Beranda > Museum > Jalan-Jalan ke Museum Satya Mandala

Jalan-Jalan ke Museum Satya Mandala

Akhir pekan kemarin adalah suatu kesempatan yang baik berkunjung ke Museum. Awalnya sih, menargetkan petualangan ke museum-museum yang berada di daerah Kota. Maklum, selama ini saya belum pernah berkunjung ke sana, sampai saat ini. Toh, hari Sabtu yang mendung bukan halangan untuk berkunjung ke salah satu museum yang berada, yah, kalau dibilang di daerah strategis, milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) yaitu Museum Satya Mandala di jalan Gatot Soebroto.

Namanya juga milik TNI, berarti apa yang dipamerkan di Museum Satya Mandala tentu saja berbau militer. Lokasinya berada di tengah-tengah antara 2 halte busway, memudahkan orang untuk mencapainya dengan berjalan kaki sedikit. Olahraga dikitlah. Dari luar, museum ini dikepung oleh gedung-gedung pencakar langit yang di sekelilingnya. Museum ini memiliki parkiran yang sangat luas, cukup untuk menampung banyak kendaraan bermotor, baik beroda dua maupun beroda empat. Harga karcisnya pun sangat murah, dua ribu lima ratus perak seorang. Sangat murah dan tidak menganggu secara signifikan kantong keuangan kita.

Sekilas ada beberapa ruangan yang dipamerkan. Memasuki ruang pertama, kita disuguhi dengan panji-panji TNI, seluruh angkatan, mulai dari kepolisian hingga 3 angkatan bersenjata. Lho kok kepolisian? Iya, waktu itu dikenal dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau ABRI. Sehingga tidak heran, jika lambang-lambang militer terdiri atas 4 angkatan bersenjata, dan yang paling tinggi adalah lambang ABRI atau TNI yang mewadahi seluruhnya. Di seberangnya ada panji-panji angkatan bersenjata, yang diapit oleh sebuah wallpaper tokoh-tokoh penting yang menjadi presiden dan wakil presiden selama 70 tahun Indonesia merdeka. Mulai dari Bung Karno hingga Jokowi, dari Bung Hatta hingga JK.

IMG-20160125-WA0001Dari kiri ke kanan: Lambang Polri, Angkatan Udara, TNI (dahulu ABRI), Angkatan Laut, dan Angkatan Darat

Di bagian dinding yang lain terdapat teks Proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, dengan sebuah batu atau papan mungkin, yang menampilkan teks awal Proklamasi yang penuh dengan coretan-coretan. Kemudian berlanjut pada diorama asal mula TNI. Dimulai dengan pembentukan Badan Keamanan Rakyat pada 22 Agustus 1945 cikal bakal dari TNI. Di bagian dinding yang lain terdapat sejarah perjalanan pemerintahan NKRI yang dimulai dengan masa parlementer 1949-1959 dan masa Orde Lama 1959-1966. Sedangkan diorama lain yang ditampilkan adalah diorama tentang pembentukan TKR atau Tentara Keamanan Rakyat pada 5 Oktober 1945. Tanggal 5 Oktober pada saat ini dirayakan sebagai HUT TNI.

IMG-20160125-WA0000

Diorama lain adalah perjuangan TKR pada masa-masa revolusi fisik. Revolusi fisik berlangsung antara 1945 hingga 1949. Banyak pahlawan gugur dalam masa ini, sebagian besarnya hanya tentara biasa, dan tidak sedikit yang tak berpusara, yang tak dikenal. Mungkin hanya dikenal dengan monumen-monumen perjuangan di beberapa kota yang ada di Indonesia. Well, mulai dari pertempuran Surabaya 10 November yang terkenal, hingga Bandung Lautan Api.

Setelah melalui lorong yang tidak terlalu panjang yang menampilkan diorama-diorama, kita tiba pada suatu ruangan besar dan disambut sebuah lukisan gagah. Ketika melihat lukisan tersebut, dan tertegun melihat ketegasan sesosok pahlawan yang terkenal. Sosok tersebut bukan sedang berkampanye, dengan pakaian putih, matanya fokus, tubuhnya tak tergoyahkan. Itulah sosok Jenderal Oerip Soemohardjo, bukan sosok calon presiden yang bertarung pada 2014 yah.  Ada foto-foto yang bersejarah ditampilkan, antara lain foto Oerip, Jenderal Soedirman, dan lain-lain. Ruangan tersebut ditampilkan pula benda-benda bersejarah lain seperti furniture, pakaian, bintang-bintang jasa, patung dada, dan sebagainya.

IMG-20160125-WA0003

Di sisi lain ruangan yang memamerkan Jenderal Oerip, dipisahkan oleh sekat ditengah-tengahnya, ada benda-benda bersejarah milik atau yang dipakai oleh Jenderal, Panglima Besar, Soedirman. Mulai dari tandu yang dipakainya saat bergerilya, lukisan besar yang menjadi potret diri Jendral Soedirman. Ada pula pakaian, atau semacam mantel yang digunakan Soedirman. Kedua jenderal hebat ini sudah menjadi pahlawan nasional.

Berjalan sedikit, kita mendapati salah satu jenderal besar lainnya yaitu Abdul Haris Nasution. Beliau terkenal dengan konsep gerilya ketika Indonesia berada dalam masa revolusi fisik. Nasution pula adalah satu-satunya jenderal yang lolos dari upaya pembunuhan sekolompok oknum pada 30 September 1965. Ada pula foto-foto beliau yang banyak dipamerkan. Dan yang menarik perhatian tentu saja ketika beliau melantik Soeharto sebagai presiden kedua pada 1968. Bukan kebetulan di sebelahnya terdapat ruangan tentang Soeharto, tapi saya malas dengan sejarah beliau. Jasanya tidak sebesar kejahatan dan korupsi kroni-kroninya.

Kemudian ada ruangan tentang seluk beluk TNI, mulai dari kepangkatan, komando, aktivitas TNI di ranah internasional. Terdapat pula foto tokoh-tokoh yang dipercaya mengemban sebagai panglima TNI dari masa ke masa. Tokoh-tokoh yang saya kenal adalah Jend. Soedirman, Djoko Suyanto, M. Panggabean, dan Faisal Tanjung. Khusus Jendral Moeldoko, saya sampe pangling. Panglima TNI saat ini belum dipajang, mungkin karena masih menjabat.

IMG-20160125-WA0008

Dan yang paling ditunggu tentu saja adalah ruangan senjata. Senjata yang dipakai dari masa ke masa oleh TNI. Yang menurut saya, sepertinya telah dipensiunkan. Ada pula beberapa artileri berat yang dipajang. Torpedo besar pun dipajang, ada yang mencapai 7 meter panjangnya! Ada pula miniatur-miniatur kapal perang Indonesia, seperti KRI Surapati. Di halaman depan malah ada KRI Macan Tutul yang dipakai oleh Laksamana Yos Sudarso dalam misi pembebasan Irian Barat, yang tenggelam dan gugur.

IMG-20160125-WA0009Ruang senjata yang memamerkan peralatan senjata TNI dari masa ke masa

Di luar dari museum, terdapat pula beberapa artileri berat lain yang dipakai perang. Ada pula pesawat-pesawat tempur yang digunakan oleh para pejuang di masa kemerdekaan. Pesawat yang dipakai oleh Adi Sucipto pun dipajang di sana. Saat itu suasana museum cukup ramai dengan pengunjung, tapi tidak seramai Museum Nasional atau museum-museum yang ada di Kota sana. Pohon-pohon di Satya Mandala rindang-rindang sehingga menyejukkan. Dari sini pula terlihat beberapa bangunan tinggi yang mengepung museum ini. Tiga di antaranya sementara di bangun. Kadang saya berpikir itu adalah replika menara Babel.

Di bagian depan terdapat pula foto-foto bersejarah lain. Yang mungkin belum sempat dipajang di bagian dalam. Banyak titik-titik untuk mengambil gambar di sana. Misalnya pada KRI Macan Tutul atau pesawat tempur yang berada di bagian depan museum. Sayang, walaupun disebut pusat sejarah TNI, tetapi museum tidak menampilkan pahlawan-pahlawan lain dari angkatan lain. Misalnya Adi Sucipto dari angkatan udara, atau John Lie maupun Yos Sudarso dari angkatan laut. Atau Jendral Hoegeng dari kepolisian. Kebanyakan, bahkan hampir semua menampilkan kegagahan dari angkatan darat semata. Memang, nama-nama beken dari angkatan lain bisa jadi kalah tenar dari jenderal-jenderal hebat angkatan darat. Tetapi masalahnya di sini adalah nama dari museum membawa nama TNI, sehingga apa yang ada di pikiran dan terlintas pertama kali adalah, seluruh angkatan TNI mendapat porsi yang sama besar di museum ini. Kenyataannya ternyata berkebalikan sama sekali.

IMG-20160125-WA0012KRI Macan Tutul di halaman depan museum

Well, memang sedikit mengecewakan soal porsi sejarah yang ditampilkan pada museum. Tetapi tidak untuk mereka yang ke museum ini yang ingin belajar tentang sejarah republik dari sudut pandang militer. Ditambah pula informasi yang disampaikan ke publik cukup banyak, beberapa malah jarang diketahui publik seperti pertempuran di Sukabumi misalnya. Selain itu cukup banyak foto-foto sejarah mereka yang terlibat dalam militer dipajang di museum ini. Hanya saja, museum ini tidak menampilkan sisi gelap dari TNI seperti kasus 17 Oktober 1952 di mana Nasution mengarahkan meriam ke Istana Negara menuntut pembubaran DPRS. Atau keterlibatan TNI pada peristiwa kelam 30 September-1 Oktober 1965, peristiwa yang juga melibatkan TNI dan anggota-anggotanya. Tidak ada pula rekaman mengenai kasus 1998, di mana TNI terlibat pula di dalamnya. Sehingga penyajiannya hanya merupakan bukti-bukti yang mengarahkan kita pada sumbangsih TNI ketimbang sejarah TNI sendiri. Mungkin itu hanya sebagian kekurangan menurut pandangan saya, tetapi tempat ini cukup memuaskan untuk dikunjungi saat berakhir pekan. Daripada berkunjung ke mall melulu, tidak ada ruginya berakhir pekan di museum.

Kategori:Museum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: