Beranda > Olah Raga > AC Milan: Menatap Harapan Baru (Lagi)!

AC Milan: Menatap Harapan Baru (Lagi)!

image

AC Milan mengakhiri musim 2014/2015 di peringkat ke 10, terburuk sejak 1995/1996 tapi di antara 18 klub sedangkan saat ini terdiri atas 20 klub di Serie A. Pelatih Filippo Inzaghi adalah orang yang terdepan paling bertanggungjawab atas semua keburukan musim ini. Sempat memberi harapan di 2 laga awal, namun akhirnya tergerus derasnya cidera dan minim pengalaman melatih level atas membuat Milan terpuruk setelah libur Natal.

Filippo Inzaghi pun telah dipecat, dibebas tugaskan (dismissed) menurut situs resmi klub, dan pelatih tim utama diisi oleh mantan pemain Lazio dan Inter Milan, Sinisa Mihajlovic. Mantan pelatih Sampdoria ini memiliki tugas dan beban yang sama dengan Pippo Inzaghi sebelumnya namun gagal yaitu mengangkat, atau mendongkrak posisi Milan ke tiga besar. Kata lain, Miha – panggilan akrabnya – harus meloloskan Milan ke Liga Champions yang telah dua musim berturut-turut gagal. Dengan prestasi minimum adalah lolos ke Liga Eropa, entah itu berada di peringkat 4, peringkat 5, atau lolos sebagai juara Coppa Italia.

Harapan berpaling pada Miha, tanpa melupakan jasa Pippo, untuk mendongkrak prestasi Milan dan membawa Milan kembali ke habitat semestinya, Liga Champions. Miha datang ke Milan dengan segudang pekerjaan rumah. Inkonsistensi permainan, badai cidera, minim pemain yang bermental juara dan kebanyakan adalah pemain gratisan sehingga tidak ada daya juang dan beban di pundak mereka untuk berprestasi. Belum berbicara soal formasi yang bakal dipakainya nanti, masalah karakter permainan Milan sudah tidak mencerminkan Milan yang pernah jaya di bawah era Ancelotti, pelatih yang menolak kembali ke Milan.

Milan bukan tanpa nilai plus pada musim sebelumnya di bawah Pippo, dan itulah yang perlu dipertahankan. Pemain-pemain seperti Diego Lopez, Jeremy Menez, Jack Bonaventura, Luca Antonelli adalah bagian kecil pemain baru yang bisa dibilang sukses. Marco van Ginkel pun memberi secercah harapan jika dipertahankan mengingat pemain ini tampil apik di pekan-pekan terakhir. Andai saja tidak dibekap cedera, pemain tersebut bisa menjadi tumpuan lini tengah. Pemain-pemain lama seperti Ignazio Abate, Mattia de Sciglio, Nigel de Jong, Andrea Poli, dan Keisuke Honda adalah pemain-pemain yang layak dipertahankan.

Walaupun ada nilai plusnya, tidak sebanding dengan pengaruh negatif dan membutuhkan perhatian lebih pada musim berikutnya di bawah pelatih baru. Kita tidak mungkin beroptimistis bodoh jika mengandalkan Miha seorang untuk membangun Milan. Milan membutuhkan pemain-pemain yang konsisten dalam setiap penampilannya maupun konsisten akan kondisi fisiknya. Bukan hal yang baru bahwa sejak era Ancelotti, Milan kerap dilanda badai cidera yang mengakibatkan timpangnya setiap lini. Bahkan Pippo tidak memiliki formasi atau tim yang tetap hampir di setiap pertandingan. Sosok Alexandre Pato pun menyalahkan staf medis Milan atas bencana cidera yang dialaminya. Pada zaman Pippo, Stephan El Shaarawy yang menjadi andalan lini depan pun sering dilanda cidera yang mempengaruhi penampilannya. Mari kita lihat, apa saja yang perlu diperbaiki Milan untuk bisa kembali ke habitatnya, yaitu Liga Champions dan berjaya di Serie A lagi.

Kondisi Fisik
Belum hilang dari ingatan bahwa pada suatu waktu ruang terapi Milan adalah yang terbaik di Milan. Belum hilang pula dari ingatan mengenai pemain macam Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, atau Marcos Cafu, para pemain tua masih bisa mengeluarkan performa terbaiknya walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Usia yang tidak muda membuat tubuh lebih rentan terhadap cidera, namun Milan Lab yang terkenal bisa mengatasinya. Jadi tidak heran pemain-pemain tua masih bisa “direparasi” dan digunakan pengalamannya di lapangan tanpa takut adanya penurunan performa fisik. Itulah alasan mengapa Milan Lab begitu terkenal. Di era 2004-2008, banyak pemain tua yang hilir mudik ke Milanello tanpa ada ketakutan cidera atau gejala kelelahan. Setiap pemain masih mengeluarkan performa terbaiknya. Bagaimana dengan sekarang? Pemain tumpuan Milan macam De Sciglio, El Shaarawy berulang kali masuk ruang perawatan. Umur mereka belum juga 25 tahun tapi cidera yang dialami terus menerus menurunkan performa mereka di lapangan. Ini berbeda dengan apa yang terjadi 7-8 tahun lalu di mana Milan begitu hebat dan yakin dengan skuad tuanya. Sekarang, tua dan muda pun beriringan masuk ke ruang terapi.

Dari kejadian ini pula, yang menjadikan mengapa Milan perlu memperbaiki kinerja Milan Lab kembali ke era kejayaannya. Dengan masuknya investasi baru – walaupun belum ada pengumuman resmi, namun dengan dana transfer yang besar menandakan adanya dana besar yang masuk ke klub – Milan Lab dan staf perlu ditingkatkan kemampuannya. Melakukan sistem pencegahan pemain terhadap cidera seperti yang pernah dilakukan, memberi informasi kepada pelatih pemain mana saja dalam keadaan fit sehingga performa terbaik mereka bisa dikeluarkan di setiap pertandingan. Walaupun memiliki pelatih sekelas Pep Guardiola ataupun Jose Mourinho, skuad yang rentan cidera menurunkan kedalaman tim. Akan ada satu-dua pemain yang harus mengisi pos yang ditinggalkan pemain yang cidera, yang berarti adanya penyesuaian kembali dalam permainan.

Konsistensi
Ini menjadi tugas rumah paling besar dari Miha, konsistensi. Milan pada era Pippo dipenuhi dengan ketidakkonsistenan. Dari penjaga gawang hingga lini depan terkena virus yang satu ini. Walaupun belum diketahui apakah masalah ini muncul akibat Pippo yang tidak pernah menemukan komposisi yang pas atau masalah cidera. Tapi yang pasti, masalah inkonsistensi lah yang membuat Milan tidak tampil maksimal. Tidak heran jika sebuah blog di ESPN Asia memberi judul artikelnya “Milan Full of Underperfomers in Serie A” dengan rating yang diberikan kepada setiap pemain rata-rata hanya 5 atau 6.

Apa yang perlu dilakukan Miha? Pertama memastikan pemain yang dipasang berada di posisi yang tepat. Secara pengalaman melatih di level atas, Miha seharusnya lebih paham dari Pippo soal taktik dan bagaimana memilih pemain yang pas dan sesuai pada posisinya, memotivasi mereka untuk bermain lebih dan berimprovisasi di lapangan. Kedua, bergantung pada staf medis Milan yang adalah untuk memberikan informasi kepada pelatih mengenai kondisi pemain, kemudian mencegah agar tidak ada cidera massal yang kembali terjadi di era Miha. Ketiga, memiliki pemain-pemain yang konsisten dalam catatan penampilannya. Ini adalah tugas manajemen Milan, bagaimana kebijakan transfer pemain akan menentukan susunan skuad yang dimiliki Milan. Maraknya transfer gratisan, yang jelas hampir semuanya gagal menunjukkan performa, membuat Milan memiliki pemain-pemain yang tidak dipakai lagi atau usahanya tidak dibutuhkan lagi oleh tim papan atas seperti Michael Essien, Fernando Torres, Pablo Armero, Alessio Cerci, dan lainnya. Hal ini diperparah dengan minimnya pengalaman Pippo untuk membuat mereka maksimal, seperti yang dulu pernah dilakukan oleh Carletto.

Maksimalkan yang Plus!
Banyak yang buruk dari penampilan Milan di era Pippo, tapi tidak pula menghapus secercah cahaya yang muncul dari lubang kecil. Milan melakukan sebuah kebijakan transfer yang tidak buruk pada musim lalu dengan merekrut dua pemain yang menjadi tumpuan utama, Jeremy Menez dan Jack Bonaventura. Menez adalah sumber gol Milan, 16 gol dari 56 gol Milan di Serie A tercatat atas namanya. Kecepatan, skill, pace, teknik dari Menez adalah yang terbaik di Milan, mungkin jika El Shaarawy dalam keadaan terbaiknya yang dapat menandinginya. Bonaventura adalah pemain dengan determinasi tinggi, dan diberkahi dengan banyaknya posisi yang mampu diisinya dengan baik. Selama musim 2014/2015, Jack telah bermain sebagai gelandang tengah, penyerang sayap, bahkan trequartista. Penampilannya digambarkan dengan hard-working dan versatile player di blog ESPN Asia, mencetak 7 gol dari 33 penampilannya di Serie A, hanya kalah dari Menez.

Pemain lain yang cukup bersinar adalah Keisuke Honda, Nigel de Jong, dan Diego Lopez. Beberapa pemain lain seperti Ricardo Montolivo atau Mattia de Sciglio lebih sibuk dengan ruang medis, keduanya hanya memainkan 10 dan 17 dari 38 partai Serie A. El Shaarawy hanya memainkan 18 partai saja, dan juga akrab dengan ruang medis. Pemain-pemain ini jika dipertahankan, dapat menjadi kerangka tim Milan di musim yang baru bersama Menez dan Bonaventura. Milan hanya memerlukan kepingan dalam pertahanan yang inkonsisten, seorang pemain kreatif, dan striker yang haus gol untuk mengurangi ketergantungan terhadap Menez. Destro sebenarnya cukup baik, sayang konsistensinya diragukan untuk menjadi andalan Milan di lini depan. Masih ada Suso dan Poli yang belum mengeluarkan penampilan terbaik mereka.

Musim belum dimulai, dan Milan baru mengganti pelatih mereka. Setiap pergantian pelatih diharapkan membawa kepada perubahan yang lebih baik, terutama dalam prestasi. Milan mungkin akan mengawali musim dengan adaptasi taktik dari pelatih baru, butuh 4-5 pertandingan awal untuk menentukan pola dan susunan inti yang menjadi kerangka dalam perjalanan musim.

Menunggu kiprah dari bursa transfer Milan yang terakhir dikabarkan gagal membujuk pemain-pemain kelas dunia seperti Hummels, Howedes, Kondongbia yang ke Inter, Mandzukic, dan Jackson Martinez. Masih ada pemain-pemain seperti Dani Parejo, Ever Benega, maupun Mario Suarez di luar sana yang bisa didapatkan dengan harga murah tapi berkualitas tidak murahan. Semoga Milan mendapatkan pemain yang dibutuhkan untuk mendongkrak prestasi di musim mendatang. Forza Milan!

Iklan
Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: