Beranda > Kristen > Christless in Christmas

Christless in Christmas

Ini adalah salah satu artikel dari Majalah Coram Deo edisi pertamanya yang dirilis oleh Yayasan Areopagus pada bulan Desember 2012. Majalah Coram Deo kemudian terhenti penerbitannya hingga saat ini dikarenakan kesulitan dana dan tenaga terampil. Artikel yang akan dimuat ini berjudul “Christless in Christmas” yang menyorot tentang keberadaan perayaan Natal pada masa kini yang mulai bergeser dari tujuannya semula. Artikel ini ditulis oleh pembina sekaligus pendiri Yayasan Areopagus yaitu Bapak Tumbur Tobing. Artikelnya adalah sebagai berikut.

***

Semarak selebrasi pesona Natal dari tahun ke tahun menuju pada pereduksian makna otentik dari apa yang Allah nyatakan. Akibatnya, banyak manusia meninggalkan tahta kemuliaan Allah yang telah mewujud melalui inkarnasi Allah Anak, yaitu Yesus Kristus, menuju dunia ciptaan yang terbatas yang dengan rela mengosongkan diri.

Sebut saja, “Festive Seasons”, slogan tahunan yang digelontorkan para pemikir marketing kreatif dengan memberikan motif-motif yang menarik hasrat mata, memaksa, memandang tampilan huruf dan warna colorful. Membawa khayalan sejenak dari mata orang yang berlalu lalang di sekeliling mal mengurai komposisi iklan dan promosi untuk menarik orang sebagai objek konsumer lintas budaya, lintas agama, lintas kepentingan (interests), dan lain sebagainya.

Begitu juga kehadiran artis-artis ibukota, fashion show, aneka sulap, Santa Claus dan sampai pada semarak pohon Natal raksasa, lonceng yang gemerlap, terkemas rapi, dan menawan hati dalam rangkaian schedule acara dari pertengahan bulan November sampai dengan bulan Desember, dengan spesifikasi tertentu, yakni menjaring keikutsertaan memaknai lagu-lagu Natal dengan irama kontemporer, sesuai selera zamannya, memanjakan para pengunjung dengan buaian arena asesoris baju, permata, sepatu, topi sinterklas dan cerita-cerita ceria di balik komoditas Natal yang semakin jauh dari kesucian, kerendahan hati, kemuliaan Tuhan. Siapa yang mau menjawab akan pemunahan secara perlahan dan pasti mengenai realita “Tanpa Kristus (Christless) di dalam pesta suci Natal (Christmas)”.

Waspadalah, sekarang ini adalah era MTV Generation dengan arogansi yang menantang kaum muda di jagad raya ini untuk mengakui: Tidak ada kebenaran mutlak tapi hanya bergantung kepada komunitas di mana manusia itu berada. Manusia bukan satu-satunya makhluk berpikir, karena proses evolusi melanda seluruh alam semesta yaitu bersatu dan persahabatan dengan alam dalam misi mencari tempat yang tidak pernah dijamah oleh apapun. Dan manusia tidak perlu membuktikan dirinya benar dan orang lain salah karena masalah adalah kontekstual.

Zaman postmodern ini membawa manusia masuk dalam wilayah simbolitas yang tertuang dalam ruang maya sebagai dunia hidup digital abad 21, yaitu membawa manusia terhubung dan terkait tanpa batas, secara otomatis menjadi keanggotaan (citizen web) sebagai komunikasi global untuk menghasilkan kesadaran global dengan mereduksi dan menipiskan akar nasionalisme. Segala sesuatu adalah menciptakan budaya cita rasa untuk memastikan bahwa tidak adanya perbedaan “karya asli” (original) dan “karya tiruan” (imitation) karena segalanya bisa direkayasa dalam kecanggihan akan “assistant cognitive”. Selamat datang di dunia AVATAR!

Filsafat postmodernism memberikan argumentasi keseluruhan pemikirannya dengan memberikan ultimatum bahwa makna hanya muncul apabila sang penafsir masuk dalam suasana dialog dengan teks yang anda sedang baca itulah yang disebut “dekontruksi”, dengan memberikan arti bahwa setiap teks dibaca secara berbeda oleh setiap orang yang berbeda, realita dibaca berbeda oleh setiap orang yang menghadapi realita. Pertama, tidak adanya makna tunggal dalam dunia ini , bahkan tidak ada titik pusat dari realitas secara keseluruhan. Kedua, tidak ada sesuatu yang transeden dalam realitas segala yang muncul dalam proses pengetahuan, segalanya hasil sudut pandang tafsir realitas. Ketiga, usaha menafsirkan realitas adalah usaha untuk menguasai, bukan dikuasai. Keempat, berhenti mencari kebenaran dan cukupkan diri dengan penafsiran melalui percakapan. Slogan postmodernismperbedaan adalah segalanya” mengajak umat manusia menghentikan pencarian kesatuan realitas objektif, karena dunia tidak memiliki pusat dan harus meyakini bahwa dunia postmodern merupakan arena bagi teks-teks yang saling bertengkar.

Sesungguhnya problem manusia berdosa diikat dalam tiga wilayah yaitu menggembosi manusia dan menghancurkan eksistensi dirinya yang tanpa disadari menjadi virus mematikan pada stadium empat. Pertama, bahwa manusia hidup dalam ketidakbenaran karena menganggap akhir hidup manusia tidak dihantui oleh adanya neraka sebagai hukuman kekal, manusia membuang Tuhan lalu manusia sering dibius dengan ungkapan tidak adanya hukuman kekal karena hidup manusia akan habis dan selesai, artinya tak ada penghakiman terakhir karena tidak adanya absoluditas siapa yang berhak menghakimi di luar manusia itu sendiri. kedua, manusia tidak mau tahu apa itu kebenaran karena sesuatu yang benar sebenarnya relatif dan kalaupun Allah mencipta itu pun karena Allah pernah ada, sekarang Allah berada jauh dan sekarang berada dalam dunia ilusi belaka. Ketiga, manusia tidak tahu apa itu kebenaran karena bagi manusia kebenaran sesuatu yang mematahkan kebebasan ekspresi untuk menunjukkan identitas jati diri sebagai pusat kebenaran diri.

Apabila kita terus mengejar diri manusia itu, sebenarnya mereka pun tidak pernah tuntas mengenal dirinya, dan ternyata manusia hanya mampu melihat dirinya dalam empat wilayah yang semakin mengaburkan dirinya sendiri karena manusia hanya mengatakan, saya mengenal diri saya oleh karena sebatas nama nama dan alamat saya semata itulah dunia publik saya. Manusia mempunyai wilayah yang eksklusif yaitu lingkungan sekitar dirinya yang dia tahu, dan orang lain tidak boleh tahu. Hanya ada satu wilayah yang hanya manusia itu sendiri yang boleh tahu. Dan ada satu wilayah di mana hanya Allah yang tahu, tapi manusia itu sendiri pun akan melupakan-Nya, akan mengabaikan-Nya, dan menyangkali itu karena wilayah Tuhan itu terlalu gelap.

Allah mencari manusia adalah frasa ungkapan, Allah berjalan berkeliling mencari Adam dan Hawa, ciptaan yang jatuh oleh karena bisikan iblis. Godaan si ular tua penipu itu sangat menggiurkan, melarutkan hati manusia pertama untuk menurunkan takhta Allah yang absolut ganti dirinya yang terbatas, mengambil kendali sejarah panjang kehidupan manusia karena menganggap antara pencipta dengan yang dicipta memiliki kesejajaran. Karena manusia yang dikasihi-Nya itu, Allah rela terus berjalan di semak yang dicipta di hari yang dingin dan dengan penuh kengerian dan kegamangan manusia, yang bersembunyi di tengah semak belukar sementara Sang Mahakuasa terus berseru, mencari dan memanggil mereka. Allah telah menetapkan dan bermaksud untuk membawa manusia ke wilayah dibenarkan untuk kebenaran karena Allah adalah sumber kebenaran dan kebenaran itu sendiri, Allah mampu dan berotoritas untuk menyatakan kebenarannya.

Alasan ini sungguh anugerah ajaib yang manusia kerap lupakan. Pertama, sesungguhnya manusia sadar bahwa nilai akan jiwa manusia lebih dari seluruh dunia. Kedua, manusia punya jiwa kekal, bahkan sesungguhnya kehidupan manusia dibawa ke takhta pengadilan Kristus untuk dihakimi dan manusia pada hakikatnya sadar, keberadaan hidupnya memahami kesadaran akan kebinasaan kelak di hari-hari hidupnya karena di dalam dirinya ada jiwa kekal dan kemampuan berpikir akan segala sesuatu dalam seluruh eksistensi hidupnya pada masa yang akan datang yang tidak pernah dipikirkan oleh ciptaan lainnya seperti binatang, tumbuhan, dan materi sekalipun. Ketiga, hati yang hancur dan disentuh oleh Roh Kudus memampukan manusia cinta akan isi hati Tuhan untuk mau rela membawa jiwa yang hilang kembali ke hadapan takhta Tuhan inilah agenda Tuhan yang perlu dikerjakan oleh manusia ciptaan baru untuk bersiap menjadi instrumen-Nya di dunia ini.

Kategori:Kristen
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: