Beranda > Umum > Kisah Raja Ashurbanipal

Kisah Raja Ashurbanipal

ashurbanipalGara-gara suatu forum di dunia maya yang membahas mengenai Abraham, atau Ibrahim, saya malah kembali lagi ke bacaan-bacaan mengenai dunia Mesopotamia. Tapi penelusuran saya malah nyasar ke bagian lain dari sejarah dunia. Jadi, mari kita tinggalkan pembahasan Abraham dan kontroversi-kontroversinya dan menuju ke salah satu era paling masyur sepanjang sejarah Mesopotamia. Di agama saya, Kristen, Mesopotamia erat dengan Asyur dan Babel, yang sekaligus paling banyak mendapatkan cap negatif. Kalau saja kita menyebut Asyur atau Niniwe, yang menjadi ibukotanya, maka pikiran kita kebanyakan akan menuju pada kisah Nabi Yunus. Benar, tidak salah lagi, Niniwe yang itu, tetapi berbeda waktunya. Sedangkan Babel? Siapa yang tidak jijik dengan julukan “pelacur” untuk kota itu, yang menjadi pusat dari satu kekaisaran megah pada zamannya, sekaligus tersingkat di antara kekaisaran lain.

Saya tidak akan membahas keduanya, atau bahkan keseluruhan sejarah kedua kekaisaran yang sukses menghancurkan kedua kerajaan Israel. Dan tidak menaruh mereka dalam posisi pikiran negatif, atau mengejek-ejek seluruh pencapaian yang telah dilakukan kedua kekaisaran ini. Lalu, saya tidak akan membahas kedua kekaisaran itu, bahkan saya hanya akan membahas satu kaisar, atau sebut saja raja (king), di sini. Lalu siapa raja yang akan coba saya bawa, dihidupkan kembali ke sini. Well, raja yang satu ini bukanlah raja yang menghancurkan kerajaan Israel Utara, tetapi ayah dari kakeknya yang meluluhlantakkan seisi kerajaan Israel Utara dan menceraiberaikan penduduknya. Kakeknya pula yang hancur ketika berhadapan dengan Hizkia, yang datang dengan kesombongan pulang dengan kekalahan. Kisah kekalahan Asyur di Yerusalem begitu sering didengar pada kisah-kisah sekolah minggu.

Inilah Raja Ashurbanipal, dalam bahasa Akkad dieja dengan Assur-bani-apli, dengan arti Asyur (dewa bangsa Asyur) adalah pencipta sebuah keturunan. Menurut situs ancient.eu, dalam Alkitab dia disebut Osnapper atau Ass(e)nappar (Ezra 4:10), orang Yunani menyebutnya Sardanapolos, dan orang Roma mengenalnya dengan nama Sardanapulus. Ashurbanipal terkenal dengan pembangunan ibukota Asyur, Niniwe dan perpustakaan pribadinya, yang kira-kira adalah perpustakaan cuneiform (itu loh, tablet atau prasasti yang sebesar iPad, penuh dengan tulisan-tulisan kuno) terbesar pada zamannya. Selain itu, Ashurbanipal dikenal dengan raja Asyur yang paling masyur jika diukur dari keluasan kerajaannya. Terbentang dari Mesir di selatan hingga Persia di timur. Ashurbanipal dikenal juga sebagai raja yang adil bagi penduduknya, tetapi tidak bagi musuh-musuhnya. Mulai dari Thebes di Mesir hingga Elam di timur Mesopotamia sudah merasakan kekejaman raja yang paling pandai zamannya. Bahkan Elam menjadi tanah tandus, tak terpakai, dibiarkan oleh Ashurbanipal dan kepala rajanya dijadikan dekorasi untuk taman istana di Niniwe. Seram bukan!

Lupakan keseraman itu, dan ingat satu ucapan ini, Tuhan mengangkat dan menurunkan raja. Kalau kita berbicara tentang Tuhan dan segala konsep-konsepnya, kita akan menuju satu titik bernama misteri. Sesuatu yang ada tetapi sulit untuk menjawab kenapa sesuatu itu ada. Well, sama seperti kita yang ada di dunia ini adalah suatu misteri yang hanya diketahui oleh sesuatu yang jauh di luar hakikat manusia. Dan seperti itulah kehadiran Ashurbanipal, raja Asyur itu.

Tentulah muncul pertanyaan, misteri apakah yang dimaksud? Pertama, kita harus merujuk pada kekalahan kakek Ashurbanipal di Yerusalem dan naiknya ayahnya, Esarhaddon ke tahta Asyur. Sanherib, atau Sennacherib, adalah seorang raja hebat dengan kampanye militernya menerjang kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Babel, Moab, Edom, Ammon, yang adalah kota-kerajaan yang tidak asing di telinga para penggemar kitab sejarah di Alkitab, luluh lantak saat dilewatinya. Setelah itu, dia berpaling pada kerajaan Yehuda, atau Judah, satu-satunya kerajaan yang belum tersentuh oleh kekuasaan Asyur yang megah. Kemenangan demi kemenangan diraih oleh Sanherib sebelumnya, hancur oleh kekalahan tragis di Yerusalem, dan tentara Asyur mundur dengan malu. Sanherib yang kembali ke Asyur harus menanggung malu dan dibunuh oleh salah satu anaknya, yang notabene adalah putra mahkota kerajaan. Terjadi pertikaian, menurut Esarhaddon, yang mengambil kesempatan untuk menduduki tahta Asyur. Esarhaddon adalah anak termuda dari Sanherib, bukan putra mahkota, lahir dari isteri kedua Sanherib, Naqi’a (Zakitu). Itu adalah misteri pertama, bukan putra mahkota yang diinginkan naik ke tahta Asyur melainkan sosok yang tidak dianggap oleh kekuatan politik. Kisah ini mengingatkan saya pada kisah kakak-beradik Esau dan Yakub, yang dimenangkan oleh Yakub.

Kedua, tentu saja berlanjut pada masa Esarhaddon. Esarhaddon membangun kembali Babel, namun tidak berbeda dengan para pendahulunya di Asyur, Esarhaddon melanjutkan kampanye militernya. Pada saat itu Ashurbanipal tumbuh besar di istana kecil Bit Reduti (house of succession) yang ditinggalkan oleh Esarhaddon ketika selesai membangun istana Bit Masharti (house of weapon). Pangeran ini terlibat dalam proses administrasi dan pandai dalam masalah-masalah pengendalian. Gurunya adalah seorang Jenderal bernama Nabu-shar-usur, dan Nabu-ahi-eriba yang mengajarkan bagi Ashurbanipal sejarah dan literatur. Menguasai tulis-menulis hingga kegiatan agama, mampu membaca dalam bahasa Sumer. Kemampuan atletisnya terlihat dalam berburu, memanah, dan berkuda.

Entah sudah membudaya, bahwa bangsa Asyur adalah bangsa yang doyan perang, maka Esarhaddon maju sejauh Mesir yang berhasil ditaklukkan pada 671 SM. Patut dicatat sebelum peristiwa ini, Ashurbanipal bukanlah pewaris tahta utama Asyur. Pada 672 SM, putra mahkota, Sin-iddina-apla, meninggal. Ashurbanipal ditunjuk oleh Esarhaddon sebagai pewaris di Asyur, dan putra yang lainnya bernama Shamsh-shum-kin, yang berbeda ibu dengan Ashurbanipal menjadi pewaris tahta di Babilonia. Pada peristiwa ini, Esarhaddon memaksa setiap raja-raja taklukkannya untuk bersumpah melayani tahta untuk mencegah adanya pemberontakan di masa mendatang. Nenek Ashurbanipal, Ratu Naqi’a Zakutu, mengeluarkan pakta sumpah setia yang mengikat seluruh teritori yang dimiliki Asyur untuk setia pada Ashurbanipal. Sehingga, pada saat Ashurbanipal naik tahta, tidak ada satu pun teritori Asyur yang melepaskan diri dan memberontak, kecuali Mesir. Ashurbanipal, putra yang tidak berhak memiliki tahta akhirnya diberikan hak, walaupun dibagi dengan saudaranya.

Mesir yang liar dan tidak setia memberontak pada 669 SM, Esarhaddon ingin menghancurkan pemberontakan itu sekali dan selamanya. Raja pun bersiap memobilisasi pasukannya menuju Mesir. Naas, belum menyentuh perbatasan Mesir, raja mati di Harran dan meninggalkan pemberontakan Mesir yang makin menjadi-jadi pada Ashurbanipal. Ashurbanipal naik menjadi raja pada tahun 668 SM dan memerintah di Asyur selama 41 tahun.

Masa kekuasaan Ashurbanipal dimulai dengan pemberontakan. Ya, jajahan Asyur yang berada di wilayah sungai Nil memberontak, dan ayahnya mati sebelum memadamkannya. Toh, raja hebat dari Asyur yang terakhir ini tidak berlama-lama dengan pemberontakan ini. Langkah pertama yang diambilnya adalah memastikan Babilonia terisi oleh pengawas, yaitu adiknya yang menjadi raja Babel. Langkah tersebut diambilnya untuk memastikan wilayah Babel dan sekitarnya aman dari pemberontakan. Setelah itu, raja mengambil langkah yang kedua, yaitu memulai kampanye militernya terhadap Mesir.

Pada mulanya, Esarhaddon berhasil menaklukkan Mesir. Pharaoh Tirhakah ditangkap, keluarganya dijadikan sandera di Niniwe sebagai jaminan atas kesetiaannya. Toh, namanya penguasa yang diambil kekuasaannya, memberontak. Melarikan diri ke selatan sungai Nil, Nubia. Ketika Esarhaddon mati pada 669 SM, dan kekuasaan berpindah tangan ke Ashurbanipal, Mesir tidak mengalami perang. Pada 667 SM, pasukan Asyur maju dengan kekuatan penuh sejauh Thebes, dan menghancurkan setiap kota yang memberontak di jalur yang dilaluinya. Necho I, raja kota Sais dipilihnya sebagai penguasa Mesir. Alasannya adalah pemimpin Mesir harus berasal dari bangsa Mesir sendiri. Mesir aman dari pemberontakan untuk beberapa waktu.

Sayang, keamanan itu tidak bertahan lama, pada 664-663 SM, Mesir kembali memberontak. Tirhakah yang sudah mati telah digantikan oleh Tanutamon, keponakannya. Tekanan Mesir berbuah penghancuran Thebes dan dikuasainya Memphis, dua kota penting di sepanjang peradaban Nil. Raja Necho I mati pada 663, dan digantikan anaknya Psammetichus. Psammetichus ditawan dan dididik dengan pendidikan Asyur oleh Esarhaddon. Kehadiran Psammetichus membuat Ashurbanipal dan Asyur lega dengan perjanjian damai dan setia dari Psammetichus. Keadaan ini membuat Ashurbanipal memalingkan misinya ke tempat lain.

Setelah Mesir, kota orang Phoenecia, Tirus atau Tyre, hingga Lydia di Anatolia disapu bersih oleh Ashurbanipal pada periode 665 SM hingga 657 SM. Selama 10 tahun masa awal pemerintahannya dipenuhi dengan peperangan untuk menjaga kedaulatan Asyur. Selain itu, Ashurbanipal membatasi kekuasaan saudaranya, Shamsh-shum-kin, yang menjadi raja di Babel. Kemudian permasalahan-permasalahan administrasi diaturnya dengan baik sehingga meminimalisir pelanggaran para gubernur di daerah Asyur. Selama 16 tahun (668 SM hingga 653 SM), tercipta kedamaian di antara Niniwe, pusat dan ibukota kerajaan Asyur, dan Babilonia di selatan Niniwe.

Kekuasaan besar tentu saja menggoda, tidak puas dengan keterbatasannya di Babel, Shamsh-shum-kin mulai terang-terangan memberontak. Awalnya, raja Babel ini membangun kontak dengan bangsa Elam di timur, dan bangsa-bangsa lain di dalam teritori Asyur untuk bersatu menumbangkan Niniwe. Tapi sebelum rencana ini menjadi kenyataan, Ashurbanipal mencium bau tidak beres. Ashurbanipal menguji kesetiaan Babel dengan memaksakan pajak khusus, yang mana dengan cara ini, Ashurbanipal menghindari tindakan langsung. Ashurbanipal lebih banyak mengandalkan strategi-strategi “pengepungan” ketimbang pertempuran langsung. Hanya saja, tidak selamanya kesabaran Shamsh-shum-kin panjang.

Shamsh-shum-kin tinggal di Babilonia, dan pastinya sejarah Babilonia telah mengilhami dirinya. Jika kita membaca Alkitab maka pastinya kita tahu sejak awal bahwa Babilonia adalah suatu simbol perlawanan dan kekuasaan, yang saya sebut Babel Disease. Perlakuan Ashurbanipal terhadap dirinya tentu saja sebuah kesalahan dan kelemahan bagi dirinya, plus sebuah kesempatan untuk mengambil alih kekuasaan.

Di sela-sela keputusan pemberontakan Babel, Ashurbanipal menyerang Elam yang ada di perbatasan kerajaan. Elam yang memobilisasi tentaranya maju menuju Babilonia tetapi dapat diantisipasi oleh Ashurbanipal yang langsung mengambil taktik ofensif. Elam kalah, kota-kotanya dihancurkan, raja dan penerusnya dibunuh. “Dengan dorongan dari Asyur, saya membunuh mereka” tulis inskripsi mengenai peristiwa itu. Kepala sang raja dan penerusnya dibawa ke Niniwe dan dijadikan dekorasi taman. Suatu pesan mengerikan bagi lawan-lawan Asyur. Majunya pasukan besar Asyur ke Elam dimanfaatkan koalisi dari Shamsh-shum-kin untuk maju menyerang Niniwe. Koalisi Media, Persia, dan Cimmerians maju menuju ibukota. Hal ini membuat Ashurbanipal memanggil atau meminta bantuan pasukan Scythian yang terkenal dengan kemampuan kavaleri. Koalisi ini hancur dan kalah, raja Media, Pharaortes mati terbunuh.

Kegagalan koalisi tersebut pada penyerangan Niniwe menghabiskan kesabaran Shamsh-shum-kin. Kesabaran menunggu kelengahan saudaranya itu ternyata tidak membuahkan hasil. Keinginan “Babel Disease” terhadap kendali dan kekuasaan makin merasuki Shamsh-shum-kin. Pada tahun 652 SM, setahun setelah Elam dihancurkan dan pasukan koalisi mundur dari tembok-tembok Niniwe, Shamsh-shum-kin terang-terangan memproklamirkan pemberontakan. Pemberontakan atas nama Babel, seruannya untuk mendapatkan dukungan dari penduduk Asyur dan Babel. Ashurbanipal pun langsung mengarahkan pasukannya menuju Babel.

Mengetahui Ashurbanipal bersama tentara Asyur maju menuju Babel, Shamsh-shum-kin langsung berbalik menuju Babel. Tidak mau mengambil resiko perang terbuka secara langsung, membuat Shamsh-shum-kin terkurung di balik tembok-tembok Babel. Pasukan Ashurbanipal pun tidak gegabah menyerang Babel, malah sebaliknya mengepung Babel. Babel terkepung dan terisolasi selama empat tahun! Ashurbanipal menulis mengenai kondisi mengerikan di dalam Babel selama masa pengepungan itu “mereka memakan daging anak laki-laki dan anak perempuannya karena kelaparan”. Pengepungan ini pun memaksa Shamsh-shum-kin makin terdesak hingga bunuh diri dengan membakar dirinya. Berakhir sudah perang saudara ini. Babel jatuh pada 648 SM. Ashurbanipal mendudukkan Kandalu sebagai penguasa Babel.

Bangsa Asyur adalah bangsa yang sulit untuk tidak berperang. Namun lagi-lagi, bukan untuk memperluas daerah kekuasaannya, seperti Darius atau Xerxes pada masa mendatang, Ashurbanipal lebih memilih mengamankan perbatasannya. Ashurbanipal mengarahkan, sekali lagi, matanya ke Elam. Elam sudah mengalami kehancuran ketika Asyur maju menyerang pada 653 SM, ditambah konflik yang tercipta oleh kematian rajanya, mereka pun makin terpuruk di dalam konflik sesama saudara.

Elam yang sudah hancur oleh permasalahan internal, harus menghadapi masalah yang lebih besar. Niat Ashurbanipal untuk menyingkirkan Elam untuk selamanya dibantu oleh masalah internal kerajaan itu. Pasukan besar Asyur pun kembali maju menuju Susa, ibukota Elam. Kejatuhan Elam tak tertahankan, setiap kota-kota kerajaan Elam yang dilewati raja Asyur dan pasukannya dibinasakan, hingga menjadi tanah. Pada tahun 647, Ashurbanipal sudah mengalahkan ibukota Elam, Susa, di mana kota itu dibinasakan dan dibakar. Para pemimpin Elam pada masa lalu pun dikeluarkan dari kubur dan dibakar hingga menjadi abu. Sungguh mengerikan pembinasaan Ashurbanipal terhadap Elam. Ashurbanipal meninggalkan jejak pembinasaan Elam pada suatu tablet yang bertulis “Susa, kota suci yang megah, tempat para dewa mereka, tempat misteri-misteri mereka, saya taklukkan… saya menghancurkan ziggurat Susa… dewa-dewi mereka saya sebarkan (abunya) pada angin… saya menghancurkan kerajaan Elam dan tanah mereka saya tanduskan”. Ashurbanipal mengambil penduduknya, meniadakan identitas mereka sebagai manusia terasing, budak di negeri orang, dan Elam dibiarkan menandus oleh ketakutan dan kesendiriannya.

Ashurbanipal, selain raja yang menyukai perang, dia juga adalah seorang pecinta intelek. Di sela-sela peperangan Asyur dan Elam, dia membangun perpustakaannya. Kala itu, kerajaannya tidak lagi mengalami gangguan politik dan keamanan. Seluruh musuh yang berada di kawasan tersebut telah dihancurkannya. Mungkin hanya kerajaan Yehuda, tetapi dalam posisi terisolasi, Ashurbanipal tidak terlalu memikirkannya. Tapi, bisa jadi, Ashurbanipal tahu tentang peperangan kakeknya dengan bangsa Yehuda tersebut dan akhir dari peperangan itu, sehingga raja ini tidak mau mengambil resiko. Mesir adalah satu-satunya bangsa yang memiliki kekuatan yang bisa menyamai Asyur, namun ditempatkannya seorang Mesir berpendidikan Asyur, maka tidaklah dipikirkannya. Pada masa ini Pax-Assyrian terjadi, di mana kedamaian ada di wilayah negara Asyur. Oleh karena itu, raja membangun bagi dirinya sendiri sebuah perpustakaan megah. Terdapat 30 ribu cuneiform yang menjadi koleksi perpustakaannya. Di antaranya terdapat karya-karya epos pada masa lampau seperti Kisah Gilgamesh, Penciptaan Babel (Enuma Elish), dan kisah-kisah mengenai banjir besar. Ashurbanipal menyatakan “saya, raja alam semesta, yang padanya dewa-dewa mengaruniakan kepandaian… saya menempatkan tablet-tablet (cuneiform) ini untuk masa depan dalam perpustakaan di Niniwe seumur hidup saya dan untuk kebaikan jiwa saya, untuk mempertahankan dasar nama agung saya”.

Selain membangun perpustakaan, Ashurbanipal juga membangun kembali Babel, dan melakukan kampanye-kampanye militer. Pada tahun 629 SM, Ashurbanipal yang mengalami sakit pergi meninggalkan Niniwe menuju ke Harran di utara. Ashurbanipal menyerahkan pemerintahan pada Ashur-etel-ilani, yang ternyata malah memicu perang saudara dengan kembarannya Sin-shar-ishkun. Perang yang berkelanjutan itu melemahkan kerajaan Asyur. Dua tahun kemudian, Ashurbanipal meninggal di Harran.

Keadaan Asyur setelah Ashurbanipal meninggal terpecah-pecah. Tidak ada kesatuan politik, tidak ada pula penggantinya yang memiliki kaliber sepadan dengan Ashurbanipal. Pada tahun-tahun setelah kematiannya, provinsi-provinsi yang telah direbut Asyur mulai memberontak dan memisahkan diri. Persia, Media, Babel, Scythians, Cimmeria, dan bangsa-bangsa lain memberontak dan mempersatukan diri di bawah satu koalisi untuk menghancurkan Asyur. Tahun 612 SM adalah puncak dari perang dan pemberontakan bangsa-bangsa jajahan Asyur melawan kekaisaran. Kota-kota besar seperti Niniwe, ditunggangbalikkan oleh koalisi banyak bangsa tersebut. Perpustakaan Ashurbanipal pun terbakar, terkubur, dan hilang sebelum ditemukan kembali pada abad ke 19. Seperti Tuhan semesta alam menyatakan, tidak akan ada orang yang mengenal Niniwe yang hilang di dalam padang gurun yang sunyi. Kota yang dulu permai itu hilang bersama kejayaannya. Dan Ashurbanipal hanya dikenal lewat perpustakaannya.

Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: