Beranda > What I See > Venesia: Kejayaan dan Kejatuhan

Venesia: Kejayaan dan Kejatuhan

Kisah sejarah Venesia ketika masa digdaya dan penurunan diambil dari buku Mengapa Negara Gagal (Daron Acemoglu dan James A. Robinson) halaman 167-172. Buku tersebut mengangkat kisah bangsa-bangsa yang berhasil pada saat ini dan yang dulu berhasil tapi saat ini mengalami keterpurukan. Salah satu kisahnya adalah Venesia. Menariknya, kisah Venesia relevan hingga saat ini untuk dunia perpolitikan dan ekonomi di Indonesia. Perpolitikan di Indonesia seolah-olah hanya dikuasai kaum elite yang bergantian menduduk negeri ini, menjanjikan perubahan kesejahteraan tapi tidak dengan institusi, baik politik dan ekonomi. Institusi politik (baca pemerintah) dan ekonomi (dunia usaha) hanya dikuasai segelintir elit. Institusi politik memang terbuka untuk seluruh warga Indonesia tapi dikekang dengan tingginya biaya politik serta adanya oknum-oknum yang menghalangi masuknya perubahan di dalam institusi-institusi tersebut. Ekonomi di Indonesia, lebih dari 50% dikuasai oleh segelintir kelompok berpengaruh yang sulit akan digeser karena telah menjadi institusi ekstraktif didukung oleh institusi politik saat ini. Itu sebabnya, kita perlu belajar dari Venesia betapa awalnya begitu digdaya namun karena keserakahan dan kekuasaan menyebabkan kota-negara (city-state) Venesia menjadi kota wisata pada masa sekarang.

***

piazza san marco simbol kejayaan VeneziaGugusan kepulauan yang membentuk negara Venesia terletak di ujung utara Laut Adriatik. Pada abad pertengahan, mungkin Venesia adalah negara paling kaya di dunia yang ditopang oleh berbagai institusi ekonomi inklusif tercanggih pada zamannya. Venesia lepas dari penjajahan pada tahun 810 Masehi, dan kemerdekaan itu bertepatan dengan datangnya masa yang paling menentukan dalam sejarah. Perekonomian negara-negara Eropa sedang menggeliat setelah lama terpuruk menyusul runtuhnya Imperium Romawi, sehingga mendorong sejumlah Raja Eropa seperti Charlemagne, untuk bangkit menggalang konsolidasi politik dan kekuasaan. Kondisi tersebut telah meningkatkan stabilitas politik, keamanan regional, dan membuat perdagangan internasional semakin marak, dan Venesia menempati posisi yang teramat unik dan menguntungkan. Venesia sangat dikenal dengan para pelaut dan penjelajahnya yang tangguh, dan negara itu terletak persis di tengah-tengah kawasan Mediterania. Negeri itu dibanjiri aneka komoditas berupa rempah-rempah, budak, serta berbagai produk manufaktur berkualitas tinggi. Venesia menjelma menjadi sebuah negara yang kaya raya. Memasuki tahun 1050, Venesia yang perekonomiannya telah berkembang pesat setidaknya selama satu abad, memiliki total populasi sebesar 45.000 jiwa. Jumlah tersebut kemudian membengkak setengahnya menjadi 70.000 pada tahun 1200. Menjelang tahun 1330, populasi itu meningkat lagi sebesar 50 persen, menjadi 110.000 jiwa; berdasarkan jumlah penduduknya, saat itu Venesia sama besarnya dengan kota Paris dan mungkin tiga kali lebih besar ketimbang London.

Salah satu faktor pendukung pertumbuhan ekonomi Venesia adalah serangkaian inovasi di bidang kontrak perniagaan yang membuat institusi-institusi ekonomi di negara itu semakin inklusif. Salah satu inovasi yang paling terkenal di masa itu adalah commenda, yang merupakan cikal-bakal perusahaan dengan kepemilikan saham secara gabungan dan durasinya sangat singkat: perusahaan itu hanya hidup untuk satu periode misi dagang. Kongsi dagang ala commenda itu melibatkan dua mitra. Mitra pertama yang terus menetap di Venesia, dan mitra lainnya yang bergerak menjalankan misi dagang. Mitra yang berdiam di Venesia menyediakan modal usaha, sedangkan mitra yang bergerak bertugas mengawal barang muatan. Biasanya mitra yang tetap tinggal di Venesia menyediakan modal usaha, sedangkan mitra yang bergerak bertugas mengawal barang muatan. Biasanya mitra yang tetap tinggal di Venesia harus menyediakan saham usaha yang lebih besar porsinya. Para usahawan muda dengan modal terbatas bisa menjalankan bisnis ini dengan berperan sebagai mitra penggerak yang mengawal barang dagangan. Sistem kerja seperti itu sekaligus merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan sistem mobilitas sosial seseorang pada zaman itu. Setiap kerugian yang timbul dari misi dagang itu akan ditanggung oleh kedua belah pihak sesuai dengan porsi modal yang mereka kucurkan. Jika misi dagang antar benua menghasilkan laba, maka keuntungannya dibagi menurut dua jenis kontrak commenda yang diterapkan. Jika kontrak tersebut bersifat unilateral, maka mitra yang berada di Venesia menyediakan 100 persen modal usaha dan mendapatkan 75 persen keuntungan. Jika kontrak tersebut bersifat bilateral, maka mitra yang ada di Venesia menyediakan 67 persen modal usaha dan berhak mendapatkan 50 persen keuntungan. Penelitian terhadap arsip-arsip kuno menunjukkan betapa kongsi dagang dengan model commenda sangat efektif dalam meningkatkan status sosial warga Venesia, sebab dokumen-dokumen itu menunjukkan sederet nama yang semula tak pernah ada di jajaran kaum elite negara tersebut. Dokumen-dokumen pemerintah dari tahun 960, 971, dan 982 mencatat 69 persen, 81 persen, dan 65 persen tokoh-tokoh pendatang baru yang meramaikan pergaulan di lingkaran elite Venesia.

Iklim perekonomian yang inklusif disertai munculnya dinasti-dinasti saudagar kaya itu membuat sistem politik di Venesia kian terbuka. Kepala pemerintahan Venesia yang disebut Doge (sama dengan Duce di Italia dan Duke di Inggris), dipilih untuk masa jabatan seumur hidup oleh sebuah Majelis Umum. Majelis Umum yang mestinya diawaki oleh para wakil rakyat itu sebenarnya dikuasai oleh sekelompok dinasti yang sangat berpengaruh. Sosok Doge pada mulanya sangat kuat, tetapi secara perlahan kekuasaannya dikurangi melalui sejumlah perubahan institusi politik. Setelah tahun 1032, nama pemimpin Venesia ditentukan oleh Dewan Dukal, satu lembaga baru yang dibentuk untuk mengontrol kekuasaan seorang Doge. Penguasa Venesia pertama yang tunduk di bawah kontrol Dewan Dukal adalah Domenico Flabianico, seorang saudagar kain sutra yang kaya raya yang bukan berasal dari dinasti penguasa. Perubahan institusi politik itu berhasil meningkatkan kekuatan armada dagang dan angkatan laut Venesia. Pada tahun 1082 Venesia memperoleh berbagai kemudahan dan hak-hak istimewa dalam melakukan perdagangan di Konstantinopel (Turki), bahkan di kota tersebut dibangun perkampungan khusus bagi orang-orang Venesia. Dalam waktu singkat kompleks itu disesaki oleh sepuluh ribu warga Venesia. Pada masa ini terlihat bukti-bukti dari sinergi positif antara institusi politik dan institusi ekonomi.

Ekspansi ekonomi Venesia yang disertai desakan kuat untuk mengubah peta politik, mencapai klimaks menyusul terbunuhnya seorang Doge pada tahun 1171. Inovasi politik pertama yang paling penting dibentuknya Dewan Besar (Great Council) yang merupakan sumber kekuatan politik terbesar di Venesia sejak saat itu. Dewan Besar beranggotakan para pejabat tinggi Venesia, misalnya saja para hakim, dan didominasi oleh bangsawan. Selain para pejabat tinggi, setiap tahun dewan besar itu juga diisi oleh anggota-anggota baru yang diusulkan oleh sebuah panitia yang empat anggotanya diambil dari anggota dewan yang sudah ada. Dewan Besar itu kemudian memilih para anggota yang akan duduk di kursi dua lembaga bawahannya, yaitu Senat dan Dewan Empat Puluh, yang menjalankan berbagai tugas legislatif dan eksekutif. Dewan Besar tersebut juga akan memilih para anggota Dewan Dukal, yang jumlahnya membengkak dari dua menjadi enam orang. Inovasi politik yang kedua adalah pembentukan satu lembaga lain, yang anggota-anggotanya diambil dari Dewan Besar: dewan baru itu bertugas mencalonkan atau menominasikan seorang Doge. Meskipun pencalonan itu harus disetujui Dewan Besar (karena dewan baru itu hanya dibenarkan mengusulkan nama), praktis dewan bentukan baru itu memiliki kekuasaan yang sangat besar untuk menabalkan seorang penguasa baru. Inovasi politik yang ketiga adalah ketentuan yang mengharuskan penguasa baru mengucapkan sumpah jabatan yang poin-poinnya ditetapkan oleh Dewan Dukal. Dari masa ke masa kontrol terhadap kekuasaan Doge semakin diperketat, sampai-sampai para Doge berikutnya diharuskan patuh kepada para hakim dan menyerahkan semua keputusan mereka untuk disetujui oleh Dewan Dukal. Mereka juga harus memastikan seorang Doge mematuhi semua ketetapan yang dibuat oleh Dewan Besar.

Rentetan reformasi politik di Venesia juga membuahkan serangkaian inovasi institusi. Di bidang hukum misalnya, sejak saat itu sudah ada hakim dan pengadilan independen, persidangan banding, juga sejumlah peraturan yang mengatur kontrak-kontrak swasta dan undang-undang kepailitan. Berbagai institusi ekonomi baru di Venesia telah membuka jalan bagi tumbuhnya berbagai bentuk bisnis dan kontrak yang legal. Inovasi di bidang keuangan mengalami kemajuan pesat, dan pada saat itu di Venesia sudah tampak cikal bakal layanan perbankan modern. Dinamika yang mendorong perkembangan berbagai institusi inklusif di Venesia seolah tak bisa dibendung lagi.

Namun geliat kemajuan di segala bidang itu bukannya sepi dari konflik. Pertumbuhan ekonomi yang disokong oleh berbagai institusi inklusif tak pelak lagi menciptakan apa yang disebut “penghancuran kreatif”. Setiap generasi orang-orang muda yang berhasil meraup kekayaan lewat kongsi dagang commenda atau kontrak-kontrak sejenis berpotensi mengikis kemakmuran dan hak-hak istimewa yang sekian lama dinikmati para kelompok elite. Dan bukan hanya kekayaan mereka yang terancam, tapi juga kekuatan politiknya. Itulah sebabnya kenapa orang-orang yang duduk di kursi Dewan Besar tak pernah jera mencari siasat untuk menutup celah masuk bagi anggota baru yang berasal dari angkatan muda yang sukses itu.

Pada mulanya, para anggota Dewan Besar dipilih setahun sekali. Setiap akhir tahun secara acak ditunjuk empat orang dari para anggota yang ada, untuk menominasikan seratus nama calon anggota baru untuk masa bakti yang akan datang, dan seratus nama yang dicalonkan itu secara otomatis akan dilantik. Pada tanggal 3 Oktober 1286 muncul usulan di Dewan Besar untuk mengamandemen aturan main lama, bahwa penunjukkan calon anggota Dewan Besar harus disetujui oleh mayoritas suara di Dewan Empat Puluh, yang seluruh kursinya dikuasai oleh keluarga-keluarga elit penguasa. Usulan amandemen ini memberi veto terhadap usulan penunjukan nama-nama anggota baru, dan peraturan seperti ini tidak pernah ada sebelumnya. Usulan itu ditolak mentah-mentah. Pada tanggal 5 Oktober 1286 muncul usulan baru, dan kali ini disetujui secara aklamasi: sejak saat itu, siapa pun calon anggota Dewan Besar yang ayah atau kakeknya pernah menjabat di sana, secara otomatis akan disetujui. Jika ada nama yang ditolak, harus dimintakan persetujuan kepada Dewan Dukal. Pada tanggal 17 Oktober 1286 muncul lagi usulan amandemen, bahwa pengusulan nama calon anggota Dewan Besar harus disetujui secara bulat oleh seluruh anggota Dewan Empat Puluh, Doge, dan para anggota Dewan Dukal.

Hiruk pikuk debat politik dan berbagai amandemen konstitusi yang terjadi pada tahun 1286 itu menandai awal keruntuhan Venesia. Pada bulan Februari 1297 muncul peraturan baru yang sungguh ganjil. Siapa saja yang pernah menjadi anggota Dewan Besar selama empat tahun, secara otomatis berhak dinominasikan dan disetujui untuk dilantik. Pencalonan anggota baru mulai saat itu hanya memerlukan dua belas suara dari para anggota Dewan Empat Puluh. Mulai tanggal 11 September 1298, anggota aktif Dewan Besar dan sanak kerabat mereka tidak membutuhkan persetujuan lagi. Mereka secara otomatis dicalonkan dan dilantik. Praktis pintu Dewan Besar disegel ketat untuk mencegah masuknya muka-muka baru. Keanggotaan atau kursi Dewan Besar telah menjadi kekuasaan turun-temurun, dan fakta itu semakin dikukuhkan pada tahun 1315 dengan diterbitkannya Libro d’Oro alias Kitab Emas, sebuah buku besar berisi daftar resmi kaum bangsawan Venesia.

Mereka yang berada di luar garis keturunan bangsawan Venesia harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan kekuatannya. Ketegangan politik di Venesia semakin meningkat antara tahun 1297 hingga 1315. Dewan Besar merespons tantangan itu dengan melipatgandakan kekuatannya secara harafiah, anggotanya yang semula hanya 450 orang dilipatgandakan menjadi 1.500. Langkah ini disertai dengan berbagai tindakan represif dan pada tahun 1310 dibentuk kepolisian Venesia. Perpolitikan dalam negeri Venesia diwarnai oleh berbagai tindak kekerasan dan penindasan sebagai cara untuk mempertahankan kekuatan rezim yang berkuasa.

Setelah melancarkan taktik isolasi politik yang dikenal sebagai Serrata atau La Serrata, Dewan Besar Venesia mulai melancarkan siasat isolasi ekonomi. Langkah-langkah meneguhkan institusi politik ekstraktif diikuti segala upaya untuk membentuk institusi ekonomi dengan karakter yang sama. Puncak kegilaan rezim berkuasa di Venesia ditandai dengan peraturan yang melarang warganya melakukan kontrak commenda, yang merupakan salah satu inovasi institusi yang membuat negara itu makmur dan kaya raya. Siasat ini sebenarnya tidak mengejutkan, sebab kongsi dagang commenda telah melahirkan orang-orang kaya kelas menengah yang bangkit merongrong kekuasaan kaum elite. Akal-akalan pemerintah Venesia ini baru langkah awal untuk membangun sistem ekonomi yang ekstraktif. Gebrakan berikutnya terjadi pada tahun 1314 ketika pemerintah mengambil alih kendali perdagangan alias menasionalisasi semua bisnis perniagaan. Kapal-kapal dagang milik negara dikerahkan untuk menjalankan misi dagang internasional dan sejak tahun1324 warga yang berdagang dikenai pajak yang sangat tinggi. Perdagangan lintas benua menjadi monopoli kaum bangsawan dan hal itu menandai akhir dari kejayaan Venesia. Karena jalur-jalur nadi perdagangan dikuasai kelompok elite, keruntuhan Venesia boleh dibilang hanya tinggal menghitung hari. Venesia nyaris menjadi negara paling inklusif pertama di dunia, namun pamornya yang berkilau tak bertahan lama. Institusi politik dan ekonomi di negara itu menjadi semakin tertutup hingga kejayaan ekonominya surut. Memasuki tahun 1500, populasi Venesia menyusut menjadi seratus ribu jiwa. Antara tahun 1650 dan 1800, manakala benua Eropa mengalami ledakan penduduk, Venesia justru ditinggalkan warganya.

Sumber pendapatan utama warga Venesia dewasa ini, selain dari sektor perikanan, adalah dari turisme. Venesia yang pernah membuka jalur-jalur dagang terpenting dan membangun institusi ekonomi inklusif, sekarang hanya bisa membuat pizza, es krim, dan kaca tiup bagi para pelancong. Para turis itu berdatangan untuk bernostalgia, membayangkan gemerlap kejayaan Venesia sebelum terjadinya La Serrata. Mereka melihat-lihat istana tempat para Doge dulu bersemayam, juga kawanan kuda di Basilika St. Markus, kuda-kuda mulia yang dijarah dari Byzantium ketika Venesia masih merajai kawasan Mediterania. Venesia, mesin ekonomi yang dulu begitu digdaya, sekarang hanya sebuah museum.

 

sumber: Mengapa Negara Gagal

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: