Beranda > Umum > 14 Februari, 70 Tahun Lalu, di Manado

14 Februari, 70 Tahun Lalu, di Manado

1422354_20130214025119Setiap tanggal 14 Februari, orang-orang merayakan hari kasih sayang. Tersebar di seluruh penjuru dunia, dan bentuk perayaannya berbeda-beda pula. Namun, di sisi yang lain, 70 tahun lalu pada tanggal yang sama, terjadilah peristiwa penting di bumi Minahasa. Sejarah mencatat perjuangan sebuah masyarakat yang mencoba melepaskan diri dari bayang-bayang penjajah. Ya, 14 Februari akan terus dikenang sebagai Peristiwa Merah Putih, sebuah proklamasi pengakuan sebagai bagian dari NKRI.

Peristiwa 14 Februari 1946 adalah satu peristiwa dari serangkaian peristiwa yang terjadi di Nusantara dalam kurun waktu 1945-1949, yang lebih dikenal dengan Masa Revolusi Fisik. Di Jawa, Sumatera, Bali, dan Kalimantan mulai meluas pertempuran-pertempuran skala kecil hingga skala besar. Ribuan bahkan puluhan ribu manusia-manusia republik kehilangan nyawa dalam perang semesta tersebut. Kekalahan blok Axis (Jerman, Italia, dan Jepang) dari blok Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Soviet) mengubah konstelasi dunia. Banyak negara memerdekakan diri dari penjajahan-penjajahan yang telah terjadi sebelumnya, termasuk Indonesia. Pada 17 Agustus 1945, melalui Soekarno dan Hatta, Indonesia melakukan Proklamasi Kemerdekaannya. Hal ini tidak mendapat restu dari Kerajaan Belanda, yang merupakan tuan atas Nusantara sebelum diusir Jepang. Kekalahan Jepang membuat Belanda memiliki hak untuk mengambil lagi jajahan mereka. Maka terjadilah perlawanan besar-besaran di seantero Nusantara. Tidak terkecuali di Manado, yang berlangsung senyap, minim kontak senjata, tetapi punya pengaruh besar di sejarah Republik.

Peristiwa dilatarbelakangi oleh kekalahan Jepang di Pasifik oleh Sekutu. Alih-alih mempertahankan jajahannya di Hindia, mereka malah berbalik memperkuat kekaisaran Jepang dari serangan Sekutu yang makin mendekat. Sebaliknya, tentara Sekutu malah mengebom kota Manado pada September 1944. Kekalahan Jepang pada 14 Agustus 1945 dan kemenangan Sekutu membuat Indonesia sebagai salah satu “barang rampasan” pemenang perang. Belanda lah yang merasa sebagai pemilik menginginkan Hindia Timur. Menebeng lewat NICA, maka kembalilah Belanda di Indonesia.

Peristiwa Merah Putih

Saya mengambil beberapa blog sebagai sumber sejarah yang dapat dipercaya untuk rentetan peristiwa ini. Yang terlibat dalam peristiwa ini adalah pemuda-pemuda nasionalis, yang ingin bergabung dengan Republik. Dan peristiwa itu bermula pada 7 Februari 1946 ketika rencana-rencana pengambilalihan kekuasaan sudah mantap. Menurut Ben Wowor, rencana tersebut telah diberitahukan kepada walikota Bernard Wilhelm Lapian di rumahnya di Singkil. Rapat rahasia tersebut juga dihadiri oleh P. M. Tangkilisan, No Ticoalu, dan dr. Tumbelaka. Sedang, informasi-informasi dari markas besar (mabes) KNIL di Tomohon didapatkan oleh A. S. Rombot dan F. W. Sumanti.

Pembagian tugas ditetapkan oleh Ch. Taulu dan S. D. Wuisan antara lain sebagai berikut:

  1. Mambo Runtukahu, Yus Kotambunan, Gerson Andris, Mas Sitam, Lengkong Item dan Niko Anes, Kompi VII, ditugaskan untuk menguasai dan mengamankan perwira-perwira KNIL dan NICA.
  2. Kemudian penguasaan terhadap barang-barang logistik perang seperti makanan, senjata, mesiu dan makanan.
  3. Kompi 148 di bawah Wim Waney, dan dibantu oleh Wim Tamburian, Wangko Sumanti, Frans Lantu, Yan Sambuaga, Bert Sigarlaki, Samel Kumaunang, dan Oscar Rumambi, setelah menguasai tempat suplai-suplai logistik, harus melakukan penangkapan terhadap anggota-anggota tentara Belanda dan pejabat-pejabat NICA.
  4. D. Wuisan dan Kompi 143 mengawasi kamp tawanan Jepang di Girian Bitung. Sigar Mende dan Polet Malonda Kompi 144 di Manado, serta Suparmin dan Kompi 142 di Tomohon.
  5. Pengamanan terhadap mabes Tomohon, dan telekomunikasi ditugaskan pada telegrafis-markonis A. S. Rombot.
  6. No Tooy menguasai dinas telepon dan Maurits Rotinsulu menguasai dinas pengangkutan.

Di kalangan militer Belanda, dicurigai warga-warga pribumi yang terlibat dalam rencana penggulingan kekuasaan KNIL. Mereka antara lain Freddy Lumanauw dan Mantik Pakasi, yang dipenjara dan diperiksa di Mabes KNIL di Tomohon oleh Odetur Militer Mr O. E. Schravendijck. Pada 6 Februari 1946, mereka diperiksa untuk kedua kalinya. Lewat pemeriksaan tersebut, diketahuilah rencana dan misi mereka dikirim ke Minahasa. Hanya saja, mereka tidak mengetahui misi seperti apa yang akan dilakukan.

Penangkapan terhadap mereka yang akan, atau dicurigai terlibat, dalam rencana penggulingan KNIL di Minahasa terus terjadi. Wangko Sumanti, Frans Lantu, Yan Sambuaga, dan Wim Tamburian ditangkap pada 9 Februari 1946 dan dipenjarakan di sel Tangsi Putih. Pada 13 Februari 1946, giliran Furir Taulu yang senjatanya dilucuti dan dijebloskan dalam penjara.

Di dalam penjara sendiri berkumpul para pejuang nasional, yang tengah berdebar-debar dan hampir putus asa mengetahui unsur-unsur dalam menyokong pemberontakan telah ditangkap. Namun sebaliknya, fakta di lapangan mengatakan bahwa penyusup-penyusup nasionalis, Frans Lantu dan Yus Kotambunan, telah memasuki penjara dan membebaskan kawan-kawan nasionalis lainnya. Mereka antara lain G. E. Dauhan, A Manoppo, Max Tumbel, O. H. Pantouw, Dr. Sabu, F. H. Kumontoy, C. P. Hermanses, H. C. Mantiri, N. P. Somba, dan juga pemimpin-pemimpin BPNI seperti John Rahasia dan Mat Canon (Wowor, 2015). Setelah itu, mereka memenjarakan seluruh tentara Belanda untuk menggantikan para nasionalis.

Pukul 03.00 dinihari, 14 Februari 1946, di markas tentara tersebut, Wangko Sumanti yang memberikan perintah, mengambil bendera Belanda yang disimpannya, disobeknya bagian biru sehingga hanya merah putihlah yang tersisa. Bendera tersebut diberikan kepada Mambi Runtukahu, yang merangkap pula sebagai inspektur upacara. Upacara berlangsung khidmat, sehingga ketika fajar 14 Februari 1946 menyingsing, bendera Indonesia telah berkibar.

Dari peristiwa inilah terjadi usah kup terhadap KNIL yang berkuasa di Minahasa. Peristiwa inilah yang menjadi tonggak baru perjuangan melawan penjajah di Minahasa dan sekitarnya. Dampak nasional dari peristiwa ini adalah bahwa Minahasa adalah bagian dari republik, dan republik tidak bisa menghilangkan jejak perjuangan para pemuda ini. Bahwa Belanda telah diusir dari Minahasa adalah bukti betapa berani pejuang-pejuang Minahasa itu sendiri. Peristiwa 14 Februari 1946 yang berlangsung senyap membawa suatu babak baru dalam perjalanan Minahasa di dalam sejarah Republik Indonesia.

 

Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: