Beranda > What I See > Mendelssohn Night: Konser Musik Klasik Pertama Saya

Mendelssohn Night: Konser Musik Klasik Pertama Saya

Well, entah sejak kapan saya senang dengan musik klasik, tapi musik klasik memang menyenangkan. Awalnya sejak remaja saya sudah diberikan beberapa kaset musik klasik seperti Mozart, Beethoven, dan Handel oleh ayah saya. Namun musik-musik punk alternative maupun rock metal ala Blink 182 atau Linkin Park masih menghiasi daftar lagu yang sering saya dengar.

Beranjak kuliah pun demikian, malah ketertarikan terhadap musik klasik pun tidak pernah terbayangkan. Namun dua hingga tiga tahun terakhir ini musik klasik mulai menghiasi daftar lagu saya di pemutar musik yang bernama iPod. Mulanya tidak banyak, dan karya-karya yang familiar dengan telinga awam saya kumpulkan seperti Beethoven ataupun Handel dan Mozart. Belakangan ini musik klasik malah berjejeran dalam iPod saya yang meningkat hingga mencapai 90an lagu. Musik klasik hanya bisa diimbangi oleh lagu-lagu The Beatles.

Suatu hari, saya diajak oleh seorang teman di persekutuan Areopagus untuk menonton Grand Concert di Katedral Mesias milik Gereja Reformed Injili Indonesia atau GRII. Konduktornya pun familiar dengan saya yaitu Dr. Stephen Tong yang merupakan salah satu tokoh Kristen yang sangat dihormati dan disegani di daerah saya. Adapun Grand Concert itu tidak dipungut biaya alias gratis, saya pun mengiyakan ajakan teman saya.

Saya begitu tertohok dengan kalimat Dr. Stephen Tong mengenai keberlangsungan musik. Beliau menyatakan bahwa musik klasik jika ingin terus bertahan hingga jangka waktu yang lama maka kita harus menghidupi para pemusik tersebut. Dengan kata lain, setiap karya klasik dari pemusik jangan segan kita untuk mengeluarkan uang untuk membayarnya. Kalimat itu sangat menyinggung para pembajak musik seperti saya. Dan saya sangat mencintai musik ingin sekali musik-musik dapat diperdengarkan pada generasi-generasi yang belum lahir.

Nah, dalam Grand Concert tersebut, yang begitu megah dengan Final Movement Symphony No. 5 dari Beethoven dan ditambah bonus Radetzky March karya Strauss saya ingin menonton konser musik klasik secara langsung, yang berbayar. Acara terdekat adalah Mendelssohn Night di Aula Simfonia Jakarta. Jadi saya memutuskan untuk menontonnya.

Mendelssohn Night

Sulit rupanya untuk mendapat teman yang bisa pergi nonton bersama. Saya menawarkan ke teman-teman dekat dan mengajak mereka menonton. Harga tiket masuk memang cukup mahal di kantong, tapi lebih murah daripada konser-konser musik penyanyi luar negeri yang bisa mencapai 350 ribu untuk tiket termurahnya. Aula Simfonia Jakarta sendiri menawarkan harga termurah 200 ribu bagi pengunjung umum. Sedangkan bagi pelajar yang berusia 6 hingga 21 tahun mendapatkan harga khusus yaitu 100 ribu.

Harga tiket tergantung siapa yang akan menggelar konser. Pihak Aula Simfonia Jakarta hanya menyediakan tempat dan fasilitas bagi organisasi yang akan menggelar konser musik klasik di situ. Andai pihak Aula Simfonia Jakarta yang akan menggelar konser, harga tiketnya tergantung jenis konser dan target market konser tersebut. Seperti seminggu sebelum Mendelssohn Night, digelar konser yang ditujukan bagi anak-anak dan kisaran harga tiket hanya 50-100 ribu saja.

Saya sendiri memilih Mendelssohn Night karena merupakan event yang paling dekat dari Aula Simfonia Jakarta. Memang ada konser musik klasik yang diselenggarakan Aula Simfonia Jakarta seperti konser musik klasik untuk anak-anak, adapula dari organisasi lain yang menyelenggarakan konser musik klasik. Tapi karena kebanyakan teman saya berasal dari GRII, dan mereka mempromosikan tentang konser musik klasik di Aula Simfonia Jakarta, maka saya memilih Mendelssohn Night.

Mendelssohn sendiri merupakan sosok asing di telinga saya yang awam musik klasik. Mungkin bagi mereka pecinta musik klasik sosok Mendelssohn adalah sosok yang familiar. Tidak bagi saya. Nama-nama seperti Bach, Handel, Beethoven, Mozart, ataupun Haydn lebih banyak saya dengar. Saya juga melakukan penelitian kecil-kecilan mengenai siapa sih Mendelssohn ini.

Mengenai Mendelssohn, sosok yang satu ini terlahir dari keluarga bankir walaupun kakeknya adalah seorang filsuf. Nah, Mendelssohn sejak anak-anak adalah seorang prodigy di bidang musik. Prodigy sejak anak-anak di bidang musik juga dijabarkan pada Mozart ketika dia masih kecil. Bedanya, Mozart lahir dari keluarga pemusik. Bahkan ayah dari Mozart adalah seorang composer terkenal. Sedangkan Mendelssohn dari keluarga bankir yang tidak tanggap awalnya mengenai kepandaian Mendelsson di bidang musik.

Persamaannya dengan Mozart, yang sama-sama prodigy sejak kecil, adalah keduanya meninggal di usia muda. Sekitar 35-36 tahun, usia keduanya ketika dipanggil pulang ke rumah yang baka. Walaupun usia Mendelssohn sangat pendek untuk orang-orang yang pandai, tapi dalam singkatnya usia dia berhasil membuat beberapa karya hebat seperti yang saya tonton. Salah satu karyanya yang terkenal adalah A Midsummer Night’s Dream di mana salah satu wedding march yang terkenal di dunia ada. Adapula Symphony No. 4 Italian dan Symphony No. 3 Scottish. Karya lainnya yang terkenal adalah permainan piano solo Songs Without Words.

Well, makin saya mendengar karya-karyanya makin saya penasaran pergi ke konser Mendelssohn Night. Konser Mendelssohn Night akan menampilkan dua simfoninya yang terkenal, yaitu Symphony No. 5 dengan judul Reformation dan Symphony No. 2 dengan judul Lobegesang atau Hymn of Praise.

Akhirnya saya mendapatkan teman. Pinkan, salah satu teman baik saya bersedia ikut menonton konser Mendelssohn Night di Aula Simfonia Jakarta. Awalnya susah menghubungi pihak box office dari ASJ, baik itu lewat telpon, email, dan twitter. Pada hari menghubungi lewat ketiga jalur tersebut, tidak ada balasan. Baru pada lusanya, Pinkan memberitahukan saya bahwa tiket sudah dipesan. Dan karena kantong cekak, harga termurah yang diambil. Walaupun murah, Aula Simfonia Jakarta sudah dirancang sedemikian agar setiap sudut tempat duduk mendapatkan pandangan yang baik ke panggung.

Pada hari H atau D-Day, kita berdua pergi terlalu dini untuk menukarkan bukti email dengan tiket. Setelah bertanya kepada pihak box office, ternyata ruang utamanya akan dibuka 15 menit sebelum konser dimulai. Jadilah kita berdua awalnya bengong mulai mengitari gedung yang berada di kawasan RMCI atau Reform Millennium Center Indonesia (kalau tidak salah). Mulanya melihat-lihat ruang-ruang kapel dan biografi-biografi para misionari dan tokoh reformis Kristen yang terpampang di kaca-kaca ruangan di lantai dasar.

Setelah selesai kita mengitari ruangan yang terdapat barang-barang antik, lukisan-lukisan, dan keramik-keramik khas Tiongkok. Awalnya saya mengira itu museum, karena beberapa kali saya dipromosikan mengenai museum di kompleks RMCI. Tiket museum cukup mahal bagi saya yang berkantong cekak, mungkin suatu kali saya akan berkunjung tapi tidak saat itu. Nah, karena dibilang gratis untuk masuk ke ruangan yang dipenuhi oleh barang-barang antik itu, kita pun masuk sembari menunggu konser yang akan dimulai pada jam 5 sore.

Makin dekat jam konser, makin banyak pula yang berdatangan. Tempat tunggu yang awalnya sepi, mulai ramai, dan makin ramai. Ternyata banyak juga orang asing yang menunggu konser tersebut. Beberapa dari mereka bahkan bolak-balik dari tempat tunggu ke ruangan barang antik tersebut.

waiting Mendelssohn NightSuasana sebelum konser Mendelssohn Night

Interior Aula Simfonia Jakarta dibuat seelegan mungkin. Tangga dan ruang hall di lantai dua dialas oleh vinil yang berwarna cerah, dan anggun. Di ruang hall, terdapat beberapa lukisan untuk mempercantik dan mempertegas keeleganan tempat konser klasik ini. Ada empat pintu, pintu pertama menuju ke lower stage atau tempat duduk yang berada sejajar dengan stage atau panggung. Pintu kedua, pintu yang menuju tempat duduk di upper stage yang berada di tengah atau mezzanine dan pintu lainnya menuju ke posisi terrace right. Pintu sisanya menuju terrace left.

Saya dan Pinkan menempati tempat duduk di Terrace Right C-9 dan C-10. Sangat visibel panggung yang terlihat dari tempat duduk kita. Hanya bagian paling kanan dari panggung saja yang tidak bisa terlihat, tapi tidak apa. Beberapa menit sebelum dimulai, orang-orang sudah mulai memenuhi bangku-bangku kosong. Dan beberapa lampu mulai dipadamkan.

Menurut buku program, musik Piece Heroique karya Cesar Franck dimainkan oleh Lina Runtuwene, pemain organ. Musiknya agak gelap dan memang asing di telinga alias baru kali ini saya mendengarnya. Permainan organ dari Lina tidak membuat mengantuk. Maklum, bagi sebagian orang bahkan teman-teman saya sering menanggap musik klasik adalah musik yang membosankan dan membuat ngantuk. Yang aneh adalah adanya satu orang di belakang Lina ketika sedang bermain organ. Sayang, selama konser dilarang memotret, kalau tetap ngeyel akan ditegur oleh petugas.

Setelah permainan organ Lina, masuk ke menu utamanya. Symphony No. 5 Reformation karya Felix Mendelssohn dengan konduktor Gabriel Laufer yang berasal dari Belgia. Seperti yang telah saya dengar sebelumnya, alunan musik Symphony No. 5 ini sangat bersemangat. Bahkan sang konduktor pun terlihat begitu bersemangat memimpin orkestra. Para violis, cellois, dan pemain lainnya bersemangat.

Di antara 1st movement dan 2nd movement, ada sedikit jeda sehingga para penonton memberi tepuk tangan padahal pertunjukan belum selesai. Di 2nd movement, alunan lebih soft dan sesekali tergoda untuk memejamkan mata. Sempat kepikiran apakah 2nd movement ini cocok untuk acara-acara seperti wedding atau ulang tahun pernikahan atau semacamnya.

Pada final movement, Symphony No. 5 terdapat alunan nada lagu A Mighty Fortress Is Our God karya Martin Luther yang terkenal. Lagu tersebut merupakan lagu hymn yang cukup sering terdengar dari gereja-gereja yang condong ke hymn. Banyak gereja mulai meninggalkan hymn karena dianggap tidak cukup menarik bagi jemaat. Padahal lagu-lagu hymn telah banyak berpengaruh ke dalam dunia musik.

Kemegahan A Mighty Fortress Is Our God menjadi penutup sesi pertama. Tepuk tangan meriah membahana ketika konduktor Gabriel Laufer mengajak berdiri para kelompok-kelompok pemain musik. Tepukan makin meriah ketika konduktor mendapatkan bunga sebagai ucapan terima kasih. Setelah pertunjukan pertama usai, para penonton mendapat waktu istirahat.

Waktu istirahat di sini adalah untuk buang air kecil, makan dan minum hingga meluruskan kaki. Karena selama pertunjukan kita tidak diperkenankan untuk keluar buang air kecil, makan apalagi minum. Berdiri untuk meluruskan kaki pun tidak boleh karena mengganggu penonton lain. Jadi waktu istirahat atau di buku program bernama sesi Intermission. Waktu istirahat ini dipakai sebaik mungkin untuk buang air kecil (sampe ngantri).

Ms. Pinky Ms. Pinky saat sesi istirahat

Selesai istirahat, penonton disajikan permainan violin dari seorang doktor musik. Violist tersebut bernama Dr. Ayke Agus, seorang wanita handal. Permainan violinnya sangat indah. Ayke memainkan Unaccompanied Partita in A Minor karya seorang komposer handal yang pernah ada di dunia, Johann Sebastian Bach. Penampilan sempurna Dr. Ayke mendapatkan tepuk tangan sangat meriah, mungkin sama meriahnya dengan sesi pertama. Memainkan violin tanpa dukungan orkestra maupun buku partitur sangatlah wow bagi saya. Tidak salah jika Dr. Stephen Tong menyebut Dr. Ayke adalah violist yang jenius.

Sebelum memasuki sesi Symphony No. 2 Hymn of Praise, terjadi pengumuman bahwa konduktor Dr. Stephen Tong sakit. Dr. Billy Kristanto diplot menggantikan beliau untuk menjadi konduktor. Symphony No. 2 cukup panjang di mana pertunjukan bisa berkisar 50-60 menit. Dr. Billy memasuki ruangan setelah para pemain musik sudah memenuhi tempat duduknya. Menurut info dari Wikipedia, Symphony No. 2 terdiri atas 11 bagian di mana bagian pertamanya adalah simfoni berupa alunan musik saja dan sisanya ada paduan suara, penyanyi tenor, dan duet sopran yang bergantian diiringi orkestra atau cantata. Tapi, pada konser kali ini langsung dimulai dengan paduan suara atau langsung bagian cantata. Suara manusia berpadu dengan suara alunan musik yang dimainkan manusia dipimpin oleh seorang konduktor manusia pula. Kalau diibaratkan suatu bangsa, maka kelompok paduan suara adalah mayoritas dan pemain perkusi adalah minoritas karena seorang diri. Well, harmoni pun bisa terjadi di dalam perbedaan ini jika kita lebih mementingkan kepentingan yang lebih besar yaitu keindahan musik.

Lirik-lirik dari bagian cantata Symphony No. 2 ini ada di buku program. Di situs Wikipedia mencatat tiap-tiap lirik berasal dari ayat-ayat Alkitab, dari Mazmur 150, Mazmur 33, dan banyak lagi. Penyanyi sopran yaitu Cecilia Yap dan Elsa Pardosi, sedangkan penyanyi tenor adalah Peter Chung. Rekam jejak ketiga penyanyi ini tidak diragukan. Dengan berbagai konser yang telah mereka ikuti, jam terbang, pengalaman, dan mental di atas panggung sudah mantap. Ketiganya bergantian bernyanyi mengikuti riuh rendah suara orkestra. Bagian terindah bagi saya dalam cantata Symphony No. 2 ini adalah bagian ke 6 dan ke 7. Musik dan liriknya seolah-olah menggambarkan keputus-asaan, bertanya kepada penjaga kapankah masa sulit ini (dilirik digambarkan sebagai malam) akan berlalu, tapi si penjaga hanya bisa menjawab bahwa masa sulit akan segera berlalu (pagi akan segera tiba) tapi akan datang lagi. Dan kemudian pada bagian ke 7 penyanyi sopran dan paduan suara dengan semangat menyanyikan bagian tersebut untuk menyatakan “the night is departing”.

Symphony No. 2 ditutup dengan megah, apalagi kata-kata “Hallelujah! Sing to the Lord” menyatakan pujian dan hormat hanya bagi Tuhan. Tepuk tangan meriah menutup konser Mendelssohn Night. Bagi saya, kali pertama menonton konser musik klasik sungguh luar biasa. Musik klasik memang layak untuk mendapatkan tepuk tangan luar biasa karena jerih payah para pemusik dari masa ke masa berjuang untuk mempertahankannya. Ini kali pertama saya, dan sangat besar kemungkinan akan kembali menonton event lain di Aula Simfonia Jakarta yaitu Christmas Concert pada 21 Desember 2014.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: