Beranda > What I See > Hari-Hari Terakhir Alexander Agung

Hari-Hari Terakhir Alexander Agung

Kisah ini diambil dari bagian buku tentang Alexander The Great karya Billy Yenne, yang dicetak pada 2010 oleh penerbit Palgrave Macmillan.

                                   ***

image

Alexander sudah berkunjung ke Babilon setelah pertempuran Gaugamela pada 331 SM dan telah dideskripsikan dalam tulisan-tulisan Babilonia sebagai Raja Dunia. Ketika Alexander kembali pada musim semi 323 SM, dia telah menjadi terbiasa dengan segala bentuk pemujaan yang banyak – khususnya bagi orang-orang Makedonia – dianggap sebagai pemujaan khusus terhadap dewa-dewa. Alexander masih sekitar 30 mil dari Babilon ketika dia bertemu Nearchus, yang baru saja tiba dari Teluk Persia melalui Efrat bersama, menurut Arrian, 2 orang Phonecian dan rombongan.

Nearchus menjelaskan bahwa dia telah didekati oleh sekelompok sarjana Chaldean (Kasdim) yang digambarkan oleh Diodorus sebagai kelompok yang “memiliki reputasi yang hebat dalam astrologi dan yang terbiasa memprediksi masa depan dengan metode observasi yang tua”.
Diodorus melanjutkan bahwa pemimpin mereka, “yang bernama Belephantes, tidak cukup berani berbicara kepada raja secara langsung tapi memperoleh percakapan dengan Nearchus.”

Seluruh catatan sejarah setuju bahwa para sarjana Chaldean tersebut mendesak Nearchus untuk memperingatkan Alexander untuk tidak memasuki kota Babilon, karena adanya bahaya besar, bahkan kematian, menunggunya di sana. Rupanya, Nearchus membawa mereka bertemu Alexander. Diodorus mengatakan bahwa Alexander ketakutan dan gelisah, karena dia paham mengenai “reputasi tinggi orang-orang ini”, tapi Plutarch mengatakan bahwa Alexander kemudian tidak menghiraukan mereka. Sementara Alexander lebih percaya dengan tukang ramalnya sendiri, dia muncul dan membubarkan kelompok sarjana Chaldean tersebut. Arrian menyatakan bahwa Alexander membalas mereka dengan mengutip kata Euripides “ahli peramal terbaik adalah peramal yang meramal dengan baik”.

Menurut Aristobulus, seperti yang dikutip dari catatan lain, Belephantes mengatakan pada Alexander bahwa jika dia harus memasuki kota, dia harus melakukannya dari arah barat, ketimbang dari timur. Melihat bahwa rencana ini adalah sebuah kompromi yang sederhana, Alexander mengubah arahnya. Namun, dia menemukan cara ini harus melalui rawa, sehingga kembali ke rencana awal, memasuki kota dari arah timur. Plutarch menyatakan bahwa ketika Alexander mencapai kota Babilon, “dia melihat banyak burung gagak terbang di sana-sini dan mencakar satu sama lain, dan beberapa di antaranya jatuh mati pada kakinya”.

Meskipun pertanda buruk, Alexander  disambut dengan sangat ramah di dalam kota. Seperti tulis Diodorus, “seperti pada kedatangan sebelumnya (pada 331 SM) para penduduk menerima pasukannya dengan ramah, dan semuanya mengubah perhatian mereka menjadi santai dan senang-senang, sejak seluruhnya terpenuhi dengan melimpah”.

Alexander menerima tamu dan bawahannya di istana Nebukadnezar, di mana dia menerima kunjungan resmi dari delegasi-delegasi yang menjadi bawahannya dari seluruh wilayah kekuasaannya, termasuk juga dari Yunani. Bahkan terdapat pula beberapa pembicaraan mengenai kedatangan ibunda Alexander, Olympias, ke Babilon. Alexander sering berhubungan dengan ibunya melalui surat-suratnya selama perluasan kekuasaannya, tapi keduanya tidak akan bertemu satu sama lain lagi.
Sementara itu, Alexander menjalankan proyek-proyek infrastruktur. Belephantes telah berkata pada Alexander bahwa dia bisa membalikkan ramalan buruk yang telah diramalkan dengan membangun kembali kuil Belus, yang kemungkinan adalah kuil ziggurat Etemenanki. Alexander telah memerintahkan bahwa pembangunan itu harus dilakukan ketika kunjungan awalnya ke Babilon, tapi proyek tersebut belum selesai. Arrian menyebut bahwa para Chaldean telah menggelapkan uang untuk proyek tersebut dan Alexander akan berpikir bahwa terdapat sesuatu mengapa mereka ingin dia tidak berada di Babilon. Kemudian, Alexander membuat proyek tersebut menjadi prioritas utama. Situs kuil tersebut rusak dan memerintahkan untuk membongkarnya dan membersihkannya sehingga kuil baru akan dibangun dari dasarnya kembali. Tapi itu tidak pernah terjadi.

Proyek pembangunan besar lainnya adalah membongkar sebuah pelabuhan besar dan fasilitas galangan kapal di sungai Efrat sehingga kota sungai tersebut bisa diubah menjadi sebuah pelabuhan besar yang menghubungkan Teluk Persia. Alexander pula menjalankan sebuah proyek pembuatan kapal sebagai antisipasi dan persiapan untuk kampanye militer pada masa mendatang di wilayah Arab dan Afrika. Arrian menyatakan, Alexander “membuat persiapan-persiapan dari kapal-kapal perang tersebut untuk menyerang wilayah utama Arab, dengan dalih bahwa bangsa Arab adalah kelompok barbar yang dari wilayah tersebut yang tidak mengirim duta atau wakil kepada dia atau melakukan sesuatu terkait dengan posisi mereka dan menyatakan hormat padanya”. Alexander telah mendengar pula bahwa terdapat banyak rempah-rempah dan obat-obatan di sana, kemenyan dan wewangian yang tumbuh, kayu manis yang dipotong dari semak belukar.
                                    ***
Ketika terakhir kali berada di Babilonia, Alexander memberikan kepada para prajuritnya kesempatan beristirahat selama beberapa minggu, tapi saat ini, dia berniat melanjutkan kampanye ekspansinya. Sesaat setelah kedatangannya sekitar April 323 BC, Alexander memulai pengorganisasian pasukannya untuk kampanye terbaru. Arrian memberitahukan dengan sangat detil bahwa setiap kompi pasukan akan dipimpin oleh 3 perwira orang Makedonia, mengomandoi 12 orang Persia dan orang Makedonia lain. Orang-orang Makedonia “dipersenjatai berdasarkan cara yang telah berlangsung turun-temurun”, dengan pedang dan tombak, tapi orang-orang Persia itu terdapat pemanah dan pelempar tombak.

Sebagai bagian dari persiapan kampanye perang barunya, Alexander mengirimkan pasukan pendahulu yang dikapteni Archias dan Androsthenes pada ekspedisi yang berbeda untuk menyusuri garis pantai Semenanjung Arab dari kejauhan. Alexander sendiri melakukan eksplorasi anak-anak sungai dari Efrat, juga kanal-kanal kuno yang berpotongan.

Kedatangan dan kepergiannya dari Babilonia tanpa insiden pada April hingga Mei 323 BC yang meyakinkan Alexander bahwa prediksi Belephantes tidak berguna. Namun begitu, pertanda buruk masih berkumpul di atasnya, seperti gagak-gagak yang diterangkan oleh Plutarch.

Terdapat banyak cerita mengenai seseorang misterius yang menyelinap masuk ke dalam ruang singgasana Alexander ketika dirinya bepergian atau mabuk. Orang tersebut mengenakan jubah dan mahkota Alexander dan duduk di singgasananya. Ketika ditanya siapakah dia, orang yang misterius itu terhenti cukup lama, lalu mengatakan pada Alexander dan para pengiringnya bahwa dia adalah Dionysus, dan dirinya dikirimkan oleh dewa Serapis, sosok dewa yang setara dengan Osiris dari Mesir (dewa kematian). Hal tersebut membuat Alexander begitu kaget.

Kebanyakan cerita menyatakan, setelah pengakuan tersebut, Alexander mengusirnya pergi, tapi Arrian menyatakan bahwa Alexander menyiksa orang itu dan kemudian menawarkan pengorbanan untuk mengusir pertanda buruk.

Rupanya, Alexander cukup yakin bahwa pertanda buruk tersebut sesuai, karena dia memilih sebuah tanggal sekitaran akhir Mei untuk memulai kampanye memerangi Semenanjung Arab. Pasukan infantrinya akan maju terlebih dahulu sehari sebelum dirinya memimpin sisa pasukan lainnya. Hal tersebut terlihat tidak masuk akal karena Alexander telah memulai sebuah operasi militer besar-besaran di Semenanjung Arab pada bulan Mei, bulan di mana suhu di Semenanjung Arab sulit untuk para prajuritnya tahan dan dapat menyebabkan kematian, tapi ini adalah laporan Arrian.
                                  ***
Beberapa hari setelah insiden ‘orang asing’, dan empat hari sebelum pasukan infantri mulai maju, Alexander bersantai pada sebuah malam, makan dan minum dengan kawan-kawannya, yang kemungkinan adalah sebuah pesta untuk Nearchus. Seperti yang seringkali terjadi, minum-minum berlanjut hingga larut malam.

Diodorus menceritakan bahwa Alexander “meminum banyak anggur tak bercampur untuk memperingati kematian Heracles, dan akhirnya, mengisi sebuah gelas besar, dan meminumnya dalam sekali teguk. Lalu dia berteriak menjerit kencang seperti orang yang dipukul dengan begitu keras yang dilakukan oleh teman-temannya. Teman-temannya itu kemudian membawanya kembali ke rumahnya.

Plutarch membantah Diodorus, menyatakan “hal tersebut tidak terjadi pada Alexander sesudah dia meminum “mangkuk Heracles”, maupun setelah menderita kesakitan. Fakta-fakta tersebut meyakinkan penulis merasa berhutang untuk memberikan temuan dalam tragedi sebagai peristiwa terakhir dari sebuah aksi yang besar”.

Arrian melaporkan, Alexander bisa jadi ke tempat tidurnya sendirian ketika hal tersebut terjadi di Medius, seorang komandan pasukan kaveleri, yang mengundangnya lagi ke pesta lain. Alexander rupanya tidak sadarkan diri atau tertidur di rumah Medius, bangun, mandi, dan kemudian tidur lagi sepanjang hari. Setelah makan pada malam itu, Alexander kembali mulai minum-minum dan terjaga sepanjang malam kedua tersebut dalam pesta minuman keras.

Pagi setelah itu, setelah 30 jam menghabiskan waktu dengan minum-minum atau tidur karena mabuk berat, Alexander dilaporkan menderita demam. Dia dibaringkan di dipan untuk membuat persembahan hariannya, dan seperti yang Arrian sebutkan, kemudian “dibaringkan dalam ruangan perjamuan hingga menjelang malam”.
Kisah dari Ptolemy dan Aristobulus yang mana menjadi dasar catatan-catatan selanjutnya, menyatakan bahwa selama beberapa hari kemudian demam Alexander perlahan makin memburuk dan dia tidur sepanjang hari ketika dia tidak mandi ataupun melakukan persembahan hariannya. Aristobulus mengatakan bahwa “Alexander menderita demam yang parah, ketika dirinya sangat kehausan, dia meminum anggur sehingga menjadi lupa daratan”.

Pada waktu-waktu tertentu, Alexander memanggil para perwira tempur ke samping tempat tidurnya untuk berdiskusi mengenai keberangkatan pasukan untuk operasi Semenanjung Arab. Ketika hari H itu tiba, dia masih sangat sakit, dan memerintahkan pasukannya untuk tetap berada di gerbang.
Arrian menyatakan bahwa pada saat tentara-tentara itu melewatinya, “Alexander tidak bisa berbicara, namun dia menyambut setiap tentaranya dengan tangan kanannya, mengangkat kepalanya dengan kesusahan dan membuat tanda dengan matanya”.
Berangsur-angsur Alexander menjadi sedih, seakan menemui ajalnya. Cerita lain yang diceritakan kembali oleh Arrian, Alexander berusaha melemparkan dirinya ke sungai Efrat, mungkin dia berpikir “bisa menghilang dari pandangan orang-orangnya, dan meninggalkan opini di antara manusia-manusia segala waktu bahwa dia berutang kelahirannya terhadap dewa, dan telah pergi kepada para dewa”.

Roxanna menghentikannya. Namun, dia tidak bisa diselamatkan.
                                     ***
Plutarch menulis, Alexander III dari Makedonia meninggal saat malam menjelang pada tanggal 28 pada bulan Daesius, yang mana sama dengan tanggal 10 atau 11 Juni 323 BC, sempat hidup selama 14 hari ketika dia mulai merasakan sakit. Satu bulan lebih pendek dari ulang tahun ke 33 nya.

Penyebab kematiannya adalah bukan kemabukannya, walaupun terlihat cenderung menghabiskan waktu dengan minum-minum, seperti yang disebutkan dalam sejumlah kesempatan.

Faktanya, penyebab pasti kematiannya kemungkinan tidak akan diketahui, walaupun terdapat banyak spekulasi mengenai hal itu. Seperti kejadian-kejadian yang sering terjadi dalam dunia kita saat ini ketika seorang terkenal mati muda, terdapat sejumlah teori konspirasi yang menyatakan bahwa Alexander diracun. Cassander, putra dari Antipater, wakil Alexander di Makedonia, yang baru saja tiba di Babilon, adalah tertuduh utama karena keduanya, ayah dan anak, iri terhadap kekuasaan Alexander. Semua laporan biografi Alexander menyebut kemungkinan dia telah diracun, tapi banyak yang mengabaikan ini, dan tidak ada bukti yang substansial. Korban yang keracunan tidak menunggu 2 minggu untuk mati.

Alexander tidak meninggalkan pesan di mana dia harus dikuburkan, tapi ketika tubuhnya ditaruh dalam peti berlapis emas, yang kemudian diambil oleh Ptolemy ke Mesir. Tubuh Alexander yang ada dalam peti emas tiba di Alexandria  setelah beberapa tahun ada di Memphis, di mana peti itu ditunjukkan di publik hingga kira-kira abad ketiga SM. Ada yang menyebutkan Julius Caesar dan sejumlah kaisar Romawi mengunjungi makam Alexander, termasuk Agustus dan Caligula. Lokasi makam di Alexandria dan di mana letaknya masih menjadi subjek yang dispekulasikan.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: