Beranda > What I See > Paris, Spectre, dan Kopi

Paris, Spectre, dan Kopi

Kejadian tanggal 13 November 2015, atau 14 November dinihari di Indonesia, mencengangkan dunia. Mencengangkan karena terjadi di Paris, dalam satu waktu yang berdekatan, di beberapa tempat dan berakibat masif. Ada 129 orang tewas, dan ratusan lainnya terluka dalam satu serangan mematikan yang terjadi di Paris. Dunia berduka.

Sebelum kejadian di Paris, terjadi pula serangan mematikan di Beirut, yang sudah pasti “kurang menarik” bagi khalayak ramai media sosial. Dunia seolah sudah menerima nasib “manusia” di sana sebagai korban akibat perseteruan sekte agama, dunia tidak terlalu berduka. Tetapi Paris!? Kota cahaya dengan ribuan romantisme, terganggu oleh satu tragedi berdarah. Hak-hak manusia yang ada di Paris terganggu, terancam dan perlu melawan ancaman tersebut. Korban-korban yang jatuh sudah sepatutnya lebih didukakan, lebih bersimpati, dan kematian mereka membuat dunia berduka.

Kejadian di Paris, merujuk pada waktu di Indonesia, terjadi pada tanggal 14 November dinihari. Hari di mana saya harus menjadi moderator seminar dan diskusi mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) oleh Areopagus. Pembicara terakhir, Pak Tumbur, merekomendasikan untuk menonton film James Bond terbaru dengan judul Spectre. Well, beliau memang penggemar berat serial film tersebut dan tidak heran tiap kali kemunculan film tersebut, tidak lupa pula beliau menyinggungnya. Saya pun tertarik untuk menonton film tersebut untuk pertama kalinya, saya tidak pernah menonton film yang sudah memiliki lebih dari 20 seri tersebut.  Dan menarik.

Kaitannya dengan Paris? Spectre termasuk film yang, bagi saya, begitu menarik karena mengulas satu konspirasi yang dijalankan oleh sebuah organisasi bernama Spectre, sebuah organisasi yang berada di balik kejahatan-kejahatan di dunia. Kisah ini, di mana, pemimpin dari organisasi ini ingin menguasai informasi, informasi intelejen berbagai negara dalam satu sistem terintegrasi. Informasi adalah komoditas saat ini, dan sudah sepatutnya diperhatikan oleh otoritas intelejen, yang kemudian mengambil jasa pengawasan oleh suatu perusahaan swasta yang dikendalikan oleh satu orang. Melalui pengawasan informasi, negara dikendalikan, menjadi satu bentuk totaliter baru di abad ini. Dan si agen 007, melalui berbagai teka-teki yang sudah dipecahkan, harus mencegah sebelum hal ini terjadi.

Kejadian di Paris pun menjadi pertanyaan, apakah ada satu kelompok yang sengaja berkonspirasi di balik serangan mematikan ini? Tidak sedikit pula, nantinya, akan bermunculan teori-teori konspirasi, atau dugaan-dugaan konspirasi yang dilakukan demi satu kepentingan. Sudah resmi, Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) menyatakan bertanggungjawab terhadap serangan Paris, tetapi orang akan tetap bertanya adakah “orang kuat” di balik topeng ISIL, yang terus menyokong eksistensi kelompok itu? Atau, seperti adegan di film Spectre di mana negara Afrika Selatan tidak setuju dengan usaha penggabungan intelejen ke dalam satu organisasi yang kemudian muncul peristiwa terorisme, apakah serangan di Paris diperlukan untuk suatu tujuan? Mungkin kita hanya penonton, biarlah James Bond di dunia nyata yang harus mengurai satu per satu teka-teki di balik itu semua, seperti di dalam film Spectre.

Setelah selesai menonton film Spectre, saya pergi ke satu kafe yang menyediakan kopi. Bukan pecinta kopi, hanya senang saja dengan kopi, saya datang ke kafe dan memilih satu pilihan kopi yang tersedia. Secangkir kopi panas saat disajikan tidak dicampur gula atau pemanis lain, murni seperti adanya. Pahit. Ketika menikmati secangkir kopi tersebut, kepahitan menyebar di lidah saya. Namun hidung saya menikmati aroma, yang menjadi ciri khas kopi. Pahit dan harum adalah kontradiksi dalam menikmati kopi. Rasa dan aroma adalah khas dari kopi, dan setiap jenis kopi memiliki perbedaan.

Kopi menjadi kontradiksi bagi saya saat itu, di satu sisi membuat rasa pahit menyelimuti lidah, di sisi lain hidung kita diberikan aroma harum khas kopi. Tragedi Paris, di satu sisi, perasaan kita memberikan kepahitan, terutama bagi orang-orang yang ditinggalkan korban-korban tewas di sana. Di sisi lain, kita bisa mencium lagi adanya keharuman di dalam persahabatan antar umat manusia. Saling mengingatkan, saling mendoakan, dan saling peduli. Terlepas dari kritik terhadap media dan pemimpin dunia yang menanggap peristiwa di tempat lain, seperti Beirut tidak dianggap, merupakan bentuk perhatian bagi kelangsungan kemanusiaan, yang tidak hanya ada pada satu tempat. Bukankah ada ungkapan, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kepahitan Paris, dan serunya menonton Spectre, tersimpul di dalam satu cangkir kopi di akhir pekan.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: