Beranda > What I See > Menunggu MEA

Menunggu MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN atau lebih dikenal dengan singkatan MEA akan segera bergulir tahun depan, 2016. Seharusnya sudah diterapkan pada tahun 2015 ini, namun ditunda hingga 2016. Saya tidak tahu kenapa ditunda, tetapi waktu berjalan cepat, mau tidak mau, siap tidak siap, kita sebagai warga masyarakat ASEAN akan menghadapinya.

MEA, di dalam definisinya yang ada di Wikipedia Indonesia, adalah sebuah integrasi ekonomi ASEAN dalam menghadapi perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN. Menurut BBC Indonesia, tujuan dari pembentukan MEA ini adalah untuk meningkatkan daya saing negara-negara ASEAN ketika berhadapan dengan negara-negara di Asia lainnya yang berpenduduk raksasa macam Cina dan India.  Dan lewat pembentukan MEA ini, nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara. Lebih dari itu, MEA juga tidak hanya melulu soal produk berupa barang dan jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja. Dari BBC Indonesia juga, bahwa salah satu persyaratan MEA adalah penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing (khususnya di dalam ruang lingkup ASEAN).

Kalau menilik apa yang akan terjadi di MEA, paling kurang kita dapat melihat apa yang terjadi di Uni Eropa. Uni Eropa adalah pembanding yang pas dan sesuai karena sudah berjalan selama bertahun-tahun, telah menikmati berbagai manis dan pahitnya suatu komunitas regional. Berbagai produk, jasa, dan manusia hilir mudik ke satu negara ke negara yang lain tanpa lagi mengindahkan batas-batas fisik antar satu negara dengan negara yang lain di bawah payung hukum Komunitas Uni Eropa. Keseluruh negara terhubung secara infrastruktur dan bahasa yang saling dipelajari satu sama lain. Selama kepentingan nasional suatu negara tidak terganggu, dan stabilitas kawasan terjamin maka krisis terhadap komunitas dapat diatasi. Namun Uni Eropa juga sudah merasakan pahitnya menjadi satu komunitas regional. Negara-negara yang lebih melindungi kepentingan nasional ketimbang kepentingan regional menjadi duri dalam daging. Kita bisa lihat bagaimana negara-negara Uni Eropa satu per satu terguncang krisis ekonomi yang memaksa negara-negara kaya seperti Jerman berkompromi.

Di satu sisi, peluang kerja masyarakat yang ada di dalam Uni Eropa menjadi lebih luas. Tidak dibatasi oleh geografi dan budaya. Seseorang yang mampu memenuhi kualifikasi pekerjaan yang ditetapkan bisa bekerja di negara lain. Misalnya, pemain sepakbola, contoh yang paling saya ingat, negara-negara di luar negara Uni Eropa harus memiliki izin kerja yang ditentukan otoritas negara tersebut. Liga Inggris misalnya menerapkan aturan ketat bagi pemain non-UE untuk berlaga di liga tanpa memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan, misalnya telah 5 tahun berada di negara UE (sudah memiliki paspor negara UE) atau telah berpartisipasi di tim nasional. Di Liga Italia misalnya hanya memperbolehkan 1 pembelian pemain berpaspor non-UE selama satu tahun. Liga Spanyol dan Jerman membatasi daftar pemain berpaspor non-UE yaitu 4 dan 5 pemain saja. Untuk pemain-pemain berpaspor Uni Eropa mendapat kemudahan, namun di satu sisi meningkatkan persaingan antar pemain-pemain lokal dan pemain-pemain luar yang kemudian biasanya berujung pada prestasi sepakbola suatu negara, misalnya Inggris.

Hal yang sama juga dapat terjadi di MEA, walaupun belum akan sekompleks apa yang terjadi di Uni Eropa. Tidak akan terjadi di tahun-tahun awal berjalannya MEA karena tiap-tiap orang masih meraba-raba peluang. Tetapi persiapan untuk meningkatkan daya saing harus dilakukan saat ini. Mengutip dari BBC Indonesia lagi, bahwa MEA akan mempengaruhi pekerja yang berkecimpung pada sektor keahlian khusus misalnya dokter, pengacara, akuntan, dan profesi ahli lainnya. Sehingga, mereka yang di negara-negara MEA yang memiliki keahlian, akan mudah bepergian dari negara satu ke negara lain selama kualifikasi, dan terutama kemampuan berkomunikasi, diakui dan memiliki kualitas performa dan ekonomi yang lebih baik. Para perusahaan-perusahaan raksasa di lingkup ASEAN pun tidak perlu malu-malu lagi melakukan investasi, perekrutan tenaga-tenaga ahli yang produktif dan profesional dari negara-negara ASEAN, dengan pasar ASEAN.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia adalah salah satu negara pendiri ASEAN dan memiliki penduduk dan luas negara yang terbesar di antara negara-negara ASEAN. Indonesia sendiri adalah pasar utama bagi produk-produk dan jasa-jasa, serta tenaga kerja. Jika persaingan antara produk lokal dengan produk luar negeri masih, walaupun saya ragu, masih dilindungi pemerintah tetapi dengan adanya MEA ini akan menambah jumlah barang dan jasa yang serupa, sehingga menciptakan persaingan satu dengan yang lain di mana peran pemerintah adalah sebagai pengatur persaingan agar tercipta persaingan yang sehat. Potensi produk Indonesia ke luar negeri pun terbuka lebar, produk-produk seperti bahan makanan dan tekstil bisa dengan mudah masuk ke negara-negara ASEAN asal mematuhi standar dan peraturan produk yang berlaku di negara yang dituju. ASEAN akan menjadi satu “negara” dengan peluang pasar yang besar.

Menurut situs marketing.co.id yang terbit tahun 2014, menyatakan, di dalam MEA akan diaplikasikan peraturan-peraturan yang mengatur arus barang, jasa, informasi, dan tenaga kerja. Misalnya penerapan self-certification yang memungkinkan pengekspor menyatakan keaslian produk mereka dan menikmati tarif preferensial yang memudahkan pebisnis melakukan ekspansi ke negara-negara ASEAN lainnya. Kemudian, penerapan standar kualitas untuk jenis-jenis produk yang akan diperdagangkan di dalam ruang lingkup ASEAN. Sedangkan untuk tenaga kerja, mengutip BBC Indonesia, kualifikasi tenaga kerja yang mampu berkomunikasi dengan rekan-rekan lain, yang nantinya mungkin berasal dari negara-negara ASEAN lainnya adalah hal yang utama selain kualifikasi untuk pekerjaannya. 

Hingga saat ini, gaung MEA memang belum semeriah gaung politik yang terjadi di negara Indonesia. Namun tidak ada salahnya mempersiapkan diri. Indonesia tidak harus menunggu negara lain atau membandingkan dengan persiapan dengan negara lain karena fokus dan tujuan nasional adalah peningkatan kesejahteraan dan kecerdasan kehidupan berbangsa. Melalui MEA, diharapkan pemerintah akan lebih serius meningkatkan daya saing produk-produk lokal, tenaga-tenaga ahli lokal, yang kemudian bisa menempatkan diri di negara-negara ASEAN lainnya sehingga negara Indonesia tidak hanya menjadi sebuah pasar raksasa di dalam komunitas ASEAN tetapi juga mampu menghasilkan suatu produk dan jasa yang berkualitas, serta tenaga kerja yang terampil.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: