Beranda > What I See > Natal: Para Gembala

Natal: Para Gembala

Ketika memasuki bulan yang berakhiran –ber, maka waktu, akan terasa begitu cepat. Bulan-bulan berakhiran –ber menandakan caturwulan terakhir di dalam waktu satu tahun. Bulan-bulan di mana target-target yang belum tercapai akan diusahakan dalam 4 bulan terakhir itu. Setiap usaha yang belum dijalankan, atau sedang dijalankan, di dalam bulan-bulan berakhiran –ber akan dikebut kencang, menciptakan kesibukan, dan orang pun melupakan waktu yang berjalan dengan kecepatan konstan.

Bulan terakhir, dari 4 bulan yang berakhiran –ber adalah Desember. Bulan yang paling dinanti, oleh setiap kalangan, yang menantikannya sebagai bulan yang akan menutupi perjalanan waktu satu tahun. Bulan yang ditunggu dengan ekspektasi rencana-rencana liburan yang akan diisi dalam satu minggu menjelang tutup tahun. Bulan Desember pula adalah bulan yang menjadi titik akhir dari waktu yang akan segera berlalu. Di balik kemeriahan mengakhiri periode tahun, tidak ada yang ingat bahwa waktu kita, di dalam hidup makin berkurang bukan? Ekstasi dari dunia yang penuh gemerlap yang sejalan dengan penderitaannya melupakan orang-orang dari makin berkurangnya waktu hidup seseorang ketika tahun mulai berganti.

Bulan Desember juga adalah bulan yang dinantikan, oleh mereka yang disebut Kristen, yang merayakan hari kelahiran Yesus Kristus, Juruselamat dunia atau lebih dikenal dengan Natal. Bulan-bulan yang berakhiran –ber makin terasa suasana Natal ketika berada di kota kelahiran saya, Manado. Lantunan-lantunan musik Natal berbagai genre mulai, perlahan demi perlahan, mulai dilantunkan. Lantunan tembang-tembang Natal tersebut seiring dengan pembicaraan-pembicaraan mengenai Natal, rencana-rencana, tema Natal, pakaian Natal, ibadah Natal, siapa yang akan menjadi khadim dalam ibadah Natal, bahkan konsumsi-konsumsi yang familiar saat Natal tiba sudah mulai dibicarakan. Bulan Desember pun makin dinanti, dinanti dengan sangat.

Ketika kita berbicara Natal, kita tentunya tidak akan membatasi dengan permasalahan yang ada di sekitar perayaan Natal saja. Seperti ibadah, atau tradisi “pasiar”, atau pohon terang dan Sinterklas, atau tentang apa yang akan kita lakukan pada saat Natal. Permasalahan mengenai Natal tidak bisa direduksi semata-mata untuk menjalankan aktivitas “sosial” demi kegiatan Natal. Beramal, misalnya, adalah bagian dari Natal, yang positif, namun akan menjadi negatif jika dibalik itu semua momen Natal itu sendiri dilupakan di dalam ruang paling otoriter dalam kehidupan kita, yaitu hati.

Kehadiran Yesus Kristus, menjadi titik balik di dalam sejarah umat manusia. Inilah bukti kehadiran Allah, sebagai pencipta, datang ke dunia untuk menjalankan misi penyelamatan, menyelamatkan ciptaan-Nya dari hukuman kekal. Ini bukanlah bagian dari konspirasi Allah, untuk menjadikan diri-Nya pahlawan terhadap vonis kematian kekal kita. Tetapi ini adalah bukti kasih Allah akan dunia ini, pengaruniaan anak-Nya yang tunggal sebagai cara untuk mencegah kita dari kebinasaan kekal. Kehadiran Yesus Kristus lah yang menjadikan momen Natal itu sebagai momen yang perlu disyukuri, momen yang menjadi titik balik kita dalam melihat kasih Allah. Kasih itu tidak hadir di dalam suatu kelompok besar, suatu generalisasi terhadap manusia semata, tetapi hadir atas pribadi-pribadi. Tuhan tidak menghitung kelompok, atau sejumlah besar makhluk-makhluk sosial yang berkolaborasi di dalam suatu bentuk ikatan kewargaan, tetapi pribadi lepas pribadi.

Hadirnya Yesus Kristus yang membawa misi penyelamatan, menjadi kabar baik bagi kita umat manusia. Manusia yang walaupun dengan segenap usahanya seumur hidup, tidak akan mampu melepaskan diri dari murka Allah, dari vonis maut atas dosa-dosa kita. Kehadiran Yesus Kristus juga menggenapi nubuatan-nubuatan nabi-nabi Perjanjian Lama sejak purbakala. Sejak kejatuhan manusia di Eden (Kejadian 3), nubuatan akan hadirnya seorang juruselamat sudah dilakukan. Dan demikian juga dengan nabi-nabi yang hadir sesudah kejatuhan di Eden menubuatkan hal yang sama. Titik pusat pemberitaan Alkitab juga ada pada diri Yesus Kristus, dan pesan kehadiran-Nya menjadi sentral sehingga kita bisa menyebut Alkitab atau Firman Tuhan sebagai kabar baik.

Kabar baik adalah suatu hal yang patut disyukuri. Suatu kota yang dikepung sedemikian rupa oleh musuh, kemudian mendapati masyarakat di dalam kota itu jatuh dalam pesimisme yang akut atas keselamatan mereka, tetapi kemudian mendapat kabar bahwa musuh telah mundur tentu akan bergembira, merayakan hari itu dengan pesta dan syukuran. Tetapi itu akan sama sekali mubazir jika penduduk kota itu tidak merespon kabar baik tersebut dengan usaha selanjutnya, yaitu agar tidak “jatuh ke lubang yang sama” atau bagaimana menahan serangan musuh, atau bagaimana berjaga-jaga agar kita tidak jatuh lagi.

Natal tentunya adalah kabar baik yang patut, dan sangat layak untuk dirayakan. Budaya-budaya yang meliputi perayaan Natal di seluruh dunia begitu menggembirakan. Di kota Manado misalnya, ada tradisi “pasiar” ke rumah sanak keluarga, di mana kita merayakan kabar baik ini bersama-sama. Kita saling bersilahturahmi satu dengan yang lain, momen Natal menjadi titik balik hubungan sosial antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Permasalahannya adalah jika kegiatan tersebut hanya menjadi seremonial belaka, dan kita pun hanya berputar-putar di tempat yang sama dan melupakan apa yang menjadi inti dari Natal itu sendiri, yakni kehadiran Yesus Kristus, sang juruselamat ke dalam dunia.

Kegiatan seremonial hanya akan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak membangun. Melahirkan persaingan-persaingan “hedonis” antara satu dengan yang lain. Belum lagi ditambah “serangan” iklan-iklan dan promosi-promosi diskon yang bertebaran untuk menghiasi tubuh dengan pakaian berwarna-warni sebagai bentu “kebaharuan” diri kita. Kehadiran Yesus Kristus sebagai pembaharu, pentransformasi di dalam dunia melalui hati kita terlupakan digantikan oleh diri kita. Ego menghiasi kegiatan seremonial-seremonial yang kemudian melahirkan hasrat-hasrat yang terjadi di dalam seremonial tersebut untuk menjadi “lebih” dari orang lain. Akhirnya kehidupan kita terjebak di dalam suatu egosentris yang terkurung di dalam penjara seremonial, yang dikelilingi dinding-dinding konsumerisme, dan dijaga oleh kehendak “tampil” yang tidak mengizinkan dirinya disogok oleh egoisme pribadi. Yesus Kristus pun hanya menjadi pengunjung tetap di dalam setiap kesempatan, jika diizinkan berkunjung oleh “sang penjaga”, dan bertugas hanya untuk menghibur jika terjadi kesusahan, di mana egoisme yang terkurung tersebut merasa sendiri.

Kematian Natal semakin hari semakin mendekati kenyataan. Bukan Natal itu sendiri bakal disingkirkan oleh orang-orang “kafir” tetapi sebaliknya, perlahan demi perlahan mulai digantikan oleh egoisme. Tuhan Yesus yang seharusnya menjadikan hati kita sebagai pusat kerajaan-Nya malah takjub, mungkin sedih, dengan transformasi menjadi penjara hati di mana ego kita menjadi tersangka utamanya. Di mana ego berkehendak untuk dirinya sendiri. Eksistensi Kristus, sebagai raja dan empu terhadap hati kita, digantikan menjadi pengunjung semata. Kehadiran Kristus akhirnya hanya akan menjadi perdebatan antara egoisme yang satu dengan egoisme yang lain, yang mereduksi Kristus di dalam relativitas egoisme pribadi semata. Sehingga pertanyaan apa makna kehadiran Yesus di dalam dunia terdiri atas makna-makna yang saling berbeda persepsi. Jika demikian, akankah kehadiran Yesus Kristus dapat memberikan damai sejahtera yang benar?

Mengingat Kembali Natal

Mengapa kehadiran Natal dinanti? Dalam pengertian dengan titik sentral yang benar secara mutlak, adalah kebahagiaan jika kehadiran Natal memang harus dinanti. Yesaya 9 mengatakan “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar”. Di dalam kegelapan yang pekat, seolah tanpa harapan. Dengan lamanya waktu yang terus berjalan, kita secara simultan terus menerus berjalan tanpa arah, tanpa definisi, atau kita bisa menyebutnya kekacauan. Kekacauan hadir di dalam suasana yang tanpa arah, tidak ada suatu tanda jelas mengenai arah ke mana kita harus mengarah. Setiap orang mengarah sesuai dengan keinginan hatinya yang gelap, pekat, terkurung di dalam penjara hati di mana egoisme berada. Natal adalah terang itu, Yesus Kristus adalah terang tersebut, yang menerangi jalan kita, sebagaimana harusnya kita berada di dalam lajur yang benar, tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan. Kehadiran terang itu harus dirayakan, dan direspon pula. Artinya, percuma kehadiran terang tersebut jika kita hanya sampai pada “berteriak hore” dan tidak melakukan apa-apa setelahnya. Diam atau melanjutkan perjalanan di tempat yang salah, yang menandakan kita itu buta.

Kelahiran Yesus Kristus tidak diwarnai dengan kerlap-kerlip media massa yang meliput. Kelahiran Raja semesta alam kalah pamor dengan lahirnya Pangeran George atau Putri Charlotte masa kini. Kelahiran-Nya tidak menarik dibanding titah kaisar Agustus yang melakukan sensus penduduk pada masa itu. Kelahiran Yesus Kristus bukan isu yang menarik untuk diangkat dibanding isu-isu politis tentang hadirnya mesias yang membebaskan dari penjajahan Roma, atau kontroversi-kontroversi yang dilakukan Herodes di istananya. Tidak. Yesus Kristus hadir dalam senyap, walaupun segenap warga Surga begembira dan berpesta pora, penduduk bumi tetap senyap di dalam malam yang pekat, terang yang berbinar di atas Betlehem hanyalah satu tanda alam semata.
Kelahiran Yesus Kristus menjadi pusat pemberitaan para malaikat-malaikat yang dengan gegap gempita memberitakan kabar baik itu kepada para gembala. Ini adalah legitimasi bahwa Yesus, adalah sang gembala yang baik. Di saat kesenyapan melanda sebagian besar penduduk, para gembala masih sibuk di padang menjaga domba-dombanya yang terlelap. Gembala yang rela mengorbankan waktu tidurnya hanya untuk mengurus domba-domba yang kelelahan menjalani aktivitas sehari-harinya. Kabar baik itu datang terlebih dahulu untuk gembala-gembala yang berkumpul di padang. Tentulah ada keterkejutan di sana, ketika malaikat Tuhan datang menampakkan diri di tengah-tengah mereka dan berkata “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa”, yang menjadi penenang atas keterkejutan mereka terhadap sosok asing yang hadir mendadak di malam gelap. “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud” lanjut malaikat yang memberitakan kabar baik itu secara sistematis. Kabar baik apakah yang dimaksud, tentu telah dinantikan oleh para gembala tersebut, dan malaikat yang diutus bukanlah robot yang bercakap tanpa sopan santun dan kaku, tanpa intonasi berbicara. Kabar baik itu adalah kelahiran Kristus! Tentu saja, adakah yang lebih daripada kelahiran Kristus bagi kita? Tidak ada! Kelahiran Kristus lah yang menjadi pusat kesukaan besar bagi seluruh bangsa! Berita yang dinanti-nanti oleh seluruh orang-orang, hadir terlebih dahulu pada para gembala-gembala. Juruselamat dunia, hadir bagi seluruh bangsa. Bukan hanya sekedar bangsa, tetapi pribadi! Penyampaian tersebut menggembirakan dan sekaligus membingungkan tentu saja. Setelah menyampaikan kabar baik, dan isi dari kabar baik itu, para gembala tentunya meminta tanda di dalam pemikiran mereka, yang kompak satu dengan yang lain yang menjadi telepati antar manusia yang ragu terhadap kehadiran Tuhan. Sebelum mereka memintanya, malaikat melanjutkan “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan”. Ini adalah tanda yang aneh, sedikit tidak logis dalam pandangan manusia tentu saja. Sebuah kabar yang menjadi kesukaan besar bagi seluruh bangsa, Kristus, Tuhan, dibungkus lampin dan terbaring di palungan? Apakah pantas untuk kelahiran seorang bayi yang digelari “Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai” untuk terbaring di dalam palungan? Bahkan lebih rendah dari manusia-manusia biasa yang lahir di dalam kamar yang tentu saja lebih baik dari palungan. Dan palungan? Bukankah para gembala itu tahu bahwa palungan yang dimaksud oleh malaikat itu adalah tempat di mana hewan ternak makan dan minum, dan itu terletak bukan di dalam pemukiman tetapi di dalam gua-gua yang menjadi tempat peristirahatan para gembala untuk memberi makan dan minum bagi ternak-ternaknya? Saya berpikir, kita tidak bisa meremehkan golongan gembala ini sebagai golongan yang tidak terpelajar atau semacamnya. Mereka bukan semata-mata tidak berpendidikan dan gembala bukanlah golongan rendahan yang remeh temeh. Daud juga adalah seorang gembala, dan membutuhkan keahlian khusus untuk menjadi seorang gembala. Tentu saja, dan saya yakin, para gembala akan melongo satu sama lain mengenai kabar baik ini sebelum makin terkejut dengan pertunjukan surgawi dari malaikat-malaikat yang memuji Allah. Itu adalah musik yang paling indah, terbaik, yang pernah di dengan oleh manusia yang hidup! Yakub melakukannya dalam mimpi, tetapi para gembala menyaksikannya langsung! Tentu saja di dalam bahasa malaikat yang bisa dimengerti di dalam bahasa para gembala itu sendiri, sama seperti peristiwa turunnya Roh Kudus sehingga murid-murid Tuhan dapat memberitakan kabar Injil yang bisa dimengerti oleh seluruh umat dari berbagai bangsa. Para gembala mengerti dan mengetahui kalimat yang berulang kali memuji Allah “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”.

Di dalam keterkejutan mereka, dan mereka tahu dan telah dibuktikan bahwa sosok yang terbaring di dalam palungan adalah sosok Juruselamat, sosok Kristus, Tuhan, yang telah diberitakan oleh malaikat adalah benar adanya. Jika itu tidak benar adanya, maka malaikat yang mengabarkan kabar baik itu kepada para gembala hanya akan dianggap sebagai ilusi, atau hantu yang muncul di tengah malam bolong. Kehadiran malaikat-malaikat yang memuji Allah menghadirkan suatu bukti, bukan fenomena, tetapi kebenaran, bahwa Kristus telah lahir dan itu adalah fakta, bukti Allah hadir bagi kita. Allah menggenapi apa yang telah direncanakan-Nya. Firman yang telah ada pada mulanya, bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah, telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Para gembala tidak hanya duduk, terdiam dan melongo, tetapi berespon atas kabar baik ini. Kabar baik yang diterima ini akan sia-sia jika hanya didiamkan saja, tidak ada respon, dan sama sekali tidak menjadi berkat bagi kita.

Saya melihat di Alkitab, dan menilai, ada tiga hal yang dilakukan oleh para gembala, sebagai respon atas kabar sukacita dan keajaiban serta kebesaran Allah yang dinyatakan secara langsung kepada mereka. Pertama adalah respon ajakan. Gembala, seorang dengan yang lain, saling mengajak untuk melihat apa yang terjadi di Betlehem. Itu adalah hal yang indah karena mereka berespon terhadap sesama rekan mereka, mengajak untuk melihat kabar baik itu. Adalah hal yang sama bukan ketika kita, telah diselamatkan oleh anugerah Yesus Kristus, respon kita yang paling pertama adalah mengajak rekan terdekat kita, entah itu keluarga atau kerabat, sahabat atau rekan. Kita yang telah diselamatkan, telah mengalami kabar baik, mujizat yang surgawi di dalam hati kita, berespon melalui ajakan terhadap orang-orang dekat kita, yang ada disekeliling kita. Para gembala saling mengajak satu dengan yang lain, mereka “berkata seorang kepada yang lain”.

Hal yang kedua adalah menceritakan. Bukan main kaget tentu saja, ketika para gembala menjumpai bayi Yesus, “yang dibungkus lampin dan terbaring di dalam palungan”, ditemani oleh kedua orang tuanya semalaman suntuk, terjaga, menjaga bayi Yesus agar tetap hangat di dalam palungan yang telah diatur sedemikian rupa agar bayi Yesus tidak terganggu dengan dinginnya malam. Para gembala yang “cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan” dalam antusiasme mereka, menceritakan apa yang terjadi sebelumnya. Ada percakapan di sana, ada semangat yang berkobar-kobar menceritakan apa yang baru saja terjadi dan apa yang dilihat mereka, yang menyatakan sebuah kebenaran mutlak atas kelahiran Juruselamat. Suatu kebenaran tidak akan pernah disembunyikan, atau tersembunyi. Dan para gembala sama sekali tidak menyembunyikan apapun, melebih-lebihkan, atau mengurangi apa yang telah mereka alami kepada Yusuf dan Maria. Momen tersebut terjadi ketika, para gembala “melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu” yang tentu saja membuat sontak kaget bagi mereka yang hadir di sana. Alkitab mengatakan “dan semua orang yang mendengarnya heran” memiliki dua arti, pertama, semua orang di tempat itu hanyalah Maria dan Yusuf, dan keduanya heran, saling memandang satu dengan yang lain atas cerita para gembala. Kedua, ada bantuan “kemanusiaan” yang hadir di sekitar kelahiran Yesus yang tidak diceritakan karena, bisa saja mereka tidak tahu pesan utama yang ingin disampaikan Allah kepada mereka, atau hati orang-orang yang hadir, selain Yusuf, Maria, dan para gembala, yang memandang kelahiran Yesus Kristus hanyalah salah satu dari banyak kelahiran yang terjadi. Tetapi itu tidak mengurangi semangat, antusias, dari para gembala menceritakan tentang kelahiran Juruselamat itu. Maria sendiri, tidak dapat berkata apa-apa sehingga “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya”.

Dan hal yang ketiga, mengembalikan kemuliaan Allah. Para gembala tidak menganggap diri mereka, sebagai saksi atas suatu peristiwa besar, ajaib, mengguncang dan mencengangkan, sekaligus sukar untuk menjadi suatu hal logis, menjadi penting. Mereka mengembalikan seluruh kemuliaan yang Tuhan berikan, dan tidak mengambilnya untuk kepentingan pribadi, kepada Tuhan. Para gembala itu kembali ke rumah mereka masing-masing “sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka”. Suatu nyanyian baru yang Tuhan telah tampakkan mereka nyanyikan, dan sama sekali tidak mengambil kemuliaan Allah demi kepentingan pribadi. Tidak sedikit orang, yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus, yang telah menyaksikan dan menjadi saksi atas perbuatan-Nya yang ajaib di dalam kehidupan, mengambil kemuliaan Allah demi kemuliaan pribadi. Kemuliaan yang seharusnya milik Tuhan, dan Tuhan semata, dipakai demi meraup keuntungan fana. Sehingga tidaklah mengherankan jika nama Tuhan lebih sekedar “slogan pemasaran” atas produk yang telah dipakainya dan sekarang mereka akan menjual-Nya demi keuntungan sesaat, seperti Yudas Iskariot.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: