Beranda > What I See > Lalu, Kini, dan Mendatang

Lalu, Kini, dan Mendatang

Manusia adalah makhluk kekinian. Kekinian berarti hanya eksis pada masa hidupnya saat ini. Makhluk ini tidak bisa kembali ke masa lalu atau melompat ke masa depan. Manusia adalah makhluk yang memiliki sejarah dan masa depan secara bersamaan. Manusia memiliki kesadaran, yang tidak dimiliki oleh makhluk lain di muka bumi ini, akan masa lalunya dan masa depannya. Manusia tidak melupakan masa lalu dan tidak meremehkan masa depan.

Dari mana kita tahu manusia memiliki masa lalu? Dari waktu. Waktu adalah suatu benda, jika tidak mau dikatakan makhluk, berbentuk ruang yang sudah hadir terlebih dahulu sebelum dunia maya berkembang. Waktu sudah ada sebelum manusia menentukannya. Waktu adalah suatu ruang tanpa batas yang membatasi manusia. Sebuah ruang yang tidak ketahui batasannya, yang kita tahu adalah diri kita yang manusia adalah pembatas waktu pada eksistensi pribadi.

Dengan demikian manusia bergerak berdasarkan waktunya di dalam garis waktu universal. Kekinian manusia sama dengan kekinian matahari yang kita lihat, atau bulan dan bintang yang ada dalam dekapan mata kita. Di luar itu semua, yang tidak kita lihat, memiliki satu kedisiplinan mengarungi waktu, yang mana hanya manusia yang sadar akan arungan itu. Manusia dengan demikian adalah makhluk yang disiplin, tidak pernah melanggar aturan waktu. Aturan yang pertama, waktu adalah waktu tidak pernah salah, dan yang kedua adalah jika waktu salah lihat peraturan pertama.

Mari kita melihat manusia sebagai makhluk sejarah. Jika kita menyingkatkan definisi sejarah maka yang kita dapati, dua kata pertama yang muncul adalah masa lalu, atau masa lampau. Kata “masa” memiliki pengertian rentangan waktu, yang sudah saya sebutkan di atas bahwa waktu adalah sebuah ruang yang tidak kelihatan. Waktu, di dalam diri manusia memiliki batas, batas awal dan batas akhir. Waktu pula yang menentukan berapa besar “masa” eksistensi kita di dalam ruang fisik. Waktu sendiri memiliki batas, sama seperti manusia, memiliki awal dan akhir. Hanya berbeda dengan kita, waktu tidak memiliki fisik, fisik manusia menjadi pedoman adanya waktu. Manusia, lahir, menjadi dewasa, tua, lalu kemudian menghilang dari waktu.

Setelah kita melihat kata “masa”, maka kata kedua yang menjadikan satu frasa sejarah adalah “lampau” (penggunaan lampau lebih enak hehe). Lampau dapat diartikan sederhana sebagai waktu yang sudah lewat. Tidak terjadi pada saat ini, tidak pula terjadi di masa depan. Jika kata “masa” akan membawa kita kepada rentangan waktu, maka kata lampau akan membawa kita pada satu bagian waktu. Manusia membagi waktunya ke dalam tiga bagian besar, lampau, kini, dan mendatang. Sehingga kata “waktu” dalam arti kata lampau lebih merujuk pada satu bagian waktu, di sini adalah waktu yang telah berlalu. Aneh bin ajaib, kalau manusia ini memiliki siklus yang sama dengan waktu, waktu pun tidak bisa kembali ke asal muasalnya, misalnya untuk menuntaskan suatu masalah. Kita hanya bisa menerima “lampau” tersebut. Sehingga muncul peribahasa “nasi sudah menjadi bubur” yang bisa dikatakan nasi adalah masa lampau, dan bubur adalah kekinian.

Saya senang mengambil kata Steve Jobs soal waktu lampau. Steve memakai kata dots (titik) ketika beliau mengisi keynote speaker di Universitas Stanford di Amerika sana. Pengertian titik di dalam waktu bisa disamakan dengan pengertiannya dalam bahasa. Penanda titik berarti tanda akhir dari satu kalimat. Jika titik, di dalam pemahaman saya terhadap waktu merujuk pada kata-kata Steve Jobs, adalah tanda akhir dari waktu yang telah kita lewati. Penutup suatu “era” kecil kita di dalam waktu yang telah lewat, di mana bukti waktu itu telah lewat adalah kehadiran kita masa kini. Apa saja yang telah kita lewati di dalam era waktu yang telah lampau? Balita misalnya, era di mana kita masih polos, lugu, dan disukai banyak orang, pemahaman sosial kita belum terbentuk, adalah suatu “masa lampau” kita saat ini. Jika mereka adalah manusia-manusia yang telah dewasa, maka era remaja adalah masa lampau. Jika mereka adalah manusia-manusia yang mulai menua, era produktif mereka akan dikenang sebagai sejarahnya. Sehingga titik-titik waktu yang telah kita lewati adalah penutup era-era hidup kita yang sudah lalu, saat ini, pada saat ini kita sedang berdiri di atas waktu saat ini. Manusia tentu saja memiliki sejarah, yang tidak bisa dihilangkan di dalam eksistensinya sebagai manusia, bahkan ketika berada dalam liang kubur, manusia masih diberikan “sejarahnya”. Manusia tidak bisa melepaskan diri dari padanya, yang ada hanyalah sikap menerima sejarah itu. Tidak bisa diubah, hanya bisa dijelaskan, atau diluruskan. Dalam kehidupan bermasyarakat pun demikian. Manusia kekinian yang tidak bisa melepaskan sejarahnya menjadi manusia sejarah. Manusia kekinian adalah akumulasi manusia lampau.

Jika Steve Jobs mengidentikkan masa lampaunya dengan dots (titik), maka saya coba mengkreasikannya dengan mengidentikkan masa mendatang dengan question marks (tanda tanya). Alasan paling utama saya memilih question marks adalah kita sama sekali tidak mengetahui masa mendatang itu seperti apa. Detil kehidupannya tidak akan bisa kita gambarkan sedetil kita menggambarkan masa lampau kita, apalagi menyamai detil hidup kita di dalam kekinian. Kata “pasti” dalam mengungkapkan masa mendatang adalah tabu, satu hal yang “pasti” mengenai masa mendatang adalah “ketidakpastiannya” sehingga menjadikannya paradoks masa kini. Manusia yang mengidam-idamkan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang mengusahakannya sejak kekinian. Mereka yang pasif akan terus hidup berdasarkan keseharian mereka.

Masa mendatang adalah satu bagian waktu yang, hanya akan kita lewati, jika kita mendapatkan restu melewatinya. Artinya, kekinian bisa menjadi masa lampau, dan masa mendatang bisa menjadi kekinian hanya jika kita diizinkan oleh waktu melaluinya. Manusia yang sadar akan masa mendatangnya mulai berusaha sejak kini, mereka berusaha keras untuk memastikan apa yang tidak pasti menjadi pasti. Seperti kita mengidentifikasi bagaimana masa lampau, masa mendatang pun memiliki kesamaan dengannya. Kesamaan dalam penggunaan kata masa, yang berarti memiliki suatu rentangan waktu. Perbedaannya adalah pada bagian waktu mana yang kita gunakan.

Mendatang memiliki kata dasar datang, yang kira-kira berarti kelak, kemudian dalam artian waktu. Kelak bisa diartikan waktu yang akan menjadi, sedangkan kemudian bisa diartikan kontinuitas waktu. Jika kita memfrasekan dengan kata masa, masa kelak bisa didefinisikan rentangan waktu yang akan menjadi tetapi tidak terputus dari rentangan waktu sebelumnya, karena belum terjadi sehingga waktu di dalam manusia belum menjadi. Jika kita percaya keberadaan Tuhan, maka hanya ada satu oknum yang tahu akan masa kelak, yaitu Tuhan. Keberadaan Tuhan sangat mempengaruhi manusia dalam melihat masa depan. Kepercayaan terhadap Tuhan mendorong manusia untuk mengusahakan hidup kekinian dengan memandang pada masa depan.

Jika kita menyimpulkan manusia berdasarkan kekinian, kita akan menemukan fakta bahwa manusia adalah makhluk sejarah yang tidak bisa melepaskan masa lampaunya untuk berespon terhadap masa kelaknya melalui kekinian. Detil masa mendatang itu sendiri tidak ada, satupun manusia, yang mengetahui. Pernahkah kita bertanya pada masa kekinian mengenai seperti apakah detil masa depan itu, pada orang banyak. Masa mendatang bagi sebagian orang mungkin adalah suatu ruang waktu yang masih abu-abu, sebagian lagi menyatakan ruang yang gelap, dan kita belum mengetahui ada hal apakah di dalam ruang abu-abu atau gelap itu. Manusia, mengenai masa mendatang, hanya memiliki kepastian di dalam angan-angan kesadarannya akan masa depan. Masa lampau sudah harus berdamai dengan kekinian sebelum kita memasuki ruangan baru pada masa mendatang.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: