Beranda > What I See > Bingung

Bingung

Suatu malam, di awal Februari yang dingin karena hujan rintik yang kadang disertai angin. Kawan saya bercakap-cakap dengan saya, sebuah kegelisahan yang dialaminya.

Pengangguran, ancaman waktu dekat yang paling menghantui saya di Jakarta. Semestinya saya bisa mencari pekerjaan baru untuk bertahan. Tapi seperti kata Indro, saat masih bersama Warkop DKI, pekerjaan itu banyak hanya yang mau menggaji itu sedikit. Ya, orang yang mau menggaji saya akan segera hengkang dari perusahaan karena beliau tidak memiliki rencana B untuk melanjutkan usaha.

Saya? Mencari pekerjaan yang digaji sesuai dan pantas tidak mudah. Apalagi yang sesuai dengan rencana saya. Gaya hidup? Bukan beban sih, karena gaya bukan bagian besar dari hidup saya kecuali dituntut. Belum lagi dengan deskripsi pekerjaan, jika tidak sesuai dengan bidang saya mungkin, kemungkinan besar, akan saya tolak. Belajar? Maunya sih seperti itu.

Ada satu hal yang selalu menjadi beban, bukan bagi saya semata, tapi kebanyakan orang yaitu yang namanya prioritas. Prioritas selalu hadir, di setiap waktu, di segala tempat. Prioritas itu ada karena kata beberapa orang hidup adalah pilihan. Pilihan atas apa? Menurut saya sih, pilihan atas waktu dan bukan pilihan atas beban. Beban akan selalu ada di setiap pilihan, baik yang dipilih maupun tidak. Tapi waktu, ehm, itu hal yang sangat kritis.

Waktu itu hakikatnya tidak terbatas. Kita hanya mengetahui waktu itu mulai eksis saat Tuhan menciptakan langit dan bumi serta isinya termasuk manusia. Ujungnya? Hanya Tuhan pula yang tahu ujungnya, karena Dia yang menciptakan waktu. Sulit, sangat sulit dan terlalu sulit, untuk melihat waktu dari perspektif Tuhan yang begitu amazing, dan mengejutkan.

Bagi manusia, waktu itu mulai eksis ketika manusia pertama diciptakan. Dan entah kapan itu terjadi. Setiap manusia tidak memiliki pengetahuan seberapa lama waktunya untuk eksis dalam eksistensi waktu. Jika manusia memiliki ujung dari waktunya, berarti manusia adalah makhluk terbatas. Keterbatasan itulah yang menciptakan pilihan, dan pilihan melahirkan prioritas.

Prioritas timbul karena adanya ketidakseimbangan beban satu sama lain. Beban hadir karena mempertimbangkan resiko. Pilihan atas sebuah prioritas menghasilkan beban pula, beban atas tidak dipilihnya pilihan yang lain. Kalau dalam bahasa ekonomi itu disebut sunk cost. Prioritas bukan hanya melulu soal sunk cost, tapi juga soal sunk time. Mana yang paling penting, apakah sunk cost atau sunk time? Itu juga merupakan pilihan, yang mana yang akan kita prioritaskan.

Sunk cost, kita akan berbicara soal material. Sesuatu yang kelihatan, mungkin bisa kita rasakan. Jika kita memilih prioritas A dan tidak memilih prioritas B, maka beban prioritas B akan termasuk pada beban prioritas A yang kita pilih. Misalnya, jika saya lebih memilih rumah A di kawasan A daripada rumah B di kawasan B, maka saya mendapatkan beban dari keburukan A plus kebaikan B. Karena itu, munculah pengandaian if clause type II, (if I chose bla bla bla, I would be bla bla bla). Sesuatu yang seringkali muncul pula di jejaring-jejaring sosial masa kini. Prioritas demikian memiliki kunci utama, yaitu pertanyaan bagaimana memilih prioritas dengan sunk cost terendah?

Sunk time, berbicara soal waktu. Waktu itu tidak kelihatan fisiknya. Kita tidak akan bisa merasakan waktu, dan hanya terbatas pada menyadarinya. Walaupun begitu, waktu kadang seperti sampah, bisa dibuang tapi tidak bisa dipakai lagi. Pepatah sesal kemudian, tiada berguna seolah menyatakan waktu is a one-time chance. Waktu seolah seperti satu peluru di pistol revolver ala zaman Wild Wild West, di mana para cowboy saling beradu senjata satu lawan satu dengan satu peluru pada pistol mereka. Ketika pistol ditembakkan, maka kesempatan tidak ada lagi. Jika sunk cost hanya berbicara material, maka waktu berbicara segalanya. Mulai dari beban hingga penyesalan. Jika beban bisa diganti, maka waktu tidak bisa. Hidup manusia itu terbatas. Misalnya, jika kita memilih rumah A di kawasan A ketimbang rumah B di kawasan B, maka kita akan kehilangan waktu untuk beberapa saat yang tidak akan kembali lagi atas kebaikan B dan menyesali atas keburukan A. Begitu dekat dengan sunk cost, yang membedakannya adalah kalau sunk cost mungkin bisa diperbaiki dengan recovery cost sehingga bisa meminimalkan sunk cost yang terjadi. Tapi kalau sunk time, waktu memilih plus waktu recovery adalah waktu yang hilang dari kita. Di Jakarta, macet lebih dihitung beban material yang hilang akibat kemacetan seperti produktivitas, bahan bakar, dsb. Tapi beban waktu, tidak banyak dihitung walaupun orang makin sadar dengan itu. Pernyataan-pernyataan seperti “tua di jalan raya” adalah dampak dari sunk time.

Kembali ke prioritas, apakah saya harus mencari kerjaan baru lagi atau kembali ke daerah di mana saya prioritaskan dalam rencana-rencana saya. Sialnya, pada rencana yang saya susun, saya tidak memasukkan dampak yang paling buruk akibat ketidaktahuan saya mengenai adanya UU dari pemerintah. Jadi saya berada dalam suatu kondisi yang namanya bingung. Kondisi diperparah bahwa saya tinggal selangkah lagi untuk mencapai gelar sarjana di kota ini, dan harus kembali ke daerah hanya dan meninggalkan kesempatan “selangkah” itu rasanya buang waktu juga. Hidup itu terbatas. Harus ada penyelesaian atas kasus ini yang mulai menggerogoti waktu berpikir saya. Di antara 2 pilihan, prioritas mana yang akan dipilih, rugi beban atau rugi waktu. Penyelesaiannya belum saya dapatkan dalam waktu dekat ini.

Itulah kegelisahan kawan saya kepada saya di suatu malam yang rintik di bulan Februari tahun ini. 

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: