Beranda > What I See > Terserah

Terserah

Berapa kali dalam hubungan sosial kita, kita mendengar kata “terserah” pada saat pengambilan keputusan, entah untuk menentukan warna baju yang akan dipakai, tempat nongkrong, hingga hal-hal bersifat kritis macam kebijakan-kebijakan di dalam perusahaan bahkan negara. Kata “terserah” menjadi lumrah diucapkan. Tetapi menurut saya, mungkin bagi sebagian orang tidak, penggunaan kata “terserah” ketika diserahkan kesempatan untuk mengungkapkan pendapat atau untuk mengambil keputusan tidaklah baik.

Kata “terserah” didasarkan pada suku kata “serah” dengan diberi awalan “ter”. Kata “serah” memiliki arti (1) mempercayakan diri dan nasib; (2) bertawakal; dan (3) pasrah. Di dalam hubungan sosial, penggunaan “serah” pada kata “terserah” lebih mengarah pada arti kata, antara yang pertama dan ketiga. Sedang awalan “ter” memiliki arti (1) paling atau sangat; (2) dapat atau berhasil; (3) tidak disengaja; dan (4) tiba-tiba. Penggunaan kata “terserah” di dalam hubungan sosial, misalnya “mau makan apa?” dan dijawab “terserah”. Tetapi bisa juga jika kita ditanya seperti ini, misalnya “apa yang harus saya lakukan” dan dijawab “terserah”. Penggunaan kata “terserah” pun menjadi kata, yang dipakai, seolah-olah menyerahkan semuanya, apa yang ditanyakan kepada yang menanyakan.

Bagi saya, tidak baik, jika seseorang bertanya ingin mendapatkan, semacam persetujuan atau kesepakatan bersama, tetapi dijawab dengan “terserah”. Memang, mungkin dalam pikiran kebanyakan orang, penggunaan kata “terserah” adalah karena mereka merasa tidak memiliki ide, atau kompetensi untuk menetapkan suatu keputusan, bahkan tidak sedikit orang yang tidak memiliki nyali untuk mengambil keputusan atau setidaknya bersuara. Herannya, justru mereka, yang mengatakan “terserah” adalah orang yang paling vokal dalam mengkritik. Mungkin ini adalah salah satu bentuk-bentuk golput masa kini.

Ada 3 makna, menurut pengalaman saya dalam lingkungan sosial saya, di dalam penggunaan kata “terserah.

Memindahkan Tanggung Jawab

Beberapa kali, ketika saya sedang jalan-jalan atau sedang merencanakan jalan-jalan, bertanya pada teman-teman saya, misalnya tempat nongkrong atau bagaimana cara ke suatu tempat, seringkali dijawab “ya, terserah sih” dan itu membuat saya bingung. Karena saya memiliki pendapat sendiri, sehingga butuh pendapat orang lain untuk bisa mencari jalan keluar. Selain itu, pengalaman kawan-kawan saya lain di tempat kerja pun demikian. Sehingga saya berpikir jika penggunaan kata “terserah” ini lebih digunakan untuk, memindahkan tanggungjawab atau tidak ingin bertanggungjawab.

Dalam beberapa kasus, memang orang tidak ingin dirinya bertanggungjawab atas setiap keputusan yang akan diambilnya. Kata “terserah” adalah kata paling sopan dari semua kosakata yang ada di dalam bahasa Indonesia yang berkesan “kamu pilihlah, saya tidak ikutan”. Seolah diri orang tersebut tidak ingin bertanggungjawab jika terjadi kesalahan dalam eksekusi, atau tidak disenangi. “Terserah” adalah kata yang melindungi diri sendiri dari ancaman-ancaman negatif, sebaliknya menjadi orang yang ikut dalam “pujian” jika keputusan itu berakhir sukses.

Bukan Opini

Kata “terserah” bukanlah sebuah opini. Tetapi merupakan kata yang tidak memiliki arti selain “urusanmu”. Memang dalam pribadi berpribadi, “urusan” adalah menjadi tanggungjawab pribadi masing-masing. Menempatkan kata “terserah” berarti memberikan kekuasaan pada pribadi lain untuk memilih opini, bukan opini itu sendiri. “Terserah” lebih merupakan kata untuk memberikan pilihan yang kita miliki kepada orang lain. Berbeda jika keputusan itu memang ada di tangan pribadi, tetapi jika ada dalam kelompok, penggunaan kata terserah bukan opini yang mewakili ide-ide tetapi merupakan pemindahan kekuasan untuk membuat keputusan.

Pasrah

Mengambil definisi keempat dari kata “serah”, yang menjadi kata dasar “terserah”, pasrah adalah hal yang tersirat dibalik makna kata “terserah”, di dalam pergaulan saya sejauh ini. Pasrah, memang seperti “saya ikut opini kamu” atau “saya lagi tidak punya ide”, membuat orang-orang mudah mengatakan “terserah deh”. Bisa juga arti makna “terserah” merupakan kalimat kesimpulan, yang berarti “pasrah” jika ada perdebatan tak bertepi dan mulai memeras emosi. Kemudian salah satu pihak akan mengatakan “terserah” sebagai, entah itu kesimpulan atau hanya untuk menepikan perdebatan yang terjadi.

Well, sejauh ini, kata “terserah” memiliki arti yang demikian bagi saya. Dalam pergaulan saya, percakapan yang terjadi, dan di dalam lingkungan sosial di mana saya berada. Tidak sedikit kata ini menjadi “keyword” dalam percakapan-percakapan antar manusia. Bahkan, berujung pada kesimpulan dari satu percakapan yang tidak bertepi, alias perdebatan. Mungkin, anda punya pendapat lain, “terserah” anda.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: