Beranda > What I See > The Genuine North

The Genuine North

Friedrich Nietzsche, seorang filsuf yang dianggap “nabi” masa kini mengemukakan suatu ide “Tuhan sudah mati”. Sepenggal kalimat yang memiliki dampak luar biasa. Dampak apa yang dimaksud? Penciptaan ide  ini bukan saja membunuh suatu kemutlakan, tetapi menciptakan kemutlakan-kemutlakan baru yang relatif. Suatu bintang yang meledak, menciptakan bintang-bintang baru dalam bentuk yang lebih kecil.

Penyingkiran kemutlakan tentu saja dilakukan oleh kita. Nietzsche menambahkan “kitalah yang membunuh-Nya” adalah suatu fakta dasar penyingkiran kemutlakan oleh relativitas. Tanpa kehadiran satu kemutlakan, maka kita berada di dalam berbagai bentuk kebenaran-kebenaran relatif yang begitu banyak rupanya, dan pada kondisi itulah kita sendiri tidak bisa menentukan apakah kebenaran itu.

Mengapa yang mutlak, atau absolut, harus disingkirkan? Pertama, kita harus mencari tahu terlebih dahulu natur manusia. Manusia, menurut kitab suci, sudah jatuh di dalam dosa. Seluruh aspek paling hakiki manusia sudah dikorupsi oleh dosa. Dosa bukan saja menjauhkan kita dari sasaran, tetapi mengaburkan sasaran itu sehingga kita terus mengira-ngira di manakah sasaran sejati itu. Tidak heran penulis Amsal mengatakan “manusia mengira-ngira jalan”. Jalan manakah yang membawa kita kepada kebenaran sejati?

Nietzsche menulis kalimat tersohor itu tidak dalam keadaan mabuk atau tidak sadar, atau pula dalam keadaan setengah sadar. Tentu saja Nietzsche sudah mempelajari apa yang sedang terjadi, pada masanya, dan pada masa sebelumnya. Nietzsche tentu saja tidak bisa melihat masa depan secara keseluruhan. Pembunuhan Tuhan lahir dari keinginan manusia itu sendiri, bukan keinginan Nietzsche semata. Menyingkirkan Tuhan dan menggantikan diri pribadi untuk mengisi posisi Tuhan. Sayangnya, manusia tetaplah manusia, terus memiliki pemikiran yang justru logis dengan berasumsi ada “sesuatu” yang lebih tinggi dari dirinya yang fana. “Dan tuhan yang satu sudah kubunuh, siapakah yang dapat menggantikannya?”. Lalu datanglah mistis-mistis baru dari dunia-dunia orang mati. Tuhan-tuhan yang pernah dilahirkan oleh manusia, telah dihancurkan, dibangkitkan kembali. Dewa-dewi mistis merajalela. Bahkan cara hidup manusia mulai disandarkan dengan simbol-simbol ketuhanan mereka melalui astrologi. Nilai-nilai disandarkan pada alam, yang notabene lebih rendah dari kita. Hanya lebih indah dan dapat diprediksi.

Kedua, aneh dan bin ajaib, bahwa kehadiran tuhan-tuhan lama itu menciptakan makin banyak relativitas. Tidak ada satu kata sepakat untuk mengangkat tuhan yang baru. Dan relativitas itu menciptakan perang baru di dunia yang tak terlihat, di mana keduanya saling bertempur. Dan perlu dicatat dan diketahui, bahwa yang bertempur bukanlah soal baik dan jahat tetapi masalah relativitas soal baik dan jahat. Karena tidak adanya kemutlakan yang benar-benar mutlak, tidak kompas yang menunjukkan utara yang sejati, “the genuine north”. Setiap insanlah yang menentukan “the genuine north” mereka. Dunia pemikiran makin bertempur satu sama lain karena saling berebut gelar “the genuine north” di dalam kompas etika dunia, padahal mereka sama-sama adalah “the artificial north”, utara yang dibuat-buat. Tidak heran, bukannya satu sama lain binasa, tetapi mati satu tumbuh seribu, seperti dewa-dewi Mesopotamia yang digantikan dewa-dewi Yunani, dan dewa-dewi Yunani digantikan dewa-dewi Romawi. Makin bingung pula manusia-manusia “followers” menentukan arah mereka karena terlalu banyak tuhan yang bergentayangan.

Dengan demikian genaplah sudah “perjalanan 80 tahun di padang gurun”. Perjalanan yang tentu saja melelahkan di dalam dunia yang nihil tanpa kebenaran mutlak, ketiadaan nilai. Lebih buruknya, kita tidak tahu ke mana arah yang seharusnya, menciptakan rute-rute yang adalah usaha manusia mencari-cari jalan keluar sejati. Ketika kesejatian itu hilang, kemutlakan menjadi fatamorgana, maka kehidupan kita hanya akan habis di dalam pencarian itu.

Jika kebenaran mutlak sudah mati, bagaimanakah kita membangkitkan-nya? Nietzsche memang tidak memberikan jawaban atau permasalahan ini diangkat ke permukaan. Alih-alih dibangkitkan, Nietzsche malah menciptakan suatu kompas baru dengan “the artificial north“, sama seperti pendahulu-pendahulunya. Kompas baru itu diharapkan akan berfungsi menjadi penuntun manusia di padang gurun yang luas. Suatu oase dapat menjadi tempat-tempat persinggahan yang menyejukkan. Kompas Nietzsche berhasil mengarahkan kita pada oase-oase sejuk yang ada di padang gurun. Oase-oase yang memberikan ketenangan di dalam padang gurun. Para pelancong kehidupan yang tanpa arah menikmati oase itu, dan tidak merasa diri hilang. Hingga pada suatu saat kesadaran bahwa bukanlah kesejukan oase yang mereka cari, bukan pula ketenangan oase yang menenangkan, oase bukanlah “rumah” yang pantas ditinggali. Ini hanyalah sementara dan kita mendapati diri kita masih berada di padang gurun. Waktu membuat manusia sadar, tetapi pula memperlambatnya. Nietzsche bukannya tidak menyadari akan “permasalahan oase” ini. Apa yang diinginkan bukanlah oase. Oase hanyalah persinggahan tetapi bukan itu yang menjadi tujuannya. Alih-alih mencari kompas yang sejati, yang benar-benar memberikan petunjuk nyata terhadap tujuan sejati, Nietzsche malah mengemukakan “cintailah tempat itu” dan mengunci takdir kita di sana. Kecintaan akan rumah hilang.

Mungkin untuk sebagian orang, pernyataan ini adalah sebuah jalan keluar. Daripada kita harus berputar-putar di padang gurun kehidupan, mencari “rumah” yang mungkin sudah hilang itu, kenapa tidak mencintai tempat tersebut yang adalah oase pemberi kesejukan. Kita lebih memilih mengasingkan diri di oase sunyi dan berdebu ketimbang menanggapnya sebagai tempat persinggahan, beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah, tempat asal kita. Akhirnya kita menjadi alien, makhluk asing yang berada di daerah asing bagi dirinya.

Jika kita membutuhkan kompas, peta, atau semacam petunjuk menuju ke rumah, tempat asal kita, di manakah kita menemukannya? Ada banyak macam orang-orang di dunia ini menciptakan kebenaran-kebenaran baru sebagai kompas untuk kita hidup. Berbagai macam kebenaran itu pulalah yang saling bertempur satu sama lain, yang satu menyatakan diri sebagai kebenaran dan satunya lagi ditunjuk sebagai kebohongan. Yang satu menyatakan diri sebagai kebenaran sejati, yang satu menunjukknya sebagai pembohong seutuhnya. Pertengkaran ini membesar, saling mengalahkan satu sama lain, mengalihkan pandangan kita dari kebenaran yang sejati, yang mutlak, dan tentu saja hidup. Sesuatu yang sejati akan membebaskan kita, bukan mengekang. Kebenaran akan membebaskan kita dari ketersesatan padang gurun, membuat kita berkemas dengan segera dari oase mengarahkan tujuan pada kebenaran yang akan membebaskan kita. Yang akan menuntun kita kembali pulang ke rumah.

Kebenaran mutlaklah, “the genuine north”, yang dapat membawa kita berjalan sesuai “rel” untuk menyusuri padang gurun yang kering, melewati oase-oase kesementaraan, dan membawa kita kembali ke rumah kemutlakan, tempat di mana kita bisa mendasarkan nilai-nilai kehidupan yang hakiki. Kebenaran mutlak tidak bisa dicari jika kebenaran itu tidak menyingkapkan dirinya. Mengambil istilah Heidegger, aletheia, kebenaran yang tidak tersembunyi. Bukan kita yang mencarinya, ya bukan karena usaha kita, tetapi karena kebenaran itu menyingkapkan dirinya kepada kita. Dengan kata lain, kebenaran itulah yang memberikan dirinya kepada kita, dan pilihan kita hanya dua, ikut atau tidak.

That’s so simple but hard to really sure what the hell is truth! Adalah pernyataan yang bisa menjadi pergunjingan baru di dunia penuh kebenaran-kebenaran relatif. Karena jika kita terjebak di dalam dunia relativitas kebenaran, maka kembali lagi kita akan berputar-putar di tempat yang sama tanpa tahu tujuan dan arah. Well, the real question is how I know that “this is the truth” or “the genuine compass”. Dan tentu saja otak saya tidak sampai di sana untuk menjawabnya dan justru mengharapkan kebenaran mutlak itu menyingkapkan dirinya pada saya. Namun demikian, saya hanya bisa menyadari tanpa suatu keberadaan sesuatu yang absolut, maka atas dasar apakah nilai-nilai hidup bisa kita tambatkan?

 

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: