Beranda > What I See > Persatuan Indonesia Adalah Syarat Hidup

Persatuan Indonesia Adalah Syarat Hidup

Teror merajalela! Beberapa minggu terakhir ini, kita dikejutkan dengan penangkapan teroris yang tengah mempersiapkan “konser” di beberapa tempat, menyasar rakyat yang tak berdaya dengan tujuan mencari keuntungan! Di luar negeri, khususnya di beberapa bagian belahan dunia, teror oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab telah terjadi!

Target teror belakangan ini bukan saja menyasar masyarakat, tetapi juga institusi keamanan yang disimbolkan dengan polisi. Eksistensi kepolisan di Indonesia, bahkan di setiap negara, adalah sebagai jaminan keamanan internal yang terkendali. Menjamin kebebasan tidak menjadi liar dan brutal, dan paling utama adalah mencegah chaos di dalam negara. Inilah yang coba dimainkan oleh para “pengantin” bodoh itu. Mereka baru saja menghabiskan minyak ketika mempelai datang!

Target teror yang berubah ini menujukkan adanya tujuan untuk menciptakan chaos ketimbang menyerang target-target tertentu sebagai bentuk kebencian pada institusi atau kelompok yang dimusuhi. Penyerangan dengan target masyarakat luas untuk menciptakan suatu kebencian pada kelompok tertentu, menghasut perpecahan, dan yang paling berbahaya adalah menciptakan chaos seperti yang terjadi di Timur Tengah dan sekitarnya.

Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi incaran mereka. Rekatan kebangsaan yang mulai terlihat memudar merupakan sasaran empuk menciptakan adu domba. Indonesia bukan sekedar dipisahkan oleh sentimen agama yang kuat, tapi juga sentimen suku dan ras. Belum lagi sentimen sosial ekonomi yang memisahkan kita ke dalam kelas-kelas ekonomi yang membuat para provokator mencoba menciptakan pertentangan antar kelas.

Memperkuat kesatuan Indonesia tidak akan mudah mengingat secara sejarah, negeri ini telah sering diadu domba, baik oleh sesama masyarakat maupun oleh bangsa asing. Kita tidak akan lupa bagaimana provokasi yang dilakukan Belanda di Nusantara, misalnya pada perseteruan antara Kaum Paderi dan Kaum Adat. Pada saat Indonesia telah merdeka, masyarakat pun terprovokasi oleh sesama masyarakat dalam peristiwa pembantaian anggota PKI sehingga sejarah kelam Republik tercatat.

Indonesia tidak dalam persimpangan jalan karena di masyarakat akar rumput, erat persatuan masih terasa. Masyarakat masih sulit untuk dibuat terprovokasi, namun gejala-gejala awal dalam usaha mengadu domba sudah muncul. Pemerintah sudah seharusnya bertindak memadamkan gejala-gejala awal ini agar tidak dengan cepat meluas. Mengingat arus informasi yang bersifat menipu, mendistorsi, membentuk opini palsu sudah tidak bisa dibatasi oleh batas-batas fisik. Maka, kita tidak akan pernah terkejut lagi jika ada orang, atau kelompok, atau institusi, bisa menjadi seteru ketika bersinggungan di dunia maya.

Salah satu tokoh Proklamasi, Mohammad Hatta sudah berulang-ulang berkampanye pada masanya bahwa hanya Pancasila lah yang dapat mempersatukan perbedaan kita. Di dalamnya terdapat sila yang berbunyi “Persatuan Indonesia”, yang menurut Hatta adalah syarat hidup bagi Indonesia. Lebih-lebih, sejarah kita selain ada perpecahan terdapat juga persatuan ketika kita sadar satu sama lain bahwa kita ditakdirkan untuk menjadi suatu bangsa. Bangsa yang berdiri di atas perbedaan, bukan di atas keekslusifan. Kita tidak bisa seperti bangsa-bangsa lain seperti Amerika atau Eropa yang berdiri di atas ekslusifitas White Supremacy, karena demikianlah sejarah yang terjadi atas kedaulatan mereka. Indonesia berbeda. Dunia tahu bagaimana Indonesia merdeka melalui perjuangan tiap-tiap orang yang berbeda satu sama lain. Berbeda secara suku, agama, dan ras. Hatta paling tahu akan hal itu, maka tidak heran beliau menyebutkan bahwa Persatuan Indonesia adalah syarat hidup bagi Indonesia!

Dunia tahu Indonesia adalah negara yang berdiri di atas perbedaan, di atas demokrasi, kebebasan berpendapat, dan sebagainya. Indonesia pula yang menjadi contoh bagi dunia bagaimana kita berbagi persaudaraan, lantas apa jadinya jika Indonesia yang berdiri di atas keinklusifan suku, agama, dan ras berseteru satu sama lain? Apakah layak kita membawa Pancasila sebagai kiblat persaudaraan dunia jika demikian?

Para peneror mengerti akan hal itu, mereka terus berusaha mencari sela di antara kita untuk memecah belah. Ingat, tidak ada pelaku teror yang menginginkan kepentingan bersama. Pelaku teror hanya berpikiran untuk dirinya, kelompoknya, institusinya, ideologinya, dan surganya. Mereka tidak berpikir untuk orang lain, untuk inklusifitas dan persatuan Indonesia, mereka tidak berpikir untuk rumah bagi setiap orang. Para pelaku teror tentu saja hanyalah kelompok yang egois, tak berotak, dan tak memiliki kesadaran akan orang lain yang hidup bersamanya. Mereka memberi nutrisi pada otaknya dengan dongeng, distorsi kebenaran, hanya untuk diri mereka sendiri. Manusia Indonesia berbeda, berbeda dalam segalanya. Hatta tidak sungkan menyebutkan bahwa “Persatuan Indonesia mengandung di dalamnya cita-cita persahabatan persaudaraan segala bangsa, diliputi oleh suasana kebenaran, keadilan dan kebaikan, kejujuran, dan kesucian, dan keindahan yang senantiasa dipupuk oleh alamnya”. Indonesia, melalui pemerintah, sudah harus bertindak tegas, setegas-tegasnya atas upaya-upaya teror dan pemecah belah persatuan negara yang sudah dibayar oleh nyawa pahlawan-pahlawan, baik yang diingat, maupun mereka yang mati tanpa bermakam.

Persatuan Indonesia adalah senjata kita, yang dimiliki oleh rakyat Indonesia dalam melawan teror yang memecah belah persatuan yang telah dibangun selama ini. Lagi, saya mengutip pernyataan Hatta yang datang melalui salah satu tulisannya Pancasila Jalan Lurus. Menurut beliau, dasar Persatuan Indonesia menegaskan, bahwa Tanah Air kita Indonesia adalah satu dan tidak dapat dibagi-bagi. Persatuan Indonesia mengandung di dalamnya keutuhan bangsa. Jika kita memahami diri kita sebagai manusia Indonesia sejati, maka menghormati perbedaan kita satu sama lain sama derajatnya dengan menghargai sejarah Indonesia, sejarah leluhur, dan tidak lari dari tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk mengelola dan menjaga kedaulatan bangsa ini. Hatta sering mengutip kalimat yang berasal dari kata-kata Rene de Clerq ketika beliau berjuang demi Indonesia Merdeka.

Hanya satu tanah yang kusebut Tanah Airku. Ia besar menurut usaha, dan usaha itu adalah usahaku.”

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: