Beranda > What I See > Babel: Penghancuran Yerusalem (587 SM)

Babel: Penghancuran Yerusalem (587 SM)

Raja Zedekia diikat rantai di hadapan raja BabelRaja Zedekia hanya bisa duduk termenung di hadapan keluarganya yang terikat di antara pasukan Babel. Pasukan Babel berhasil menerobos masuk ke Yerusalem setelah kurang lebih 2 tahun penyerbuan. Hal itu berlangsung dari masa tahun ke 9 bulan ke 10 sampai tahun ke 11 bulan ke 4 pemerintahannya. Raja pasti menyesal atas perbuatan yang ternyata mengakibatkan sesuatu yang tidak disangkanya. Ketika masih memerintah, Zedekia sudah diperingatkan tentang kejatuhan Yerusalem. Bukan saja mengenai kejatuhan Yerusalem, tapi juga memperingatkan Zedekia mengenai nasibnya, dan mendengarkan perintah Nabi Yeremia (Yeremia 38:14-28). Hatinya membatu ketika merasa ada kesempatan untuk lari dari kepungan pasukan Babel. Raja ditemani oleh keluarga dan pembesar-pembesarnya menggunakan kesempatan untuk melarikan diri dari kepungan lawan melalui jalan taman raja dan menuju ke Araba-Jordan. Tindakan yang melawan nasihat nabi tersebut berakibat fatal. Zedekia harus rela melihat penyembelihan keluarganya. Para pembesar yang melarikan diri bersama raja tidak luput dari amukan Raja Babel, Nebukadnezar yang marah atas pemberontakan tersebut. Zedekia yang malang, nampaknya hidupnya akan segera berakhir bersama keluarganya di sini, di Ribla. Seakan berserah ketika melihat prajurit Babel yang datang menghukumnya, tangannya dibelenggu. Hanya saja, bukan nyawa yang diambil tapi penglihatan! Zedekia kemudian ditawan ke Babel. Peristiwa terakhir yang dilihatnya hanyalah keluarganya disembelih. Yerusalem pun dihancurkan.

Itu adalah akhir dari kerajaan Yehuda, kerajaan yang pernah mahsyur. Peristiwa ini bermula pada saat Kerajaan Babel mencapai puncaknya pada tahun 605 SM. Pada peristiwa sebelum penghancuran Yerusalem, Babel telah memusnahkan satu kekaisaran yang besar bernama Assiria, bangsa yang menghancurkan Kerajaan Israel sekitar tahun 721 SM, dan menciptakan aliansi yang menguntungkan dengan wilayah yang sebenarnya merupakan ancaman besar seperti bangsa Media dan bangsa Lydia. Satu kekaisaran yang kuat pada waktu itu adalah Mesir. Raja Nebukadnezar berhasil memukul mundur Raja Neko dari Mesir yang beraliansi dengan Raja Yoyakhim. Walaupun berhasil memukul mundur Mesir, Babel pun menderita kerugian sehingga masih berpaling dari Yehuda saat itu. Raja Yoyakhim kemudian meninggal, dan anaknya Yoyakhin menggantikannya. Pada saat yang sama, pasukan Babel telah pulih dan menghancurkan Yerusalem. Yoyakhin dibawanya ke Babel beserta barang rampasan dari Yerusalem. Seluruh penduduk, yang merupakan tokoh-tokoh penting dan para intelektual berbakat (seperti Daniel dan kawan-kawan) di angkut ke Babel untuk menjadi orang buangan. Nebukadnezar tidak melakukan penghancuran total Yerusalem saat itu, tapi menempatkan seorang raja vasal, yaitu paman dari Yoyakhin yang bernama Matanya dan kemudian diberikan nama baru Zedekia oleh Raja Babel. Itulah kisah Zedekia menjadi raja di Yerusalem.

Sebelum memasuki tahun ke 9 bulan 10 dari pemerintahan Zedekia, Yerusalem tidak mengalami masalah selain dari menjadi budak Babel alias mereka harus mengirimkan upeti kepada Raja mereka. Di Babel pula, selama masa tersebut, Nebukadnezar mendirikan proyek-proyek penting untuk mempertontonkan keagungannya. Raja mendirikan bangunan-bangunan seperti tembok-tembok besar, kanal-kanal, kuil-kuil bagi dewa-dewa Mesopotamia dan Babel seperti Ishtar, Nebo, dan Marduk. Ziggurat dibangun untuk pemujaan, sebuah menara yang tingginya mencapai 8 tingkatan untuk pemujaan berhala mereka. Taman Gantung yang terkenal dibangun oleh Nebukadnezar untuk isterinya yang merupakan orang Media, hasil pernikahan politik yang dirancang oleh ayahnya, Nabopolasar. Itulah Babel mencapai puncak peradaban, paling tinggi pada masanya.

Di Yerusalem sendiri, Zedekia rupanya ingin melancarkan pemberontakan melawan Babel. Padahal sudah diwanti-wanti Yeremia bahwa Yerusalem akan jatuh ke tangan Babel dan akan dihancurkan oleh mereka, Zedekia bersikeras. Bahkan Zedekia malah memenjarakan Yeremia karena akiba mosi tidak percaya yang kuat raja padanya (Susan Wise Bauer). Di sisi yang lain, Mesir kembali membangun angkatan perangnya untuk melawan Babel. Raja Mesir saat itu sudah bukan Nekho II melainkan anaknya yang bernama Psammetikhus II. Kekuatan militer Mesir yang diwarisinya sangat kuat sehingga mampu menaklukkan Nubia, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh para Pharaoh sebelum dia. Zedekia kembali melakukan hal yang sama dengan para raja yang memerintah di Yerusalem dan Samaria menjelang kehancuran mereka, meminta bantuan pada Mesir. Raja Hosea menjelang kehancuran Samaria dan Kerajaan Israel mengharapkan bantuan Mesir untuk menjadi perisai mereka, tapi dihancurkan oleh Raja Salmaneser dari Assiria. Raja Yoyakhim, yang memerintah Yerusalem jauh sesudah Raja Hosea, diambang kehancurannya meminta bantuan Raja Nekho II dari Mesir untuk menjadi perisai kerajaannya saat menghadapi pengepungan Babel. Dan lagi-lagi, usaha itu tidak menghasilkan apa-apa selain kekalahan Mesir dan kehancuran kerajaan mereka. Raja Zedekia pun demikian.

Raja Zedekia mendengar peristiwa-peristiwa hebat yang dilakukan oleh Psammetikhus II di Nubia, langsung mengirimkan berita raja Mesir tersebut. “Jika  Mesir mau menyerang Nebukadnezar, Yerusalem akan bergabung dengannya” isi pesan tersebut menurut Josephus. Bagi Zedekia, kekuatan Mesir pasti akan mampu menandingi kekuatan Babel dan jika Yerusalem bergabung maka Babel pasti akan bisa dikalahkan. Yang tidak dipikirkan oleh Zedekia adalah mengenai upeti ke Babel. Upeti tentunya akan terhambat atau tidak mampu dibayarkan jika upeti tersebut dipakai untuk membentuk angkatan perang. Kembali ke peristiwa Yerusalem saat Raja Yoyakhin, banyak tokoh-tokoh penting (pejabat, panglima, sarjana, dan lain-lain) diangkut ke Babel yang menyisakan orang-orang sisa dan biasa yang ada di Yerusalem. Butuh banyak uang untuk membangun suatu angkatan perang yang kuat, apalagi yang ditujukan untuk memberontak suatu kekuatan besar dengan aliansi mewahnya. Itulah salah satu mengapa Yerusalem dan Zedekia sudah pasti dikalahkan. Keterlambatan upeti atau kurangnya jumlah upeti yang dibayarkan tentu menjadi pertanyaan bagi Babel, yang menjadi pusat kerajaan.

Pasukan Babel lebih dulu menuju ke Yerusalem ketika kesabaran akan keterlambatan upeti habis. Sedangkan di Babel sendiri tengah dibangun proyek-proyek megah yang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Ketika mereka tiba, pasukan Mesir baru akan bergerak menuju Yerusalem untuk bergabung dengan pasukan Yehuda untuk menggempur Babel. Sadar akan ancaman Mesir yang datang dari bawah, Pasukan Babel pun bergerak ke sana meninggalkan Yerusalem. Bentrokan tidak terhindarkan, dan sesuai dengan nubuatan Yeremia, pasukan Mesir mundur kocar-kacir di depan pasukan Babel yang perkasa. Psammetikhus II dan pasukannya yang merupakan gabungan tentara Mesir dan tentara bayaran Yunani kembali ke Mesir dengan kekalahan luar biasa. Putranya, Apries menggantikan Psammetikhus II yang mati beberapa minggu setelah dia kalah dan kembali ke Mesir. Kekalahan Mesir ini menyisakan Yerusalem sendiri, dan Babel bergerak menuju ke sana untuk mengadili Yerusalem yang menyeleweng.

Benteng-benteng pertahanan Yehuda satu per satu jatuh dihancurkan Babel. Lakish dan Azekah mengalami kekalahan menyakitkan. Pecahan-pecahan tembikar – dikenal sebagai ostraca – ditemukan oleh para arkeolog, yang terkubur dalam tumpukan abu di gerbang benteng kota Lakish. Pecahan-pecahan tersebut memberikan gambaran sekilas tentang serbuan Babel yang tidak bisa dihentikan. Lakish dan Azekah merupakan benteng yang terpanjang yang saling berhubungan dengan Yerusalem. Di Lakish, komandan Yudea yang terkepung, Yaush, menerima laporan-laporan dari pos penjaga luar saat mereka pelan-pelan menghancurkan benteng itu. Opsir Yaush, Hoshayahu, mengemukakan bahwa mereka sudah tidak bisa melihat isyarat-isyarat dari Azekah (Montefiore). Azekah sudah jatuh. Sinarnya telah dipadamkan, dan tidak lama Lakish pun mengikuti nasib Azekah yang menuntun pasukan Babel mendekati tembok-tembok Yerusalem.

Entah apa yang menyebabkan pengepungan Yerusalem (mungkin termasuk jatuhnya Lakish dan Azekah) bisa mencapai hampir 2 tahun. Menurut saya, ada 2 hal yang bisa dipertimbangkan lamanya waktu pengepungan. Pertama, angkatan perang Yehuda saat itu cukup kuat mengimbangi pasukan Babel yang baru kembali dari pertempuran Mesir. Pasukan Babel menyelesaikan perang dengan Mesir yang kemungkinan terjadi di perbatasan Mesir dan Yehuda pada 589 SM, hal ini didasari oleh kematian Psammetikhus II yang terjadi beberapa minggu sesudah kekalahan telaknya melawan Babel. Dan setelah kemenangan tersebut, pasukan Babel mendesak Mesir untuk mundur jauh dari batas-batas mereka yang semula kemudian menuju Yerusalem. Angkatan perang Yerusalem sendiri dibangun secara diam-diam dan telah terjadi pada saat Babel keluar dari Yerusalem pada pendudukan pertama (± 597 SM). Pembangunan angkatan perang diam-diam tersebut disiasati dengan terlambatnya upeti ke Babel. Yang menjadi dasar kedua adalah Zedekia begitu yakin bahwa Babel pasti bisa didongkel dengan gabungan 2 kekuatan (Mesir dan Yehuda) padahal sudah diwanti-wanti (lagi) oleh Yeremia.

Kedua adalah strategi Babel sendiri untuk mengisolasi Yerusalem. Pasukan Babel tahu bahwa pasokan ransum untuk kota tersebut tidak banyak, apalagi ketika rantai pasokan ransum diputus oleh Babel (mungkin terjadi pada saat penghancuran Lakish dan Azekah) sehingga akan lebih mudah untuk menghancurkan Yerusalem. Hal ini bisa terjadi mengingat Babel juga baru saja mengalami pertempuran melawan Mesir, walaupun unggul telak tapi bisa saja cukup memakan korban dan tenaga apalagi Mesir terdiri atas pasukan bayaran. Babel mengepung dan dalam 2 tahun tembok Yerusalem rubuh oleh penduduk Yerusalem sendiri.

Bencana kelaparan melanda Yerusalem menjadi akhir dari kisah kota yang pernah cemerlang tersebut. Menggambarkan apa yang terjadi di Yerusalem saat itu dengan mengutip tulisan sejarawan Montefiore dalam bukunya Jerusalem: The Biography. Pada 587 SM, Nebukadnezar mengepung Yerusalem dengan benteng-benteng dan tembok pengepungan. “Bencana kelaparan”, tulis Yeremia, “menjadi penderitaan dalam kota”. Anak-anak kecil “pingsan karena kelaparan di semua jalanan”, dan ada tanda-tanda kanibalisme: “putri rakyatku menjadi kejam… Tangan-tangan kaum perempuan yang penuh kasih sayang telah merebus anak-anak mereka sendiri: mereka dikenyangkan oleh dagingnya dalam penghancuran”. Bahkan orang-orang kaya segera berputus asa, tulis pengarang Ratapan: “Yang biasa makan yang sedap-sedap mati bulur di jalan-jalan; yang biasa duduk di atas bantal kirmizi terbaring di timbunan sampah,” mengais makanan. Orang-orang berkeliaran di jalan-jalan, kebingungan, “seperti orang buta”. Para arkeolog telah menemukan sebuah pipa got yang berasal dari masa pengepungan itu: orang-orang Yudea biasanya hidup dengan tanaman kacanga-kacangan, gandum, dan jewawut, tapi isi pipa saluran itu menunjukkan bahwa orang-orang hidup dengan tanaman dan rempah-rempah, berpenyakit cacing cambuk dan cacing pita (Montefiore).

Dalam Yeremia 52:1-30 menceritakan detil bagaimana Yerusalem dihancurkan, hingga Bait Allah Salomo yang begitu diagungkan dan dimuliakan oleh bangsa Israel. Nebuzaradan membakar Bait Allah dan segala tembok kota tersebut dirobohkan. Rakyat kota Yerusalem kembali diangkut ke Babel, dan hanya menyisakan orang-orang miskin di sana. Ada satu hal yang menjijikkan pada saat Babel menghancurkan Sion. Bahwa terjadi pemerkosaan di sana, dan menurut saya itu dilakukan secara besar-besaran oleh pasukan Babel. Sama dengan yang terjadi dengan peristiwa-peristiwa pemerkosaan massal pada Perang Dunia II.

Tapi, ada dalam catatan Herodotus tentang budaya Babel yang menurutnya memalukan, saya mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut adalah ritual. Dalam budaya Babel tersebut, setiap wanita yang lahir dalam kerajaan Babel harus tinggal di area suci Venus (kuil Ishtar atau Inana menurut kepercayaan Babel dan Mesopotamia), dan di tempat itu mereka harus berhubungan intim dengan seorang pria asing. Mereka baru berhenti ketika pria asing tersebut melemparkan koin untuk menebusnya dan wanita itu harus menemani pria asing itu hingga selesai tugas pria tersebut (dalam Herodotus ditulis “setelah wanita itu memenuhi kewajibannya”). Berbeda dengan apa yang terjadi di Sion, bukan budaya melainkan pemerkosaan yang dianggap sebagai pemenuhan budaya Babel. Pasukan Babel tentu akan menganggap diri mereka adalah orang-orang asing, Bait Suci adalah kuil Ishtar dan perempuan-perempuan Yerusalem adalah wanita-wanita lokal tersebut. Dan itu adalah kekejian di mata Tuhan sehingga Babel pun dihukum akibat kejahatan di tempat suci-Nya (Sion adalah tahta suci Allah; ada di Yeremia 51:24).

Raja Zedekia yang mencoba melarikan diri, tertangkap, dan dihukum seperti yang telah dikisahkan sebelumnya. Orang-orang Yerusalem (disebut Yahudi) ada yang dibawa ke Babel, tapi yang miskin ditinggalkan untuk menjaga tanah tersebut dengan menjadi tukang-tukang anggur kerajaan. Ada pula yang melarikan diri ke Mesir, yang kembali sudah diwanti-wanti oleh Yeremia untuk tidak mengungsi ke sana. Itulah kisah penghancuran Yerusalem oleh Babel dan pendeportasian orang-orang Yahudi keluar dari Tanah Perjanjian. “Dan dengan cara begitulah ras Raja Daud mengakhiri kehidupan mereka” Josephus menyimpulkan (Wise Bauer).

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: