuh, informasi palsu menyebar di pasar saham. Bekerja sama dengan auditor independen, Arthur Andersen, Enron menyebar kebohongan melalui celah akuntansi yang ada dan tidak diketahui ranah publik, dan kemudian diubah menjadi informasi. Tidak sedikit yang mengalami kerugian. Atau kisah mengenai Lehman Brothers, yang juga jatuh karena informasi hoax yang direngkuh demi kepentingan korporasi. Keduanya kini telah hilang dan dikenal dengan skandal, bukan lagi perusahaan atau korporasi yang terkenal.

Hoax adalah primadona untuk menjatuhkan lawan. Jika Black Campaign adalah berusaha menjatuhkan lawan melalui pernyataan-pernyataan tercela, rasis, dan berbau suku, ras, dan agama, maka hoax bertujuan untuk membohongi fakta. Kebenaran dijauhkan dari penerima informasi, dan digantikan dengan kebohongan. Tujuannya satu, yaitu membentuk di dalam pikiran setiap penerima informasi opini-opini palsu yang diharapkan akan memberikan keuntungan, yaitu kuasa terhadap pikiran. Hoax telah menjadi komoditas masa kini yang dilawan dengan “verifikasi” di media massa, atau media sosial, atau media yang diharapkan dapat menghentikan hoax menjalar. Ini adalah bentuk pengobatan terhadap hoax yang eksis.

Ada beberapa artikel yang menulis bahwa senjata utama melawan hoax adalah membaca. Namun, hoax justru hadir melalui sarana bacaan. Survey mengenai rendahnya minat membaca masyarakat tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan hoax, karena hoax muncul lewat bacaan melalui media apa saja, sehingga hoax bisa diterima sebagai informasi. Jika membaca buku adalah yang dimaksud, sebagai objek bacaan, untuk melawan hoax, maka kita harus menyimak kutipan dari Schopenhauer bahwa “Hence the numberless bad books, those rank weeds of literature which extract nourishment from the corn and choke it… They are not only useless, but they do positive harm” (oleh karena banyaknya buku-buku yang buruk, gulma-gulma literatur yang mengambil nutrisi dari jagung dan mencekiknya… Buku-buku yang buruk bukan saja tidak berguna, tapi juga positif berbahaya). Schopenhauer memperingatkan kita bahwa di pasar literatur pun, yang bagi kita dapat menjadi sumber untuk memerangi hoax, terdapat pula yang tidak benar, yang hoax pula. Schopenhauer menggambarkan hal ini pada masanya mengenai buku-buku yang buruk, yang bertujuan hanya untuk keuntungan semata ketimbang menjadi pendorong daya pikir, “Nine-tenths of the whole of our present literature aims solely at taking a few shillings out of the public’s pocket, and to accomplish this, author, publisher, and reviewer have joined forces” (Sembilan per sepuluh dari seluruh literatur kita saat ini bertujuan utama untuk mengambil uang dari kantong masyarakat, dan untuk mencapainya, penulis, penerbit, dan peninjau telah bekerja sama). Peringatan ini menjadi lampu kuning bagi kita. Hoax juga bisa hadir di dalam dunia literatur. Tanpa kedalaman pikiran dan filter yang memadai, maka bukan tidak mungkin kita pun ikut terjangkiti hoax dari apa yang kita baca, baik itu berupa buku ataupun media.

Beberapa kawan saya, yang notabene, bergelar Sarjana dan Magister, ikut terjangkiti virus hoax. Kemudahan teknologi dan turunnya budaya mengkritisi informasi yang kita dapatkan – walau demikian, ada satu keanehan, jika informasi fakta ataupun hoax yang bertentangan dengan “kultus” pikiran mereka, tidak segan mereka akan menunjuk tangan dan berkata hoax, ataupun rajin mencari kebenaran informasi tersebut – membuang proses yang paling penting, validasi. Di dalam dunia informasi, informasi yang valid adalah suatu manfaat yang berguna ketika membahas suatu perkara, strategi, ataupun perencanaan. Validitas memberikan kita kecermatan dan keakuratan sejauh mana informasi itu dapat kita percaya, paling tidak, dapat kita perlakukan. Makin valid sebuah informasi yang kita dapatkan, maka semakin minimal kesalahan yang dapat kita ambil. Termasuk kesalahan dalam menciptakan pemikiran dan polanya.

Membaca buku adalah salah satu cara untuk menangkal hoax, bukan satu-satunya, dan membaca buku juga harus diperhatikan mengenai buku apa yang kita baca. Suatu kali saya berbincang dengan seorang pemuka agama yang senang sekaligus prihatin soal orang-orang yang mulai rajin membaca buku. Senang, karena satu per satu jemaat di tempat di mana beliau melayani tertarik membaca buku dan terlibat diskusi-diskusi kecil. Beliau prihatin, ketika mereka mulai merasa diri eksklusif dan merasa tahu segalanya, padahal buku yang mereka baca pun validitasnya diragukan karena hanya berasal dari satu-dua buku semata. Mereka belum bisa memilah atau mengkritisi mana informasi hoax, bukan informasi, dan yang benar-benar informasi. Karena semuanya ditelan mentah-mentah dan dikeluarkan mentah-mentah (melalui forum diskusi).

Hal yang lain yang bisa membuat hoax berkembang melalui buku adalah subjektivitas si pembaca. Artinya, pembaca mengambil informasi yang disesuaikan dengan persepsinya. Persepsi itu hadir melalui akumulasi fakta, keberadaan lingkungan, informasi baik benar maupun salah, bahkan hoax sekalipun yang membentuk pola-pola pikir subjek dan mengarah pada persepsi dari informasi yang didapatkannya. Persepsi subjek akan selalu membawa kepada apa yang dipersepsikannya benar, dan lainnya adalah keliru ataupun tidak perlu ditanggapi.

Saya pun mendukung jika peningkatan literasi masyarakat adalah salah satu cara untuk menghadapi hoax. Namun, perlu konsisten dan bukan sekedar program belaka. Hoax bukan saja bakal hadir saat ini, tapi juga nanti. Generasi berikutnya harus sadar dan siap menghadapi hoax, bukan kita saja. Peningkatan literasi melalui kampanye budaya baca, jika hanya sekedar program dan cari panggung, atau bentuk usaha menyelamatkan industri, maka kita tidak akan mampu mengatasi hoax. Kutipan Schopenhauer menutup tulisan saya.

… (the) man who writes for fools always finds a large public; and only read for a limited and definite time exclusively the works of great minds, those who surpass other men of all times and countries, and whom the voice of fame points to as such. These alone really educate and instruct… Bad books are intellectual poison; they destroy the mind.

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: