Beranda > What I See > Supermoon dan Hoax: Fenomena!

Supermoon dan Hoax: Fenomena!

Semalam dunia menyambut suatu fenomena alam bernama Supermoon. BBC bahkan menyebut fakta bahwa fenomena Supermoon ini hanya akan muncul 27 tahun sekali! Luar biasa panjang tentu saja fenomena ini dinanti, yang terakhir kali muncul pada 1948 atau usia Republik baru 3 tahun. Apa bedanya dengan supermoon lain yang muncul secara teratur rata-rata 6 kali setahun? Dari data BBC lagi, fenomena kali ini memang agak lain karena bulan berada pada posisi terdekat dengan Bumi. Apa artinya? 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang. NASA bahkan menyebutnya “undeniably beautiful” untuk menggambarkan fenomena puluhan tahun sekali ini.

Fakta lain, yang rupanya dicocokkan dengan fenomena ini, adalah mengenai bencana alam yang muncul seiring dengan kehadiran Supermoon. Misalnya gempa di Tohoku, Jepang pada 2011 dan gempa bumi diikuti tsunami pada 2004 di Samudera Hindia, termasuk gempa baru-baru ini di Selandia Baru yang dispekulasikan oleh media sebagai hubungan dengan adanya dengan fenomena Supermoon. Spekulasi yang berkembang ini membuat Supermoon ini bagai sebuah kotak Pandora yang bisa menyakiti siapa saja.

Namun ada fakta lain, yang selalu kita ketahui, mengenai bulan dan naturnya yang kita kesampingkan dari fenomena ini. Pertama, tentu saja adalah cahayanya. Dari mana sumber cahaya bulan pada malam hari? Apakah bulan adalah bintang? Jawaban pertanyaan pertama, kita telah mengetahuinya dengan baik. Bulan memancarkan cahaya matahari, atau sebenarnya memantulkan cahaya matahari. Ada bagian dari bulan yang terkena sinar matahari, ada juga yang tidak. Demikian pula dengan bumi. Kita melihat bulan yang bercahaya seolah bulan memancarkan cahayanya sendiri. Dengan demikian, ketika bulan muncul dengan ukuran lebih besar, seolah juga, karena ini hanya menyangkut jarak pandangan saja, maka cahaya yang dipancarkan lebih terang juga akibat si pemantul berada pada jarak yang lebih dekat. Karena ukuran bulan tidaklah sebanding dengan ukuran matahari dan bumi. Pertanyaan kedua, kita harus mengetahui definisi sebuah bintang terlebih dahulu. Bintang adalah benda langit yang memancarkan cahaya. Definisi ini cukup mudah untuk dicari tentu saja. Jika kita berhenti sampai pada definisi ini, maka kita sepakat bulan adalah kelompok bintang. Karena bulan memancarkan cahaya. That’s simple. Dan saya menyetujuinya. Namun, di dalam kelompok bintang, terbagi pula dua kelompok besar di dalamnya. Pertama adalah kelompok bintang nyata. Bintang nyata adalah benda langit yang memancarkan cahaya dari dirinya sendiri. Artinya, si benda ini menghasilkan cahayanya sendiri. Definisi ini biasanya dipakai oleh para ahli untuk mendefinisikan bintang. Yang kedua, kelompok bintang semu. Bintang semu adalah benda langit yang tidak menghasilkan cahayanya sendiri tetapi memantulkan cahaya dari bintang (nyata). Kalau dari definisi ini maka kita bisa mengelompokkan bahwa Bumi bukanlah bintang nyata, karena tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Begitu pula planet-planet lain, seperti Mars, Venus, Jupiter, Merkurius, Saturnus, dan planet-planet lain yang muncul sebagai bintang di langit malam. Termasuk pula Bulan!

Kedua, Bulan tidak menerangi Bumi secara detil. Tidak seperti matahari yang menyinari Bumi, Bulan tidak menyinari sebaik matahari karena Bulan memang tidak memiliki cahaya. Sebagai pemantul, dan kondisi bulan yang tidak rata, membuat cahaya yang jatuh dipermukaan bumi tidak menyebar dengan baik. Namun, ada makhluk lain selain manusia dapat memanfaatkan cahaya bulan untuk beraktivitas. Cahaya dari pantulan bulan tidak semewah ataupun secemerlang cahaya dari matahari yang membuat orang mampu melihat keberadaan Bulan. Sayangnya, pantulan cahaya Bulan membuat langit lebih bercahaya menutupi cahaya bintang-bintang nyata yang berada dikejauhan. Kehadiran cahaya pantulan dari Bulan membuat kita tidak menyadari kehadiran bintang-bintang nyata lain yang bertebaran di langit. Belum lagi persaingan cahaya dengan cahaya buatan manusia yang akhirnya menepikan bintang-bintang nyata.

Bersinggungan dengan fenomena Supermoon ini adalah fenomena menyebarnya berita hoax, atau palsu, di kalangan sosial media. Atau dengan kata lain ranah sosial di dunia maya banyak menyebar berita palsu, jauh dari fakta, dipantulkan namun tidak detil. Hal ini menimbulkan keraguan di kalangan orang-orang di dunia nyata. Efek berita hoax di dunia maya sangat mempengaruhi dunia nyata. Makin aneh karena dunia yang sudah dilipat dengan teknologi namun sulit bagi orang-orang untuk mengklarifikasi suatu berita. Fenomena apakah yang terjadi ini? Mengapa orang-orang sulit menerima berita yang benar tetapi mau menerima berita yang hoax?

Saya teringat kata Vladimir Bartol dalam novelnya Alamut. Saat itu pimpinan kastil Alamut sedang berargumentasi dengan salah satu anak buahnya yang mempertanyakan metode mengerikan yang dipakai sebagai usaha merebut status politik. Sang pimpinan itu berkata bahwa manusia lebih senang diisi dengan khayalan dan dongeng, mereka tidak peduli dengan kebenaran dan keadilan. Itulah yang terjadi selama ini. Sulit untuk menerima ketika saya membacanya, namun itulah yang terjadi. Apakah kita sadar bahwa selama ini nutrisi literasi kita lebih banyak membahas dan berfokus mengenai sesuatu yang ada di awang-awang? Impian, mimpi, harapan, yang semuanya tidak diberikan suatu dasar untuk ke mana impian, mimpi, atau harapan disandarkan. Dan ini bercampur dengan kebudayaan teknologi yang makin maju serta menciptakan suatu gaya hidup baru bernama instan! Setiap informasi dan data yang masuk ke dalam setiap pikiran kita, entah melalui bacaan, amatan, pendengaran, atau setiap indera yang kita pakai tidak diikuti dengan proses recheck atau menguji validitas data dan setiap informasi yang kita serap karena kita hanya percaya saja bahwa itu benar. Dan itu tidak perlu diricek.

Kedua situasi tersebut menimbulkan apa yang namanya fanatisme. Fanatisme, menurut Hegel, adalah “enthusiasm for the abstract” atau gairah untuk hal-hal yang bersifat abstrak, atau suatu yang tidak berwujud, tidak jelas, tidak terdefinisi, atau kata lainnya adalah relatif, menurut saya. Fanatisme ini mewabah pada orang-orang saat ini. Melewatkan proses kritis hanya untuk suatu kepentingan yang bersifat tak jelas. Fanatisme bersifat memihak, entah itu terhadap manusia, kepercayaan, ideologi, bahkan diri sendiri. Fanatisme inilah yang membawa banyak penderitaan hingga kini. Fanatisme terhadap sesuatu yang bersifat tidak jelas, hoax, dan sulit untuk dipertanggungjawabkan. Jika kita melihat sejarah Indonesia, banyak manusia yang mati karena fanatisme. Peristiwa 1965 ataupun 1998 terjadi hanya karena fanatisme semata. Manusia menerima fanatisme karena berkaitan dengan apa yang menjadi nutrisi mereka selama ini, yaitu impian, mimpi, dan harapan yang tak berdasar, yang merupakan suatu hal yang bersifat abstrak. Abstrak hanya bisa dipuaskan dengan hal abstrak. Sulit untuk menerima kebenaran nyata.

Fenomena ini terus terjadi, bukan saja di Indonesia, tetapi juga belahan dunia lain. Media-media saling bersaing untuk memberitakan fakta dan hoax, dan hoax sendiri ikut dinikmati! Fenomena ini akan terus berlanjut seiring tiadanya koreksi terhadap nutrisi literasi kita. Kita melihat kisah-kisah sukses, melihat tampilan-tampilan iklan, melihat televisi, lalu menjual diri kita hanya untuk menjadi abstrak terhadap dunia, terjebak dalam fanatisme, dan menderita. Kita perlu koreksi terhadap apa yang kita baca, apa yang kita tonton, dan semua itu harus dibenturkan dengan kebenaran umum, sesuatu yang mutlak, bukan abstrak, untuk mendapatkan kebenaran yang sebenar-benarnya. Walaupun itu proses yang sulit, dan tidak menyenangankan. Namun hal itu percuma jika kita menanggap hoax itu sebagai madu, dan kebenaran mutlak itu sebagai racun.

Sama seperti fenomena Supermoon, kita dibuai dengan keindahan kepalsuan Bulan yang menganggap dirinya sebagai bintang nyata, padahal cahayannya hanyalah sebuah pantulan dari yang nyata. Mengambil keindahan bintang nyata yang kecil, tidak terlihat oleh mata namun ada, dan bercahaya karena dirinya sendiri.

Kutipan dari Essay On Reading and Book..

platoaristotle

– It is the same in literature as in life. Wherever one goes one immediately comes upon the incorrigible mob of humanity. It exists everywhere in legions; crowding, soiling everything, like flies in summer. Hence the numberless bad books, those rank weeds of literature which extract nourishment from the corn and choke it. They monopolize the time, money, and attention which really belong to good books and their noble aims; they are written merely with a view to making money or procuring places. They are not only useless, but they do positive harm. Nine-tenths of the whole of our present literature aims solely at taking a few shillings out of the public’s pocket, and to accomplish this, author, publisher, and reviewer have joined forces. (Arthur Schopenhauer) –

 

 

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: