Beranda > What I See > Mangakage Starbucks

Mangakage Starbucks

Baru-baru ini, salah satu kafe dengan merek terkenal, Starbucks, dibuka di Manado. Kafe yang terkenal dengan sajian kopinya, telah mendunia, dan mengubah gaya hidup masyarakat perkotaan, khususnya kota besar. Dari sekedar kafe kecil, Starbucks menjelma menjadi salah satu korporasi besar di dunia dengan jaringan coffeehouse nya yang tersebar di 65 negara. Ada lebih dari 22ribu kedai kopi Starbucks di 65 negara tersebut, 12ribu di antaranya tersebar di Amerika.

Starbucks bukan saja menjelma menjadi korporasi besar, tetapi juga mengubah atau menjadi patron perubahan gaya hidup baru, atau sekarang mungkin bisa disebut dengan kekinian. Merek Starbucks melekat pada orang-orang yang berpenghasilan menengah ke atas. Selain itu, kehadiran di Starbucks menambah “nilai” dari seseorang karena nilai dari Starbucks yang membawa nilai “pengalaman” yang berbeda dari merek-merek lain.

Manado, akhirnya, mendapatkan kesempatan di mana Starbucks bisa hadir. Kehadiran Starbucks di satu kota, memiliki arti, bahwa kota tersebut memiliki tingkat konsumsi gaya hidup yang tinggi, atau orang berani membelanjakan uangnya untuk menyokong gaya hidupnya. Ada kaitan antara Starbucks dan gaya hidup masyarakat suatu kota. Kehadiran Starbucks bisa dihubungkan dengan gaya hidup masyarakat Manado, bahkan masyarakat secara keseluruhan, terutama mereka yang menjadi target market, “kasta” menengah ke atas.

Masyarakat Manado, umumnya, termasuk golongan yang masuk dalam target market Starbucks. Belum lagi “ideologi” biar kalah nasi asal jangan kalah aksi seolah merebak di setiap aspek hidup konsumtif masyarakat Manado. Maka tidak heran, gaya hidup tinggi tanpa didukung kemampuan finansial yang kuat, mendorong orang untuk melakukan “korupsi” bahkan “menjual diri”. Dan tentunya, pihak Starbucks masa bodoh dengan hal demikian.

Kemudian, menyangkut perilaku “mangkage” karena kehadiran Starbucks di Manado, banyak teman di media sosial yang mengkritik perilaku sesama masyarakat Manado. Kehadiran medsos membuat orang-orang tampil lebih “kekinian” sehingga setiap tempat yang dilewati atau dihadiri, peristiwa yang terjadi, hingga curahan hati bisa muncul secara “live” bahkan “ter-update”. Apalagi saat mengunjungi tempat “elit” macam Starbucks.
Mangkage, kalau bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, mungkin lebih dekat dengan kata “udik”. Tapi kalau dilihat dari perilaku “mangkage”, tidak tepat rasanya mendekatkannya dengan arti “udik”. Dari salah satu blog, saya mengutip definisi “mangkage” adalah melebih-lebihkan sesuatu yang tidak penting. Bisa juga. “Mangkage” menurut definisi saya adalah kaget akan hal yang baru. Dan itu tidak terjadi karena masyarakat hidup di daerah yang tradisional, atau masih ada budaya kolot di dalam lingkungannya. Perilaku ini memang, seringkali, ditujukan kepada masyarakat yang tinggal di kampung atau desa, ketika mereka datang ke kota. Well, tetapi perilaku ini bisa hadir di seluruh masyarakat, baik kaya maupun miskin, tidak mempermasalahkan tempat dan waktu.

Ketika Starbucks hadir di Manado, banyak memang yang mengkritik perilaku “mangkage”. Hanya menurut saya, kritik tersebut lebih dikarenakan, karena mereka memang sudah pernah ke Starbucks di kota lain, Jakarta misalnya. Dan di sana pun, mungkin, mereka “mangkage” dengan tempat itu. Tidak sedikit juga warga Manado yang datang ke Starbucks hanya untuk memuaskan “mangkage” nya. Padahal, di sini, di Jakarta sendiri, Starbucks adalah bagian dari gaya hidup masyarakat kelas menengah ke atas, sebagian besar memiliki kantong uang yang banyak, dan mereka tentunya bukan gaya-gayaan tetapi memang di Starbucks menyediakan tempat yang “cozy” untuk berbagai alasan seperti mengerjakan tugas kantor karena tempat ini disediakan jaringan akses internet yang memuaskan, tempat ngobrol atau nongkrong, bahkan tempat meeting sekelas eksekutif muda. Bisa pula tempat untuk menjajakan produk macam MLM. Tapi itu memang bagian dari gaya hidup kota metropolitan macam Jakarta. Tentu berbeda dengan orang, dari Manado misalkan, yang sebelumnya belum memiliki Starbucks, kemudian datang ke Starbucks lalu menjadi berita besar bagi dirinya datang ke Starbucks.

Sekarang, masyarakat Manado bisa menikmati Starbucks. “Mangkage” mereka saya bisa mengambilnya dengan sikap positif. Terutama untuk warung-warung atau kedai-kedai kopi yang telah ada sebelumnya di Manado dapat memperbaiki pelayanannya. Dengan mencoba mengeksplorasi, nilai-nilai yang dianut oleh Starbucks, sehingga mampu menciptakan lebih dari 22ribu kedai kopi di 65 negara, rasanya tidak ada salahnya untuk “mangkage”.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: