Beranda > What I See > Bebas (Lagi)

Bebas (Lagi)

Salah satu pernyataan tentang kebebasan yang paling ekstrim, menurut saya, adalah kalimat dari Jean Paul Sartre, seorang sastarawan dan filsuf, yaitu “I am condemned to be free”. Artian kasarnya adalah “saya dikutuk menjadi bebas”. Dalam artian ini, bahwa, natural manusia yang terlahir ke dunia adalah untuk menjadi bebas.

Kata “saya” adalah objek dari “menjadi bebas”. Persona saya terikat di dalam frase “menjadi bebas” dan dituntut mengikuti “aturannya”. Objek, yang pada akhirnya terikat pada “menjadi bebas” malah menjadi tidak bebas lagi. Di dalam natur manusia selalu ada yang mengikatnya sehingga tidak masuk ke dalam kebebasan yang paling ekstrim. Dan jika kita berbicara mengenai manusia, maka tidak lepas dari jiwa dan tubuh, yang keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Keduanya bebas di dalam ketidakbebasannya. Saling ketergantungan menciptakan ketidakbebasan di dalam kebebasan keduanya berinteraksi satu sama lain. Pernyataan manusia adalah makhluk sosial menciptakan pernyataan Sartre menjadi sebuah paradoks, ketimbang sebuah kontradiksi. Makhluk sosial adalah makhluk yang tidak bebas, terikat, bahkan tidak sanggup melepaskan dirinya dari keterikatan ini. Pikiran manusia pun akan mengikuti natur manusia ini, tidak bebas dan terikat di dalam natur manusia yang tidak dapat hidup seorang diri. Di dalam kehidupan sosialnya manusia bebas untuk memilih cara hidupnya, cara berpikirnya, dan cara memilihnya dan dibatasi oleh pilihan-pilihan yang ada.

Adakah bagian manusia yang bebas? Tentu saja. Manusia adalah subjek bukanlah objek ketika dirinya menjadi suatu eksistensi di dalam ruang dan waktu yang telah disediakan terbatas. Subjek memiliki wilayah-wilayah kebebasannya yang menjadi keunikan dibandingkan dengan makhluk lain. Kebebasannya tidak terlihat sehingga tidak bersifat materil. Tetapi kembali lagi kepada paradoks kebebasan di atas, bahwa kebebasan tidak bisa menjadi sebebas-bebasnya karena tetap akan dibatasi oleh diri manusia yang terbatas. Pertama, terbatas oleh ruang, dan kedua terbatas oleh waktu.

Saya mengibaratkan kebebasan itu seperti pergi ke sebuah restoran untuk makan. Saya duduk, kemudian pelayan datang membawakan daftar menu dari apa yang disediakan oleh restoran tersebut. Saya termenung, berpikir untuk beberapa saat, memilih makanan yang akan saya makan dan minuman yang akan saya minum. Ketika sudah mendapatkannya, saya akan memesan kepada waitress, dan dia akan membawakan makanan yang saya pesankan. Kebebasan saya memilih dibatasi pada daftar menu yang disediakan, dan kebebasan itu akan dilayani ketika apa yang kita lakukan masih berada di dalam batas-batas “daftar” tersebut. Dan jika kita tidak mendapati “kebebasan” yang kita inginkan di sana, maka tentu saja, segeralah angkat kaki dari restoran itu. Itulah kebebasan.

Kita tahu bersama, kebebasan itu adalah hak sekaligus kewajiban. Ini adalah keterbatasan kedua. Terlihat sebagai kontradiksi antara hak dan kewajiban. Jika hak diibaratkan sebagai sesuatu, kebebasan, yang telah diberikan kepada kita bahkan sebelum kita lahir – agak aneh karena di manakah eksistensi manusia mempergunakan haknya sebelum dia lahir, atau jika eksistensinya ada, bagaimanakah hak itu dipergunakan – maka kewajiban selalu mengikutinya. Di mana ada hak, di situ pula muncul kewajiban. Kewajiban membatasi hak berubah menjadi semena-mena, dan hak membatasi kewajiban yang semena-mena pula. Sehingga muncul pertanyaan, manakah yang terlebih dahulu, hak atau kewajiban? Ayam atau telur?

Dikaitkan dengan pernyataan Sartre, maka kebebasan adalah bersifat kewajiban yang dianggap sebagai hak. Kalimat berbentuk pasif tersebut menyiratkan diri manusia terikat pada proses “to be free”. Kata “free” sendiri sudah salah digunakan sebagai hak yang melupakan kewajiban sejauh ini. Sartre, dalam pandangannya, menurut saya, mencoba menyatakan bahwa memang kita terikat pada kebebasan yang telah ada. “Telah ada” berarti lebih dahulu dari kehadiran kita dan kemudian kita diikat ke dalamnya. Kebebasan menjadi ironis jika kita mengkaitkannya dengan kewajiban. Kewajiban yang bersifat mengikat sedangkan kebebasan lebih mengarah kepada hak. Keterikatan terhadap “to be free” menyiratkan pribadi untuk mengikuti aturan dari “to be free”. Di mana “to be free” adalah pihak yang menentukan aturan tersebut, bukan saya.

Telah disebutkan sebelumnya, kebebasan manusia dibatasi oleh ruang. Sejauh mana kebebasan di dalam diri kita, kebebasan kita terbatas pada ruang. Jika dikaitkan dengan kebebasan-kebebasan yang ekstrim, maka keadaan tersebut tidak disebut bebas. Sebebas-bebasnya manusia, manusia akan terbentur pada batas-batas ruang. Ruang adalah suatu lingkup fisik yang memiliki luas yang tidak terbatas. Manusia bisa menjelajahi seluruh ruang tetapi akan mendapati dirinya terbatas pada ruang-ruang terbatas pula.

Alasan kedua, tentu saja adalah waktu. Sebebas-bebasnya manusia, manusia tidak mungkin memungkiri kefanaannya dalam hal waktu. Manusia tidak bisa mengendalikan waktu sehingga kebebasannya dikekang oleh waktu. Waktu tidak pernah melihat manusia, berjalan terus, tak pernah memikirkan manusia. Makin lama hidup manusia di dalam waktu, maka makin lapuklah manusia di dalamnya. Apakah yang dipikirkan manusia di dalam kelapukan dirinya dalam waktu? Apakah tetap berpikir dirinya bebas? Jika demikian perlulah kita mempunyai suatu definisi bebas yang baru jika dihubungkan dengan waktu. Ada batas-batas waktu yang memagari kehidupan manusia sehingga manusia tidak dapat keluar daripadanya. Terkekang. Dan kehilangan kegemilangannya di balik waktu. Orang akan sebatas mengenang, tanpa memujanya. Memuja waktu yang begitu sadis terhadap manusia.

Suatu ketika ada istilah free man yang menyeruak begitu beken di negeri ini. Diidentikkan dengan preman, sebagai makhluk-makhluk bebas. Kemudian muncul pertanyaan, apakah mereka benar-benar bebas? Jika mengacu kepada bebas, semutlak-mutlaknya bebas, maka mereka dianggap melebihi Tuhan. Tuhan pun di dalam kemahaan-Nya, dibatasi oleh kesucian-Nya yang menghindarkan diri-Nya tidak melakukan sesuatu yang tidak suci. Sehingga istilah free man malah menjadi olok-olok di masa kekinian. Mereka yang memiliki, atau mengidentikkan diri dengan free man, malah lebih diikat oleh ruang dan waktu. Ruang gerak mereka terbatas, dan waktu mengekang tubuh mereka, sama seperti manusia pada umumnya juga.

Orang yang menempatkan dirinya ke dalam kebebasan mutlak malah mendapati dirinya begitu terikat dalam kendali kebebasan itu yang malah tidak memberikan kebebasan malah ketergantungan. Seperti orang kecanduan narkoba yang ingin membebaskan diri dari jerat yang lain malah terjerumus di dalam jerat yang lebih mematikan. Membebaskan diri kita di dalam kebebasan yang mutlak malah menjerumuskan diri kita ke dalam jerat lain yang bernama chaos, atau kekacauan.

Beranjak dari kalimat Sartre, I am condemned to be free, jika kalimat ini adalah mengacu kepada keinginan diri menjadi diri itu, maka diri kita dibatasi oleh diri kita. Kita tidak bebas menjadi sesuatu di luar diri kita. Yang menjadikan to be free itu berubah dari kebebasan malah menjadi keterkekangan. Menariknya, jika kita bebas, seperti yang dikatakan Sartre, apakah yang akan kita lakukan? Adakah bagian dari diri kita yang mendapatkan kebebasan mutlak? Kebebasan harus ada batasnya, menciptakan paradoks di dalam kebebasan itu sendiri. Sebebas-bebasnya manusia tentu saja akan terbentur pada batas-batas di dalam diri manusia itu sendiri.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: