Beranda > What I See > Informasi

Informasi

Di dalam ruang lingkup Akuntansi, informasi layaknya hak dalam kehidupan. Persamaan informasi yang sempurna antara pihak pembeli dan penjual adalah suatu kondisi yang ideal dalam suatu transaksi. Atas dasar itu maka adanya konsep pasar persaingan sempurna.

Informasi juga adalah dasar bagi setiap pihak, baik pembeli atau penjual, dalam melakukan pengambilan keputusan. Informasi merupakan data yang diolah sedemikian rupa sehingga memiliki arti yang mampu mempengaruhi para pengambil keputusan untuk bertindak. Tapi, kondisi ideal itu tidak mungkin tercapai karena adanya “kepentingan”. Lupakanlah masalah “kepentingan” itu, saya malas membahas hal tersebut.

Kalau kita memperoleh informasi yang sempurna, then what? Di Eropa pada abad pertengahan, rempah-rempah merupakan barang langka. Tidak sedikit para pelaut yang menawarkan diri kepada berbagai monarki untuk mencari sumber baru rempah-rempah. Persoalan langka bukanlah masalah nyata, tapi rempah-rempah merupakan sumber ekonomi pada masa itu. Dan dikumpulkanlah data-data mengenai bagaimana rempah-rempah itu, karakteristiknya, jenisnya, bentuknya, baunya, rasanya, dan hal-hal lain yang diperlukan termasuk asal-usul rempah-rempah tersebut yang katanya berasal dari India.

Data-data tersebutlah yang menjadi informasi bagi para pelaut yang menawarkan diri mencari sumber lain, selain dunia timur (Asia), kepada para monarki. Atau sebaliknya, monarki yang mengutus para pelaut-pelaut untuk mencari rempah-rempah. Dari kejadian-kejadian tersebut, maka kita mengenal yang namanya Christopher Columbus, Hernan Cortes, Vasco da Gama, dan sebagainya. Mereka memanfaatkan informasi untuk mencari rempah-rempah tersebut.

Berhasilkah mereka? Ada yang berhasil, dan ada yang tidak. Seperti Colombus, ukuran apakah yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilannya? Menurut buku Jack Turner tentang Sejarah Rempah, Columbus berhasil menemukan “dunia baru”, yang dengan memakai informasi yang diperolehnya dan digabungkan dengan logika berpikirnya, dia berhasil mencapai apa yang kita kenal sekarang dengan nama benua Amerika. Itu adalah pelayaran pertamanya Columbus, dari empat kali pelayaran yang dilakukannya (tahun 1492, 1493, 1498, dan 1502).

Sayang, informasi ternyata kurang cukup saat mendarat di benua baru tersebut. Menurut Jack Turner, informasi yang kurang pada pelayaran Columbus yang pertama adalah kurangnya wawasan, masalah komunikasi, dan ketidaksabaran (nafsu berlebihan) padahal mereka tidak memiliki peta mengenai benua baru tersebut. Dan itu adalah kesalahan hal umum yang seringkali terjadi hingga saat ini, walaupun pada era informasi bebas dan tidak terbatas.

Singkat cerita, Columbus berhasil membawa emas tapi belum mampu membawa rempah-rempah seperti yang dijanjikannya pada Raja Ferdinand dan Ratu pada pelayaran pertama. Namun, pengalaman tersebut memberi keyakinan untuk pelayaran kedua dan seterusnya bagi Columbus dalam mengeksplorasi benua baru.

Membaca buku Jack Turner memang sangat menarik bagaimana ukuran seberapa cukup informasi untuk diolah menjadi keputusan sangat relatif pada individu. Contohnya, saat Columbus mengemukakan mengenai logika untuk berlayar ke timur melalui pantai barat (sebagian besar pihak sudah menerima pernyataan “bumi itu bulat”) yang nanti pada akhirnya akan mencapai timur. Sebelumnya tidak ada, ataupun ada tapi tidak kembali, yang melakukan pelayaran tersebut. Monarki saat itu menyetujuinya, dan Columbus pun berlayar.

Kecukupan informasi itu relatif pada setiap individu. Seseorang bisa saja sudah mampu mengolah data-data yang diberikan menjadi suatu informasi dalam waktu singkat, atau data-data itu tidak banyak menggambarkan sebuah informasi tapi orang tersebut sudah mampu mendeskripsikannya sendiri dalam pikirannya. Columbus didapati tidak mempunyai informasi yang cukup, atau wawasan, mengenai tumbuh-tumbuhan padahal misinya adalah mencari tumbuh-tumbuhan. Jadi, jangan salah ketika Columbus membawa ranting pohon yang baunya seperti kayu manis ternyata bukanlah kayu manis. Informasi soal komunikasi, bahasa yang dipergunakan, apalagi! Columbus tidak mengetahui bahasa suku yang dia temui saat pertama kali. Begitu juga pelaut-pelaut lain yang nyasar ke benua baru tersebut seperti Hernan Cortes (yang juga membawa emas sebagai pertanggungjawaban pelayarannya).

Hal yang sama sebenarnya terjadi di dunia saat ini mengenai informasi. Data yang diberikan diketahui oleh banyak pihak. Bahkan dalam Impairment Assets, diberikan beberapa cara untuk mengakomodasi keunikan suatu aset. Yang membedakan adalah mengenai persepsi. Persepsi orang berbeda satu sama lain, sesuai dengan karakteristik orang yang kebanyakan berbeda. Misalnya, sebuah alat berat di perusahaan saya bekerja memiliki nilai buku sejumlah 1 juta, dan jika dibandingkan dengan alat berat yang sama memiliki nilai 1 juta. Tapi setelah ditelusuri rekam jejak alat berat tersebut, misalnya pernah dipakai di pertambangan, dapat memberikan dua persepsi yang berbeda. Mungkin, bagi perusahaan saya, alat berat ini termasuk bandel dan terawat dengan baik selama pemakaiannya. Bagi pembeli, mungkin kata “pertambangan” ibaratnya suatu kawasan yang terbiarkan di mana para penambang lebih memikirkan berapa banyak hasil tambang dan tidak memikirkan tentang hal lainnya.

Kecukupan informasi relatif terhadap setiap individu. Banyak peristiwa yang terjadi karena persepsi terhadap informasi tersebut berbeda satu sama lain. Hal yang perlu dilakukan adalah menambah pasokan informasi. Informasi yang sama bukan berarti harus sama pada setiap pihak. Dalam kondisi tertentu, ada pihak yang membutuhkan informasi lebih banyak dari pihak-pihak lain. Seperti menghadapi masalah di Papua, yang katanya sulit untuk “membudayakan” para suku-suku di sana yang terlanjur primitif. Informasi sudah ada, tapi bagaimana menyamakan persepsi antar kedua belah pihak.

Persepsi, hal yang sama juga mungkin menjadi pikiran saya bagaimana menyamakan persepsi dengan penyelenggaran Pemilihan Umum nanti. Karena saya sudah terlanjur memiliki persepsi yang kurang baik mengenai kegiatan ini.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: