Beranda > Olah Raga, What I See > Messi, Islandia, dan BREXIT

Messi, Islandia, dan BREXIT

Ada dua perhelatan sepakbola besar yang digelar pada bulan Juni hingga awal Juli 2016. Pergelaran pertama, yang dimulai terlebih dahulu adalah Copa America dengan tajuk Centenario atau 100 tahun gelaran Copa America. Copa America adalah kompetisi antar negara tertua di bumi ini, mungkin bisa disetarakan dengan Piala FA di Inggris yang menjadi kompetisi antar klub tertua. Yang satu lagi adalah Piala Eropa 2016, perhelatan ke 15 sepakbola antar negara di Eropa. Jika perbedaannya adalah kedua turnamen ini diselenggarakan di tempat yang berbeda, di bawah naungan konfederasi yang berbeda, maka persamaan dari kedua turnamen ini adalah format turnamen. Untuk pertama kalinya Piala Eropa 2016 akan diikuti oleh 24 negara. Turnamen yang selama ini disebut “Piala Dunia Mini” mengubah format turnamen untuk meningkatkan persaingan dan hiburan bagi penikmat sepakbola. Dan tentu saja motif ekonomi dibaliknya.

Lain lagi dengan Copa America Centenario, yang diselenggarakan jauh dari benua asalnya, Amerika Selatan, turnamen ini diikuti oleh 16 negara gabungan antara konfenderasi sepakbola Amerika Utara-Tengah (Concacaf) dan konfederasi sepakbola Amerika Selatan (Conmebol). Penggemar tidak akan menemukan peringkat ketiga terbaik lagi di turnamen ini, yang kemudian menjadi juara. Tidak ada lagi tim seperti Paraguay 2011 yang masuk final tanpa memenangi satu pertandingan pun di laga grup. Dengan berubahnya format turnamen ini, baik UEFA maupun Conmebol berharap turnamen akan semakin menarik, dan yang paling utama mampu merogoh pendapatan yang lebih besar lagi.

Perhelatan Copa America Centenario telah berakhir pada 26 Juni kemarin, memunculkan Chile, yang adalah juara bertahan, berhasil mempertahankan gelarnya setelah mengalahkan Argentina, negara yang sama yang dikalahkannya pada perhelatan 2015 dengan cara yang sama, adu penalti. Kekalahan Argentina ketika setiap orang menaruh perhatian besar padanya memberikan kekecewaan mendalam. Sorotan paling tajam tentu mengarah pada sosok Lionel Messi, yang juga kapten dan salah satu “dewa” pada masa sepakbola modern ini. Sorotan disertai kritik dan ejekan makin kencang ketika tendangannya melesat ke atas menjauhi sasaran. Argentina pun kehilangan kesempatan untuk unggul karena Chile sudah gagal saat tendangan Arturo Vidal ditepis kiper Argentina. Kepedihan makin mendalam ketika Chile mengukuhkan dominasi mereka terhadap Argentina. Messi pun memutuskan pensiun!

Bukan Chile yang mencuri perhatian media massa dan sosial, tetapi Lionel Messi. Ini adalah kegagalan keempatnya bersama timnas Argentina kala berlaga di final, tiga kali dalam tiga tahun beruntun. Para pengamat menyebutnya patah semangat, terluka terlalu dalam hingga putus asa karena mengambil keputusan yang diliputi emosi kekalahan. “For me, the national team is over” katanya, seperti yang dikutip dari BBC. Keputusannya ini tentu adalah kabar buruk bagi para penikmat sepakbola macam saya. Kehilangan sosok macam Lionel Messi seperti anak kecil yang kehilangan tontonan TV. Memang ada pemain lain yang bisa menggantikan peran Messi, tetapi tanpa Messi permainan tidaklah menarik. Bagi saya, Messi dan Cristiano Ronaldo adalah anomali sepakbola modern yang ingin diperlihatkan pada dunia.

Maka kritik yang dialamatkan begitu tajam bagi Messi (dan Ronaldo) bukan sesuatu yang terlalu, tetapi justru memalukan para pengritik. Kita seolah melupakan bahwa Messi juga manusia, punya rasa punya hati kata Serius Band, maka tidak ada yang perlu disalahkan pada Messi jika kita belum mampu menyamai pencapaian yang telah dilakukan Messi. Sepakbola hanyalah satu bagian dari hidup seorang La Pulga. Dia masih memiliki Barcelona dan keluarga, masih punya hidup yang perlu dilewatinya karena usianya baru 30 tahun. Jika kita sadar akan kekurangan diri kita, kita akan menemukan diri kita seperti Julius Caesar yang memandang Alexander The Great dan berkata “pada usia mudanya, dia (Alexander) telah menguasai dunia, sedang saya tidak”. Keputusan Messi untuk pensiun (dari tim nasional) memang patut disesali oleh para penikmat bola, tetapi buat penggemar yang berkedok status keputusan itu menjadi bahan ejekan.

Tidak jauh dari perhelatan Copa America dan keterkejutannya pada hari terakhir, di Eropa pun sosok-sosok kecil yang menggetarkan dunia sepakbola. Dari Chile yang mayoritas pemainnya bertubuh kecil (dan gempal), ada Lionel Messi alias Si Kutu, dan kali ini adalah negara mini bernama Islandia. Negara apa sih Islandia ini? Negara yang memiliki gunung berapi lalu meletus sekitar 3-4 tahun lalu membuat satu Eropa harus menghentikan penerbangannya selama beberapa waktu. Kali ini di turnamen Piala Eropa 2016, negara yang “lebih banyak gunung berapinya ketimbang pemain sepakbola professional” (cuitan Gary Lineker) menjadi sorotan. Kisah Cinderella?

Islandia sudah mengejutkan ketika lolos dari fase kualifikasi dengan finish di atas negara macam Belanda dan Turki. Islandia mampu mengalahkan Belanda dua kali! Baik di kandang maupun saat bertandang ke Belanda. Belanda akhirnya gagal lolos ke turnamen ini, dan Turki harus mengikuti babak playoff. Tidak banyak pemain sepakbola professional di Islandia, dan belum ada klub dari Islandia yang berbicara banyak di level Eropa membuat negara mungil ini tidak menjadi sorotan media. Hanya ada beberapa pemain dari Islandia yang cukup terkenal seperti Eidur Gudjohnson atau Gylfi Sigurdson yang bermain di Swansea. Ketiadaan liga yang cukup bersaing di Islandia membuat pemain-pemain berbakatnya melanglangbuana ke luar negeri. 23 pemain yang terdaftar di Piala Eropa 2016 bermain di luar Islandia. Mereka tersebar negara-negara Skandinavia, Jerman, hingga Italia dan Inggris. Hijrahnya pemain-pemain ini memiliki arti penting karena setiap pemain akan memahami arti persaingan dengan pemain dari negara-negara lain. Yang akhirnya membentuk satu skuad yang kompetitif.

Islandia sejauh ini belum terkalahkan di Piala Eropa 2016. Di fase grup mereka menang di laga terakhir melawan Austria setelah dua laga sebelumnya hanya bermain imbang dengan Hongaria dan Portugal. Di laga 16 besar, Islandia membuat kejutan dengan mengalahkan tim kuat Inggris 2-1 yang membuat tim negara mini ini akan bersua dengan tuan rumah Perancis di babak 8 besar. Islandia membuktikan etos dan semangat jika dipadu bisa menjadi satu kekuatan. Mungkin Indonesia perlu belajar sepakbola ke negara ini ketimbang ke negara-negara yang menjadi tujuan plesiran.

Ketika menulis ini, saya teringat dengan BREXIT atau lebih dikenal dengan British Exit. BREXIT bukan sekedar keluarnya Inggris (Britania Raya) dari Uni Eropa (UE), tetapi keluarnya (baca: tersingkir) Inggris dari Piala Eropa karena Islandia! Mungkin saya terlalu sibuk dengan memperhatikan sepakbola ketimbang politik-politik semu di Indonesia. Apa kaitannya BREXIT dengan Indonesia? Tentu saja ada, dalam kaitannya dengan ekonomi (duit lagi) dan beberapa sektor yang hanya diketahui oleh pemerintah dan segelintir orang saja. Kalau kaitannya dengan sepakbola, tentu sangat banyak. Setiap orang yang suka bermain game manajer-manajeran sepakbola tahu sulitnya memasukkan pemain (yang diinginkan) namun belum memiliki passport Uni Eropa. Biasanya pemain-pemain yang berasal dari liga-liga Amerika Latin yang belum pernah berlaga di Eropa akan kesulitan memasuki Inggris. Inggris memiliki standard khusus untuk pemain-pemain non Uni Eropa yang akan bermain di sana. Salah satunya pernah tampil bersama tim nasional. Tidak heran ada beberapa pemain non Uni Eropa yang dibeli klub-klub Inggris namun belum memenuhi syarat izin kerja dipinjamkan ke klub-klub Eropa lain yang izin kerjanya tidak seketat Inggris. Klub macam Antwerp di liga Belgia beberapa kali menerima pemain non Uni Eropa yang dibeli oleh klub MU seperti Dong Fangzhuo dari RRT. Joel Campbell yang bermain bagi Arsenal pun demikian.

Sekarang kita bayangkan saja ketika Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa, maka pemain-pemain negara Eropa lain akan mengikuti syarat yang sama dengan pemain-pemain non Uni Eropa yang lalu. Para pemain manajer-manajeran akan kesulitan mencari pemain-pemain berbakat lagi di game, karena kebanyakan bermain di luar Inggris dan bukan orang Inggris. Pemain macam Isco atau Thomas Mueller akan mengurus izin kerja, atau pemain muda berbakat seperti Renato Sanchez, Ruben Neves, Domenico Berardi, Bernard Silva harus mengurus izin kerja sebelum bermain di Inggris. Itulah BREXIT.

Toh apa yang terjadi saat ini bukanlah sesuatu yang perlu dikritisi  dan dipuja-puji dengan semangat fanatisme. Bijak-bijaklah melihat fenomena yang terjadi. Siapa tahu ada sesuatu yang berarti bagi kita untuk menjalani hidup yang naik turun seperti nada yang berharmoni menjadi Simfoni Kelima Beethoven.

Kategori:Olah Raga, What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: