Beranda > What I See > Buku di Harinya

Buku di Harinya

Hari Buku Nasional diperingati setiap tanggal 17 Mei. Salah satu media online pada awal paragraf pembukanya menyatakan “meski bukan peringatan masif…” bisa dijadikan suatu perenungan mengenai betapa kecilnya peran buku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal para pendiri bangsa adalah sosok-sosok yang dekat dengan buku dan dunia literasi. Buku tentu saja terkait erat dengan membaca, buku dan membaca adalah ibarat tubuh dan jiwa yang selalu bersama. Keduanya tidak bisa dilepaskan begitu saja.

Memang menarik jika membahas permasalahan ini. Buku jika tidak dibaca tentu saja menghilangkan maknanya. Buku berubah menjadi sebuah pajangan yang berisi simbol-simbol aksara yang menghiasi ruang-ruang fisik aktivitas kita. Buku yang tidak dibaca ibarat seperti benda yang tidak memiliki nilai jual, berisi kertas corat-coret dengan sampul yang sedikit lebih tebal. Buku pun dijual murah, tidak bernilai, dan lebih mirip sampah yang bisa didaur ulang, jika, dan hanya jika tidak dibaca. Saya pernah mendengar cerita tentang bagaimana Friedrich Nietzsche menemukan buku Albert Schopenhauer di loakan buku, lalu dibaca, dan menjadi salah satu pokok pemikiran Nietzsche di masa mendatang. Buku tanpa dibaca tidak memiliki nilai, tapi sebaliknya nilai suatu buku ada pada isinya.

Isu-isu utama pada saat ini, mengenai keberadaan buku, adalah tentang permasalahan minat membacanya. Apalagi di negara yang tercinta ini, temuan-temuan survey menyatakan betapa rendah minat membaca masyarakat di sini. Hanya saja, saya agak ragu jika kita menyatakan bahwa masyarakat kita rendah soal minat membaca, bukankah kita sering membaca status-status di media sosial? Penelitian tersebut memang lebih menekankan pada tingkat seberapa sering orang membaca buku, entah buku itu berkategori konvensional, – atau secara tradisional adalah kumpulan kertas-kertas yang memiliki simbol-simbol komunikasi yang diterima oleh masyarakat, memiliki bentuk fisik tiga dimensi, dan tentu saja memiliki isi yang bermakna. Pengertian buku di sini dipisahkan dengan kategori buku tulis yang hanya berisi kumpulan kertas kosong dan siap diisi oleh goresan pena kita. Buku lainnya adalah buku digital, teknologi yang canggih membawa kita terhadap dokumentasi yang berbeda dengan mereduksi buku konvensional ke dalam suatu dunia dua dimensi. Namun demikian, buku digital sendiri memiliki makna yang sama jika tidak dibaca, yaitu sampah yang mengisi ruang penyimpanan kita, siap dihapus dan dihilangkan keberadaannya tanpa bekas.

Minat baca lebih sering dihubungkan dengan hobi, atau suatu kegiatan yang sukarela dilakukan setiap hari, atau tingginya frekuensi aktivitas tersebut sehingga orang-orang yang memiliki minat baca dapat menghabiskan sebagian besar waktu-waktu yang dimilikinya dengan membaca. Minat baca juga sering dihubungkan dengan sosok kutu buku, makhluk berkaca mata tebal, uncool, tipikal melankolis, kaku, aktivitas sosial minim, dan selalu berada di perpustakaan. Padahal, salah satu personil blink 182, band favorit saya, banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku tentang Perang Dunia II! Apakah personil tersebut adalah sosok yang kutu buku?

Minat baca atau membaca, kegiatan membaca, meningkatkan daya imajinasi, memperdalam pikiran, dan menambah daftar kosakata, kalimat, atau makna-makna yang berdampak pada penggunaan bahasa dalam komunikasi kita sehari-hari. Mendengarkan adalah suatu hal yang lain, walaupun kegiatan tersebut memiliki efek yang sama. Perbedaannya adalah soal keterbatasan akses, akses terhadap daya ingat. Jika kita mendengarkan suatu hal yang begitu banyak, hanya hal-hal yang penting saja, yang setuju dengan pemikiran kita, yang berkesan, dan sebagainya, yang bisa diakses oleh kita untuk diucapkan kembali pada suatu masa. Sama seperti kisah Friedrich Nietzsche di atas, saya mendapatkannya bukan dari membaca melainkan mendengarkan. Sedangkan melalui membaca, terutama membaca buku yang pasti, memudahkan kita untuk mengakses kembali suatu pemikiran seseorang yang menulis buku tersebut secara menyeluruh kembali – dengan kondisi buku tidak rusak ya.  Perbedaannya adalah makna, bagi kita, yang ditimbulkan dari hasil keduanya. Pada contoh yang saya berikan, tentang Nietzsche, saya hanya mengambil satu bagian, bukan inti dari keseluruhan pesan yang menyimpulkan suatu pandangan orang tersebut yang berkata pada saya, yang bagi saya adalah suatu hal yang menarik dan sering saya ucapkan atau ceritakan, berkesan bagi saya. Sebaliknya, buku memberikan akses yang berbeda. Kita bisa mengakses kembali keseluruhan pemikiran si penulis, kita tidak mudah lupa karena masih tercantum pada kertas, dan juga adalah saksi dari apa yang kita ambil. Sehingga tidak heran jika pada tulisan-tulisan penelitian-penelitian ada banyak nama-nama yang bertaburan di setiap lembaran, dan itu tidak didapatkan dari “mendengarkan sekali” tetapi dari menyelami keseluruhan pemikiran sosok-sosok yang dikutip oleh si peneliti.

Buku dan membaca memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Membaca bisa ada tanpa buku, tapi buku tidak bisa ada tanpa membaca. Manusia bisa membaca di luar buku. Misalnya, mampu membaca tanda-tanda alam, ketika awan mendung manusia meyakini bahwa hari akan hujan, setiap hari manusia mengikuti pola-pola yang diberikan alam, dan mulai memahami arti setiap bahasa komunikasi yang diberikan oleh alam. Bagaimana dengan manusia? Kita tidak bisa mendengarkan setiap hari seseorang berbicara dengan konsistensi yang sama. Salah satu cara, bukan satu-satunya tentu saja, adalah dengan menulis pada suatu media. Media yang berisi tulisan-tulisan tersebut kemudian berkembang secara teknologi, hingga pada saat ini kita mengenalnya dengan kertas. Kertas yang ditulisi bisa terbagi atas kumpulan-kumpulan bisa juga hanya sekumpulan. Keduanya membentuk suatu bahan bacaan bagi orang-orang namun belum berupa buku. Buku, pada masa modern, sudah ditambah-tambahi bumbu-bumbu komersial seperti penerbit, tahun terbit, atau suatu advertising diri untuk diperkenalkan ke publik, hingga diberikan ranking untuk mendorong jumlah penjualan. Kegiatan ekonomi ini seperti lingkaran setan yang malah menghilangkan makna buku sebagai media pemikiran orang-orang untuk disampaikan kepada khalayak yang meyakini bahwa pemikiran orang tersebut layak untuk dianalisa, dibaca, dikritisi, sebagai saran, atau sebagai pencerah pemikiran kita. Bukankah buku berkaitan dengan minat?

Isu buku dan minat baca terus digaungkan, bahkan lebih masif daripada perayaan Hari Buku itu sendiri, terutama dalam konteks negara Indonesia. Jumlah perpustakaan-perpustakaan untuk membuka ruang baca bagi masyarakat yang masih asing, atau untuk membuka cakrawala mereka dengan membaca terus bertambah. Saya pun ingin membuat satu, walaupun dengan jumlah buku yang masih sangat terbatas. Ketertarikan terhadap buku, bagi orang banyak, bersaingan dengan “what’s going on” dunia digital. Akses terhadap dunia maya lebih menarik ketimbang berimajinasi sendiri dengan buku. Dalam hal ini kita belum membicarakan kualitas buku. Buku memiliki pesaing berat dalam bentuk media sosial, yang kini menjadi ukuran baru dalam dunia informasi. Buku memang ikut serta di dalam teknologi dunia maya, namun jika kita melihat konteks Indonesia sendiri, buku mendapati dirinya bersaingan dengan dunia maya. Lebih mudah orang mengutip pandangan orang lain dari orang lain ketimbang kita sendiri yang membuatnya.

Permasalahan mengenai buku dan minat baca akan terus berlangsung. Bukan saja mengenai masalah intelektualitas tetapi juga masalah ekonomi. Tidak sedikit lho orang, rela berkorban, demi berusaha menerbitkan buku yang berkualitas, yang tidak lekang dimakan waktu. Mereka adalah contoh-contoh manusia Indonesia yang menginginkan intelektualitas rakyat tetap tumbuh lebih tinggi di atas kepentingan ekonomi. Selamat Hari Buku Nasional, karena dengan buku aku bebas (Moh. Hatta).

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: