Beranda > Olah Raga > Piala Dunia 2014: 3 Hal Bagi Saya

Piala Dunia 2014: 3 Hal Bagi Saya

Fifa-World-Cup-2014-101Perhelatan Piala Dunia 2014 telah menyelesaikan fase grup. Dari 32 tim yang berlaga, tersaring menjadi 16 tim yang akan berlaga di babak 16 besar dengan sistem gugur. Dari fase grup, kita akan mendapati beberapa kejutan-kejutan seperti lolosnya Kosta Rika sebagai juara grup dari Grup D atau banyak disebut Group of Death (Grup Kematian) karena berisikan tim-tim mapan seperti Italia, Uruguay, dan Inggris. Kemudian ada lagi Spanyol, juara bertahan yang tersingkir lebih awal karena gagal bersaing dengan Belanda dan Chile. Dan yang terakhir, gol. Jumlah gol selama fase grup berlangsung mencapai 136 gol atau rata-rata setiap pertandingan tercipta kurang lebih 3 gol (2,83/gim). Jumlah rata-rata gol begitu hebat karena hanya kalah dari Piala Dunia 1970 (2,96 gol/gim). Jika rata-rata tersebut bertahan atau meningkat – dengan mempertimbangkan tim yang masuk ke 16 besar memainkan sepakbola menyerang – dapat membuat Piala Dunia 2014 menjadi Piala Dunia terbaik sejauh ini.

Kosta Rika Lolos Sebagai Juara Grup D

Saat pengundian grup, semua pihak memandang remeh Kosta Rika termasuk saya. Alasan pertama, grup ini dihuni oleh tim-tim papan atas dunia yang namanya telah mengglobal. Italia, Uruguay, dan Inggris adalah tim yang telah memenangi Piala Dunia, bahkan Italia baru menjuarainya pada 2006 di mana Kosta Rika harus tersingkir dari di fase grup. Uruguay sendiri adalah tim semifinalis Piala Dunia 2010, di mana Kosta Rika sendiri tidak ikut dalam ajang tersebut karena gagal dalam play-off melawan Uruguay! Inggris, siapa yang tidak mengetahui Inggris? Bahkan beberapa pemain Kosta Rika pernah bermain di Liga Inggris seperti Bryan Ruiz (Fulham) ataupun Joel Campbell yang dimiliki Arsenal hingga saat ini. Jadi, kesimpulannya, Kosta Rika bukanlah tim yang perlu ditakuti ketika pengundian grup karena pandangan kebanyakan orang, termasuk saya, lebih memilih untuk mengulas persaingan antara ketiga tim tersebut.

Alasan kedua, Kosta Rika tidaklah sekuat Amerika Serikat atau Meksiko. Perbandingannya bisa dilihat pada peringkat FIFA saat pengundian di mana Amerika Serikat berada di peringkat 13, dan Meksiko di peringkat 20, sedangkan Kosta Rika berada pada peringkat 28. Pemain-pemainnya pun, selain Bryan Ruiz, Joel Campbell, dan Bryan Oviedo (tidak ikut karena cedera), jarang atau bahkan tidak dikenal dibanding pemain-pemain Italia, Uruguay, dan Inggris.

Di luar prediksi pengamat, Kosta Rika menjelma menjadi tim yang solid dan disiplin. Pada pertandingan awal melawan Uruguay, Kosta Rika mengejutkan dunia dengan mengalahkan jagoan dari Amerika Selatan tersebut. Skor 3-1 bukanlah suatu skor kebetulan, walaupun anggapan awal bahwa Uruguay memang tidak begitu baik saat penampilan pertama (dan memang benar karena Uruguay kemudian bermain baik pada dua pertandingan setelahnya). Menurut saya, permainan solid Kosta Rika lebih menjadi titik kuat mereka. Transisi dari menyerang ke bertahan dan menerapkan pertahanan dengan garis yang tinggi (high-line defensive) menjadi faktor penentu utama. Faktor tersebut makin diperkuat dengan ketidakhadiran Luis Suarez yang sering merepotkan lawan dengan pola garis pertahanan yang tinggi.

Setelah mengalahkan Uruguay, Kosta Rika akan berhadapan dengan tim kuat lainnya, Italia. Italia baru saja mengalahkan Inggris dalam pertandingan yang menarik. Peluang Italia makin besar karena “hanya” bertemu Kosta Rika yang masih dianggap beruntung bisa mengalahkan Uruguay. Tapi semua prediksi terpatahkan ketika gol semata wayang Bryan Ruiz di menit 44 tidak mampu dibalas oleh Italia hingga peluit akhir berbunyi. Pada saat peluit babak kedua berbunyi pula, bench Kosta Rika keluar berpesta merayakan lolosnya mereka ke babak 16 besar. Menurut The Guardian, Kosta Rika memainkan pola yang sama ketika menghadapi Uruguay, padahal mereka menghadapi striker Mario Balotelli yang memiliki pace yang bisa memberikan bahaya bagi pertahanan. Namun, kembali Kosta Rika memberikan permainan solid dan disiplin.

Pertandingan melawan Inggris bukanlah pertandingan yang menarik lagi bagi Kosta Rika karena mereka telah memastikan diri lolos, sedang bagi Inggris pertandingan ini adalah pertandingan untuk menjaga harga diri karena mereka belum mengantongi satu kemenangan sekalipun. Kosta Rika yang tampil tidak terlalu ngotot tidak mampu dimanfaatkan Inggris kala itu. Kosta Rika memainkan pola yang lebih santai sembari menjaga kerapatan pertahanan mereka. Skor imbang tanpa gol membuat Kosta Rika lolos sebagai juara grup dengan poin 7.

Kejutan yang luar biasa karena Kosta Rika yang berstatus underdog, tidak dipandang, bisa menyajarkan diri dengan 15 tim lain yang sebagian besar dianggap pantas berada di fase tersebut. Juara grup adalah buah dari kejelian pelatih Jorge Luis Pinto. Kosta Rika mengulang prestasi Piala Dunia 1990, ketika itu mereka mencapai 16 besar sebelum dikalahkan Cekoslovakia. Pada ajang kali ini, akankah Kosta Rika melaju hingga Perempat Final? Ada tim para dewa, Yunani, berada pada rintangan selanjutnya.

Tersingkirnya Spanyol

Datang sebagai juara bertahan dan juara Eropa 2008 dan 2012, Spanyol ditempatkan sebagai unggulan teratas oleh berbagai media, bursa taruhan, maupun penonton awam. Kedahsyatan tiki-taka, yang mulai memudar di ajang kompetisi antar klub, masih menjadi faktor utama. Tapi, kita berbicara mengenai Spanyol, tim yang penuh sesak dengan berbagai bintang yang telah dikenal dunia. Kita berbicara duet Xavi-Iniesta yang selama ini menjadi dirigen “orchestra” permainan tiki-taka. Kita berbicara tumpukan pemain tengah kelas dunia seperti David Silva, Santiago Cazorla, Javi Martinez, dan sebagainya. Dan kita berbicara mental juara dari Spanyol. Mental adalah satu-satunya hal yang memberikan determinasi bagi sebuah tim untuk mengubah suatu keadaan ketertinggalan menjadi keunggulan. Dua kali, generasi emas Spanyol ini bisa mengubah suatu ketidakberuntungan menjadi keberhasilan. Pertama, saat Piala Dunia 2010 di mana mereka kalah di laga pertama menghadapi Swiss sebelum akhirnya lolos sebagai juara grup H. Kedua, saat EURO 2012 berlangsung, di mana mereka harus bersusah payah menahan imbang Italia dan mengalahkan Kroasia sebelum akhirnya lolos menjadi juara grup. Itulah yang menjadi alasan saya menjagokan Spanyol untuk lolos ke babak kedua ketimbang Belanda.

Saat menghadapi Belanda, Spanyol terlihat akan mudah mengalahkan Belanda yang kebanyakan diisi pemain muda yang belum pernah menghadapi ajang sekelas Piala Dunia atau EURO. Gol dari titik putih oleh Xabi Alonso menyiratkan lemahnya pertahanan Belanda dan hebatnya Spanyol dalam bermain tiki-taka. Sedang Belanda hanya mengandalkan serangan balik saja. Gol indah Robin van Persie pun bukanlah hal yang akan mengejutkan nantinya jika Spanyol memenangi pertandingan. Skor sama kuat 1-1 bertahan hingga babak pertama saja, karena babak kedua Belanda mengejutkan Spanyol dan dunia dengan menambah 4 gol ke gawang lawannya itu. Skor 5-1 bukanlah skor apa-apa jika Spanyol yang mengalahkan Belanda, tetapi menjadi “sesuatu” karena skor tersebut menunjukkan kekalahan telak Spanyol.

Pertandingan kedua melawan Chile, anggapan para pendukung dan analis adalah bahwa Spanyol akan bangkit untuk kedua kalinya karena mereka sudah pernah melakukan sebelumnya. Chile sendiri berada di atas angin karena pada pertandingan pertama mereka telah mengalahkan Australia 3-1, dan 1 kemenangan lagi mereka akan memastikan lolos. Spanyol sendiri dalam keadaan tertekan dengan kekalahan 5-1 dari Belanda. Saat pertandingan, Chile memainkan pola yang sama dengan Belanda dan Spanyol sendiri kehilangan spirit untuk bertanding. Jadi, seberapa hebat taktik yang digunakan oleh Spanyol tapi tidak memiliki spirit bertanding, maka kekalahan pun didapatkan. Gol Eduardo Vargas yang notabene bermain di Liga Spanyol makin menekan mental Spanyol. Permainan tiki-taka yang sering diperlihatkan makin kehilangan arah ketika gol kedua Chile terjadi. Assist gol kedua Chile diciptakan oleh Alexis Sanchez yang tampil gemilang saat itu. Spanyol kalah dan tersingkir tragis. Sebelum menghadapi Australia, di mana Spanyol menang 3-0, mereka hanya mampu mencetak 1 gol yang berasal dari titik penalti.

Spanyol tersingkir saat fase grup belum berakhir menjadi perbincangan. Perbincangan menjadi analisa menarik yang menganalisa mengapa Spanyol tersingkir hingga penghakiman terhadap tiki-taka.

Gol, Gol, dan Gol

Mengambil judul yang sama dari website CBC, sebagai simbol akan betapa banyak gol yang tercipta selama fase grup. 136 gol terjadi dalam 48 pertandingan yang berarti ada 136 perayaan gol, 136 kegembiraan, dan 136 kali kesedihan. Seperti yang terjadi pada pertandingan Yunani vs Pantai Gading, dua gambaran kontras meliputi keduanya. Gol ke 117 pada pertandingan ke 40 yang meluluhlantakkan Pantai Gading dan membuat gemuruh Yunani. Gol kemenangan Yunani tercipta melalui titik putih mengantarkan Yunani ke babak 16 besar.

Gol yang paling sedikit tercipta pada Grup D, di mana hanya terjadi 12 gol tercipta dalam 6 pertandingan grup tersebut. Sedang Grup B menjadi grup dengan jumlah gol terbanyak yakni 22 gol dalam 6 pertandingan. Grup G dan Grup E mengikuti pada posisi kedua dengan total 19 gol dalam 6.

Sedang untuk negara dengan gol terbanyak, Belanda memimpin dengan 10 gol. Diikuti Kolombia dan Perancis dengan 9 dan 8 gol. Sedangkan tim dengan kebobolan terbanyak, Kamerun dan Australia menjadi tim yang sering dibobol lawan dengan 9 gol dalam 3 pertandingan. Diikuti Honduras dengan kebobolan 8 gol. Dua tim Semenanjung Iberia, Spanyol dan Portugal, menjadi tim dengan kebobolan terburuk ketiga. 7 gol bersarang ke gawang dua tim tersebut.

Grup dengan gol terbanyak (total)

  • 22 Gol: Grup B
  • 19 Gol: Grup E dan Grup G
  • 18 Gol: Grup A
  • 17 Gol: Grup C
  • 15 Gol: Grup H
  • 14 Gol: Grup F
  • 12 Gol: Grup D

5 Tim yang mencetak gol terbanyak:

  • Belanda (10 gol)
  • Kolombia (9 gol)
  • Perancis (8 gol)
  • Brazil, Swiss, dan Jerman (7 gol)
  • Kroasia, Argentina, dan Aljazair (6 gol)

5 Tim yang kebobolan terbanyak:

  • Australia dan Kamerun (9 gol)
  • Honduras (8 gol)
  • Spanyol dan Portugal (7 gol)
  • Ghana, Jepang, Swiss, Kroasia, dan Korea (6 gol)
  • Aljazair dan Pantai Gading (5 gol)

Pertandingan fase grup telah usai, dan kini babak 16 besar akan segera dimulai.

 

Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: