Beranda > What I See > Mimpi atau Harapan

Mimpi atau Harapan

Saya perlahan mulai bosan dengan tulisan-tulisan mengenai “dreams”, atau kata-kata mutiara untuk sekedar “bermimpi”, atau seminar-seminar yang mengaitkan kesuksesan dengan mimpi. Mungkin karena terlalu banyak, atau, gitu deh, para pembicara sudah mulai kehilangan bahan untuk berbicara dan mengurung imajinasi-imajinasi semu dalam pikiran-pikiran liar yang kemudian menjadi candu kerja. Dan bersyukur jika kerja keras itu terbayar, jika tidak? Jatuh dalam kecewa mendalam?

Mimpi identik dengan keegoisan pribadi. Mimpi adalah pikiran yang sudah dikondisikan dengan keinginan kita. Ini berbeda dengan mimpi di bawah alam sadar, yang biasanya menampakkan imajinasi-imajinasi yang tidak kita kendalikan, bahkan sang pencipta pun ikut masuk ke dalam ruang tersebut untuk mengatakan atau menujukkan sesuatu. Orang yang memiliki kesadaran kuat sekalipun, seperti Raja Salomo, tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk mengatakan tidak kepada sang pencipta untuk masuk ke dalam mimpinya itu. Sedangkan apa yang menjadi dambaan manusia-manusia egois macam kita-kita ini adalah pikiran khayalan yang mengimajinasi, memicu otak kita ke dalam zat-zat aditif untuk mengejar keinginan tersebut.

Mimpi tersebut identik dengan kerja keras. Tanpa kerja keras mustahil mimpi bisa menjadi kenyataan, walaupun bukan jaminan seratus persen. Sedang mimpi bisa ada tanpa kerja keras. Maka tidak heran pembicara-pembicara seminar motivasi akan selalu mengikat pemikiran kita, di dalam otak kita, mimpi dan kerja keras. Apakah motto Ora et Labora sudah tidak berlaku lagi di masa sekarang?

A Head Full of Dreams, salah satu lagu Coldplay, seolah mengesankan dreams adalah wilayah yang dikondisikan, atau suatu tempat yang diciptakan agar sesuai dengan keinginan kita, yang identik dengan surga ciptaan sendiri. Surga imajinasi kita. Sebaliknya, mimpi yang demikian menciptakan kita dituntut untuk terus bekerja keras, kita diperas sebagai budak-budak mimpi yang terus mengejarnya. Bagaimana setelah mimpi itu kita gapai? Apa yang akan kita lakukan? Mempertahankan mimpi itu agar terus menjadi kenyataan. Mimpi yang menjadi kenyataan akan kita tindaklanjuti dengan aktivitas kerja baru yaitu “sustainable” atau mimpi yang menjadi kenyataan yang berkelanjutan. Ini perlu, karena manusia bukanlah perancang yang handal, bukan pula sosok sempurna. Sehingga jika mimpi yang menjadi kenyataan ini hilang, maka kita kembali menjadi pengejar-pengejarnya kembali. Sebaliknya, ketika mimpi berhasil kita pertahankan, dan terus berlanjut hingga akhir hayat, siapakah yang akan melanjutkannya? Atau apakah mimpi itu akan berakhir ketika seseorang itu meninggal? Mimpi setiap orang berbeda satu sama lain, walau rupanya sama.

Mimpi tentu saja tidak bisa diwariskan, tidak memiliki hak waris yang sah. Berakhir begitu saja jika orang lain, bahkan keluarga sekalipun, jika mimpi tersebut tidak menarik sama sekali maka mereka akan melupakannya begitu saja. Aneh saja jika orang-orang bersikeras mengikuti mimpi orang lain, yang jika diukur dengan kemampuan pribadi berbeda satu sama lain.

Mimpi untuk berbagai arti mirip dengan harapan, dalam hal waktu, ya, tetapi untuk substansi berbeda. Berada pada masa mendatang, yang sebenarnya memiliki peluang yang sama untuk gagal. Karena masa mendatang masih kabur, usaha kerja keras saat ini pun belum tentu mewujudkan apa yang diimpikan. Sedangkan mimpi itu berkutat di sekitar kepribadian kita. Artinya, seperti yang sudah disebutkan, berbeda satu sama lain karena ada kaitan dengan utopia egoisme pribadi yang harus, atau diusahakan terjadi di masa mendatang. Misalkan demikian, pada saat seseorang mendeklarasikan pada dirinya mengenai apa yang dia mimpikan, misalnya mengenai hidup yang lebih baik maka yang terbersit dalam pikirannya yang paling pertama adalah kehidupan yang lebih baik menurut pemikirannya sendiri. Entah hidup yang baik menurut orang tersebut adalah baik pula bagi orang lain atau tidak, ini adalah permasalahan nanti. Karena, menurut kisah-kisah dunia mengenai sukses, kehidupan yang baik adalah yang baik bagi kita pula, bukan secara menyeluruh hingga merasuk pada kehidupan komunitas.

Mimpi pun karena begitu menyentuh secara pribadi, yang artinya lebih berkaitan dengan pribadi ketimbang kepentingan bersama, menjadi komoditas masa kini. Dasar-dasar mimpi dibangun, digali lebih dalam melalui fakta-fakta tetapi pula distorsi-distorsi masa kini. Mimpi menyebar, bahkan John Lennon pun sudah mengkritik tulisan ini jauh sebelum tulisan ini ditulis “you may say I’m a dreamer, but I’m not the only one”, menjadi satu keputusan bersama yang tidak menyatu. Misalnya, apa yang dimimpikan orang saat ini? Kehidupan sukses, di mana setiap tantangan dengan usaha keras berhasil dilewati dan menjadi pemenang! Pemenang atas apa? Atas para pengernyit mimpinya tentu saja. Dan seperti halnya kemenangan manusia, itu tak bertahan lama, berakhir dengan kematian. Mudah dilupakan.

Mimpi menciptakan nihilisme-nihilisme baru. Kekosongan diri diisi dengan mimpi sebagai pemacu manusia terbenam di dalam rutinitasnya yang berfatamorgana. Kerap kali kita menciptakan mimpi yang mengkondisikan finalisasi suatu keadaan yang kita inginkan. Mimpi yang tercapai adalah finalisasi seluruh harapan kita. Dan manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas, menambah dan menambah mimpi-mimpi yang baru agar diri mereka tidak terjebak di dalam nihilisme lagi. Butuh pecut dari seorang mandor bernama mimpi agar kita terus dan terus berjalan.

Lalu bagaimana dengan harapan? Harapan biasanya diidentikkan dengan penderitaan masa kini yang memberatkan, lalu dengan usaha keras pada masa kini, seseorang itu ingin memperlihatkan pada dunia bahwa akan selalu ada harapan pada orang yang mau berusaha. Tetapi, seperti pula mimpi yang memiliki probabilitas akan terjadi dan tidak akan terjadi, usaha keras pun belum tentu menghasilkan, atau dapat kita nikmati pada saat kita hidup. Hanya saja harapan akan selalu diusahakan, dibagikan, atau kata lainnya diwariskan. Harapan memiliki satu tujuan yang sama walau hadir di dalam keragaman unik setiap pribadi. Orang-orang akan mengerti bagaimana harapan itu bekerja bagi mereka yang memiliki pengharapan. Aktif dan terus berusaha walaupun mereka tidak tahu kapan harapan itu akan menjadi kenyataan, menurut Fromm. Dan dari harapan itu pula lah lahir ketidakputusasaan. Kenapa demikian? Berbeda dengan mimpi yang akan berakhir bahagia jika menjadi kenyataan, kenyataan itu berarti dapat dinikmati di masa hidupnya, sedang berakhir putus asa jika usaha kerasnya tidak menghasilkan apa-apa.

Harapan memiliki suatu tali pengikat antara diri kita dengan apa yang kita harapkan. Mengikat dalam arti kita tidak bisa untuk tidak berusaha, atau hidup di dalam pengharapan itu. Karena pengharapan bukanlah fatamorgana, tetapi telah ada di sana. Pengharapan itu memberikan jalan, jalan untuk membangun harapan itu menjadi kenyataan, yang kemungkinan besar tidak akan dinikmati oleh masa kita hidup. Dan kedua, pada saat harapan memberikan jalan tersebut, maka kita terikat untuk selalu memberikan usaha yang terbaik. Misalnya, pada saat Raja Daud menginginkan untuk membuat Rumah bagi Allahnya, maka sang raja berusaha untuk membangun rumah tersebut pada zamannya. Hanya saja, apa jawaban Allahnya? Bukan engkau. Bukan Raja Daud lah yang akan membangun rumah bagi Tuhannya, melainkan anaknya. Tetapi apakah sang raja segera melepas segala beban yang telah diinginkannya itu? Jika ya, maka Raja Daud sementara memimpikan dirinya membangun rumah bagi Tuhannya, tetapi pada saat dirinya mengetahui bukan dirinya yang akan mendapatkan kehormatan itu, maka sang raja bisa saja melemparkan usaha-usaha pembangunan kepada anaknya. Hanya saja cerita mengenai kisah Daud tidaklah demikian, bahkan dalam kitab Tawarikh menceritakan bagaimana usaha Raja Daud mengupayakan dana-dana, barang-barang, dan sebagainya sebagai persediaan untuk membangun Rumah bagi Allah dengan susah payah. Yang oleh Pendeta Bubby disebutkan usaha tersebut adalah definisi dari kata “the best”. Harapan mengikat orang, ketika harapan tersebut sudah memperlihatkan jalannya, maka orang tersebut terikat di dalamnya dan setiap usahanya akan digantungkan pada pengharapan itu, walau, orang tersebut tidak akan menikmati datangnya peristiwa itu pada masa hidupnya.

Peristiwa lainnya yang bisa disebut sebagai harapan adalah peristiwa kemerdekaan Indonesia. Sudah berapa banyak usaha setiap orang dalam rentang ratusan tahun untuk membebaskan diri dari penjajahan kolonialisme? Harapan bersifat masif, dimiliki oleh banyak orang, dilakukan oleh banyak orang, dan di dalam harapan itu memiliki zat pengikat absolut di mana setiap orang terikat di dalam harapan absolut itu. Yang demikian bukanlah memperbudak, justru sebaliknya, memberikan kebebasan karena dari harapan lah lahir kebebasan, dan keperbudakan tidak menghasilkan harapan. Perbedaan-perbedaan ini, di dalam harapan terikat menjadi satu. Artinya, setiap orang melakukan hal-hal yang berbeda-beda tetapi memiliki kesamaan di dalam apa yang mereka harapkan dari yang mereka lakukan. Seorang prajurit dan seorang jenderal memiliki aktivitas yang berbeda, tetapi memiliki harapan suatu saat dunia akan damai dan tak ada lagi peperangan. Oleh karena itu keduanya berjuang dengan cara yang berbeda, sang prajurit akan berjuang melalui medan perang sedang sang jenderal di balik layar.

Jika mimpi berasal dari ego diri pribadi, maka dari manakah asal harapan? Ada yang berkata harapan tidak berbeda dengan mimpi, walau saya mencoba menguraikan, menurut pemikiran saya apa itu mimpi dan harapan. Harapan dan mimpi memiliki, atau sama-sama, melihat ke depan, bersifat aktif. Perbedaan yang paling nyata tentu adalah sumber. Sumber dari mimpi adalah pikiran kita, angan-angan kita. Apa yang menjadi impian, tujuan kita, ditentukan oleh kita sendiri.

Sedangkan harapan? Kita tentu memiliki perspektif yang sama jika kita tahu bahwa terdapat harapan “messianic”, atau seseorang yang dijanjikan untuk mengatur segalanya. Di dalam budaya Jawa, kita mengenal satria piningit, dan sosok Imam Mahdi di dalam ranah Muslim, atau kedatangan Yesus kedua kalinya di ranah Kekristenan, adalah denyut-denyut harapan yang terus menguatkan manusia-manusia terus berusaha hidup demi hadirnya, atau menanti kehadiran, suatu masa tersebut, dan ada. Harapan mengikat diri terus menerus di dalam pribadi setiap orang. Dan satu hal yang tidak ada di dalam mimpi tetapi ada pada harapan adalah ketekunan dan keyakinan yang terus ada walaupun tidak menjadi saksi terjadinya harapan tersebut. Perbedaan yang paling signifikan adalah harapan itu ada, di dalam satu bentangan waktu yang harus kita itari untuk mencapainya.

Pertanyaan lagi muncul, bagaimana kita mengetahui sumber dari harapan itu? Jika kita menaruh harapan di dalam kepala kita, dan mengeluarkannya, bukankah itu hadir menjadi mimpi-mimpi semu pula? Jika harapan adalah suatu bentangan yang terus berjalan di dalam ruang dan waktu, tidak pernah berubah dan berhenti, atau kita bisa menyebutnya kekal, maka sumber harapan tentu saja berasal dari pada yang kekal? Siapakah yang kekal itu? Kita tidak bisa menjawabnya tanpa mengenal, atau mengetahui apakah kekal itu. Dan sebelum tulisan ini berakhir dengan tragis tanpa akhir yang sesuai, maka penulis ingin menutupnya pula. Dalam hakikat kita hidup, tidak ada yang salah dengan mimpi dan harapan. Melebih-lebihkan peran mimpi di dalam seluruh aspek pencapaian kita menggeser harapan dari tempat yang semestinya. Mereduksi harapan ke dalam mimpi menciptakan pembunuhan kekekalan dan melahirkan relativitas-relativitas baru yang tercampur aduk menjadi suatu kebenaran di dalam sejarah manusia yang baru.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: