Beranda > Olah Raga > Salut Buat Atletico Madrid

Salut Buat Atletico Madrid

atletico madridStanding ovation layak disematkan untuk Atletico Madrid. Apa yang mereka lakukan pada musim ini sangat mengagumkan dan layak untuk didapatkan. Walaupun hanya setahun ini, jika Atletico gagal mempertahankannya performa mereka musim depan, prestasi ini layak disebut fenomenal. Mencapai final Liga Champions tanpa mengalami satu pun kekalahan, serta berada di puncak klasemen yang membuat Atletico berpeluang besar menjuarai Liga Spanyol musim ini yang biasanya hanya dikuasai dua klub raksasa Real Madrid dan Barcelona. Hingga pekan ke 37, Atletico masih unggul 3 angka dari Barcelona dan 5 angka dari Real Madrid.

Tidak banyak yang mengetahui Atletico Madrid pada masa kini, terutama di Liga Spanyol, duo raksasa Real Madrid dan Barcelona begitu mendominasi kancah persepakbolaan domestik tersebut. Sehingga, seperti halnya Valencia, Atletico dianggap sebagai tim kelas kedua di La Liga walaupun sejarah persepakbolaan mereka begitu hebat. Atletico mempunyai sekolah sepakbola yang dipenuhi pemain-pemain berbakat, salah satunya adalah legenda Real Madrid Raul Gonzales yang adalah jebolan akademi sepakbola Atletico. Tidak kalah dengan La Masia milik Barcelona ataupun Castilla milik Real Madrid, Atletico mampu menghadirkan punggawa-punggawa hebat yang terkenal seperti Fernando Torres, Gabi, dan Koke. Untuk urusan duit, Atletico sebenarnya punya kemampuan finansial yang cukup baik seperti Valencia, walaupun tidak semewah Real Madrid dan Barcelona.

Atletico Madrid didirikan oleh 3 mahasiswa Basque pada 26 April 1903 yang sementara bersekolah di Madrid, saat itu masih bernama Athletic Madrid. Ketiga mahasiswa ini menganggap bahwa klub yang mereka dirikan ini adalah cabang untuk pemain-pemain muda bagi klub idola mereka, Athletic Bilbao. Oleh karena itu, jangan heran jika logo klub, seragam, hingga filosofi pemberontak ala Basque lekat pada klub Atletico Madrid ini. Klub ini makin berkembang dari tahun ke tahun, di mana Athletic Bilbao menjadi parent-club bagi Athletic Madrid. Tahnu 1939, Athletic Madrid melakukan merger dengan klub Aviacion Nacional of Zaragoza yang didirikan oleh para anggota Spanish Air Force (Angkatan Udara Spanyol). Klub ini pun berubah nama menjadi Athletic Aviacion de Madrid. Ketika diktator Jendral Franco berkuasa di Spanyol, dia melakukan peraturan yang melarang klub menggunakan bahasa asing. Athletic Madrid pun mengubah namanya menjadi Atletico Aviacion de Madrid pada 1941. Tahun 1947, Atletico melepas nama yang berhubungan dengan militer dari nama klub tersebut sehingga nama klub berubah dengan nama yang kita pakai saat ini, Atletico Madrid.

Atletico Madrid mencapai masa keemasannya pada tahun 1950 dan 1951, di mana pelatih legendaris Helenio Herrera membawa Atletico menjuarai kompetisi La Liga 2 kali berturut-turut. Di masa ini, prestasi Atletico mampu menyamai klub-klub besar seperti Real Madrid dan Barcelona. Kepergian Helenio pada 1953 membuat klub yang biasanya bersaing untuk mendapatkan juara bersama kedua klub raksasa, akhirnya hanya bisa bersaing dengan Athletic Bilbao. Atletico baru bisa bersaing lagi dengan untuk gelar liga pada medio 1960an dan 1970an. Di masa itu, Atletico berhasil masuk ke semifinal kompetisi Eropa yang bernama European Cup (musim 1958-1959), cikal bakal Liga Champions, tapi kandas melawan Real Madrid. Musim berikutnya, Atletico berhasil membalas Real dalam kompetisi Copa Del Rey dua tahun berturut-turut 1960 dan 1961. Menjadi juara di ajang tersebut, membuat Atletico berhak mengikuti kompetisi Piala Winners dan memenanginya pada 1962 setelah mengalahkan Fiorentina 3-0. Piala Winners adalah satu-satunya kompetisi Eropa yang tidak pernah diraih oleh Real Madrid. Tahun 1974, Atletico berhasil melaju ke Final Liga Champions (kala itu masih bernama European Cup), namun kalah melawan Bayern Muenchen yang pada masa itu sedang berada pada masa keemasan di mana Gerd Muller, Sepp Maier, Franz Beckenbauer berada di klub tersebut.

Prestasi Atletico terus berlanjut di era Luis Aragones. Atletico memenangi Copa del Rey 1976 dan La Liga 1977. Tahun 1987, Atletico dipimpin oleh politisi yang kontroversial, Jesus Gil, hingga 2003. 10 tahun lamanya Atletico tidak memenangi kompetisi La Liga ketika Jesus Gil datang, yang kemudian menggelontorkan dana yang begitu besar untuk mendatangkan pemain bintang seperti Paulo Futre dari Porto. Dana yang dikeluarkan pun hanya mampu memenangi Copa del Rey 1991 dan 1992, yang menurut saya pada ukuran masa kini prestasi tersebut cukup berarti karena masa kini prestasi diukur melalui piala yang didapatkan jadi setiap gelar sangatlah berharga. Pada masa tersebut, hanya memenangi Copa del Rey adalah sebuah kegagalan ketika klub menginginkan juara liga. Jesus Gil pun meradang, dan mulai mendatangkan pelatih-pelatih beken seperti Cesar Luis Menotti, Ron Atkinson, Javier Clemente, hingga memulangkan kembali Luis Aragones. Kesalahan terbesar pada era Jesus Gil adalah menutup akademi Atletico pada 1992. Kesalahan itu yang membuat calon bintang bernama Raul Gonzales (15 tahun) pindah ke Real Madrid hanya untuk bisa bermain sepakbola. Tahun 1994-1995, klub nyaris terdegradasi ke Segunda Division yang membuat Jesus Gil menjual pemain-pemain lamanya dan membeli pemain-pemain baru saat memasuki musim 1995-1996 termasuk kiper Jose Molina, Milinko Pantic, Santi Denia yang bergabung dengan pemain-pemain yang bertahan seperti Kiko dan Diego Simeone, mendatangkan pelatih kawakan Radomir Antic. Usaha itu mendatangkan hasil dengan memenangi dua gelar domestik pada saat itu, Copa del Rey dan La Liga.

Di era Jesus Gil di akhir 1990an, klub terus mengeluarkan dana besar untuk membeli pemain-pemain bintang dan pelatih-pelatih beken. Christian Vieri dan Juninho didatangkan pada 1997, musim panas 1998 pelatih Arrigo Sacchi datang yang tidak lama kemudian diganti oleh Radomir Antic lagi pada awal 1999. Pelatih Claudio Ranieri datang pada awal musim 1999-2000. Pada Desember 1999, direksi Atletico diberi sanksi karena adanya penyelewengan dana oleh mereka. Atletico degradasi pada tahun 2000.

Dua tahun di kubangan kasta kedua persepakbolaan Spanyol, Atletico kembali pada tahun 2002. Fernando Torres memulai karir di La Liga pada musim 2003-2006. Atletico tidak banyak menorehkan prestasi-prestasi besar kecuali lirikan media yang menyebut striker Fernando Torres sebagai salah satu striker terbaik yang dimiliki Atletico. 2006, beberapa pemain top seperti duo Portugis Costinha dan Maniche mengisi skuad klub. Atletico juga mendatangkan pemain bakal bintang pada 2006, Sergio Aguero. 2007, Fernando Torres hengkang ke Liverpool dengan nilai transfer 26 juta poundsterling. Sebagai gantinya, klub mendatangkan Diego Forlan (21 juta Euro), Simao Sabrosa, dan Jose Antonio Reyes. Pembelian ini cukup mendongkrak permainan tim yang berhasil masuk ke Liga Champions dengan menempati posisi 4 musim 2007-2008. Pelatih kawakan, Javier Aguirre asal Meksiko yang membawa klub menempati posisi 4 mundur pada Februari 2009 dan digantikan oleh Abel Resino. Sekali lagi, Atletico berhasil menduduki posisi 4 pada tahun 2008-2009, Diego Forlan menjadi pencetak gol di liga dengan 32 gol dan duet maut Diego Forlan dan Sergio Aguero ditakuti di kancah domestik. Atletico, pada musim 2009-2010 mulai memperhatikan pemain-pemain muda menjanjikan. Hal ini merupakan kebijakan populer karena melihat hasil yang dibuat oleh Sergio Aguero yang pada saat didatangkan masih berusia 17 tahun. Kiper David de Gea diambil dari akademi, mendatangkan kiper muda berbakat Sergio Asenjo dan bek berpengalaman Real Betis, Juanito. Klub juga berhasil menahan diri untuk tidak melepas pemain-pemain bintangnya seperti Sergio Aguero dan Diego Forlan. Usaha ini malah mendatangkan hasil yang tidak diharapkan. Abel Resino dipecat, dan pelatih Quique Flores didatangkan untuk menangani tim pada sisa musim 2009-2010.

Di bawah pelatih Quique Flores, Atletico tercecer ke peringkat 9 La Liga pada musim 2009-2010. Tapi, menempati peringkat ketiga di kompetisi Liga Champions pada fase grup membuat mereka berhak mengikuti kompetisi Europa League. Di kompetisi inilah, Atletico memenangkan kompetisi Eropa pertamanya setelah 1962 setelah mengalahkan Liverpool di semifinal dan Fulham di final. Kemudian memenangkan Piala Super Eropa setelah mengalahkan Inter Milan 2-0 di Monaco. Quique Flores dipecat pada tahun 2010-2011 setelah mengalami kegagalan mengangkat tim, yang pada waktu itu memiliki pemain-pemain bintang sekelas Aguero, Simao, Reyes, dan Forlan. Klub hanya mampu berada di posisi ketujuh, tersingkir dari fase grup Europa League, kandas di perempat final Copa del Rey. Flores digantikan oleh Gregorio Manzano, yang kemudian digantikan oleh Diego Simeone. Sebelum dipecat, Gregorio Manzano berhasil membawa klub mencapai Final European League 2010-2011, di mana Falcao menjadi bintang. Diego Simeone berhasil membawa Atletico menjuarai kompetisi tersebut setelah mengalahkan Athletic Bilbao 3-0 di Bucharest. Falcao menjadi topskor kompetisi tersebut. Ini adalah juara kedua kalinya dalam 3 tahun Europa League dibentuk menggantikan kompetisi UEFA Cup.

Diego Simeone membawa klub menjuarai Piala Super Eropa setelah mengalahkan Chelsea dengan skor mencolok 4-1. Falcao mencetak hattrick. Diego Simeone berhasil menanamkan sikap determinasi tinggi, kekompakan, dan sistem pertahanan kuat dan didukung oleh serangan balik yang cepat berhasil membawa Atletico ke puncak keemasan setelah masa Helenio Herrera dan Aragones. Kekompakan yang dibangun pada musim 2012-2013 menuai sukses dengan menduduki peringkat ketiga di La Liga dan memenangi 3 trofi (Super Eropa, Super Spanyol, dan Copa del Rey). Falcao hengkang ke Monaco dengan nilai transfer sebesar 60 juta Euro (Falcao dibeli 40 juta Euro dari Porto). Diego Costa menjadi tumpuan lini depan Atletico musim 2013-2014. Di sisi lain, Simeone mendatangkan pemain veteran David Villa, memperkuat pertahanan yang sudah terjalin pada musim berikutnya. Selain mengorbitkan Diego Costa, Simeone juga memanggil pulang salah satu gelandang berbakat Raul Garcia yang dipinjamkan ke Osasuna musim sebelumnya, mengorbitkan Koke dan memotivasi pemain-pemain lain seperti Gabi dan Diego Ribas yang dicap gagal di Eropa bersama Juventus dan Wolfsburg. Kemewahan teknik Arda Turan pun dieksploitasi sehingga menjadikan dia salah satu pemain terbaik di Liga.

Hasilnya, Atletico kembali ke era di mana mereka semula berada, yaitu sebagai title challenger. Klub yang pada medio 2000an hanya dikenal sebagai klub papan tengah, bahkan kadangkala kalah bersaing dengan tim yang seharusnya sekelas mereka seperti Valencia ataupun Deportivo (kedua tim berhasil merebut juara La Liga di tengah dominasi duo Barcelona-Real Madrid, sesuatu yang tidak bisa dilakukan lagi oleh Atletico setelah menjuarainya pada 1996), bahkan kalah bersaing dengan tim-tim kelas dua yang merangsek ke papan atas La Liga seperti Real Sociedad, Villareal, maupun Real Mallorca dan Malaga. Saat ini, tim asuhan Diego Simeone berhasil maju ke Final Liga Champions dan akan menghadapi rival sekotanya Real Madrid. Di kancah La Liga, peluang Atletico untuk menjadi juara terbuka lebar. Unggul 4 poin dan 6 poin dari Barcelona dan Real Madrid adalah kesempatan besar setelah terakhir kali menjadi juara pada tahun 1996.

Standing Ovation

Apa yang menjadi kekaguman saya pada mereka? Seperti Borussia Dortmund yang sempat nyaris bangkrut sehingga harus rela untuk sementara waktu melupakan impian kembali ke masa-masa jayanya pada era Andreas Moeller dan kawan-kawan, mereka rela untuk membangun sistem tim yang baru. Pendukungnya bahu-membahu memenuhi stadion ketika Dortmund bertanding. Pendukungnya harus rela melihat kepergian pemain-pemain bintangnya seperti Rosicky, Jens Lehman, dan Jan Koller. Klub juga harus mengoptimalkan para pemain muda dalam akademi dan seirit mungkin dalam melakukan kebijakan transfer pada saat itu. Pola seperti itu membuat Dortmund menderita bolak-balik papan tengah hingga papan bawah. Tidak ada yang mengenal Dortmund, ketika Werder Bremen, VfB Stuttgart mengkilap dengan bintang-bintangnya yang terkenal saat itu, mampu bersaing dengan sang penguasa liga, Bayern Muenchen. Dortmund dilupakan sejenak. Perubahan yang mereka lakukan tersebut membuahkan hasil dalam 5 tahun belakangan ini. Pemain-pemain tak terkenal seperti Nuri Sahin, Matt Hummels, Shinji Kagawa, Nevan Subotic bergabung dengan para loyalis Dortmund yang masih tinggal ataupun didatangkan dengan harga irit seperti Sebastian Kehl, Roman Weidenfeller, Christopher Metzelder. Pemain-pemain muda pun diorbitkan seperti Mario Goetze dan Sven Bender membuat mata penggila sepakbola terbuka lebar pada potensi Dortmund. Dortmund meraih gelar Bundesliga 2 tahun berturut-turut (musim 2010-2011 dan 2011-2012), masuk ke Final Liga Champions 2013 adalah puncak prestasi Dortmund sejauh ini.

Dortmund pun menepis anggapan, bahwa uang bukanlah segalanya dalam soal prestasi. Dortmund pun menginvestasikan uang mereka pada pemain-pemain muda berpotensi seperti Marco Reus, mengorbitkan Robert Lewandowski,dan Ilkay Gundongan untuk menutup kepergian pemain seperti Shinji Kagawa (di mana awalnya dia dibeli senilai 350 ribu Euro dan dijual dengan harga di atas 10 juta pound ke Manchester United), Nuri Sahin (ke Real Madrid, awalnya direkrut saat berusia belia dan dijual dengan harga sekitar 7-10 juta Euro). Di musim tersebut, Mario Goetze menjadi bintang Dortmund bersama Ilkay dan Reus. Dortmund terus melakukan pembenahan keuangan, tidak lagi jor-joran melakukan pembelian pemain seperti dahulu (membeli Marcio Amoroso, Tomas Rosicky, dan Jan Koller yang bisa mencapai 70 juta Euro). Dortmund membeli pemain mahal sebagai investasi dari penjualan pemain bintangnya. Filosofi menciptakan bintang berhasil membawa Dortmund kembali disegani di Jerman dan Eropa. Pelatih Juergen Klopp berperan besar dalam sistem ini. Pelatih yang jenius, mampu membuat pemain mengeluarkan seluruh potensinya dan mempercayai potensi tersebut dalam sistem permainannya. Peran pelatih sangat besar dalam proses ini.

Atletico menjalani hal yang sama dengan Dortmund. Sempat nyaris “bahan bakar” akibat skandal Jesus Gil dan direksi klub pada tahun 2000, pendukung klub lebih menderita lagi karena melihat klubnya harus terdegradasi ke Segunda Division. Tapi, dibalik itu semua ada harapan yang mengemuka oleh pendukung tim ketika melihat Fernando Torres, didikan asli akademi mulai bersinar. Atletico adalah tim yang secara finansial lebih sedikit mampu ketimbang Dortmund saat itu. Mereka pun melihat sistem akademi ternyata bisa menciptakan pemain berkualitas akhirnya mulai berani berinvestasi pada akademi dan pemain-pemain muda berbakat, walaupun berharga mahal tapi jika dibentuk nilainya akan menjadi berlipat. Fernando Torres hengkang, Sergio Aguero mencuat. Memang tidak dipungkiri, ada juga pemain-pemain mahal seperti Jose Reyes, Diego Forlan, atau Simao Sabrosa yang didatangkan. Tapi itu dilakukan hanya untuk satu hal, membentuk pemain muda binaan. Hanya saja, proses tersebut agak lama karena tidak cocoknya pelatih dengan sistem tersebut. Ketika Aguero dan Forlan hengkang, klub mendatangkan Falcao senilai 40 juta Euro! Yang kemudian dilepas ke AS Monaco pada 2013 dengan harga 60 juta Euro. Sebuah perjudian yang cukup besar ketika merekrut pemain berusia 25 tahun tersebut. Di satu sisi, kita gagal melihat pembentukan Atletico saat itu. Ketika Falcao dan pemain bintang lain menjadi pusat permainan tim, di sisi lain sudah ada satu-dua bibit muda yang mulai menunjukkan performa handal walaupun masih diberikan jam terbang yang minim saat itu. Hanya saja, seperti Dortmund sebelum kedatangan Klopp, belum ada pelatih yang memberikan karakter kepada tim tersebut padahal jika dilihat dari kualitas pemain Atletico saat itu, papan tengah adalah posisi yang tidak pantas. Argumentasi itu berubah ketika Diego Simeone datang, dan membuka jalan perubahan karakter dalam permainan. Simeone mulai memperhatikan pemain-pemain muda seperti Diego Costa, Koke dan Thibaut Courtois dan menggabungkan mereka dengan pemain senior lain seperti Juanfran, Gabi, Tiago, dan Godin. Simeone juga mendatangkan pemain-pemain veteran dengan kualitas tinggi seperti David Villa dan Diego Ribas untuk menanamkan mental juara. Dan hasilnya, kita bisa lihat saat ini.

Atletico dan Borussia Dortmund adalah anomali dalam sepakbola modern saat ini. Ketika Chelsea, Manchester City, dan PSG berusaha membuang uang untuk membentuk sebuah tim kuat penuh bintang, kedua klub ini membangun dari sisi sebaliknya. Ketika para fans klub lain mulai memprotes kenapa tidak ada uang segar masuk melalui para Sheik Arab yang kaya, atau uang kaum Yahudi, atau para investor Amerika, dua klub ini kembali menjadi anomali di mana para suporternya bahu membahu, memenuhi stadion untuk membantu klubnya, memotivasi klubnya, dan sekarang mereka menikmati apa yang menjadi usaha mereka selama ini. Musim lalu, Borussia Dortmund telah mendapatkan standing ovation atas penampilannya maka musim ini, Atletico Madrid pantas mendapatkannya. Money can buy something, but can’t buy class.

Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: