Beranda > What I See > Makna Sejarah

Makna Sejarah

Saya setuju terhadap pendapat filsuf Karl Popper yang menyatakan sejarah tidak ada makna. Dalam bukunya Masyarakat Terbuka dan Musuhnya, Popper mengajukan pertanyaan apakah ada makna dalam sejarah? Sekonyong-konyong hal tersebut adalah suatu tantangan besar terhadap diri kita, secara personal, yang memiliki keterikatan dengan masa lalu. Popper mengungkapkan segala resah dalam hatinya mengenai pemahaman manusia mengenai sejarah. Saya setuju dengan pendapat Popper bahwa sejarah memang tidak memiliki makna, jika, kita membuat sejarah itu sebagai suatu kultus mengenai masa depan.

Kultus mengenai masa depan? Kita, sebagai orang Indonesia, tentu tidak akan pernah lupa slogan yang diucapkan oleh Bung Karno, Jas Merah, jangan melupakan sejarah. Slogan ini menimbulkan pengaruh cukup masif, walau terbilang tidak menyeluruh, masyarakat mulai menyentuh sejarah. Dan sejarah yang paling mudah ditemukan, dan dipelajari, adalah sejarah kekuasaan politik. Satu bagian sejarah yang dikritik oleh Popper karena dianggap absolut sebagai sejarah peradaban manusia. Namun, sejarah yang demikianlah yang paling banyak diakses, diagungkan, dikenang, menjadi romantisme yang mengiang-ngiang di dalam memori kita. Inilah yang dikritik Popper, dan tentu saja saya berada di gerbong dengan Popper.

Popper tentu saja memberikan suatu alasan yang menarik, bagi saya untuk ikut ke dalam gerbongnya. Pertama adalah kekuasaan punya pengaruh terhadap kita semua. Lewat kekuasaan politik, setiap sisi hidup manusia ikut serta ke dalamnya. Setiap peradaban dibangun di atas kekuasaan dunia, dibalik tembok-tembok cemerlang dan kekuatan militer yang hebat, ada kekuasaan di dalamnya. Pemerintahan Presiden Joko Widodo sebagai pengemban tugas rakyat adalah sosok yang paling berkuasa di Indonesia, setiap ucapan dan tindak-tanduknya akan mempengaruhi kita secara langsung dan tidak langsung. Pengaruh, atau kata lainnya kendali, adalah karakteristik yang paling diinginkan oleh setiap manusia. Manusia mana yang setiap ucapan, tindakan, dan tingkah lakunya tidak menginginkan adanya pengaruh, terhadap lingkungan yang terkecil sekalipun, misalnya, yaitu diri sendiri. Lupakan orang lain. Kekuasaan yang kita miliki kita inginkan mempunyai pengaruh terhadap diri kita, entah aspek apa yang harus terpengaruh dalam piramida Maslow kita. Popper tidak membahas rinci mengapa kekuasaan lebih menarik dibandingkan dengan agama. Namun tindak-tanduk kekuasaan lebih tinggi ketimbang sisi religi yang dilihat sebagai alat pendukung kekuasaan. Di dalam sejarah kekuasaan, kepercayaan atau agama, lebih sering menjadi alat legitimasi terhadap kekuasaan. Misalnya kepercayaan terhadap Ra di Mesir dan titisannya, Firaun, atau di Mesopotamia yang setiap kotanya memiliki dewa-dewi kota yang saling melegitimasi kekuasaan pihak penguasa. Di India, Jepang, bahkan di Indonesia, kekuasaan identik terlegitimasi oleh kepercayaan. Kita pernah melihat arca Raja Airlangga dalam rupa Dewa Wisnu, atau kisah-kisah epos India yang digubah oleh raja-raja di Indonesia.

Pendapat Popper yang kedua adalah karena kekuasaan memiliki pengaruh terhadap banyak aspek, maka manusia cenderung memujannya. Saya memiliki banyak pengamatan terhadap yang satu ini. Ada romantisme-romantisme klasik yang muncul belakangan ini. Kita mengenal di Eropa dengan Neo-Nazi, White Supremacy di Amerika, atau mengenai Khilafah di Timur Tengah, yang belakangan menjalar ke negeri ini. Ada romantisme-romantisme akan kegemilangan suatu era, suatu masa, masa-masa kejayaan suatu kekuasaan politik. Misalnya, beberapa pihak di Indonesia merindukan sosok mantan Presiden Soeharto, atau misalnya kelompok NIIS yang berjuang untuk memunculkan kembali suatu kekhalifahan di Timur Tengah. Contoh-contoh demikian tengah menjadi demam yang belum usai. Romantisme-romantisme itu dilekatkan dengan tujuan politis, dilegitimasi oleh kepercayaan/agama, dan membentuk diskursus-diskursus yang menjadi gula bagi semut-semut yang kelaparan pengaruh dan signifikansi. Dari sana lahir praktik-praktik kekerasan, dorongan untuk mencapainya dengan cara-cara yang “semua diizinkan”. Itu terjadi sebagai bentuk pemujaan terhadap masa lalu kekuasaan yang gemilang. Tidak ada orang yang mau mengingat sebuah kejatuhan. Tidak ada manusia yang mengingikan dirinya jatuh. Dan begitu pula kekuasaan, seperti yang diinginkan, terus berlanjut, berlomba, dan berlomba sehingga menciptakan kejatuhan demi kejatuhan, yang ironisnya adalah bagian dari sejarah kekuasaan yang paling tidak diinginkan untuk diilhami, dingat, atau pun diceritakan.

Dan alasan Popper yang ketiga, adalah orang yang berkuasa ingin dipuja. Mungkin orang yang paling narsis adalah orang yang berkuasa yang ingin dipuja. Tidak ada manusia yang lebih narsis daripada mereka yang berkuasa mencari “puja-puji”. Popper berangkat dari distorsi sejarah-sejarah kekuasaan masa lalu yang erat dengan penguasa. Misalnya, Alexander Agung yang memiliki Ptolemy dan Callisthenes. Di Indonesia, Hayam Wuruk memilik Mpu Tantular dan Mpu Prapanca, sedang raja Airlangga memiliki Mpu Kanwa. Belum terhitung prasasti, proyek-proyek mercusuar dan peninggalan-peninggalan arsitektur yang didirikan atas nama kekuasaan sekaligus bukti kegemilangan suatu era. Di masa sekarang, hal-hal yang sama juga terjadi yang dengan teknologi masa kini setiap orang bisa mengaksesnya. Kita melihat buku-buku yang bersifat otobiografi, kemudian proyek-proyek pribadi yang mengatasnamakan  kelompok, lapar akan aktualisasi diri, sehingga bertindak untuk mencari perhatian. Orang-orang yang ingin dipuja adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan. Hal ini terjadi bukan pada raja-raja, presiden-presiden, atau menteri dan jenderal, tapi juga hingga kelompok politik yang paling kecil, keluarga. Ayah, ibu, dan anak adalah sosok-sosok yang memiliki kuasa di dalam lingkup tersebut. Kuasa yang dimiliki seorang ayah adalah mengarahkan keluarga, menjadi pusat dan kepala di dalam keluarga, sedang ibu adalah pengatur, seorang perdana menteri dalam lingkup sederhana, yang memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan. Dan anak adalah bagian di mana pujian itu datang. Seorang ayah dan ibu tidak ingin anak mereka dicaci tentu saja, sehingga seorang anak sudah harus memiliki target tertentu yang dapat membanggakan ayah dan ibunya. Anak berkuasa atas ayah ibunya lewat tindakan-tindakan yang mempengaruhi nama keluarga mereka. Ketiganya harus berkolaborasi di dalam kekuasaan dan otonomi mereka untuk mencari pujian. Ketidaksatuan kekuasaan antara ketiga pihak tentu saja mendatangkan kejatuhan.

Dengan melihat alasan-alasan yang dikemukakan Popper, dan kecenderungan orang menanggap sejarah manusia adalah sejarah kekuasaan politik, maka sejarah bisa kehilangan makna. Fungsi dari sejarah, salah satunya, adalah sebagai bagian administrasi peristiwa-peristiwa masa lalu. Sejarah adalah satu garis waktu yang bisa diukur dengan hadirnya administrasi tersebut. Tanpa itu, kita hanya akan mengandalkan keterbatasan memori kita, dan mudah terdistorsi. Dan sejarah manusia bukan saja mengenai kekuasaan, ada soal makanan, seni, pekerjaan, riwayat hidup, yang seluruhnya memiliki konektivitas terhadap satu sama lain, individu-individu yang terlewatkan oleh sejarah kekuasaan politik, bagaimana dengan sejarah filsafat atau ilmu pengetahuan? Popper menyayangkan bahwa sejarah kekuasaan politik, yang administrasi peristiwanya paling banyak dicatat, menjadi legitimasi pada masa depan. Ketika kita mempelajari sejarah sebagai destinasi hidup kita, kita sudah melegitimasi masa depan berdasarkan sejarah yang kita pelajari. Bahwa masa depan harus kita lakukan demikian karena sejarah berkata demikian. Sama seperti usaha-usaha yang telah dilakukan oleh manusia pada masa kini pasti akan memiliki dampak seperti yang diimpikan pada masa mendatang. Sejarah tidak berkata demikian. Namun sejarah merupakan pengulangan peristiwa atas ketidakmampuan kita mempelajari sejarah. Hegel, sosok yang paling dikritisi Popper dalam bukunya tersebut, mengemukakan bahwa sejarah tidak dipelajari oleh bangsa/negara. Itu terjadi pula dengan setiap individu-individu saat ini. Kita hanya mengingat sejarah, tidak mempelajarinya, belajar darinya. Yang ada malahan sebaliknya, kita memanfaatkan sejarah demi kepentingan diri sendiri, kelompok, dan golongan sehingga berujung pada kekuasaan yang salah. Hal ini yang menghilangkan makna sejarah itu. Sejarah bermakna ketika kita memakainya sebagai alat, atau semacam cara untuk menghindari peristiwa buruk yang membawa sengsara di dalam kehidupan manusia terjadi lagi. Perang, penyakit, ketoledoran, dan banyak hal yang membawa bencana adalah hal yang harus dicegah untuk terjadi kembali. Di sanalah, bagi saya, sejarah memiliki maknanya. Sejarah tidak bermakna ketika kita melihatnya sebagai legitimasi masa depan, sebaliknya, justru bermakna ketika kita melihatnya sebagai peristiwa yang harus kita hindari di masa mendatang. Bukankah seekor keledai tidak akan jatuh pada lubang yang sama?

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: