Beranda > What I See > Meninabobokan Rakyat

Meninabobokan Rakyat

Suatu kali Kaisar Vespasian atau lebih dikenal dengan Vespasianus didatangi oleh seseorang yang menemukan alat untuk memudahkan pengangkutan kolom-kolom pilar raksasa ke lokasi pembangunan Capitol – sebuah kastil megah di tengah kota Roma – dengan biaya ringan. Pada zaman itu kolom atau pilar bangunan sangat besar dan berat, lagi pula sangat sulit pengangkutannya. Memindahkan kolom-kolom raksasa itu dari tambang marmer asalnya memerlukan tenaga ribuan orang dan ongkos yang ditanggung pemerintah bukan main besarnya. Kaisar Vespasianus tidak membunuh laki-laki itu seperti Kaisar Tiberius yang membunuh seorang rakyatnya yang menemukan inovasi kaca anti pecah, namun menolak metode inovatif yang ditawarkan kepadanya sambil berujar “Terus bagaimana aku harus member nafkah kepada rakyatku?” Seorang sosok inovatif mendatangi pemerintah. Temuannya kali ini lebih “masuk akal” ketimbang kaca anti pecah, sebab pemerintah Roma sedang dipusingkan oleh proyek pemindahan kolom marmer raksasa dari tambangnya yang jauh. Artinya, bahwa inovasi ini adalah jawaban atas pengurangan biaya ongkos tenaga kerja sehingga hasil efisiensi bisa dialihkan kepada hal-hal lain. Tetapi, usul brilian itu ditampik karena sang penguasa ngeri menyaksikan ancaman inovasi (penghancuran kreatif menurut buku Why Nations Fall), dan bukan dampak ekonomi (efisiensi) yang dirisaukan oleh kaisar, melainkan dampak politiknya. Kaisar Vespasianus galau: jika dia gagal menyenangkan hati rakyatnya dan menjaga supaya mereka tetap jinak, resikonya adalah destabilitas politik.

Rakyat jelata Romawi harus dibuat sibuk dan patuh, dan siasat yang paling jitu adalah member mereka pekerjaan, misalnya dengan memindahkan kolom-kolom marmer berukuran massif yang harus dipindahkan dengan metode susah payah. Metode ini tak kalah manjur dengan pemberian roti dan tontonan sirkus atau gladiator gratis, yang sengaja dirancang untuk menjaga rakyat agar tetap bahagia dan terhibur. Dengan mengabaikan inovasi tersebut maka pemerintahan Vespasianus berhasil menurunkan angka pengangguran dalam kekaisarannya dan mencegah adanya destabilitas.

(sumber Mengapa Negara Gagal hal. 191).

Dalam buku Mengapa Negara Gagal, dibahas tentang perbedaan satu negara dan negara yang lain mengenai kemakmuran. Buku ini seolah mengabaikan teori-teori terkenal mengenai mengapa satu negara makmur dan yang lain tidak. Teori-teori seperti kebudayaan, geografi, masalah pintar dan tidak pintar digantikan dengan bagaimana suatu negara melalui pemimpinnya mengorganisasi rakyatnya agar terus maju dan memenuhi hak-hak asasi manusia rakyat tersebut seperti hak berpolitik, hak untuk memilih pekerjaan yang diinginkan, hak untuk berinovasi, dan sebagainya.

Sama seperti kisah yang di atas, Indonesia saat ini mengalami masa di mana para pemimpinnya lebih memilih menyenangkan rakyatnya untuk mencegah adanya destabilitas politik di Republik ini. Contohnya adalah subsidi, terutama subsidi bahan bakar. Subsidi bahan bakar adalah suatu hal yang patut diperdebatkan oleh kalangan politik di dalam negeri, hal itu dikarenakan pembengkakan jumlah pengeluaran negara yang diakibatkan bertambahnya penggunaan bahan bakar bersubsidi yang menurut sekelompok pengamat tidak menguntungkan rakyat secara mayoritas. Saya setuju akan hal itu, bahwa hanya kelompok-kelompok tertentu saja yang menikmati subsidi tersebut. Di satu sisi, pemerintah tidak ingin mencabut subsidi bahan bakar karena tidak ingin terjadinya kekacauan (chaos) yang bisa membuat mereka kerepotan. Hanya saja, kekacauan itu bisa dicegah jika pemerintah tidak menolak inovasi-inovasi, baik itu berupa program maupun inovasi teknologi, yang bisa menolong pemerintah menghindari chaos.

Rakyat Indonesia pun terbuai dengan bahan bakar murah, yang di dalam negeri sendiri ongkos produksinya cukup besar. Bahan bakar fosil yang disubsidi pemerintah makin menipis cadangannya, baik itu di dunia maupun di dalam negeri sendiri. Seperti Kaisar Vespasianus, melindungi dari ancaman destabilitas saat ini adalah lebih penting ketimbang menjamin stabilitas yang bisa bertahan lama. Dengan pencabutan subsidi, pemerintah dan rakyatnya akan dituntut semakin produktif, kreatif, dan inovatif dalam bekerja. Sayangnya, pemerintah lebih memikirkan dirinya sendiri dengan puas pada pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan berdalih bahwa perekonomian Indonesia dipengaruhi oleh kondisi global.

Pemerintah menolak berinovasi dengan terus menyenangkan rakyat agar tetap “manis” sehingga pemerintah berada pada zona nyaman mereka, bekerja seadanya tanpa mampu mendorong inovasi-inovasi yang bisa mendongkrak ekonomi. Inovasi baru akan dihadirkan ketika masalah-masalah klasik telah mencapai titik jenuhnya dan rakyat membutuhkan sesuatu yang nyata dari pemerintah untuk mengatasinya, seperti kemacetan di Jakarta, kekurangan listrik di berbagai wilayah, tingginya biaya logistik di dalam negeri, kualitas pendidikan yang tidak merata, dan sebagainya.

Subsidi –subsidi yang diberikan pemerintah lebih bersifat konsumtif ketimbang investatif yang bisa bertahan jangka panjang seperti kesehatan, infrastruktur, pendidikan, insentif pajak untuk UMKM, insentif untuk inovasi yang signifikan, perlindungan hak intelektual, dan sebagainya. Akibatnya, masyarakat dididik dalam kegiatan konsumtif ketimbang investasi. Contohnya adalah rendahnya keterlibatan masyarakat dalam investasi ke dalam produk-produk keuangan seperti tabungan deposito, dana pensiun, reksadana, saham, asuransi, dan sebagainya tetapi tinggi dalam hal-hal yang bersifat konsumtif seperti penjualan barang-barang elektronik yang dinamika teknologinya begitu cepat sehingga tiap tahun ada saja yang baru tapi tidak sepi peminat. Atau, salah satu indikator ekonomi di Amerika Serikat adalah jumlah rumah terjual sedangkan di Indonesia masih berupa makro ekonomi secara luas dan tidak mendetail ke skala mikro yang lebih kecil seperti jumlah produksi komoditas pertanian dan perkebunan, properti, atau tingkat pertumbuhan UMKM dan tingkat tutupnya UMKM.

Menyalahkan rakyat tidak relevan dengan kegagalan negara menjadi makmur, karena pemerintahlah yang memegang kunci kemajuan suatu negara. Apakah negara akan menjadi gagal di kemudian hari atau masih akan tetap ada, pemerintahlah yang memegang peranan. Bukan hanya pemerintah saat ini, tapi pada masa-masa mendatang. Kreatifnya dan inovatif pemerintah dalam memaksimalkan potensi rakyat menjadi salah satu kunci untuk mendatangkan kemajuan negara selain daripada momentum sejarah yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Dalam kisah Kekaisaran Romawi, apa yang dilakukan oleh Kaisar Vespasianus pada saat itu merupakan salah satu penyebab Kekaisaran Romawi runtuh. Inovasi berhenti ketika rakyat dibius oleh pemerintah melalui “kesenangan-kesenangan sementara” untuk membuat negara tetap berada pada zona nyaman mereka. Karena hakikat inovasi, yang menjaga kehidupan tetap berlanjut adalah mengorbankan kepentingan sesaat demi kemajuan hari depan.

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: