Beranda > What I See > Renungan Tujuh Belasan

Renungan Tujuh Belasan

Merdeka!

GSM 71tahunKata yang bukan sekedar diucapkan, diteriakkan, dengan tangan yang dikepalkan ke atas, meninju-ninju angin, dan mengucapkan “Merdeka!” Kita tidak melupakan jasa para pahlawan, mengingat-ingatnya, kisah mereka telah melegenda di dalam kepala kita. Dan emosi kita tidak tertahankan meneriakkan “Merdeka!” setelah mengingat apa yang telah mereka lakukan.

Setiap 17 Agustus, seluruh Indonesia merayakan hari terpenting di dalam sejarahnya, Hari Proklamasi Kemerdekaan. Secara de facto adalah hari lahir suatu konstitusi bangsa yaitu negara, pernyataan yang jelas terhadap pengambilalihan kuasa atas nasib suatu wilayah kepulauan dari tangan para penakluknya. Secara de facto, inilah hari dimulainya Tahun Indonesia. Kita tengah berada di dalam tahun-tahun Indonesia, selama 71 tahun kita hidup di dalamnya.

Dibanding dengan hari-hari Nasional lainnya, 17 Agustus memberikan suatu makna bebas secara menyeluruh. Bebas yang sebebas-bebasnya, lepas dari penjajahan yang begitu lama mengekang. Hari itu adalah puncak dari perjuangan, sebuah hasil yang ditunggu-tunggu, dan respon luar biasa didapatkan oleh suatu wilayah yang baru terkonstitusi setelahnya. Kita mengingat di hari-hari setelah 17 Agustus 1945, banyak yang gugur, kehilangan materi dan sebagainya. Kita mengingat mereka di hari Nasional yang lain, tentu saja. Tapi apakah kita pernah bertanya mengapa mereka melakukannya? Sebatas mempertahankan kemerdekaan kah?

Indonesia lahir dengan catatan historis yang tanpa kekompakkan. Dijajah tidak berbarengan, dan diadu satu sama lain. Atas dasar apakah mereka yang gugur harus mati di medan laga? Jika kita mencari satu alasan historis apakah yang menyatukan kita? Kerajaan Sriwijaya berkuasa di Pulau Sumatera sekitar abad ke 9 hingga 11, salah satu kerajaan maritim maju pada zamannya. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa kerajaan Sriwijaya berhasil menyatukan seluruh wilayah Sabang hingga Merauke pada masanya. Tidak ada. Kekuasaan Sriwijaya hanya terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia, sama sekali tidak memiliki dampak dari apa yang mereka perlihatkan terhadap belahan lain di Indonesia. Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara sama sekali tidak memiliki sisa-sisa peninggalan Sriwijaya, baik dari segi fisik maupun non-fisik.

Bukti historis lain yang sering dikedepankan tentang Nusantara adalah Kerajaan Majapahit, suatu kerajaan yang luar biasa maju pada zamannya. Mungkin garis sejarah Majapahit adalah paling dekat daripada bukti bahwa Indonesia, atau wilayah Sabang hingga Merauke pernah disatukan. Dengan satu catatan, persatuan tanpa kekerasan. Pramoedya pernah mengatakan bahwa sosok Soekarno adalah sosok yang hebat karena berhasil menyatukan Indonesia tanpa pertumpahan darah. Tidak ada suatu bangsa, suku, yang sukarela masuk ke dalam wilayah, atau mengakui perbedaan, mengadopsi suatu system bahasa komunikasi yang menyatukan mereka. Mungkin hanya satu bangsa yang bisa demikian, yaitu bangsa Kasdim atau Babel. Kerajaan Majapahit, baik dari bukti-bukti catatan maupun arkeolog, tidak ada bukti yang benar-benar valid menyatakan bahwa pada zamannya, wilayah dari Sabang hingga Merauke, berada – dan sukarela – di wilayah yuridiksi Majapahit. Semua catatan, hingga peninggalan-peninggalannya hanya tersebar di wilayah Jawa dan Bali. Kita hanya mampu mengambil dari peninggalan-peninggalan Majapahit adalah “Bhinekka Tunggal Ika” atau Berbeda Tetapi Satu. Dalam konteks penakluk dan yang ditaklukkan, konsep itu muncul. Mungkin itu adalah konsep “Pax Majapahit” pada saat itu, suatu konsep yang menjamin kestabilan kerajaan. Konsep yang mengikat para taklukannya untuk setia di bawah Majapahit.

Para sejarawan pasti tahu, apa akhir dari Kerajaan Majapahit. Pahit dan menghilang, walaupun karakternya ikut serta pada para penerus-penerusnya. Wilayah Nusantara pun masuk di bawah masa Islam. Pada saat Islam berkuasa, yang terjadi adalah penaklukan-penaklukan antar sesama Kerajaan Muslim. Kerajaan Demak digantikan Kerajaan Pajang, Kerajaan Ternate dan Tidore saling bersaing satu sama lain. Kerajaan Goa pun tidak kalah ekspansinya keluar pulau. Kerajaan Mataram Islam menaklukan wilayah-wilayah lain yang “tidak ingin bergabung”. Sampai pada masa ini, tidak ada satu kekuatan yang berhasil menyatukan wilayah Sabang hingga Merauke. Tidak ada.

Hingga pada masa penjajahan, setiap pahlawan-pahlawan daerah lebih tertarik melawan penjajah atas nama daerah mereka ketimbang Indonesia. Indonesia? Belum dikenal pada masa itu. Hingga pada masa Kebangkitan Nasional pada 1908, tidak ada suatu bentuk perlawanan menyeluruh, atas nama Indonesia, yang sukarela! 1908 memang titik awal, suatu pemicu persatuan, yang kemudian berlanjut dengan saling terikat satu sama lain melalui Sumpah Pemuda.

Jadi, apa alasan para pejuang yang tidak dikenal, sepanjang Sabang hingga Merauke, yang hidup tak dikenal mati tidak dikenang? Yang biografi mereka satu per satu hilang ditelan waktu dan zaman, tetapi masih tertulis pada catatan Yang Mahakuasa? Tidak ada!

Hanya ada satu waktu, satu momentum yang bisa menyatukannya! Proklamasi Kemerdekaan!

Proklamasi Kemerdekaan mengubah seluruh sikap warga, dari Sabang hingga Merauke. Mereka berjuang, dari meja diplomasi hingga medan tempur di mana darah terbuang. Pernyataan kemerdekaan, dan kebebasan, adalah satu-satunya yang mereka harapkan, yang mereka idamkan, dan apa yang dianugerahkan bagi mereka. Kemerdekaan itu tidak ingin diambil kembali, selayaknya iman mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa, begitu pula kepercayaan mereka terhadap masa depan Indonesia! Orang Muslim menyebutnya Jihad, Orang Kristen menyebutnya Pengorbanan, Orang Buddha dan Hindu menyebutnya Dharma. Semuanya bersatu di bawah anugerah Proklamasi Kemerdekaan. Semuanya berespon! Dari Sabang hingga ujung Indonesia menjadi medan laga. Ketika Papua diterjang penjajahan Belanda, maka kita tidak tinggal diam. Mereka maju menuju operasi Pembebasan Irian Barat. Singapura dan Malaysia tidak ingin bergabung sehingga mereka masih berdiri sebagai negara merdeka yang lain. Kemerdekaan mereka adalah pemberian, berbeda dengan kita.

Kita membangun Indonesia sebagai respon terhadap Proklamasi Kemerdekaan. Bukan atas nama penakluk dan daerah lain adalah taklukan. Sejarah Indonesia, yang dimulai tahun 1945, sudah membuktikkan bahwa hanya Proklamasi Kemerdekaan yang berhasil mempersatukan kita. Ada proses memang, yang tidak bisa kita lupakan, tetapi inilah satu-satunya alasan mengapa kita masih ada di sini, menghormati satu sama lain, sesama rekan sebangsa dan setanah air. Jika kita menanggap bahwa Indonesia adalah satu kesatuan nasib, nasib sebagai jajahan, tidak heran kalau ada satu dua wilayah yang ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Sudah terlalu lama bukan, kita menganggap suku kita, kedaerahan kita, semua status kita lebih unggul. Kita lupa bahwa hanya Proklamasi Kemerdekaan yang bisa menyatukan kita. Bukan nasib. Nasib kita sebagai orang-per-orang tidaklah sama. Tapi kita semua terpanggil untuk merawat negeri ini, negeri anugerah yang sudah diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Kalau kita hanya sibuk memikirkan nasib kita, betapa egoisnya kita tidak memikirkan nasib seluruh bangsa ini.

Selamat Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke 71! Merdeka!

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: