Beranda > What I See > Berpetualang Ke Gunung Gede: Cerita Lain

Berpetualang Ke Gunung Gede: Cerita Lain

Dua hari setelah tiba dari Puncak Gunung Gede, kaki ini masih terasa pegal. Kalau mengingat kembali perjalanan pendakian yang melewati jalur Gunung Putri benar-benar seru. Hujan di tengah perjalanan hingga harus buka tenda di tengah jalan, angin di alun-alun Suryakencana yang membuat badan menggigil hingga semua itu terbayar lunas dengan keindahan bunga-bunga edelweiss yang perlahan mulai mengering, Puncak Gede yang selalu indah. Ah perjalanan itu hendaknya ditulis kembali, untuk diingat.

Cerita dimulai dengan rencana tiba-tiba dari Joe yang ingin mendaki Gunung Gede melalui jalur Gunung Putri yang sudah dibuka sejak April kemarin. Hendri, guide kita saat pendakian kemarin, bersedia menjadi guide sekaligus porter. Setelah menunjuk hari dan tanggal, Joe mulai mengumpulkan orang-orang. Selain saya, ada Dodi dan Andry (bukan Andry yang ada di pendakian pertama saya). Seolah pendakian kali ini diizinkan, hari Jumat (19/9) saya, Joe, dan Andry yang adalah rekan kerja libur karena para atasan sementara ke Bali. Dodi pun dihubungi untuk segera minta izin ke kantornya. Tidak lama kemudian deal pun terlaksana.

Jika dua pendakian sebelumnya saya bersama teman-teman lain naik bus umum untuk mencapai Cibodas, kali ini menggunakan mobil. Karena kantor libur, mobil kantor pun lowong. Siang hari saya dan Andry bertemu Joe di kantor yang sudah menunggu dalam mobil. Hari Jumat siang itu panasnya menyengat bukan main. Angin yang bertiup malah membawa uap panas. Untung kita tidak harus berdesak-desakan lagi di busway seperti sebelumnya, kali ini dalam mobil yang cukup lega. Kita bertemu Dodi di kawasan Mall Cijantung. Maklum, menggunakan mobil sendiri ada enaknya yaitu bisa ke mana-mana. Setelah bertemu Dodi, lepas kangen sejenak karena sudah lama dia tidak sekantor lagi dengan saya dan Joe. Kita berangkat menuju Cipanas untuk bertemu Hendri di sana.

Pasir Kampung

Perjalanan ke Cipanas melalui Tol Jagorawi semula lancar namun berubah sejak kita memasuki KM 18. Setiba di KM 18 itu, mobil berjalan perlahan demi perlahan dan mulai melewati plang angka yang menunjukkan KM 19, KM 20, dan seterusnya. Teknologi memang diciptakan untuk mempermudah penyebaran informasi, dan ternyata melalui teknologi yang bernama mobile phone atau handphone, kita bisa tahu kalau di depan sana tepatnya KM 26 terjadi kecelakaan hebat. Kecelakaan tersebut rupanya sudah terjadi sejak jam makan siang tadi yang sudah lewat. Cerita tabrakan bisa dibaca di koran atau sumber lain. Perjalanan kembali lancar selepas lokasi kecelakaan karena mobil-mobil dan bus-bus berjalan perlahan ketika melewati lokasi.

Perjalanan ke Puncak sangat ramai, seperti biasa. Yang kata Joe “orang-orang Jakarta semua liburan ke Puncak, lihat aja plat nomor banyakan B”. Selama perjalanan kita berbicara banyak, mengenai pendakian hingga pekerjaan, dari bicara tentang perilaku cewe-cewe hingga politik. Kadang-kadang hebohnya melebihi suara radio. Tapi tak apa, pria juga punya hak untuk ngobrol ria, namanya juga emansipasi.

Kita sempat berhenti sejenak di salah satu rest area dekat Cibodas. Saya dan Dodi bingung karena Cipanas tidak jauh lagi dan kenapa harus berhenti. Joe bilang untuk meluruskan kaki, dan kita mengiyakan saja. Dingin mulai datang karena malam tiba tapi bintang tidak terlihat padahal kita sudah jauh dari Jakarta. Hanya 10 menitan kita ngobrol di rest area itu. Andry pun mulai senang menggunakan kata woles setelah mengetahui artinya. Tidak jarang dia berkata “woles mas, woles”.

Karena sudah saat jam makan, di Cibodas kita berhenti di salah satu warteg. Warteg ini bersebelahan dengan warteg yang pernah kita datangi sebelumnya sehari sebelum pendakian. Warteg ini berada sejajar dengan jalan ke Cibodas, dan lumayan sih berempat makan seabrek habis 80ribu aja. Setelah kenyang baru kita beranjak ke Cipanas untuk bertemu Hendri. Rencananya kita akan menginap di rumah tante Hendri yang terletak di desa yang bernama Pasir Kampung, sekali naik angkot aja ke pintu masuk Gunung Putri.

Kita bertemu Hendri di depan Istana Cipanas, dekat pos polisi. Untung polisi di sini bukan polisi di Jakarta, udah ditilang nih karena berhenti di pinggir jalan tapi nggak ngetem sih. Sudah hampir setahun nggak bertemu teman kita yang satu ini, agak kurusan ketimbang sebelumnya. Hendri sudah membawa barang-barang yang kita sewa seperti tenda, nesting, kompor, matras, dan sleeping bag. Logistik seperti beras, kornet, mie, air minum, cemilan dibeli di Cipanas juga. Jadi deh mobil penuh sampe harus pake bagasi belakang.

Rumah tante Hendri sangat jauh dari jalan utama. Kita harus melewati jalanan rusak yang sudah biasa kita lihat di bagian-bagian Indonesia yang lain (seperti Galunggung, Pangandaran). Kata Hendri, jalan sudah beberapa kali diperbaiki tetapi tetap saja rusak karena pada saat hujan air dari atas mengalir ke bawah yang kemudian merusak aspal. Kata Hendri sih gitu, tapi masa sih tidak bisa diakalin sama pemerintah, apa mungkin dibeton aja cukup. Saat malam jalanan di tempat Hendri yang bernama Pasir Kampung sangat sepi, hanya ada satu-dua orang saja berkepala kupluk berselimut jaket duduk-duduk sambil lihat kiri-kanan.

Pasir Kampung, nama yang aneh. Saya tanya Hendri, dia juga gak tau kenapa namanya Pasir Kampung. Penduduk di desa ini kebanyakan petani sayur, kalau bukan petani sayur paling bunga. Malam yang dingin di Pasir Kampung menjadi hangat karena kehangatan keluarga tante Hendri. Sudah ada teh dan kopi di tengah-tengah obrolan para lelaki kesepian yang akan mendaki pada Sabtu pagi. Kita membicarakan jam pendakian, kemudian di mana kita akan menginap. Joe, sebagai tetua sempat bingung di mana akan menginap. Apakah di alun-alun atau di Puncak. Akhirnya karena belum sempat mengunjungi Suryakencana pada pendakian pertamanya, Joe memutuskan untuk menginap di Suryakencana dan mulai mendaki jam 10 pagi mengingat rute Gunung Putri tidaklah sepanjang rute Cibodas yang bisa memakan waktu hingga 8 jam bahkan lebih kalau terlalu woles.

Pendakian Jalur Gunung Putri

Jam masih menunjukkan pukul tujuh kurang ketika saya bangun. Kita tidur berempat di atas karpet, sedangkan Hendri tidur di dalam ruangan kecil di belakang ruang besar yang kita gunakan. Keluarga tante Hendri atau dibilang dengan bahasa daerah uwa, amat ramah. Cuaca cerah walaupun suhu cukup dingin, termometer di henfon menunjukkan angka 23 derajat celcius pada pagi yang cerah. Suara air yang disiram di depan rumah terdengar, jalan yang berdebu membuat harus dibasahi.

Kita sudah menyetujui keberangkatan menuju pendakian pukul 10 pagi. Dengan asumsi waktu perjalanan “woles” kata Andry, kita bisa sampai di alun-alun Suryakencana kira-kira jam lima sore. Cuaca tidak bisa ditebak tapi berharap selama perjalanan nanti akan cerah. Saya dan Joe yang sudah pernah dibasahi hujan pada saat pendakian sebelumnya mencoba menerka-nerka arah awan, yang ujung-ujungnya salah. Makanan sudah tersedia dan kita sarapan dulu sebelum melakukan persiapan akhir.

Perjalanan dari tempat Hendri menuju pintu masuk jalur Gunung Putri sangat jauh jika harus berjalan kaki. Beruntung ada tetangga Hendri yang bersedia mengantarkan kita menggunakan mobil yang kita bawa hingga pintu masuk. Dalam perjalanan, di kiri dan kanan banyak pekarangan-pekarangan yang sudah ditanami berbagai macam tanaman seperti sayur-sayuran berupa kol dan wortel, ada pula bawang. Ada candi kecil yang kita lewati, saya tanya Hendri candi apa itu, dia pun tidak tahu.

Sesampainya di pertigaan, di mana ada jalan kecil yang mengarah ke pos pelaporan terakhir sebelum pendakian. Jalannya menanjak, dan lumayan jauh hingga mencapai rumah kecil di sisi kiri jalan yang dikelilingi rumah-rumah berkebun. Pengalaman kemarin saat pendakian pertama saya, pernah dikejar kambing yang lepas di jalan kecil ini. Setibanya di pos pelaporan, Hendri melapor karena dialah yang memegang simaksi dan sosok yang tentunya tidak asing di kawasan ini. Tidak lupa berdoa dan kemudian melanjutkan perjalanan dan mulai berjalan jauh dari pos itu.

Kita melewati ladang-ladang yang ditanami sayur-sayuran berupa kol, bawang merah, ada pula wortel. Perjalanan melewati jalur Gunung Putri menanjak sedari awal, tidak banyak “bonus” yang dapat kita nikmati jika melalui jalur ini. Ketika melewati ladang-ladang tersebut, napas saya dan Joe mulai keteteran dan tertinggal jauh dari Hendri, Andry, dan Dodi (padahal baru pertama kali naik). Kata Joe, ritme napas belum didapat. Kita beristirahat sejenak di tempat yang cukup luas di mana ada pipa cukup besar sebelum menuju ke dalam hutan yang lebat.

Andry otw gunung putri

Joe dan pemandangan dari jalur gunung putriJoe dengan latar pemandangan indah di jalur pendakian Gunung Putri.

Setelah kita beristirahat tidak tanggung-tanggung jalur tanjakan kita lahap langsung, dan berujung pada peristirahatan kedua. Pohon-pohon sudah tinggi menutupi sengatan matahari langsung, dan hanya terlihat sinar yang masuk ke celah-celah daun yang tidak rapat. Pendakian melewati Gunung Putri dibatasi kuota, hanya boleh 200 pendaki yang dapat melalui jalur ini. Jadi tidak begitu heran jika kita tidak banyak bertemu kawan-kawan pendaki. Walaupun begitu, pendaki-pendaki tersebut dapat kita temui jika mereka sedang beristirahat di pos-pos yang sudah disediakan. Kadang mereka merokok, mengobrol, atau menikmati cemilan untuk sejenak melepaskan lelah sebelum mereka melanjutkan perjalanan.

Kita berjalan makin cepat sehingga meninggalkan Joe di belakang. Jalan yang kita hadapi makin lama makin menanjak. Kata Wury, teman saya saat pendakian pertama selain Andry dan Pak Sugianto, jalur Gunung Putri walaupun menanjak tetapi lebih cepat ketimbang jalur Cibodas yang lebih landai. Lagipula, jalur pendakian melalui Gunung Putri menuju langsung ke alun-alun Suryakencana yang terkenal itu. Kita tidak akan terburu-buru menuju ke sana karena tempat yang disediakan untuk camping di sana sangatlah luas, tapi sumber airnya terbatas.

Joe yang tertinggal di belakang membuat saya, Hendri, Andry, dan Dodi mencoba menunggunya di salah satu pos yang tidak jauh dari tempat dia berada. Tapi setelah dicek, Joe sedang beristirahat sambil minum kopi kita pun beristirahat sejenak. Di pohon dekat tempat kita beristirahat ada sebuah plang yang menujukkan angka 2.250 mdpl. Andry berkata “tempat ini lebih tinggi dari Gunung Klabat”. Lebih tinggi bukan berarti Gunung Klabat mudah untuk didaki. Tidak ada gunung yang mudah untuk didaki, karena setiap gunung menawarkan keunikan dan tantangannya sendiri.

Dodi en Andry sementara nunggu JoeDodi dan Andry di bawah plang 2.2250 mdpl.

Sial, belum juga setengah jalan kita lewati, tiba-tiba hujan datang menyergap. Awalnya kita mengira hujan hanya sebentar dan tidak terlalu berpengaruh karena tidak menyentuh badan. Air yang jatuh terhalang daun-daun dan ranting-ranting pohon hutan Montana yang tinggi-tinggi. Tidak lama kemudian, byurrrr!! Saya, Andry, Dodi, dan Hendri melanjutkan perjalanan dan sudah mulai basah kuyup. Joe tertinggal di belakang, dan kita khawatir nanti kalau terjadi apa-apa dengan dia. Maklum, kita mendaki tanpa persiapan jaket hujan dan ini adalah kali kedua terjadi. Rupanya saya dan Joe belum belajar dari pengalaman.

Sesampainya di salah satu pos yang ada tempat perteduhan, tempat itu sudah dipenuhi oleh para pendaki yang berkerumun di sana. Saya dan Hendri memutuskan untuk buka tenda sementara di dekat situ untuk berteduh. Tidak lama kemudian Joe datang, dan tenda pun jadi. Kita berlima ikut masuk ke dalam menghangatkan diri bersama barang-barang. Tidak lupa kita menyantap cemilan untuk memastikan perut tetap terisi karena sehabis hujan tentunya angin dan dingin ikut menyambut. Kita beruntung membawa vodka yang diisi ke dalam satu botol Ades sedang. Selain menghangatkan badan, kita juga berbincang-bincang mengenai pengalaman ini.

Hujan tidak berhenti selama kurang lebih satu jam. Ada gemuruh guruh mengikuti tapi tidak lama kemudian hilang bersama hujan. Apa yang ditakutkan yaitu dingin dan angin mengikuti selanjutnya. Bagai lepas dari mulut harimau masuk mulut buaya. Anginnya tidak lebih kuat dari pendakian sebelumnya, ketika saya dan Joe bersama teman-teman dihantam hujan pula.

Dodi, Hendri, dan Andry mulai melakukan perjalanan kembali selepas hujanDodi, Hendri, dan Andry mulai melakukan perjalanan kembali selepas hujan. Joe tertinggal di belakang (lagi).

Jalur Gunung Putri yang sempat ditutup akhir tahun lalu hingga hampir pertengahan tahun ini sudah lebih ramah. Sudah jarang kita berpegang pada akar-akar pohon karena jalur sudah ditata. Namun tanjakannya tidak berubah. Tanjakan yang naik sangat jarang kita dapati bonus. Naik terus, naik terus. Fisik sudah turun akibat hujan bukan hanya menimpa kita, tetapi juga para pendaki lain berjalan perlahan. Jalan terus, istirahat jangan terlalu lama, adalah salah satu cara untuk menghilangkan dingin dan mendekatkan diri pada tujuan.

Mendekati Suryakencana, jalan landai, enak, dan pasti menambah semangat karena sebentar lagi kita sampai. Andry sempat mengalami keram karena melewati tanjakan dan tertinggal di belakang, namun Joe tertinggal lebih jauh di belakang. Dan akhirnya, sampai!!!

Ketika tiba di Suryakencana, saya, Dodi, dan Hendri tiba terlebih dahulu. Pintu masuk alun-alun yang luas ini sudah dipenuhi para pendaki-pendaki yang telah mendirikan tenda. Tidak lupa pula para penjaja makanan dan minuman sudah menanti. “Kopi! Kopi” kata mereka menyapa orang-orang yang melewati “stand” mereka. Angin di lembah yang diapit oleh dua gunung ini sangat kencang, dingin, apalagi baju belum berganti dan hanya ditutup oleh jaket. Kita yang sudah sampai sepakat, Hendri dan Dodi pergi lebih dulu mencari tempat untuk buka tenda sedangkan saya menunggu Andry dan Joe.

JpegHendri dan Dodi di Suryakencana

Suryakencana

Kira-kira 10 menitan setelah berpisah dengan Hendri dan Dodi, Andry tiba. Dia kelihatan capek dan bertanya di mana tenda. Saya bilang kita akan menunggu Joe, namun Andry rupanya sudah kecapean jadi ingin menanggalkan beban yang sudah dia bawa dari awal pendakian. Andry membawa dua tas, pertama tas carrier berisi peralatannya dan tas daypack yang berisi bahan-bahan logistik. Wajar saja dia kecapean, berbeda dengan saya yang hanya membawa satu tas. Saya tinggalkan Joe karena Andry berkata dia masih jauh di belakang.

Hendri berkata bahwa tenda akan dibuka di daerah sekitar jalan menuju Puncak Gede. Jadilah saya dan Andry harus berjalan lagi ke arah barat, di mana mata air Suryakencana berada. Banyak pendaki lalu lalang di Suryakencana dan angin juga tidak henti-hentinya bertiup membuat badan agak dingin. Andry yang sudah kecapean terus berjalan, dan saya bilang untuk melihat ke sisi kanan kita karena tenda berada pada sisi tersebut. Mendekati jalan masuk ke Puncak, kita berdua sempat kebingungan mencari tenda karena begitu banyak orang di sana yang mendirikan tenda. Saya juga sempat bertanya kepada para pendaki lain yang membuka tenda di dekat jalan masuk. Andry yang sudah kecapean pun duduk di padang savanna. Akhirnya, tenda ditemukan dan berada di sisi satunya dari jalan masuk ke Puncak. Saya bergegas mencari Andry dan menunjukkan posisi tenda kita.

Setelah melepas beban, berganti baju, saya kembali bergegas menuju pintu masuk Suryakencana untuk mencari Joe. Tempat ini sangat luas sehingga takutnya tidak ada yang melihat Joe lewat atau mungkin dia sementara di pintu masuk menunggu kita. Banyak pendaki yang telah berdatangan menuju ke arah yang berlawanan dengan saya. Saya menemukan Joe yang berjalan di antara para pendaki tersebut dengan muka masam. Maklum, kita meninggalkannya cukup lama dan dia sudah mencari kita di alun-alun timur dan tidak menemukan sama sekali tenda kita. Mencoba menenangkannya dan berjalan perlahan menuju tenda yang sudah didirikan. Sedikit tegukan Ades cukup menghangatkan badan.

Setibanya di tenda, saya menemukan Dodi dan Andry sudah tergeletak dengan enaknya di sisi kiri dan sisi kanan tenda. Hendri berada di tenda satunya, sementara memasak. Di dalam, Joe mengeluarkan uneg-unegnya sebelum merebahkan diri. Angin di luar lama kelamaan makin kencang sehingga kita menutup tenda. Dan memang, makin malam suara gemuruh angin makin terdengar walaupun hanya sesekali lewat. Suara-suara tetangga masih sibuk bercakap-cakap di depan. Ingin keluar namun angin dingin rasanya menampar wajah dengan jarum-jarum kecil yang dingin. Sesekali kepala keluar, langsung ditarik masuk.

Saat matahari sudah beranjak menyinari bagian bumi lain, dan malam di Suryakencana, Hendri datang membawa makanan hangat. Ada mie kuah, nasi putih, dan kornet. Makanan seadanya ini sudah tergolong lezat. Jadi ingat kata Pak Sugianto, makanan ini sudah paling lezat di atas gunung. Logistik yang kita bawa pun tidak begitu banyak dan harus berhemat untuk hari besok. Habis makan kita kembali masuk ke dalam sleeping bag masing-masing. Tidak ada yang bisa dikerjakan karena angin cukup kencang serta tubuh kita rupanya tidak mampu menahan dingin agak lama.

Pagi hari di SuryakencanaPagi hari di Suryakencana

Pagi pun tiba, dan berharap lebih baik dari malam yang dingin dan berangin. Matahari rupanya ogah-ogahan pula untuk bersinar lebih benderang dan memberikan hangatnya. Tapi banyak orang yang sudah tidak sabar untuk mengabadikan momen di pagi hari itu bersama edelweiss-edelweiss yang tersebar di seluruh penjuru Suryakencana. Hendri pun segera merebus air dan menyuguhkan kopi pada kita.

Saya dan Dodi menikmati segelas kopi cappuccino di SuryakencanaSaya dan Dodi menikmati segelas kopi cappuccino di Suryakencana

Andry nyeruput cappuccino

masih basah

Di Suryakencana, kita hanya menghabiskan waktu dengan foto atau ngopi atau makan. Lembah yang diapit dua gunung ini memang menakjubkan, tidak ada yang bisa dilakukan di sini selain foto-foto dan tidur-tiduran. Tapi ada juga yang jogging lho, hebat! Tetangga di sebelah malah bertapa telanjang dada yang membuat kita takjub. Takjub karena kita aja masih memakai baju penghangat.

Joe dan Dodi membelakangi Gunung GedeJoe dan Dodi membelakangi Gunung Gede

Andry, Joe, dan Dodi sedang menikmati SuryakencanaAndry, Joe, dan Dodi sedang menikmati Suryakencana.

Joe sedang sesi pemotretan Joe sedang sesi pemotretan hahaha.

Joe, Andry, dan DodiJoe, Andry, dan Dodi

Setelah puas sesaat untuk foto-foto, kita kembali menuju tenda. Hendri sudah selesai mengepak tenda satunya dan sedang menunggu kita. Sebelum berangkat ke puncak, panggilan alam tidak terelakkan bagi beberapa orang. Jadilah keberangkatan tertunda karena panggilan itu. Setelah menyelesaikan panggilan alam, kita berdoa lagi dan bersyukur telah dilindungi Yang Mahakuasa sejauh ini. Dua tahap lagi yang akan dilewati yaitu menuju puncak dan kembali.

Puncak Gede dan Kembali

Karena harus memulai perjalanan dari awal lagi, jadi ngos-ngosan datang lebih cepat. Sinar mentari masih terselubungi awan-awan yang lewat dan kita sudah mulai berjalan pelan-pelan. Tidak jarang kita berpapasan dengan teman-teman yang baru kembali dari puncak atau akan ke puncak. Napas juga masih terengah-engah, sinar mentari yang sudah pas-pasan masih saja terhalang oleh dedaunan pohon-pohon. Walaupun terengah-engah, harus tetap semangat karena sebentar lagi puncak. Itulah yang menjadi kalimat penyemangat bagi mereka yang sudah terlihat capek.

Selain kata “sebentar lagi” atau “sudah dekat” kita juga menggunakan kata “satu pose untuk semangatmu”. Maksudnya adalah foto dulu kalau lelah, biar lebih semangat hehehe. Di tengah perjalanan kita sempat jeprat-jepret untuk menghilangkan capek. Bukan kita-kita aja nih, sama teman-teman pendaki yang kecapean juga ada. Check it out.

naik naik ke puncak gede

satu foto untuk semangatmu :p

Saya, Hendri, dan Joe terpisah dari Dodi dan Andry yang berjalan lebih cepat. Jalan ke puncak lebih banyak tanjakannya, wajar sih karena mana ada jalan menuju puncak tidak terjal dan menanjak jalannya. Seumpama mencari puncak kesuksesan, harus banyak jalan terjal yang harus dihadapi dan menanjak dengan batu-batu besarnya. Tapi kita sedang tidak menuju puncak kesuksesan tetapi puncak gunung. Oksigen tipis digabung jalan menanjak tentu membuat kecapean. Dodi dan Andry semangatnya tinggi untuk melihat puncak, mereka berdua meninggalkan kita bertiga cukup jauh.

Selain berjalan perlahan, kita bertiga juga menghabiskan waktu dengan foto-foto selama perjalanan. Foto berguna untuk menghilangkan lelah hahaha.

Foto Joe di jalur menuju Puncak GedeFoto Joe di jalur menuju Puncak Gede. Di belakangnya adalah Suryakencana.

Andry dan Dodi sudah menunggu di Puncak Gede. Orang-orang yang sudah lebih dulu tiba di puncak memenuhi tempat yang ada plang Puncak Gede sehingga terlihat padat. Padahal Puncak Gede memanjang sehingga tidak perlulah orang-orang menumpuk di satu tempat. Kita juga awalnya terpaku dengan keadaan ini sehingga foto-foto kita tidak maksimal mengambil pemandangan, terutama Gunung Pangrango. Di Puncak Gede, seperti yang sudah saya tulis di petualangan-petualangan sebelumnya, banyak penduduk yang mencari nafkah di sini dengan berjualan kopi panas, pop mie, nasi uduk, maupun gorengan. Harga yang ditawarkan jangan pernah komplain, karena perjalanan mereka dari kaki gunung menuju puncak juga patut dihargai!

Andry di plang Puncak Gede

Joe di Puncak Gede

Dodi di atas Gede berlatar Pangrango

Jika ke Gunung Gede, sekali tidak akan puas. Kali kedua, makin merasa sulit untuk melupakan pemandangan dari puncaknya. Kali ketiga, baru akan terpesona dengan gunung ini. Kita menghabiskan waktu di atas gunung dengan foto-foto. Hendri hanya duduk-duduk saja, maklum dia paling sering ke tempat ini.

Dodi: Terdampar Di Puing Jagat RayaDodi: Terdampar Di Puing Jagat Raya

Puncak Gede bukan tempat satu-satunya yang menawarkan pemandangan indah untuk foto-foto. Jalan menuju puncak dari puncak bayangan pun tidak luput dari jepretan paparazzi. Beberapa kali saya mengambil gambar teman-teman di tempat itu, juga foto bareng.

Cerahnya

Joe dan Dodi dan Surken

Pemandangannya keren, jadi pengen sih balik lagi berulang-ulang tapi gak setiap bulan. Minimal 6 bulan sekali lah kita kembali ke Gunung Gede menikmati pemandangan alamnya. Selain itu membuat kita yang kurang giat berolahraga ataupun merasa boros untuk fitness memiliki kegiatan. Ada satu lagi tempat yang menjadi tempat favorit saya untuk foto, terutama Joe. Check it out.

Foto bareng dulu Foto bareng dulu. Joe, Andry, Dodi, saya, dan Hendri.

Bagus kan!Nih, tempat maksud saya. Bagus kan!

acung jempol dari Dodi“Mantappp” acung jempol dari Dodi

Setelah foto-foto di tempat yang tidak kalah indahnya dengan puncak, kita pun turun. Saya baru sadar kalau Andry dan Hendri sudah turun duluan dan menunggu di Kandang Badak. Jadi kita bertiga pun bergegas ikut turun. Joe sempat terkena sakit “Monic” alias keseleo saat perjalanan ke Kandang Badak. Saat perjalanan menuju Kandang Badak, kita sempat berpikir mengikuti Tanjakan Setan, namun kata para pendaki lain di sana harus ngantri. Jadilah kita mengambil jalur alternatif, yang memang lebih panjang tapi gak perlu ngantri.

Di Kandang Badak menunggu Andry dan Hendri. Hendri tidak bisa menanak nasi karena kompor ada dalam tas saya. Jadilah mereka berdua bengong dan pesan kopi ke penjual di situ. Kandang Badak sendiri penuh dengan mereka yang akan naik atau baru saja turun. Setelah kita bertiga tiba, Hendri langsung mengambil kompor dan memasak. Kita makan siang dulu sebelum menuju Cibodas yang jalurnya panjang banget.

Setelah makan siang, kita bersiap-siap dan berdoa. Joe lagi terlibat obrolan hangat dengan anak-anak SMA yang tiba-tiba bertanya mengenai Burgerkill. Hendri memang memakai baju dan kupluk Burgerkill, sehingga menarik ingintahu mereka. Para anak SMA itu rupanya ingin mengundang Burgerkill ke acara pentas seni mereka. Joe pun tertinggal cukup jauh hingga saya harus menunggu kurang lebih 25 menit di air panas. Dodi, Hendri, dan Andry sudah berjalan duluan. Saat hari sudah memasuki malam dan suara-suara jangkrik mulai bernyanyi merdu baru saya dan Joe tiba di Cibodas dengan tidak kurang apa-apa. Sedangkan Dodi dan Andry sementara di rumah Montana, dan Joe menunggu di depan kantor Montana, saya menikmati teh hangat. Kita kembali ke Jakarta kira-kira pukul 10 malam, dan tiba di rumah dan kos dengan tidak kurang suatu apapun. Petualangan ke Gunung Gede bisa saja berlanjut ke bagian empat.

 

Fyi, nomor telpon Hendri, porter dan guide yang bersama kita: 0877-2836-5956.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: