Beranda > What I See > Kisah Hideyoshi Part II: Dari Okehazama ke Sunomata

Kisah Hideyoshi Part II: Dari Okehazama ke Sunomata

image

Kisah Hideyoshi menjadi inspirasi banyak orang saat ini. Tidak heran tidak sedikit penulis berusaha mengulas sosok yang kerap dipanggil “Monyet” ini. Terakhir saya menaruh di blog mengenai kisah Hideyoshi hingga menjadi kepala 30 pasukan infantri atau pejalan kaki. Di bawah kepemimpinan Nobunaga Oda, sosok yang menjadi panutan Hideyoshi, kemampuan si Monyet pun berkembang bahkan menjadi salah satu jendral kepercayaan Oda hingga kematiannya di Honnoji, Kyoto.

Banyak kisah mengenai Hideyoshi ini. Ada buku-buku yang khusus mengulas sepak terjangnya di dalam dunia politik dan perang kemudian mengaitkannya ke dalam dunia kerja dan manajemen modern. Seperti yang kita tahu bersama, seorang samurai ataupun ronin akan terikat ke dalam suatu kode etik yang tidak tertulis bernama Bushido (jalan kesatria). Hideyoshi yang juga adalah seorang samurai, julukannya adalah The Swordless Samurai, hidup dalam keterikatan Bushido. Novel dari Eiji Yoshikawa mengenai kisah Hideyoshi, Taiko (Shinso Taikoki), cukup jelas menggambarkan cara hidupnya. Dan saya merasa berhutang karena baru menggali kisahnya dalam Taiko hingga dia menjadi 30 kepala. Dua tahun berlalu, saatnya meneruskan apa yang telah ditulis.

Bermula dari niat seorang kepala daerah (daimyo), Imagawa Yoshimoto,  yang ingin menguasai pemerintahan Jepang (shogunate) menjadi awal mula pertunjukan kehebatan Nobunaga Oda. Tidak dipungkiri, kehebatan dan talenta Hideyoshi sangat bergantung pada ambisi junjungannya. Sehingga pada awal. Nah, latar belakang kenapa Imagawa ini ingin menguasai shogunate adalah adanya konflik di dalam shogunate itu sendiri. Dalam awal dari buku Taiko sendiri, si penulis sudah menggambarkan dengan singkat dan jelas apa yang terjadi dengan shogunate saat itu “Menjelang pertengahan abad keenambelas, ketika keshogunan Ashikaga ambruk, Jepang menyerupai medan pertempuran raksasa. Panglima-panglima perang memperebutkan kekuasaan”.

Salah satu yang pemimpin yang paling kuat saat itu adalah Imagawa Yoshimoto yang menguasai 3 provinsi sekaligus. Dalam Taiko, Imagawa berada di provinsi Suruga dengan ibukota Sumpu. Kota Sumpu sendiri dapat menandingi ibukota kekaisaran Kyoto untuk soal kemewahan. Sebagai pemimpin yang paling kuat posisinya saat itu. Di bawah arahan guru atau biksu Sessai, Imagawa memperkuat internal pemerintahan dan persiapan-persiapan militer mendatang. Imagawa “tak sanggup menahan diri lebih lama lagi”. Perjalanan militer menuju Kyoto harus melewati beberapa provinsi dan daerah, salah satunya Owari, wilayah di mana Nobunaga Oda berkuasa.

Bagaimana dengan Hideyoshi, dan Oda sebagai pemimpin, menghadapi kekuatan besar ini? Hideyoshi sangat bergantung pada sosok “Setan” bernama Nobunaga ini. Dalam perjalanannya hingga sekarang, dia telah beranalisa dan memikirkan dengan sistematis bahwa junjungannya ini akan menjadi pemimpin di masa mendatang. Jadi kita tidak akan heran mengapa Hideyoshi bersikeras untuk menjadi anak buah Oda. Namun, saat baru memulai karir di bidang militernya sebagai kepala 30 pasukan, Hideyoshi harus berhadapan dengan satu kekuatan tempur yang terkuat saat itu. Oda sendiri bukannya tanpa persiapan, rapat-rapat perang sudah dilaksanakan dan dia memutuskan untuk melawan pasukan Imagawa yang besar itu.

Kekuatan Owari sendiri dianggap remeh oleh Imagawa dan mayoritas jenderal perangnya. Dengan provinsi yang tidak sepenuhnya utuh, jumlah tentara yang bisa bertempur tidak sebanding dengan kekuatan Imagawa dan Suruga. Provinsi Owari yang tidak sepenuhnya utuh diakibatkan adanya satu-dua jenderal di Owari yang membelot. Tapi, dalam rapat perang di Sumpu sendiri menggambarkan suatu kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh yaitu “Owari dipandang satu kesatuan dan Oda adalah pemimpin yang dipercaya oleh rakyatnya”.

Pasukan Imagawa mulai bergerak dan mulai menghancurkan apa yang menghalanginya. Mulai dari desa hingga benteng yang berada di Owari dibakar sebagai peringatan. Hanya saja tidak ada perlawanan dari Oda. Desa-desa dan benteng yang diterjang oleh pasukan Imagawa ditinggalkan tanpa ada satu barang yang tersisa. Tanpa ada perlawanan, apa gunanya baju tempur yang berat dan membuat panas. “Para perwira dan parjurit Imagawa merasakan baju tempur mereka menjadi beban di tengah kejemuan di jalan-jalan yang datar dan tentram”. Sedang di Kiyosu, ibukota Owari, terlihat biasa-biasa saja namun desas-desus tentang pergerakan pasukan Imagawa telah menjadi trending topic di sana.

Pergerakan cepat pasukan Imagawa menghancurkan benteng-benteng terdepan Owari. Dalam rapat terakhir persiapan perang, Oda menerima kabar Washizu, Marune, dan Zenshoji akan segera jatuh ke tangan pasukan Imagawa. Keputusan Oda untuk ikut bertempur mendapat tolakan dari para jendral senior seperti Hayashi Sado. Tapi si “bangsawan pandir” ini menolak dan ikut bertempur melawan Imagawa Yoshimoto dan pasukannya.

Hanya ada sekitar tiga ratus pasukan awalnya, dan membengkak menjadi seribuan. Jendral-jendral elit Oda ikut serta seperti Yoshinari dan Shibata. Hideyoshi, saat itu masih bernama Kinoshita Tokichiro, ikut dengan 30 pasukan infantrinya. Dalam perjalanan itu pula, sahabat Hideyoshi, Toshie Maeda datang bergabung. Hingga menuju perang di Okehazama, jumlah pasukan Oda mencapai tiga ribuan tentara.

Di saat pasukan Oda mencoba menaikkan semangat tempurnya, pasukan Imagawa yang terlalu tangguh untuk pertempuran di Owari beristirahat. Baju tempur yang berat dan cuaca yang panas membuat pasukan cepat lelah. Apalagi tidak banyak perlawanan sengit yang terjadi. Imagawa sendiri “berkeringat paling hebat”. Hidup nyaman selama ini membuatnya tidak terbiasa lagi di medan tempur, setiap manuver yang dilakukan membuatnya tersiksa. Pasukannya beristirahat di Dengakuhazama, tidak jauh dari Okehazama. Di sisi lain, ketika pasukan Imagawa beristirahat dan melepas pakaian tempurnya, pasukan Oda terus bergerak untuk mencapai tempat musuh berada. Imagawa sendiri berseloroh bahwa Kiyosu akan jatuh dalam sekali pukul. Cuaca kemudian berubah, hujan dan petir membasahi bumi.

Pasukan-pasukan Oda terus merangsek maju tanpa diketahui oleh pasukan Imagawa yang beristirahat. Kepongahan ini menjadi salah satu faktor kekalahan Imagawa di sini. Mereka tidak tahu bahwa pasukan Oda akan memulai penyergapan. Dan saat ingin menyantap makan siang, teriakan “Musuh!” dan “Orang-orang Oda!” ada di mana-mana. Imagawa sendiri tidak menyadari bahwa pasukannya diserang. Pasukan Suruga tunggang-langgang tidak siap menghadapi serangan mendadak ini. Pasukan Oda menyerang tanpa ampun pasukan Imagawa yang tidak siap. Akhir dari perang di Dengakuhazama ditandai dengan dipenggalnya kepala Imagawa, yang kata Oda “tanda mata yang kubawakan untuk kalian”. Pasukan Imagawa lainnya yang berada di bawah pimpinan salah satu panglima ternama, Tokugawa Ieyasu, kembali ke Sumpu.

Ini adalah kemenangan besar Oda, dan kemenangan dalam pertempuran yang nyata dari Hideyoshi. Dari peristiwa ini pula, nama Oda dikenal dan Hideyoshi mulai menunjukkan kehebatannya.
                                     
                                      ***
Kesempatan Hideyoshi untuk menunjukkan kehebatannya dimulai dari Sunomata. Oda menunjukknya untuk menjadi kepala pembangunan benteng di Sunomata. Sepele? Ehm, bahkan pembangunan benteng di Sunomata merupakan lawan kata dari sepele, sulit! Dua jenderal elit Oda, Sakuma dan Shibata, gagal membangun benteng di sana. Maka diutuslah Hideyoshi untuk membangun benteng di Sunomata, yang nanti akan dijadikan oleh Oda untuk menjadi titik awal penyerangan ke provinsi Mino.

Hideyoshi sendiri telah melakukan analisa faktor yang menjadi kegagalan kedua jenderal elit Oda dalam pembangunan benteng di Sunomata. Keberadaan pasukan Mino yang menyerang pembangunan benteng menjadi salah satu faktor yang utama, dan yang kedua adalah kecepatan pembangunan benteng itu sendiri. Oleh karena itu, Hideyoshi meminta bantuan Hachisuka Koroku, bekas junjungannya dan seorang ronin (samurai tanpa tuan) terkenal di perbatasan Owari dan Mino. Koroku sendiri bukanlah sosok yang dapat dibeli dengan “murah”. Keterikatannya dengan keluarga Saito, penguasa Mino, membuat dirinya lebih dekat dengan provinsi Mino walaupun daerahnya berada di Owari. Hideyoshi harus melewati rintangan pertama ini.

Bukan perkara mudah membujuk Hachisuka, seorang ronin dengan ribuan pengikut. Ajakan pertama oleh Hideyoshi untuk bergabung dengan Oda ditolaknya mentah-mentah. Sehingga Hideyoshi meminta Oda untuk menulis surat untuk Hachisuka dan membawanya sendiri ke rumah Hachisuka. Terjadi perdebatan antara Hachisuka, yang masih menanggap Hideyoshi anak buahnya, dengan Hideyoshi. Kedatangan guru spiritual Hachisuka, Ekei, membantu Hideyoshi dalam membujuk Hachisuka. Dalam perdebatan keduanya, Hideyoshi membeberkan visi Oda dan makin dekatnya kehancuran shogunate saat ini yang akan diganti oleh sebuah era baru. Hachisuka tetap menolak sampai dinasehati oleh Ekei bahwa ada masalah dalam hati Hachisuka. Akhirnya Hachisuka dan kawanan roninnya ikut dalam persekutuan dengan Oda. Lebih dari itu, mereka akhirnya mempunyai junjungan baru dan disebut samurai, bukan ronin lagi.

Bergabungnya kelompok Hachisuka ke dalam kelompok Hideyoshi adalah sebagai usaha untuk membangun benteng di Sunomata. Sunomata sendiri selain dijaga oleh pasukan perbatasan Mino, tapi juga masalah lain adalah posisinya strategis dengan alam. Ada sungai yang memisahkan antara Mino dan Owari. Sehingga benteng yang akan dibangun di Sunomata harus menyesuaikan diri dengan alam. Tidak lucu kalau terjadi banjir kala pasukan Oda akan melakukan pemusatan di sini.

Kelompok Hachisuka sendiri memiliki ronin-ronin yang terampil dalam hal konstruksi. Selain itu, mereka menguasai daerah ini dan bagaimana konstruksi yang seharusnya dibuat. Satu lagi, mereka lebih terampil ketimbang pasukan-pasukan Oda sebelumnya. Dalam waktu kurang dari satu bulan, fondasi dan kerangka benteng telah terbentuk. Ketrampilan ini pula yang menjadi kekuatan Hideyoshi dalam usahanya menaklukkan Jepang, membangun konstruksi-konstruksi bangunan, parit, dan tanggul dengan cepat. Oleh karena kecepatan ini pula, salah satu jenderal Mino kaget.

Pasukan Mino yang awalnya mengganggap remeh seorang Hideyoshi, karena pangkatnya yang rendah, mulai cemas ketika benteng tersebut perlahan mulai terbentuk. Hal ini diperhatikan oleh salah seorang jendral Mino yang ternama, Si Macan Jirozaemon. Jenderal ini memperingatkan Jenderal Fuwa yang berada di posisi paling depan untuk tidak mengganggap remeh pembangunan benteng tersebut. Namun, peringatan Si Macan dianggap angin lalu “Osawa lalu pergi sambil mendongkol”.

Jenderal Fuwa sama dengan si Imagawa, menganggap sepele hal-hal yang penting. Dan akhirnya benteng Sunomata hampir selesai dalam waktu satu bulan. Fuwa sendiri tidak mengetahui pasukan apa yang ada di dalam benteng, merencanakan untuk mengambil alih benteng tersebut karena sudah terlambat mengantisipasi dan malu terhadap Osawa. Sayang, lawan yang dihadapi berbeda dengan lawan sebelumnya. Tentara yang menjaga benteng ini adalah bekas ronin-ronin Hachisuka, yang berganti nama menjadi Hikoemon, yang bertempur “seperti serigala, sama sekali tidak mengikuti aturan”. Medan berat yang mengitari Sunomata pun tidak menjadi masalah bagi para bekas ronin yang mengejar pasukan Fuwa yang lolos di depan benteng. Dua serangan yang dilancarkan tidak memiliki arti karena Sunomata sendiri tidak jatuh.

Pada serangan ketiga, Fuwa yang nekat kembali menyerang Sunomata yang diantisipasi dengan susah payah oleh pasukan Hideyoshi. “Pertempuran malam itu begitu mengerikan, sehingga para ronin pun kehilangan banyak orang dalam air sungai yang penuh lumpur”.

Kesuksesan Hideyoshi dalam membangun benteng Sunomata mendapatkan hadiah dari Oda. Hideyoshi diangkat menjadi penguasa benteng Sunomata, kemudian upahnya dinaikkan menjadi 500 kan (bandingkan dengan yang sebelumnya hanya 30), dan namanya berubah dari Kinoshita Tokichiro menjadi Kinoshita Hideyoshi. Prestasi Hideyoshi tidak termasuk penggunaan alat-alat bangunan dalam pembangunan Sunomata tidak mengambil dari Oda, melainkan dipersiapkan sendiri.

Dari seorang kepala 30 pasukan, menjadi seorang penguasa benteng di perbatasan dengan ribuan pasukan. Kegemilangan Hideyoshi selanjutnya bergantung pada kegemilangan Nobunaga Oda sebagai junjungannya. Dan makin tinggi suatu pohon, makin kencang angin yang menerpanya.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: