Beranda > Kristen > Yusuf dan Maria

Yusuf dan Maria

Sejak memasuki bulan yang berakhiran –ber, semarak Natal dan akhir tahun sudah mulai terasa. Entah perasaan saya saja atau memang kenyataan, waktu berputar lebih cepat ketika kita memasuki periode 4 bulan terakhir yang kompak berakhiran –ber. Padahal waktu di dalam dunia ini tidak ada perubahan, masih sama, 24 jam sehari.

Memasuki bulan-bulan yang berakhiran –ber, khususnya bagi orang Kristen, semarak Natal sudah mulai menunjukkan wujudnya. Mulai dari program-program Natal, penunjukan panitia Natal, kemudian mulai diadakan rapat-rapat kecil mengenai kegiatan Natal, dan banyak hal lainnya. Di daerah saya, di Manado, sayup-sayup lagu Natal mulai terdengar dan makin ramai ketika memasuki bulan Desember.

Setiap dunia bisnis pun tidak kalah meriah merayakan Natal lewat promosi-promosinya. Natal adalah suatu hari yang bisa mendatangkan untung. Tidak ada yang salah untuk hal ini, tapi adalah salah jika kita menggeser fokus Natal kita dari kedatangan Kristus ke dunia menjadi keuntungan hari raya.

Bagi saya, Natal adalah suatu perayaan Kekristenan dalam memperingati hari kelahiran Yesus Kristus ke dalam dunia, di mana misi penyelamatan Allah yang telah dirancang sebelum dunia dijadikan digenapi. Artinya, fokus kita dalam memperingati Natal adalah kedatangan Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Atau di dalam Injil Yohanes 1:14 disebutkan “Firman itu telah menjadi manusia…”.

Kedatangan Yesus ke dunia sebagai penggenapan nubuat para Nabi sejak ratusan bahkan ribuan tahun sebelum Yesus lahir ke dunia. Walaupun telah dinubuatkan oleh para Nabi, tapi proses kelahiran Yesus, baik di mana Dia dilahirkan dan dari siapa Dia dilahirkan merupakan suatu hal yang ironis. Ketika sebagian besar insan manusia kala itu, yang menantikan “juruselamat bangsa” dari penjajahan Romawi, berharap kedatangan Mesias dari istana, tapi malah kelahiran-Nya terjadi di suatu kandang. Dan bukan lahir sebagai seorang pangeran, tetapi hanya seorang anak tukang kayu.

Kandang memang merupakan tempat yang hina bagi seorang calon raja untuk dilahirkan. Maka kenapa ada lagu Natal yang menyinggung bahwa kandang sebagai tempat yang hina. Hanya saja, kelahiran Yesus di kandang tentu memiliki makna tersendiri. Kelahiran-Nya di kandang diartikan sebagai kesederhanaan. Hanya saja dalam cerita kelahiran Yesus Kristus dalam Lukas 2:7, tidak ada kata kandang tetapi palungan.

Menurut situs alkitab.sabda.org, palungan adalah tempat makan ternak atau binatang yang dipahat pada padas atau dipahat dari batu yang ada di gua-gua di mana para gembala di Palestina menggembalakan ternak mereka. Palungan dalam bahasa Yunani disebut fatne yang merupakan tempat makan dan minum ternak-ternak peliharaan pemiliknya. Dan palungan itu bisa ditemukan di dalam kandang yang biasanya berdekatan dengan rumah pemiliknya. Jadi bisa dikira-kira penggunaan kata “kandang” didasarkan pada kata palungan ini. Jadi jangan salah jika pada cerita di Sekolah Minggu, kita mendengar kisah Yesus yang dilahirkan di kandang.

Karena kelahiran Yesus yang terjadi kandang, maka fokus dan perhatian kita sejenak coba diarahkan pada kesederhanaan kelahiran-Nya. Untuk saya yang bukan lulusan teologia, lebih tertarik bagaimana Yusuf dan Maria di dalam keterpanggilan mereka menjadi ayah dan ibu Kristus setia menjaga dan melindungi bayi Yesus. Bisa saja mereka mengabaikan bayi Yesus yang bukan darah daging mereka, karena Yesus lahir dari Roh Kudus (Lukas 1:35), tidak melalui hubungan seksual. Panggilan akan tugas maha penting itu disampaikan langsung oleh malaikat Tuhan kepada mereka berdua, Yusuf melalui mimpi (Matius 1:20-23) dan Maria lewat kedatangan malaikat di rumahnya (Lukas 1:26-38).

Yusuf dan Maria adalah bukan sosok yang terpandang pada saat itu. Yusuf adalah seorang tukang kayu dan Maria adalah seorang gadis rumahan. Keduanya telah bertunangan dan menunggu waktu yang pas untuk menikah. Dan berita kelahiran Yesus datang sebelum keduanya menikah, sehingga Yusuf sempat mencurigai Maria (Matius 1:20-23) dan perlu diyakinkan oleh malaikat Tuhan.

Dalam kisah kelahiran Yesus Kristus di palungan terjadi karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Lukas 2:7). Di dalam khotbah-khotbah yang saya dengar mengenai kisah kelahiran Kristus, diceritakan bahwa Yusuf dan Maria yang ditolak di rumah-rumah penginapan dan akhirnya ada yang meminjamkan atau menyewakan kandang ternak untuk menjadi tempat persalinan Maria. Entah mereka memang tidak memiliki uang atau memang rumah penginapan penuh saya tidak mengetahuinya. Tapi kedua kemungkinan itu bisa saja terjadi mengingat saat itu terjadi sensus penduduk oleh Kekaisaran Roma sehingga tiap warga diharuskan kembali ke kota kelahiran mereka, dan Yusuf berasal dari Betlehem. Peristiwa itu memungkinkan rumah penginapan penuh oleh warga Betlehem yang merantau dan kembali ke kota kelahiran mereka.

Kembali kepada peran Yusuf dan Maria dalam kelahiran Yesus. Keduanya berusaha untuk mencari tempat di mana bayi Yesus bisa mendapatkan tempat yang layak untuk dilahirkan dan dibaringkan. Palungan yang menjadi tempat bayi Yesus dibaringkan adalah buah iman kedua insan manusia tersebut. Bisa saja Allah Bapa dengan kekuasaan-Nya langsung mendirikan istana besar agar bayi Yesus dilahirkan dengan nyaman. Atau, bisa pula tanpa kehadiran Yusuf dan Maria bayi Yesus dilahirkan. Tapi itu tidak dilakukan. Menurut saya, Yusuf dan Maria mendapatkan palungan untuk menjadi tempat pembaringan Yesus adalah buah iman mereka untuk mencari tempat bersalin.

Walaupun setelah berusaha sedemikian gigih mencari tempat untuk melahirkan Yesus, sang Imanuel, sosok Mesias dan Putra Allah yang maha tinggi, tidak ditemukan ada sungut-sungut di antara suami isteri tersebut. Sungut-sungut di sini bisa saja menggerutu mengapa Allah Bapa tidak menyediakan tempat khusus bagi Anak-Nya yang datang ke dunia. Bahkan setelah Yesus dilahirkan dan dibaringkan tidak ada sungut-sungut dalam menjaga bayi Yesus ini. Mereka rela siang malam menjaga Putra Allah tersebut. Berbeda dengan keadaan saat ini, di mana suami isteri tidak jarang mengeluh menjaga anak mereka yang merupakan darah daging mereka sendiri. Jika melihat apa yang telah dilakukan Yusuf dan Maria, mereka menjawab panggilan-Nya.

Dalam iman mereka kepada Tuhan, Yusuf dan Maria berusaha memenuhi setiap kebutuhan bayi Yesus ini. Baik secara jasmani maupun rohani seperti ketika pemenuhan syarat persembahan korban di Bait Suci ketika Yesus akan disunat. Begitu pula ketika suami isteri tersebut harus mengungsi ke Mesir untuk sementara waktu. Menjadi orang asing di tanah asing, dan Alkitab tidak mencatat ada sungut-sungut pada keduanya.

Kehidupan Yusuf dan Maria juga menjadi role model di dalam kehidupan keluarga Kristen dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam cerita kelahiran Yesus yang kita selalu rayakan tiap tanggal 25 Desember. Tidak salah jika kelahiran Yesus diidentikan dalam suatu kesederhanaan karena Yusuf dan Maria pun hidup dalam kesederhanaan demi bayi Yesus. Tentu tidak ada baju baru maupun sepatu baru, pohon terang dan Santa Claus bagi mereka, yang ada hanyalah hati yang baru ketika Tuhan memanggil mereka untuk menjadi saksi-Nya melalui kehadiran mereka dalam kelahiran Yesus. Tidak ada hadiah dari Yusuf dan Maria bagi bayi Yesus selain dari pengabdian mereka. Dan tidak ada seleberasi meriah, karena mereka sibuk menjaga bayi Yesus yang adalah Juruselamat, Imanuel.

Kategori:Kristen
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: