Beranda > What I See > Fenomena Nota Kosong

Fenomena Nota Kosong

download-blank-invoice-templatePada suatu hari – adalah frase yang pas untuk memulai kisah yang akan diceritakan – saya ditugaskan oleh kantor untuk membeli beberapa perlengkapan, nggak banyak, dan nilainya pun tidak material. Well, cuaca saat itu cukup cerah untuk berkeliling salah satu pusat perdagangan grosir yang cukup terkenal di kawasan Jakarta Barat. Satu tujuan saya adalah untuk menekan bujet yang telah ditentukan, namun mendapatkan barang yang cukup bernilai ekonomis. Nilai ekonomis itu apa? Bermanfaat dan dapat diandalkan dalam satu rentang waktu yang minimal. Kira-kira seperti itu tujuannya.

Dan sampailah pada saat yang berbahagia! Eh, ini bukan pembukaan UUD 1945. Saya tidak kaget dengan suasana yang tumpah bleg di jalan-jalan sekitar pusat perdagangan tersebut. Jalan dan trotoar direklamasi oleh para pengembang alias pedagang. Satpol PP pun hanya terlihat mengawasi jangan-jangan ada onar yang terjadi. Karena hari yang saya pilih adalah hari pada akhir pekan dan belum lama gajian sehingga kepadatan belanja pun tidak kira-kira.

Uang sudah saya sediakan sesuai bujet yang diminta. Barang yang saya perlu sudah saya kerucutkan sehingga fokus pencarian hanya untuk barang tersebut. Hal itu perlu dilakukan karena satu hal, saya tidak ingin buang waktu dan buang uang yang lebih besar dari apa yang diberikan. Kalo bisa ada kembalian ke kantor. Ekonomi saat ini susah, morotin kantor efeknya bisa PHK alias pengangguran terencana karena kantor tidak lagi sanggup menggaji, bukan mempekerjakan.

Lorong-lorong sempit dengan lapak-lapak jualan yang saling deketan satu sama lain. Dibagi ke dalam blok-blok untuk memudahkan lokasi lapak untuk diakses. Pusat perdagangan adalah kawasan majemuk. Di mana di sana tidak memandang suku, agama, dan ras dalam bersaing, entah itu jujur atau curang, para pedagang adalah kelompok yang mementingkan ego pribadi ketimbang kelompok. Inilah mini Indonesia semini-mininya Taman Mini. Jualan pun cukup beragam, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga kebutuhan sementara seperti koper untuk berwisata, pakaian bayi, dan sebagainya. Saya pun tidak kalah gencar dengan pedagang yang mencari pelanggan. Mencari apa yang saya incar itu susah-susah gampang.

So, mulailah bergerilya dengan gencar. Tiap blok saya lewati. Lapak yang menjual barang yang saya incar saya datangi, mencari informasi (nanya maksudnya), mikir, nawar, nyari saran, hingga mengatakan “liat dulu ya mba”. Tidak ketemu yang ada di dalam gedung, saya blusukan hingga ke jalan-jalan yang padat pedagang kaki tiga, walaupun saya bukan pejabat berbintang tiga, tetap saja banyak orang yang mengidolai sampe-sampe ngajak “mampir kakak, lihat dulu”. Saya hanya bisa mengatakan tidak.

Setelah satu jam lebih berkeliaran ke sana ke mari, akhirnya saya mulai mengerucutkan lagi ke barang yang saya ingin beli. Survei sana survei sini bisa bikin pengetahuan bertambah. Tinggal menyingkirkan noise maka kita mendapatkan sinyal. Lho, kok gitu? Pakai filosofi membaca, membaca pertama adalah membaca seluruhnya dan kita akan mendapatkan bentuk dari pemikiran seorang penulis, membaca kedua adalah membaca bagian-bagian penting menurut subjektifitas kita maka ketemulah sinyal yang menunjukkan arah pada gambaran yang kita inginkan. Dari survei pun saya masih meminta saran. Kita bagi ke dalam plus minus untuk mengambil satu barang. Mulai dari cost and benefit hingga desain, kualitas, pandangan orang lain, dan yang paling penting adalah sesuai nggak dengan tujuan awal kita beli barang. Selama perjalanan Indonesia merdeka, kita lebih mementingkan hal-hal yang tidak penting, mulai dari cost and benefit dari pemerintahan, kemudian desain negara, dan sebagainya, tapi kita lupa apakah hal-hal yang demikian sudah mampu membawa negara ke relnya yang semula? Lho! Kok malah nyambung ke perpolitikan!

Saya padahal cuma ingin beli tas buat hadiah anak laki-laki yang berusia 6-10 tahun. Sesederhana itu dengan bujet yang, ya bisa dibilang lebih sih. Toh ini acara setahun sekali, dan dibujetkan segitu sejak awal oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini kantor. Setelah pencocokan harga dengan pedagang yang tidak saya PHP-in, dan mengecek barangnya memang tersedia sesuai dengan yang saya butuhkan. Saatnya melakukan pembayaran. Jumlah tas yang saya butuhkan hanya sepuluh, tapi saya memutuskan mengambil 1 lusin untuk menekan bujet. Dengan kelebihannya saya putuskan jadi milik saya, jadi saya beli aja dari kantor. Alasannya kenapa? Itu barangnya bagus.

Setelah diperiksa satu per satu barangnya. Padahal cuma beli satu lusin tapi birokrasinya mirip pemerintah yang ada di luar DKI. Iya dong, saya kan ingin memastikan dengan jumlah uang yang segitu saya bisa neken bujet plus barangnya bagus. That’s it! Sesederhana itu. Itu juga yang jadi pikiran bos sama HRD di tempat saya bekerja ketika merekrut saya. Mereka berharap saya bisa memberikan hasil yang lebih daripada yang dibayarkan kepada saya alias gaji. Negara kita sulit maju karena setiap orang di tempat kerjanya hanya akan berpikir berapa banyak yang bisa tempat bekerja kita berikan ketimbang sebaliknya. Tidaklah heran jika terjadi PHK di sana dan PHK di sini karena memang perusahaan itu rugi, rugi apa? Rugi mempekerjakan yang demikian. Belum lagi melempar kesalahan sembunyi tangan. Padahal perusahaan adalah sebuah organisasi organik bukan organisasi robot. Lha! Malah curhat.

Pada akhirnya tibalah saat pembayaran. Pembayaran dilakukan tunai, bukan kredit, bukan melalui kartu kredit ataupun debit. Dibayar tunai menggunakan media penukar bernama uang kertas. Sejumlah uang kertas saya keluarkan dan saya bayar tunai. Sebagai gantinya saya meminta bukti pembayaran berupa nota. Di sini saya menemukan keanehan yang sudah familiar dan membudaya, yakni soal nota kosong. Well, nota kosong ini adalah nota yang benar-benar kosong dan siap ditulis apapun yang diinginkan penulisnya. Nota kosong ini berkebalikan dengan cek kosong. Jika cek kosong untuk menarik uang maka nota kosong untuk membebankan uang. Terutama pada perusahaan, membebankan uang berarti uang sudah keluar dan telah dianggap menjadi, apakah itu barang atau jasa, dan berhak untuk diklaim. Cek kosong adalah pemberian seseorang yang memiliki dan sebaliknya nota kosong adalah pemberian seseorang yang memiliki piutang atau hutang.

Nota kosong telah menjadi fenomena saat ini. Bentuk-bentuk “korupsi” kecil dimulai di sini. Mewabah dan menggurita. Sebaliknya cek kosong hanya berupa aji mumpung. Nota kosong diberikan seorang penjual kepada seorang, bukan pembeli tetapi yang mewakili pembeli, untuk membelanjakan sejumlah uang yang sudah dipercayakan kepada wakil atau agen tersebut agar dapat menukarkan dengan kebutuhan si pembeli yang sebenarnya. Wakil atau agen di sini kita bisa menyebutnya sebagai fenomena. Hal-hal yang menjadi fakta, yang kita bisa lihat dengan indera, kita bisa merasakan kehadirannya. Fenomena yang terjadi di dalam dunia kecil tadi adalah kita tidak bisa merasakan kehadiran sesuatu yang memiliki “power” yang lebih besar yakni pembeli dari sosok agen atau wakil yang dipercaya si pembeli. Ada jarak antara pembeli dan agen yang menciptakan fenomena ini. Kejujuran si pembeli diharapkan diikuti oleh sang agen yang nyata-nyatanya memiliki kuasa atas secarik nota kosong.

Banyak yang menggunakan nota kosong untuk mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Tidak sedikit yang berjuang untuk tetap bertahan pada integritasnya. Kita bisa melihat fenomena ini dalam frasa “lahan basah” yang menjadi satu frasa umum di kantor-kantor, organisasi-organisasi, dan dihubungkan dengan satu kegiatan, satu aktivitas, satu untuk semua, yakni aktivitas pembelian. Dari aktivitas dihubungkan ke sub-organ dari suatu organisasi yaitu divisi, departemen, bagian, dan sebagainya yang melakukan aktivitas pembelian. Aktivitas ini menjadi “lahan” untuk bagian-bagian tertentu dalam mencari rejeki. Padahal tidak semua demikian. Namun pemahaman dan pemikiran masyarakat modern yang serba curiga membuatnya demikian. Dan apanya yang basah? Orang-orang berkata adalah duit yang basah, dan memang benar. Duit alias uang memang adalah “air yang membasahi” lahan tersebut. Uang erat sifatnya dengan cairan, makanya di dalam dunia eknomi uang disebut sebagai aktiva yang paling cair alias likuid. Suatu benda padat yang dikenai dengan benda likuid akan menghasilkan yang namanya basah. Jadi lahan basah adalah sebuah bagian di perusahaan yang terkena dengan benda likuid bernama uang.

Bagian yang beli-membeli adalah agen atau wakil dari perusahaan untuk melakukan pembelian. Saya juga tadi merupakan agen atau wakil perusahaan yang diminta untuk melakukan pembelian. Walaupun nilainya kecil sih. Agen atau wakil ini yang nantinya berhak meminta nota kepada si penjual atas nama perusahaan. Di sini yang sering dijadikan tudingan korupsi kecil-kecilan karena tidak jarang si agen “mengutip” dari nilai pembelian perusahaan. Keuntungan yang seharusnya menjadi milik perusahaan diambil oleh si agen. Kehilangan keuntungan adalah kerugian sehingga dalam posisi ini perusahaan dirugikan.

Fenomena nota kosong ini telah turun temurun, seperti warisan yang tak pernah putus. Kesanggupan untuk menghentikannya sangat sulit. Fenomena ini bukan saja terjadi di kalangan bawah seperti para pedagang-pedagang di pusat perbelanjaan tapi juga merasuk hingga tiap lini di dalam lingkup organisasi. Sebelumnya saya sudah pernah menuliskan bagaimana kawan saya menjual sebuah kamera yang masih bagus dengan harga yang cukup tinggi namun beberapa uangnya diambil oleh si pembeli. Ini tentu saja korupsi. Kerugiannya bisa dihitung hanya saja belum masuk ranah KPK. Bagaimana memotong rantai fenomena nota kosong ini? Sulit. Sama sekali sulit. Ada kalanya si penjual ditolak oleh si pembeli karena tidak mau memberikan nota kosong, tidak jarang pula ada penjual yang menggoda si pembeli apakah perlu nota kosong atau tidak. Akhirnya nota kosong menjadi sebuah simbiosis mutualisme antara pembeli dan penjual. Kadang kala saya berpikir apakah ekonomi negara, atau lebih besar lagi, ekonomi dunia ini dibangun atas dasar tipu-menipu? Salah satu dosen saya menceritakan bagaimana krisis besar pada awal abad ke 20 atau kita kenal dengan nama Great Depression terjadi karena proses ekonomi dilandaskan pada kegiatan tipu-menipu yang menciptakan kegetiran, kerugian yang berefek domino, dan balon-balon ekonomi lain yang siap pecah untuk menambah getir. Begitu pula yang terjadi pada tahun 2008 di mana perusahaan-perusahaan raksasa bangkrut, jatuh, dan tak dapat bangkit lagi gara-gara proses tipu-menipu. Begitu pula yang akan terjadi pada pribadi-pribadi yang melandaskan keuntungan pada nota-nota kosong yang akan diisi dengan nilai manipulasi. Bukankah hidup mereka juga akan menuju kepada kemanipulasian hidup dan berujung petaka?

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: