Beranda > What I See > Melamunkan Pasta

Melamunkan Pasta

Saya menutup Minggu malam dan memulai Senin pagi dengan pasta. Entah ini disebut doyan atau tidak, tapi pasta itu adalah kelebihan dari yang semestinya. Niat ingin memakan pasta secukupnya, tetapi membeli secara berlebihan. Apa yang dipikirkan saya saat itu?

Seorang yang hidup dalam perantauan memang harus pandai-pandai mengatur pola. Apakah itu sebuah pola makan, gaya hidup, jam masuk-pulang kerja, atau masuk-keluar uang. Semuanya, termasuk pola-pola lain yang tidak saya sampaikan, perlu diatur sedemikian rupa untuk tetap bertahan di dalam dinamisme, fluktuatif, hidup di perantauan. Terutama di kota besar seperti Jakarta. Godaan mata dan “status” sering beraliansi dengan godaan kenikmatan lidah dan tenggorokan. Yang berujung pada pengerogotan keuangan yang bisa menimbulkan “besar pasak daripada tiang” dan berakhir dengan kesulitan di akhir-akhir bulan.

Kembali ke pasta. Yang setelah saya memakannya dan menggunakannya sebagai bahan bakar energi untuk “menguapkan tenaga” dalam rutinitas pekerjaan sehari-harinya. Pasta sehari tidaklah cukup untuk menjadi bahan bakar selamanya. Dan saya terpikir betapa anehnya jika saya memprotes keberadaan kelebihan pasta yang seharusnya tidak berada di sana, padahal saya sementara menggunakannya. Kegunaannya sebagai bahan bakar memungkinkan saya berpikir sejenak yang berfrekuensi tinggi melihat angka-angka saling berkaitan satu sama lain di layar laptop sejak pagi tadi. Ya, saya seorang akuntan, dan ini bukan tentang cerita bioskop dengan Kevin Hart yang melawak menjadi akuntan, lebih cocoknya si pelawak itu adalah auditor.

Berbicara mengenai pekerjaan, atau lebih kerennya kita bisa sebut sebagai profesi, akuntan adalah profesi yang sesuai dengan latar belakang keilmuan yang saya miliki. Akuntan adalah sebuah profesi. Dari berbagai profesi yang ada, akuntan adalah, hanya, satu bagian dari berbagai profesi. Mungkin kata professor ada kaitan dengan profesi, tapi lupakan mengenai professor, kita tidak sedang membicarakan sebuah kisah. Tapi jika kita mencoba membandingkan kata profesi dan professor, maka kita akan menemukan profession (sorry, dalam Bahasa Inggris agar imbang), yang sepertinya merupakan kata dasar dari kata-kata lain yang berkait dengan itu, misalnya professor atau professional.

Menarik bukan, jika kata profession (dalam Bahasa Indonesia artinya adalah profesi) itu berhubungan professor dan professional. Kalau harus memakai keilmuan cocoklogi, maka jika kita ingin menjadi seorang professor atau seorang professional, tentu kita harus memiliki sebuah profesi. Dan akuntan adalah sebuah profesi.

Menggeluti sebuah profesi tidaklah semudah Jack mendapatkan Rose di kisah Titanic. Jika saya memulai dengan pertanyaan “mengapa begitu?” maka saya akan terjebak dalam situasi “sebab-akibat” sehingga sebuah profesi merupakan tuntutan situasi “sebab-akibat”. Padahal tidaklah demikian. Mungkin tidak ada jawaban yang bisa dibeberkan di tempat ini. Setiap manusia memiliki profesinya sendiri, walaupun manusia itu adalah penjahat yang hidup di dalam kubangan “tanpa moral”. Setiap profesi tidak hadir saat kita menuntut ilmu, pada suatu ilmu yang terhubung khusus pada suatu dunia yang membawa pada pengetahuan baru, lalu diterapkan, dan kita menemukan jalan keluar. Tidak. Karena profesi tidak memiliki jalan masuk atau jalan keluar, profesi tidak hadir untuk hal-hal sepele seperti petualangan reality show. Profesi adalah kegiatan mengisi ruang, dan setiap manusia dimampukan mengisi ruang itu dalam batasan waktu yang dimilikinya. Dan, tidak heran jika ada pertanyaan “what have I done today?”.

Pertanyaan yang muncul dari sini adalah mengenai ruang. Dalam Bahasa Indonesia, hanya terdapat kata ini untuk menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan ruang. Kalau didefinisikan oleh saya, maka ruang itu adalah sesuatu yang memiliki batas-batas. Jika tidak memiliki batas, mungkin itu adalah surga. Apakah ada profesi akuntan di surga? Pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh mereka yang bergelut dengan ilmu-ilmu “after dead”. Jika ada batas maka ada ruang. Sebuah patung memiliki batas pada garis-garis linear yang saling berjejeran tak beraturan. Sebuah lukisan dibatasi oleh bingkai-bingkai unik, manusia, binatang, dan tumbuhan dibatasi kulit-kulit yang unik. Laut dan daratan sama-sama saling membatasi. Profesi adalah kegiatan untuk mengisi ruang-ruang tersebut. Maka tidak heran kita akan menemukan profesi dokter, arkeolog, ilmuwan, psikiater, akuntan, dan sebagainya.

Profesi belum akan berakhir walaupun kita berakhir. Kapal Titanic bisa saja karam, tetapi kisah manusia tetap berlanjut hingga pada akhir batas-batasnya. Sampai sini dulu saja ceritnya. Capek mikir.

Tentu menyenangkan jika bisa menikmati pasta di pagi hari, biar hanya sisa semalam dan sudah dipanaskan. Pasta-pasta itu sudah mengisi ruang-ruang pencernaan dalam tubuh saya.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: