Beranda > Umum > Babel: Masa Kejayaan

Babel: Masa Kejayaan

Tower of Babel (painting)Berbicara mengenai Babel, maka pikiran kita akan melayang kepada suatu subjektifitas kurang baik terhadap kata tersebut. Babel dalam bahasa Ibrani bisa berarti dicampakkan, sedangkan dalam bahasa Akadia diartikan sebagai Gerbang Tuhan. Jika melihat kedua arti tersebut dan dihubungkan dengan sejarah Babel, kedua arti tersebut ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Babel. Saat saya bersekolah, Babel dikatakan sebagai sosok antagonis dalam kehidupan bangsa pilihan Tuhan, Israel. Mengapa? Menurut apa yang diajarkan pada saya, pada zaman Kerajaan Babel berkuasalah, Bait Suci Salomo dihancurkan hingga rata dengan tanah. Banyak perbendaharaan dari Bait Suci tersebut diangkut ke Babel. Dan yang paling mengerikan adalah dideportasinya orang-orang Yahudi dari Yerusalem dan seluruh Yehuda ke Babel. Oleh karena itu, Babel berhak menerima hukuman atas perbuatan mereka. Sama seperti Menara Babel yang diserakkan Tuhan, begitu pula yang terjadi atas Kerajaan Babel. Memang itulah yang terjadi.

Tetapi, di satu sisi, arti Babel sebagai Gerbang Tuhan tidak bisa disebut sebagai subjektifitas orang-orang pada masa itu. Pada zaman itulah, Babel (Neo-Babylonian Empire), suatu kemajuan terjadi. Herodotus, sejarawan kelahiran Yunani, menggambarkan Babel yang merupakan pusat kekuasaan kerajaan yang glamor yang pernah ada di dunia. Kota tersebut dibangun atas penelitian yang dalam mengenai platform kuno dari kota-kota yang ada pada peradaban Mesopotamia Kuno. Babel penuh dengan kuil-kuil pagan yang dipuja oleh bangsa Kasdim, yang diantaranya merupakan budaya Mesopotamia sendiri seperti Ishtar atau Enlil.

Kerajaan Babel Baru (Neo-Babylonian Empire)

Mesopotamia adalah suatu wilayah subur yang kini terbentang di wilayah Timur Tengah. Membentang dari Sungai Tigris hingga wilayah Anatolia di timur, melewati kawasan Kanaan yang kini menjadi wilayah Negara Israel dan Palestina. Bangsa Yunani yang menamakan kawasan itu Mesopotamia. Kawasan bulan sabit yang subur. Mungkin karena itu, kekaisaran Ottoman mengambil lambang bulan sabit (dan bintang) sebagai lambang kekaisarannya. Di kawasan ini pula sering dianggap sebagai asal mula peradaban (cradle of civilization) oleh para ahli. Peradaban di kawasan subur Sungai Tigris dan Sungai Efrat ini melahirkan berbagai macam peradaban yang makin hari makin maju, dan akhirnya satu per satu runtuh. Dimulai dari Eridu sampai pada Babel yang kemudian direbut oleh Persia dan menghilang secara perlahan. Di sini pula, kemungkinan, bangsa Yunani mempelajari bentuk pemerintahan city-states (kota Negara).

Dalam kawasan ini pula lah, yang menjadi saksi bisu, bagaimana Tuhan bekerja sebagai yang mengangkat raja dan menyingkirkan raja. Satu per satu raja berkuasa di kawasan ini, dan hilang perlahan ditelan sejarah. Dimulai dari raja-raja Sumeria hingga berakhir pada raja Nabonidus dari Babel. Jika diberi daftar raja, maka akan ada ratusan raja yang silih berganti menduduki singgasana, berkuasa, dan digantikan yang lain. Entah oleh penyakit, pengkhianatan, peperangan, bencana, dan sebagainya.

Di tempat inilah kota Babel yang megah itu berkembang. Bekas reruntuhannya masih bisa dijumpai saat ini jika kita berkunjung ke Negara Irak, tidak jauh dari kota Baghdad. Yeremia 51:13a menggambarkan Babel sebagai kota yang mempunyai kekayaan besar. Posisi Babel yang berada di antara Sungai Efrat dan Sungai Tigris memungkinkan perdagangan terjadi. Ibaratnya, Babel adalah pusat perdagangan saat itu.

Kota ini telah ada sebelum Nebukadnezzar menjadi raja atasnya. Babel dianggap sebagai pusat peradaban baru menggantikan Ur yang runtuh akibat serangan bangsa barbar. Para penduduk dari Ur berimigrasi ke Babel yang telah tidur pulas karena ditinggalkan penduduk sebelum-sebelumnya. Babel menjadi salah satu kota kesayangan di bawah kekaisaran Asiria, yang walaupun berulang kali melakukan perlawanan tapi tidak dihancurkan sepenuhnya. Malahan Asiria yang dihancurkan oleh Babel di bawah pimpinan Nabu-Apla-Usur atau Nabopolassar dan anaknya Nabu-Kudurri-Usur atau Nebukadnezzar bersama aliansinya Media dan Persia serta orang-orang Lidia. Menggempur Niniwe, kota yang paling megah pada saat itu, meratakannya. Semua perbendaharaan kota tersebut dibagi-bagikan dan perpustakaan yang dibangun oleh Ashurbanipal diambil pengetahuannya. Babel hadir, berdiri kokoh menggantikannya.

Babel dahulu adalah kota yang kuat ketika Hammurabi berkuasa. Dengan hukumnya yang tegas dan mengerikan, Babel merasakan masa jayanya. Tapi, setelah Hammurabi wafat, Babel kehilangan kegemilangannya dan berubah kembali menjadi tempat yang terlupakan seperti Eridu. Yeremia 51:9a memberikan gambaran bahwa Babel mau dipulihkan, entah itu perilaku dari orang-orang yang mendiami Babel atau kerajaan itu sendiri tidak dijelaskan dengan gambling di sana. Ada kemungkinan kota itu menjadi sombong dan angkuh sehingga memandang remeh bangsa-bangsa di sekelilingnya.

Ketika Nebukadnezzar bertahta di Babel, banyak kondisi yang memungkinkan Babel mengambil alih posisi Asiria sebagai penguasa Mesopotamia. Dalam buku Susan Wise Bauer dikatakan bahwa bangsa yang paling kuat untuk menantang Babel adalah bangsa Midia dan jajahannya Persia. Bangsa-bangsa lain seperti Lidia, Scythia, dan Yunani tidak menjadi ancaman serius bagi Babel. Bangsa Midia terikat kekerabatan dengan Nebukadnezzar dalam hal pernikahan. Isteri dari Nebukadnezzar adalah anak dari Raja Midia saat itu, Cyarxes. Hal tersebut memberi peluang bagi Nebukadnezzar untuk memperkuat armada perang Babel, memperkuat pertahanan ibukota Babel, dan melancarkan serangan ke kerajaan-kerajaan yang belum menjadi milik Babel.

Dalam 2 Raja-Raja 24:1 dikatakan bahwa Raja Yehuda saat itu, Yoyakim, telah menjalin aliansi dengan menjadi kerajaan taklukan Babel. Yoyakim yang ketakutan karena armada perang Babel menghancurkan dan merebut wilayah-wilayah merdeka. Hal ini menggenapi nubuatan Yeremia dalam Yeremia 51:20-23 tentang naiknya Babel sebagai senjata perang Allah yang menghancurkan bangsa-bangsa yang melawan-Nya termasuk Yehuda.

Bangsa Mesir yang berkembang sepanjang aliran Sungai Nil di bawah Raja Nekho II menjadi salah satu ancaman Babel. Ketika Nekho II berniat berperang melawan Babel, dia meminta Yoyakim untuk ikut serta sehingga raja Yehuda tersebut memutuskan hubungan dengan Babel, menghentikan upeti ke Babel, dan membuat Raja Babel murka dan mengirimkan armada perangnya ke Yehuda dan Mesir. Seperti yang dikatakan dalam Yeremia bahwa Babel adalah senjata perang Allah, Nebukadnezzar dan pasukannya maju berperang melawan Nekho II pada tahun 602-601 SM. Armada perang Babel memukul mundur pasukan Mesir hingga ke wilayahnya sendiri, yang kemudian menduduki sebagian wilayah Mesir.

Babel mengarahkan pasukannya ke Yerusalem setelah mengalahkan pasukan Mesir. Tapi, dalam buku Susan Wise Bauer, mengatakan ada jarak sekitar 4 tahun ketika Babel mengalahkan Mesir dan kemudian berperang menuju Yerusalem. Artinya, bahwa saat mengalahkan Mesir, Babel kehilangan materi yang cukup banyak sehingga membutuhkan waktu untuk mengembalikannya. Peran Tuhan dalam Babel sangat jelas terlihat, di mana semua ancaman yang mengancam Babel ketika lemah ditiadakan. Babel mampu berkonsentrasi terhadap pemulihan kekuatan perangnya dan mulai mengarahkan pasukannya ke Yerusalem.

Di Yerusalem sendiri, ketika 4 tahun itu lewat, telah terjadi pergantian kekuasaan dari Yoyakim ke anaknya Yoyakin. Hal itu terjadi ketika beberapa minggu sebelum pasukan Babel mencapai tembok-tembok Yerusalem. Pada kedatangan pertama pasukan Babilonia, mereka belum menghancurkan Yerusalem dan masih membiarkannya berdiri. Hanya saja, harta Yerusalem seperti benda-benda suci di Bait Allah dan istana dirampas emasnya. Hal ini untuk menggenapi nubuatan Yesaya terhadap Raja Hizkia (Yesaya 39:5-8). Ada kemungkinan, barang-barang tersebut dirampas untuk melunasi hutang upeti Raja Yoyakim yang terhenti sebelumnya. Karena, menurut kebiasaan-kebiasaan di wilayah Mesopotamia, peperangan berakhir dengan penghancuran. Hal itu terlihat pada kota-kota kuno Eridu, Uruk, Mari, hingga Niniwe. Yerusalem masih diberikan kesempatan. Yoyakin dibawa ke Babel bersama sepuluh ribu penduduk Yehuda yang memiliki keterampilan.

Sebelum penghancuran total Yerusalem oleh Nebukadnezzar pada tahun 587 SM, Babel bermetamorfosis menjadi salah satu kota paling megah di dunia pada masa itu. Babel menjadi kota metropolis yang megah dan hedon (Biografi Yerusalem; p: 42). Tembok-tembok Babel menjulang tinggi dengan gerbang-gerbangnya yang indah yang terdiri atas bata-bata biru dan bergambar banteng liar dan naga dalam warna kuning. Keadaan tanpa penantang membuat Babel dengan leluasa membangun diri dan memperkuat pertahanan ibukotanya. Nebukadnezzar merestorasi dan menambah kuil-kuil yang memuja Marduk. Prasasti Raja yang menggambarkan pembangunan Babel yang megah seperti yang dikutip dalam buku Paul Kriwaczek yang berjudul Babilonia:

“Jalan Babilonia ini terletak makin rendah, aku (Nebukadnezzar) runtuhkan gerbang-gerbangnya dan meninggikan dasarnya sama tinggi dengan air dengan aspal dan batu bata. Aku menyuruh mereka mengganti batu bata dengan batu biru (bata berlapis azuli yang merupakan khas Mesopotamia) yang digambari banteng dan naga dengan mengagumkan. Aku menutup atapnya dengan meletakkan pohon cedar memanjang di atasnya. Aku perbaiki pintu-pintu dari kayu cedar dihiasi dengan perunggu pada semua gerbang. Aku menempatkan banteng liar dan naga ganas di pintu gerbang, lalu menghiasi mereka dengan megah dan mewah sehingga orang-orang akan melihat dan mengagumi mereka.”

Gerbang Ishtar di Museum BerlinPembangunan kota Babel ini telah dimulai sejak Nabopolassar berkuasa namun rupanya terhenti akibat perang dengan Asiria. Setelah Nebukadnezzar berkuasa, dia sudah merancangkan kota yang diimpikan oleh ayahnya namun belum kesampaian karena adanya ancaman dari bangsa-bangsa lain seperti Mesir dan Yehuda. Sebuah buku tentang Mesir dan Babel keluaran The British Museum menggambarkan kota Babel yang megah, dengan sungai Efrat mengalir di tengah kota dan akses perahu dikendalikan pada gerbang-gerbang besi. Jembatan batu terbentang sepanjang sungai yang menghubungkan sisi kota yang satu dengan yang lain. Kuil-kuil pagan dan istana megah raja berada dalam kota yang seluas 10 kilometer dengan tembok-tembok tinggi setebal  5 meter. Nebukadnezzar juga membangun sebuah menara kuil dengan 7 tingkat untuk memuja dewa Marduk. Platform Pondasi Surga dan Bumi adalah Menara Babel sesungguhnya, banyaknya bahasa yang digunakan mencerminkan besarnya ibu kota kosmopolitan itu di seantero timur dekat.

Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: