Beranda > Olah Raga > Kekalahan Spanyol dan Kemenangan Belanda

Kekalahan Spanyol dan Kemenangan Belanda

Sneijder, van Persie, dan RobbenLuar biasa! Tidak ada kata yang bisa menggambarkan penampilan Belanda saat menghadapi Spanyol pada partai pertama Grup B. Tidak tanggung-tanggung juara bertahan dan juara Eropa 2012 tersebut dikalahkan dengan skor mencolok 5-1. Kekalahan telak tersebut adalah salah satu kekalahan terburuk yang pernah diderita juara bertahan, serta kekalahan terbesar yang pernah dialami Spanyol sejak 1963.

Belanda sendiri memiliki rekor yang bagus ketika menghadapi juara dunia, rekor 4 kali menang, 6 kali seri , dan tidak pernah kalah termasuk ketika menghadapi Spanyol pada 13 Juni 2014 kemarin. Menurut catatan Sindhunata, Belanda pada 1974, juga berhasil mengalahkan juara bertahan Brazil dengan skor 2-0. Walaupun diberikan label “pembunuh juara dunia”, Belanda belum pernah menjadi juara dunia. Tiga kali masuk final dan tiga kali pula harus berakhir dengan hasil kekalahan, termasuk pada tahun 1974 itu.

Di laga kemarin menghadapi Spanyol, Belanda tidak memiliki skuad yang sekuat 4 tahun lalu di mana berhasil melaju sampai final dan kalah dari Spanyol. Sedangkan Spanyol sendiri pada Piala Dunia kali ini, selain datang dengan predikat juara bertahan dan peringkat 1 FIFA, mereka juga memiliki skuad dengan nilai termahal dibandingkan kontestan lain (nilainya hampir mencapai 1 miliar US Dollar di mana rata-rata pemain bernilai 40 juta US Dollar). Itu adalah sebuah pengakuan dunia akan kehebatan pemain-pemain Spanyol. Dibandingkan Jerman, Brazil, dan Argentina, komposisi pemain Spanyol lebih dalam. Pemain telah terbiasa dengan pola tiki-taka yang diterapkan sejak 2008, walaupun tidak jarang terlalu monoton dan mudah dipatahkan. Tapi kekalahan telak dari Belanda membuat Vicente del Bosque akan berpikir ulang dalam menyusun timnya nanti.

Kesalahan Belanda di EURO 2012 Diulangi Spanyol

Belanda datang ke ajang EURO 2012 dengan kepercayaan diri tinggi. Dua tahun sebelumnya Belanda berhasil mencapai partai puncak Piala Dunia walaupun mengalami kekalahan di babak perpanjangan waktu. Belanda juga merupakan salah satu unggulan di ajang tersebut. Tapi apa daya, Belanda hancur di putaran pertama tanpa satu kemenangan dan hanya mampu mencetak satu gol. Padahal, Belanda datang dengan 85% merupakan veteran Piala Dunia 2010. Dari kiper hingga pemain depan, yang berubah mungkin hanya posisi bek kiri karena kapten Giovanni van Bronckhost pensiun. Permainan monoton yang dibawa sejak 2010 ternyata tidak berhasil membawa kejayaan.

Dua tahun kemudian, Spanyol yang menjuarai Eropa dua kali berturut-turut (2008 dan 2012) serta juara bertahan Piala Dunia 2010 dengan kondisi yang hampir mirip dengan Belanda 2012. Salah satu unggulan, masih diperkuat para veteran yang masuk tim nasional Spanyol sejak 2008, sebut saja Xavi, Andres Iniesta, Iker Casillas, Sergio Ramos, Xabi Alonso, Fernando Torres, dan lain-lain. Perubahan mungkin sedikit berubah di lini tengah karena sudah tidak ada lagi sosok seperti Carles Puyol, Marcos Senna dan Joan Capdevilla. Posisi mereka digantikan oleh Sergio Busquet, Jordi Alba (pada 2010 s/d 2014), serta Cesar Azpilicueta pada Piala Dunia 2014 kali ini. Diego Costa pun dinaturalisasi untuk menambah ketajaman lini depan Spanyol yang akhir-akhir ini menurun kemampuannya sehingga memaksa penggunaan false nine. Kesimpulannya, skuad Piala Dunia 2014 kali ini lebih kuat ketimbang 4 tahun lalu, bahkan 2 tahun lalu.

Kelebihan skuad tidak diikuti dengan modifikasi pola tiki-taka yang dalam 2-3 tahun terakhir mulai dibaca lawan. Kita bisa melihatnya pada Barcelona, yang ditangani 3 pelatih berbeda dalam 3 tahun belakangan. Indikator mulai dibacanya tiki-taka adalah pencapaian Barcelona di ajang Liga Champions yang tidak lagi mencapai partai puncak setelah pada era Pep (sebelum 2012) berhasil mencapai final 2 kali dalam 3 kali kesempatan dan 2 kali menjuarai Liga Champions, sedangkan 2012-2014 gagal mencapai final, pada 2014 bahkan terhenti di perempat final.

Gejala ini adalah tanda munculnya pola anti tiki-taka yang telah berkembang sejak Inter Milan mengalahkan Barcelona pada Liga Champions edisi 2009/2010 di bawah pelatih Jose Mourinho. Jika sebelumnya tim yang ingin mengalahkan Barcelona lebih banyak “memarkir bus” kali ini sudah mulai mencari cara bagaimana memotong aliran bola Barcelona dan memanfaatkan lebar lapangan (yang menjadi kelemahan Barcelona selama ini) untuk melancarkan serangan balik. Bayern Muenchen menghancurkan Barcelona pada 2013 dengan agregat skor mencolok 7-0! Duet winger Robben-Ribery dan gelandang bertahan Javi Martinez menjadi kunci kemenangan Bayern.

Pola ini rupanya tidak menjadi sinyal oleh Vicente del Bosque yang percaya dengan filosofi “don’t change the winning team”. Gol pertama dan kedua Belanda lahir dari sisi kanan pertahanan Spanyol. Dua kali umpan silang dari ½ lapangan menghasilkan gol bagi Belanda. Lini belakang yang terlalu naik serta minimnya kiper mendapatkan ancaman juga ikut andil. Gol ketiga lahir dari kesalahan Iker Casillas, dan kesalahan ini bukanlah yang pertama bagi Santo Iker karena di final Liga Champions baru-baru ini, Santo Iker kebobolan dengan cara yang sama. Gol keempat menjadi puncak kesialan (jika tidak ingin dibilang blunder) Iker. Gol kelima juga memanfaatkan tingginya garis pertahanan Spanyol. Permainan tiki-taka Spanyol sebenarnya tidak buruk, karena penguasaan bola mencapai 58%, hanya saja dari keuntungan tersebut Spanyol tidak mampu menciptakan peluang yang berarti. Salah satu peluang terbaik yang dimiliki Silva namun sia-sia karena berhasil dimentahkan Cillessen. Padahal, jika peluang itu menjadi gol, maka selisih dua gol akan sulit dikejar oleh Belanda.

Kelemahan itu makin diperparah dengan tidak optimalnya Diego Costa dan penggantinya Fernando Torres. Nama terakhir bahkan melepaskan peluang gol yang di depan mata. Masuknya Pedro Rodriguez sedikit memperbaiki daya serang tapi Spanyol keburu mental jatuh karena ketinggalan dan mulai frustrasi akibat kesulitan menembus pertahanan Belanda yang tampil solid. Selain itu, pertahanan Spanyol justru makin sibuk dengan mengantisipasi bola-bola langsung ke pertahanan mereka yang selalu berada di garis tengah. Ketika Piala Dunia 2010, Vicente del Bosque memasukkan Jesus Navas untuk menjadi alternatif serangan Spanyol ketika mengalami kebuntuan dengan tiki-takanya. Kali ini tidak ada Navas di bangku cadangan dan Spanyol makin kesulitan menemukan cara menembus pertahanan Belanda. Sebaliknya, Belanda yang diisi pemain-pemain muda makin percaya diri.

Pada pertandingan kedua menghadapi Chile, Spanyol akan menghadapi tim yang skuadnya lebih baik ketimbang Belanda dan permainan agresif ala Amerika Latin. Chile memenangi pertandingan pertamanya saat berhadapan dengan Australia, 3-1. Tekanan ada pada kubu Spanyol yang mau tidak mau harus memenangi pertandingan. Imbang bukan opsi apalagi kalah. Memainkan 2 striker adalah salah satu opsi bagi del Bosque. Ketiadaan pemain bertipe winger, yang akhir-akhir ini menjadi tren tumpuan serangan di klub-klub besar seperti Real Madrid ataupun Bayern Muenchen, bisa diakali dengan memainkan Santi Cazorla atau Pedro jika pola yang dipakai (karena kemungkinan pola dan starting XI yang sama dengan pertandingan pertama) menemui kebuntuan. Atau, memainkan tambahan striker untuk menambah target man di kotak penalti lawan. Satu lagi yang menjadi sorotan adalah gelandang bertahan Spanyol yang tampil buruk melawan Belanda. Sudah saatnya Vicente del Bosque merombak “status quo” dengan mencadangkan salah satu gelandang bertahannya, antara Xabi atau Busquet, dan memainkan Javi Martinez. Saya lebih memilih Xabi yang dicadangankan, dan akan lebih baik jika keduanya dicadangankan dan beri kesempatan buat Keko.

Strategi Baru dan Pemain Baru Belanda

“Setelah pertandingan melawan Perancis (Belanda kalah 0-2 pada Maret 2014), kami banyak berpikir dan bicara satu sama lain. Kami mengadakan pertemuan selama dua jam untuk mencari apa yang terbaik bagi tim dan memperkuat pertahanan sebagai sebuah unit” kata Robben dalam wawancara dengan De Telegraf (Bola edisi 12-18 Juni 2014). Kata-kata Arjen Robben, veteran dari Piala Dunia 2010, menisyaratkan perubahan pada strategi Belanda. Seperti apa? Pelatih Belanda saat ini, Louis van Gaal, adalah penganut paham total football dan setia terhadap pola 4-3-3. Kehilangan Kevin Strootman yang menjadi jenderal lini tengah Belanda memaksa van Gaal memikirkan strategi yang layak untuk Belanda dengan komposisi pemain saat ini. Seperti yang saya kutip dari kompas.com, van Gaal mencoba membuat strategi yang sesuai dengan kekuatan dan kelemahan para pemainnya.

Strategi baru Belanda bertumpu pada pola 5-3-2. Kritikan pun menerpa Louis van Gaal yang dianggap tidak menganut pakem tradisional Belanda (4-3-3 atau 3-4-3). Kritikan dari Arie Haan dan Ronald Koeman cukup tajam tapi tidak dipedulikan oleh van Gaal. Ketiadaan Strootman membuat Wesley Sneijder dipanggil kembali ke tim. Pada percobaan pertama, 5-3-2 Belanda mengalami kegagalan karena tidak meraih hasil maksimal. Belanda hanya bermain imbang 1-1 dengan Ekuador. Pada 2 pertandingan persahabatan selanjutnya, beberapa saat sebelum Piala Dunia berlangsung, Belanda mulai memetik hasil dari strategi ini dengan mengalahkan Ghana 1-0 dan Wales 2-0. Pola ini baru saja dipraktekkan dalam 3 pertandingan, dan efeknya baru terasa pada pertandingan keempat.

Selain strategi, van Gaal banyak memanggil pemain-pemain yang baru. Hanya ada 6 pemain dengan caps di atas 60. Spanyol ada 11 pemain yang memiliki caps 60 ke atas. Chile ada 7 pemain dengan caps di atas 50. Dan Australia hanya ada 2 pemain saja yang memiliki caps di atas 60!

Pemain-pemain baru terutama dari 3 klub besar di Liga Belanda (Ajax, PSV, Feyenoord) mendominasi skuad Belanda saat ini (10 pemain). Dari 10 pemain, 5 di antaranya adalah pemain yang mengisi starting XI Belanda saat menang menghadapi Spanyol 5-1, kemudian 2 pemain masuk sebagai pengganti. Dari 5 pemain inti, 4 orang adalah pemain belakang dan 1 orang adalah kiper. Jadi, pertahanan Belanda digalang oleh anak-anak muda yang masih berusia 22-25 tahun ditambah Ron Vlaar yang berusia 29 tahun (ex Feyenoord).

Pola 5-3-2 mengandalkan dua sayap yang tangguh saat bertahan dan agresif saat menyerang. Daryl Janmaat dan Daley Blind yang mengisi posisi tersebut berhasil menunaikan tugasnya dengan baik. Baik tugas mereka dalam maju menyerang maupun menghentikan pergerakan duo bek sayap Spanyol yang dikenal memiliki daya jelajah tinggi. Bahkan Daley Blind mampu melepaskan 2 umpan yang menjadi gol bagi Belanda. Tambahan pola ini diikuti dengan kompaknya para pemain senior dalam bahu membahu menghadapi serangan bergelombang Spanyol, yang perlahan mulai bisa dibaca arah pergerakannya. Satu-satunya kesalahan pemain Belanda adalah ketika Diego Costa dan David Silva leluasa berada di kotak penalti, nama pertama bahkan sempat dijatuhkan dan mengakibatkan penalti bagi Spanyol.

Satu yang tidak dirubah oleh van Gaal adalah peran bebas (free role) bagi Robben. Pemain yang satu ini terkenal dengan keegoisannya, berhasil diredam dengan kepemimpinan van Gaal, mampu tampil kompak baik dengan Snijder dan van Persie maupun dengan pemain di posisi sayap yang ditempati Janmaat dan Blind. Pergerakan Robben tanpa bola mampu menciptakan ruang bagi Blind untuk melepas umpan pada van Persie yang dikonversi menjadi gol penyama. Kerja sama kedua adalah Blind yang mengirim umpan ke pertahanan Spanyol yang diterima dengan baik oleh Robben dan menciptakan gol kedua Belanda. Gol kelima adalah klimaks dari penampilan dan peran Robben. Mendapat sodoran bola dari pertahanan Belanda, Robben berlari mengungguli Pique, melewati Casillas, dan gol!

Strategi ini bukanlah sesuatu yang baru bagi Spanyol. Tapi, Spanyol yang tampil monoton dan arah serangannya mudah ditebak. Tidak kesulitan bagi Nigel de Jong dan Jonathan de Guzman untuk mematahkan serangan Spanyol. Pemain-pemain bertahan (Bruno Martins Indi, Stefan De Vrij, dan Ron Vlaar) tidak banyak mendapatkan masalah di dalam kotak penalti karena sisi sayap dan lini tengah berhasil dikunci. Ditambah lagi, del Bosque tidak memiliki alternatif untuk memecahkan kebuntuan sehingga satu gol Spanyol hanya didapatkan dari eksekusi bola mati. Skor 5-1 bukanlah hasil yang diharapkan, tapi akumulasi kesalahan pemain Spanyol dan ketidakcermatan del Bosque sebagai pelatih.

 

Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: