Beranda > What I See > Menjenguk Bayi.. Dan..

Menjenguk Bayi.. Dan..

Pada hari libur Lebaran kemarin, saya berkesempatan mengunjungi keluarga teman baik saya. Well, sahabat saya ini telah yatim piatu dan tinggal bersama keluarga kakaknya yang telah menikah, serta ibunda dari kakak iparnya. Beberapa kali saya mengunjungi mereka jika ada kesempatan. Namun pada kesempatan tersebut, kakaknya baru saja melahirkan bayi perempuan yang kira-kira sudah berumur hampir sebulan. Bayi mungil tersebut dipanggil Ata atau Alene. Saya menyaksikan, kali pertama, bagaimana bayi itu melakukan kegiatan sehari-harinya. Tidur, nangis karena kehausan, kemudian nangis karena sudah buang air besar atau air kecil, diberi asi, main sedikit, kemudian tidur lagi. That’s it! Kegiatan seorang bayi mungil. Pada saat bayi itu buang air besar, dan mamanya yang membersihkannya dari kotoran-kotoran yang bewarna kuning cair tersebut. Saat mendekati si bayi, karena rasa ingin tahu, mamanya menjelaskan perubahan warna kotoran pada si bayi – dan itu terjadi pada setiap bayi yang baru lahir. Awalnya belum berwarna kuning kecoklatan, melainkan hitam dan hijau. Maksudnya? Tanya saya pada mama si bayi, yang kemudian menjelaskan “itu adalah racun-racun yang ada dalam tubuh si bayi dan lewat asi membersihkan racun-racun tersebut yang dibuang lewat kotoran”.

Bagi saya, yang belum kawin, ini adalah suatu pengetahuan baru. Walaupun ini pengetahuan umum, tapi jujur ini suatu yang baru bagi saya dan merasa “wow” takjub karena penjelasan itu. Kemudian dari penjelasan itu, pikiran saya menuju kepada konsep lahir baru yang disebut Yesus dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus (Yohanes 3:1-21). Pada ayat 5, “… jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan roh …” yang memiliki maksud kelahiran baru tersebut. Well, saya tidak mau berteologi di sini karena saya bukan seorang calon pendeta, atau mahasiswa ilmu yang demikian, bukan! Saya hanya mencoba untuk mencari pemahaman mengenai kelahiran baru tersebut yang bisa dimetaforakan di dalam kehidupan manusia itu sendiri.

Di dalam ayat 3, Yesus berkata “… jika seseorang tidak dilahirkan kembali …” dan semua orang tahu ini bukanlah suatu kegiatan biologis seperti yang dimaksudkan oleh Nikodemus (ayat 4). Jika kelahiran kembali adalah suatu kegiatan biologis, maka tidak sedikit manusia akan berusaha demikian karena mereka akan terus hidup. Atau, jika hanya diijinkan sekali kelahiran baru maka suatu kegiatan biologis akan kelahiran baru akan memperpanjang usia manusia. Dan jelas apa yang dimaksud Yesus bukanlah demikan!

Kemudian Yesus menjelaskan kepada Nikodemus mengenai apa itu “dilahirkan kembali” pada ayat 5. Sama seperti si bayi mungil yang baru lahir tersebut, dan sempat saya mengandai-andaikan bahwa bayi mungil tersebut adalah sosok saya yang “dilahirkan kembali”. Saya akan diberikan “makanan” yang tidak keras tapi berupa susu asi yang cair untuk memberi asupan ke dalam “tubuh saya”. Tapi sebelum kita lebih jauh ke sana, mending saya berimajinasi terhadap si bayi lebih dahulu yang adalah bayi daging, sama seperti saya yang berdaging. Kata Yesus pada ayat 6 “apa yang dilahirkan daging, adalah daging …” dan ingat lagi kalimat tersebut, “apa dilahirkan daging adalah daging”. Kalimat tersebut menggambarkan natur biologis manusia yang adalah daging. Saya memiliki daging di otot lengan saya, betis dan paha, di perut yang rada ke depan ini pun demikian walaupun cuman sedikit. Dan bagaimana menghidupi itu? Memberinya nutrisi agar onggokan daging yang bernama manusia bisa tumbuh. Dari mana nutrisi tersebut? Dari daging pula kan, yang saya maksud di sini adalah sesuatu yang dihasilkan manusia atau memiliki bentuk fisik. Misalnya si bayi tadi, dalam ketidakberdayaannya sebagai seorang bayi yang baru dilahirkan, yang belum cukup mampu memperoleh makanannya sendiri maka ibu dari si bayi akan memberikannya asi yang berasal dari tubuh ibu si bayi. Tidak mungkin akan diberikan asi dari serigala, kecuali si bayi itu mungkin Romus dan Romulus. Maksud saya, apa yang diberikan terhadap si bayi adalah hal yang sesuai dengan natur dia yang adalah daging (manusia). Tidak mungkin si bayi yang adalah daging akan diberikan buaian-buaian kalbu ala motivator agar dia kuat, karena memang bukan itu yang dibutuhkannya.

Nah, Yesus berkata pada ayat 5, sebelum Dia berkata kalimat tadi, bahwa “dilahirkan kembali” adalah suatu proses kelahiran kembali, bukan dari daging, tetapi dari “air DAN Roh”. Saya perlu memberikan huruf kapital pada kata DAN agar meyakinkan bahwa itu adalah suatu syarat yang keduanya harus dipenuhi, bukan salah satu saja tetapi keduanya. Well, saya yang bebal di kelas agama sudah agak lupa makna air tetapi dalam Matius 3:11 dijelaskan bahwa air adalah “tanda pertobatan”. Air adalah tanda pertobatan yang bersifat dunia, artinya air bersifat material yang bisa diraba, dirasakan di atas permukaan kulit, dan jika kita kena air dalam jumlah yang besar maka akan terjadi yang namanya basah! Tapi seperti yang dikatakan Yesus, “jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh”, menyatakan bukan hanya dari air yang adalah proses “dilahirkan kembali” tetapi juga perlu dilahirkan kembali dari “Roh”. Well, itu yang menariknya, air adalah suatu materi, benda, bersifat cair dan kita bisa merasakannya di atas kulit kita. Dan Roh? Apakah itu Roh? Menurut KBBI roh adalah “sesuatu (unsur) yang ada di dalam jasad yang diciptakan Tuhan”. Mengambil dua kata terakhir menurut KBBI “diciptakan Tuhan”. Artinya, roh yang dimaksud adalah roh yang berasal dari Tuhan, diciptakan oleh Tuhan, terutama dalam Alkitab kata Roh memiliki huruf kapital R sehingga bisa disimpulkan itu adalah Roh yang berasal dari Tuhan. Jadi jika kita memenggal kalimat tadi menjadi dua pernyataan, pernyataan 1 dan pernyataan 2 maka, pernyataan 1: jika seseorang tidak dilahirkan dari air; dan pernyataan 2: jika seseorang tidak dilahirkan dari Roh, maka kita memiliki 2 kondisi yang harus dipenuhi untuk “dilahirkan kembali”.

Oh, tapi sebelum itu saya menuliskan secara lengkap ayat yang menjelaskan mengenai “dilahirkan kembali” itu sehingga saat masuk ke penguraian saya tidak akan tersesat dan binun, eh bingung. Oke, pada Yohanes 3:5 bunyinya “Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah”. Dari struktur kalimatnya, kalimat yang digunakan Yesus merupakan kalimat pengandaian tipe 1 yang bersifat negatif. Tipe 1, kalo dalam bahasa Inggris, ciyee Inggris, adalah kalimat pengandaian yang bersifat sebab akibat. Kalimat pertama terjadi, baru akan terjadi kalimat kedua. Saya, dengan begitu awam, mencoba membagi kedua struktur kalimat pengandaian itu menjadi “jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh” dan, kalimat yang menyatakan suatu akibat dari kalimat pertama adalah “ia (seseorang itu) tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah”. Ehm, kerajaan Allah yang dimaksud di sini adalah surga, you know what I mean, don’t you? Ya surga, jadi, sedikit menakut-nakuti, kalo tidak terjadi “kelahiran dari air dan Roh” maka jangan ngarep deh ya bisa masuk ke sono. Tapi itu adalah kebenaran, bukan? Sekarang, karena itu adalah merupakan kalimat pengandaian bersifat negatif maka saya coba merubahnya menjadi positif. Salah? Rasanya tidak karena struktur kalimat tersebut adalah negatif dan negatif yang sudah pasti bersifat positif. Kalimat tersebut tidak tersusun atas kalimat positif dan kalimat negatif, serta sebaliknya, tetapi tersusun atas kalimat negatif saja. Jika saya mengubahnya menjadi “… sesungguhnya, jika seseorang dilahirkan dari air dan Roh, ia dapat masuk ke dalam kerajaan Allah”. Dan, well, saya juga tidak begitu mengerti kenapa Yesus menggunakan kalimat negatif pada kedua struktur kalimat pengandaian-Nya itu. Mungkin karena kondisi itu, atau syarat tersebut adalah suatu keharusan.

Kembali lagi ke pernyataan 1 dan pernyataan 2, saya, dengan awam lagi, mencoba menguraikannya secara awam pula alias jika yang membaca tidak mengerti atau merasa tersesat coba tanyakan kepada pendeta, pastor, atau guru agama. Pernyataan 1: jika seseorang tidak dilahirkan dari air. Air, seperti yang dikemukakan di atas bahwa adalah suatu benda yang memiliki sifat cair. Kalau di KBBI, pengertian pertama, air adalah cairan jernih tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau yang terdapat dan diperlukan oleh makhluk hidup, berarti kehidupan kita yang juga adalah makhluk hidup tidak terlepas dari air. Hingga ada iklan salah satu produk mengatakan “tubuh kita, bla bla bla, terdiri atas air”. Air adalah salah satu sumber kehidupan kita. Nah, sekarang pertanyaannya, jika kita sudah memiliki air mengapa perlu “dilahirkan dari air” lagi? Well, tidak sebegitu naifnya memang jika sudah demikian adanya dan ngapain juga Yesus ngomong gitu, kan. Yang dimaksud di sini adalah baptis air. Saya tidak punya banyak sumber mengenai baptis dan sakramen-sakramen yang menaunginya, tetapi di KBBI cukup memberi gambaran bahwa baptis adalah kegiatan penyucian keagamaan. Yohanes Pembaptis dalam Matius 3:11 menyatakan baptis air adalah tanda pertobatan. Jadi, baptis itu adalah tanda bahwa orang yang dibaptis itu mengalami pertobatan. Sebuah deklarasi bahwa seseorang itu sudah bertobat dan memberi diri dibaptis yang menggunakan air. Tentunya air ini digunakan manusia, sebagai perpanjangan tangan Tuhan, menggunakannya sebagai tanda baptisan. Tanda “dilahirkan dari air”. Sehingga air bisa disebutkan sebagai tanda pertobatan, atau tanda sadar dan menyesal bahwa saya adalah orang yang berdosa. Bukan hanya sebagai suatu seremonial belaka mengenai baptis, tetapi membentuk kesadaran bahwa saya adalah orang berdosa. Air pula mungkin, dengan awam lagi (tanya kepada pendeta ya bener gaknya), sebagai kesadaran kita manusia berdosa secara daging. Mengapa demikian? Karena air berkaitan dengan situasi fisik kita menurut saya, atau sifat kedagingan. Air pula menjadi tanda bahwa kita itu perlu menyadari bahwa kita adalah orang yang berdosa dan memerlukan uluran tangan kasih Allah, bukan sebaliknya. Hanya saja, dilahirkan dari air saja tidak cukup. Ada kondisi kedua yang bersamaan dengan itu yang harus terjadi untuk memenuhi “dilahirkan kembali” yaitu “dilahirkan dari Roh”.

Tuhan Yesus, saat pencobaan di Getsemani, mendatangi murid-murid-Nya dan mengingatkan “Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Kalimat ini seolah mencoba mengatakan pada saya, jika Roh sudah gak nurut apalagi daging. Itulah yang menjadi sifat manusia, ketika kita sudah dilahirkan dari air kita hanya dilahirkan secara kedagingan. Artinya, kita hanya sadar semata-mata bahwa kita adalah manusia berdosa. Tapi kata Yesus, daging lemah, artinya daging pun akan tetap jatuh ke dalam pencobaan-pencobaan karena sifat daging yang lemah sedangkan Roh yang dilahirkan kembali tidak (memiliki sifat resistensi yang lebih baik daripada daging). Maka oleh karena itu, Yesus mengatakan kondisi kedua ini untuk memeteraikan pertobatan kita di dalam Dia. Jika air bisa dilakukan oleh manusia, bagaimana dengan Roh?  Kembali lagi ke Matius 3:11, kata Yohanes “… Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api”. Kata Ia di sini merujuk pada Yesus. Saya masih bingung dengan keawaman saya mengenai dilahirkan Roh tetapi bagi saya justru di bagian inilah yang menjadi titik penting di mana kita di dalam kesadaran natur kita sebagai manusia yang berdosa perlu berserah pada Yesus yang akan membaptiskan kita dengan Roh. Dan ini menurut saya berkaitan dengan “anugerah” yang diberikan-Nya kepada siapa yang percaya kepada-Nya. Percaya di sini berarti rela dibaptis dengan Roh Kudus, rela berarti berserah kepada Dia sepenuhnya. Saya agak kelabakan untuk penjelasan mengenai “dilahirkan dari Roh” tapi menurut saya (lagi) bahwa kondisi tersebut hanya berasal dari Tuhan Yesus semata-mata. Sehingga tanpa hal tersebut, baptisan air kita akan menjadi sia-sia. Karena dalam Alkitab sudah dijelaskan “… jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh” yang berarti dua kondisi tersebut harus dipenuhi. Kalo mau jujur sih, soal Roh ini saya masih harus memikirkannya lagi dan bertanya kepada para teolog.

Sekarang kaitannya dengan si bayi tadi adalah pada saat kita mencapai kondisi “dilahirkan kembali”, Tuhan Yesus pun tahu bahwa kita yang “baru” tidak diberi makanan “keras” layaknya mereka yang telah “dewasa rohani” di dalam Dia. Kita masih seperti bayi yang membutuhkan nutrisi cair (yang mudah untuk dicerna) untuk mengeluarkan “racun-racun” yang ada di dalam tubuh kita, menjadikan kita kuat dan normal. Jadi “dilahirkan kembali” bukanlah suatu kondisi abnormal dari manusia melainkan adalah hal normal jika kita ingin hidup bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Namun, yang sering kita lupa bahwa kita seperti manusia yang organis dalam rohani membutuhkan pertumbuhan artinya ketika kita dewasa dalam rohani tantangan yang dihadapi makin sulit sehingga membutuhkan nutrisi yang berbeda dengan nutrisi  yang “baru dilahirkan”. Ah, nutrisi di sini adalah Firman Tuhan dan tantangan adalah pencobaan-pencobaan yang datang. Tuhan berjanji bahwa pencobaan-pencobaan yang hadir dalam kehidupan kita tidak melebihi kemampuan kita. Jika kita “baru dilahirkan” tentu akan berbeda pencobaan dengan mereka yang “dewasa rohani”. Tapi pencobaan demi pencobaan itu akan dilewati dengan Tuhan yang bersama-sama dengan kita. Dengan demikian, kita akan terus menyadari bahwa kita adalah manusia yang berdosa dan membutuhkan kasih karunia Allah untuk membawa kita lebih dekat pada-Nya.

Dilahirkan dari air dan Roh kemudian membersihkan hati kita dari kotoran-kotoran duniawi yang meracuni hidup kita selama ini. Seperti seorang bayi yang kemudian bertumbuh nanti, kita harus mendapatkan “nutrisi” berupa Firman Tuhan yang sesuai dengan pertumbuhan rohani kita. Dan seperti seorang manusia, kita pun walaupun sudah dewasa rohani tidak akan lepas dari racun-racun duniawi yang datang silih berganti dalam kehidupan kita, dan di dalam tangan kasih Kristus yang telah diam di dalam hati kita akan menjadi pembersih dan penyaring racun-racun duniawi tersebut. Hati yang adalah penyaring racun-racun dari makanan atau sesuatu yang masuk ke dalam tubuh, begitu pula bekerjanya hati yang telah dilahirkan kembali dengan Kristus ada di dalamnya. Racun-racun disingkirkan, atau bahkan diubah sebagai nutrisi yang memperkuat iman kerohanian kita dan membawa hidup kita lebih dekat kepada-Nya. Diperbaharui dan diperbaharui setiap hari. Tapi jikalau tidak ada nutrisi, bagaimana sebuah makhluk hidup bisa bertumbuh? Dan manusia tidak hanya hidup dari roti saja bukan?

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: