Beranda > Museum > Jalan-Jalan ke Monumen Pancasila Sakti

Jalan-Jalan ke Monumen Pancasila Sakti

Awalnya sih gak ada rencana untuk ke Monumen Pancasila Sakti, tapi karena satu dan lain hal akhirnya ke sana juga. Lokasi Monumen Pancasila Sakti terletak di kawasan Pondok Gede, yang beken dengan nama Lubang Buaya. Kalo dari Slipi, tinggal naik aja busway ke Pinang Ranti lalu lanjutin dengan angkot yang lewat, biasa sih saya naek yang nomer 40 warna oranye.

Ada sebuah gapura besar yang menunjukkan lokasi Monumen Pancasila Sakti, sehingga tidak kesulitan untuk menemukannya karena tepat berada di jalan utama di daerah tersebut. Banyak pedagang kaki lima (PKL) di depan gapura tersebut. Dan itu hal yang bagus mengingat kebiasaan PKL yang tidak merasa bertanggungjawab menjaga kebersihan lokasi jualannya. Belum lagi pengunjung yang sering lupa diri, suka nyampah sembarangan.

Dari gapura menuju lokasi utama Monumen Pancasila Sakti, kita harus berjalan di jalan yang cukup mulus, tetapi berjarak kira-kira 500-600 meter dari gapura, dengan pepohonan rindang dan tinggi di samping kiri dan kanan yang membentuk 2 barisan memanjang hingga ujung jalan. Setiap batang pohon diberi warna putih dan garis hitam tipis. Di tengah-tengah jalan terdapat pembatas jalan. Sehingga sangat jelas jalur mana untuk masuk dan yang mana untuk keluar.

Kira-kira 150 meter dari gapura, kita akan mendapati lokasi pembelian tiket alias loket. Ketika saya tiba di sana ada 2 orang yang berjaga. Di loket ada kamar mandi dan wc, jadi saya juga tidak ragu untuk meminjam wc karena sudah kebelet. Karcis masuk seharga Rp. 2.500/orang dewasa. Harga untuk anak-anak atau rombongan saya gak nyari tahu. Trus, ada buku panduan seharga Rp. 6.000/buku. Di dalam buku tersebut ada sepintas sejarah tentang Peristiwa G30S yang dituduhkan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Hanya saja, saya tidak tahu apakah sebenarnya buku panduan tersebut satu paket dengan karcis masuk atau dijual terpisah. Hal ini dikarenakan pengalaman saya mengunjungi ke Museum Kebangkitan Nasional di kawasan Kwitang, harga karcis masuk sudah dilengkapi buku panduan di dalam Museum.

Dari loket, kira-kira 100an meter terdapat prasasti selamat datang di Monumen Pancasila Sakti. Jadi lokasi yang menarik untuk foto-foto sebentar. Prasasti tersebut cukup terawat karena huruf-hurufnya masih lengkap, berbeda dengan yang ada di Museum Taman Prasasti yang satu per satu hurufnya tidak ada ketika saya ke sana 2 tahun lalu.

Selamat Datang di Monumen Pancasila Sakti

Karena saya berjalan kaki dari depan, dan beruntung cuaca mendukung untuk melakukannya, saya tidak tahu tarif parkir di tempat ini. Terdapat 2 tempat parkir yang luas yang disediakan di tempat ini. Pertama berada di samping kiri jalan, tidak jauh dari prasasti selamat datang. Dan yang kedua berada di depan gedung-gedung museum yang ada di dalam kompleks. Parkiran yang cukup luas kemungkinan karena setiap tanggal 1 Oktober, Presiden selalu mengadakan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di tempat ini.

Sisa sejarah Peristiwa G3OS yang pertama saya temui adalah sebuah truk bermerek Dodge dengan nomer polisi B 2982 L. Di depan mobil itu terdapat informasi yang menceritakan sejarah truk ini. Singkatnya, truk ini digunakan oleh para pemberontak (begitu yang ada di informasi) untuk menjemput Brigjen. D. I. Pandjaitan di rumahnya.

Truk Dodge G30S

Tidak jauh dari truk ini, tepatnya di belakang truk ini, terdapat sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu beratapkan genteng. Dari papan informasinya, tertulis Dapur Umum. Rumah sederhana tersebut adalah dapur umum ketika terjadi peristiwa G30S yang digunakan oleh pasukan pemberontak. Kita boleh masuk ke dalam rumah sederhana ini, di mana di dalamnya ada “para-para”, meja dan kursi, sebuah lemari, sebuah bilik, dan dapur. Disarankan untuk tidak menyentuh atau duduk di atas barang-barang tersebut. Di bagian luar terdapat teras yang lengkap dengan perabotan meja kursi.

Jpeg

Di depan dari rumah ini, terdapat rumah beton yang diinformasinya tertulis Pos Komando. Hanya saja yang tidak tertarik untuk masuk ke dalamnya dan melanjutkan menuju lokasi Monumen. Tempat ini sejuk dan tertata dengan baik. Banyak pepohonan di sekitarnya yang memungkinkan orang-orang yang datang terlindung dari teriknya mentari. Saat saya ke sana, saat itu cuaca mendung tapi tidak sampai hujan. Rumput-rumput hijau yang ada di sana pun terawat dengan baik, tidak ada alang-alang yang tinggi-tinggi. Ada pula pohon rambutan di sana yang sementara berbuah, sayang ketika itu belum matang.

Setibanya di Monumen, orang-orang yang sudah tiba di sana terlebih dahulu foto-foto di bawah patung 7 pahlawan revolusi dan sebuah lambang negara yang megah. Di depan Monumen Pancasila Sakti, terdapat sebuah pendopo yang megah dan mewah. Marmernya berwarna hitam dan di atasnya ada lambang TNI Angkatan Darat. Di dalam pendopo itulah terdapat sebuah lubang atau sumur di mana para jendral yang adalah jendral-jendral Angkatan Darat itu dibuang setelah dibunuh. Tepat di bagian atas lubang tersebut, terdapat sebuah prasasti dengan 4 bintang berwarna emas yang bertuliskan,

TJITA2 PERDJUANGAN KAMI UNTUK MENEGAKKAN KEMURNIAN PANTJA-SILA TIDAK MUNGKIN DIPATAHKAN HANJA DENGAN MENGUBUR KAMI DALAM SUMUR INI.

LOBANG BUAJA, 1 OKTOBER 1965”

Sayangnya, tempat “keramat” tersebut masih saja dikotori oleh satu-dua sampah pengunjung tidak tahu aturan.

Sumur Maut, Lubang Buaya

Pendopo di mana Sumur Maut berada

Setelah dari pendopo sumur maut, saya dan Pinkan (yang menemani saya) menuju ke Monumen. Monumen tersebut berdiri kokoh, di mana di depannya dipahatkan sebuah relief bagaimana G30S itu terjadi. Sebagian gambar relief tersebut ternyata tidak sesuai fakta. Satu diantaranya mengenai keberadaan Gerwani, organisasi wanita milik PKI, yang menari Tarian Harum Bunga yang pada kenyataannya tidak pernah terjadi. Namun karena upaya rezim yang berkuasa untuk menguasai sejarah, makanya dibuatlah relief yang tidak lain adalah sandiwara rezim untuk membersihkan komunis hingga ke akar-akarnya.

Pengunjung-pengunjung yang datang ke sini, selain mungkin belajar, mengambil gambar sebagai kenangan, dan berfoto bersama sanak keluarga maupun sahabat-sahabat sambil bergaya seperti patung 7 pahlawan revolusi yang gagah-gagah.

Monumen Pancasila Sakti dan Pahlawan Revolusi

Saya di sini hanya mengambil beberapa gambar kemudian duduk di bawah pohon yang rindang, yang sudah ada kursinya berbentuk segi lima yang melingkari pohon-pohon di dekat monumen tersebut, sambil menikmati minuman ringan yang sudah saya bawa. Karena banyak pepohonan membuat udara sejuk sehingga para pengunjung tidak perlu berkipas-kipas ria untuk mengusir gerah.

Selepas duduk-duduk ria di bawah pohon, saya menuju ke sebuah lapangan yang digunakan untuk upacara. Lapangan tersebut bisa seluas lapangan sepakbola dengan dikelilingi lantai marmer, pohon-pohon perdu, dan lampu-lampu taman. Kemudian keluar dari pintu samping di mana tulisan Monumen Pancasila Sakti yang berwarna emas.

Monumen Pancasila Sakti

Di situ terdapat pula tempat parkir buat pengunjung, kemudian dua mobil yang menjadi saksi sejarah, lalu ada 2 gedung yang dihubungkan oleh sebuah jembatan. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah taman dengan air mancur yang cantik.

Mobil pertama yang dipajang di situ adalah mobil dinas dari Letjen Ahmad Yani yaitu sebuah mobil sedan yang memiliki lampu depan bulat, masing-masing dua di kedua sisinya. Sayang, lampu bagian kanan dalam dan kiri luar sudah tidak ada. Mobil tersebut berplat AD-1 dengan 3 bintang di atasnya yang merujuk pada jabatan beliau sebagai orang nomor 1 di Angkatan Darat (Menteri/Panglima Angkatan Darat) berpangkat Letnan Jenderal (bintang tiga).

Mobil kedua adalah mobil dinas dari mantan Presiden Soeharto yang saat itu berpangkat Mayjen. Berplat nomor 44-01 dengan satu bintang di sisi kirinya jika dilihat dari depan. Mobil tersebut adalah sebuah Toyota jenis Hartop. Setiap mobil “diparkir” di dalam pendopo kecil yang terawat dan tersedia informasi mengenai sejarah mobil tersebut.

Jpeg

Jpeg

Selain monument dan “parade” mobil bekas, ada 2 museum yang menceritakan tentang sejarah pemberontakan G30S dan kekacauan-kekacauan yang terjadi karena komunis baik sebelum maupun sesudah G30S terjadi. Di dalam 2 museum terdapat diorama-diorama yang dilengkapi dengan informasi sejarah peristiwa-peristiwa tersebut. Kedua museum tersebut tersambung oleh sebuah jembatan dan anda tidak perlu keluar masuk museum. Ada baiknya jika anda memilih memasuki Museum Pengkhianatan PKI/Komunis, menyusuri diorama-dioramanya, hingga ke Museum Paseban. Saya tidak mengunjungi rumah penyiksaan karena menurut apa yang say abaca, itu tidak pernah terjadi.

Museum Pengkhianatan PKI (Komunis)

Kategori:Museum
  1. nobeks
    Maret 20, 2015 pukul 7:51 pm

    mantap tulisannya brother!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: