Beranda > Umum > Pencapresan Jokowi (Bukan) Hanya Euforia

Pencapresan Jokowi (Bukan) Hanya Euforia

Akhirnya, Joko Widodo atau Jokowi mendeklarasikan dirinya sebagai Calon Presiden 2014 yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Seakan peristiwa itu adalah penantian panjang rakyat terhadap sosok yang menarik perhatian sepanjang beberapa tahun belakangan ini. Peran media massa dalam mengekspos kegiatan-kegiatan Jokowi, hingga hal-hal yang berlebihan lain telah membentuk suatu euforia dalam masyarakat kita saat ini. Dan pertanyaannya, apakah majunya Jokowi hanyalah euforia semata daripada kekosongan negarawan?

Kekecewaan rakyat hingga saat ini adalah akumulasi kegagalan pemerintah dalam usahanya memperbaiki kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Korupsi menjalar dalam sistem pemerintahan di hampir seluruh negeri ini, makin menggenaskan adalah tindakan hukum yang diberikan kepada para pelaku korupsi tidak sebanding dengan kejahatannya. Pemerintah juga belum mampu menjamin kesetaraan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia, otonomi daerah yang rapuh dan setengah hati, penyediaan lapangan pekerjaan yang sangat bergantung pada keterlibatan asing sehingga asing menguasai sumber-sumber ekonomi yang penting di negeri ini, ketimpangan proses peradilan, serta perlindungan keamanan terhadap rakyatnya. Beberapa tahun belakangan ini kita sering dihadapkan dengan kasus-kasus kekerasan, di mana aparat abai melindungi rakyat. Kasus Mesuji dan kasus Bima adalah bagian kecil dari kasus-kasus kekerasan yang terjadi belakangan ini.

Dalam menjamin kebebasan beragama, negara kalah terhadap kepentingan kelompok dan tidak mempunyai taji. Kekerasan yang mengatasnamakan agama terus meningkat dari tahun ke tahun. Misalnya, pada 2010 terjadi 62 kasus, pada 2011 menjadi 92 kasus, 2012 menurut SETARA Institute ada 264 kasus. Keadaan ini akibat adanya pengaruh kelompok garis keras yang memprovokasi warga, namun di satu sisi negara tidak tegas dan menjadi lemah ketika menghadapi aktor-aktor kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Sebuah survey yang pernah dilakukan oleh Kompas pada 2011 memberikan sebuah gambaran nyata terhadap pemerintahan saat ini yang telah berlangsung selama 2 dekade. Survey memperlihatkan bahwa rakyat melihat para pemimpin-pemimpin saat ini makin tidak jelas dalam menentukan arah negara Indonesia. Sejak awal periode ke 2 pada 2009 terus mengalami peningkatan hingga 2011. Pada 2009: 43,8%, 2010: 59,6%, dan 2011: 71,8%.

Penerapan Pancasila sebagai ideologi hidup berbangsa dan bernegara hanya sekedar kata-kata yang mengakibatkan “inflasi kata”. Pemerintah menghadapi problem yang bernama Pepesan Kosong, yang substansinya tidak digali secara akademis sehingga terlontar begitu saja dari mulut mereka.

Slogan anti-korupsi pula hanyalah embel-embel manis dari pemerintah status quo. Korupsi melanda partai-partai besar, yang kebanyakan pendukung pemerintah. Partai sebesar Partai Keadilan Sejahtera yang sebelumnya bersih pun tidak lepas dari lingkaran setan ini. Korupsi adalah kejahatan luar biasa dalam hidup bernegara, dan pemerintah tidak memiliki konsep yang jelas bagaimana kita meminimalisir kejahatan yang sudah menjadi budaya ini.

Akibatnya, banyak rakyat yang hidup dalam pesimisme selama ini. Perubahan yang menjadi slogan era reformasi tidak pernah terjadi, malah semakin terlihat belang didikan era-era sebelumnya. Era yang dijanjikan lebih baik tidak pernah terwujud. Menjelang tahun yang ke 17 Reformasi, negara kita masih hidup dalam perilaku status-quo era sebelumnya. Korup!

Hadirnya beberapa pemimpin yang berbeda ditanggapi negatif oleh mereka yang tidak ingin perubahan. Perubahan-perubahan yang dijanjikan oleh partai-partai yang berada dalam lingkaran kekuasaan tidak pernah terjadi, yang ada hanyalah tontonan sinetron yang seronok akan kejahatan mereka. Publik saat ini bukanlah publik yang bisa dininabobokan dengan kata-kata manis ala pemerintah. Publik menilai terhadap tindakan nyata pemerintah, bukan menilai kata-kata yang terlampau tinggi tapi tanpa tindakan. Nol besar!

Kehadiran Jokowi bukanlah sebatas euforia. Kehadiran Jokowi sudah dinanti dengan sabar oleh rakyat yang menginginkan perubahan. Perubahan yang bukan sekedar mengubah angka-angka ekonomi per kapita masyarakat, tapi lebih dari itu, perubahan yang menuntut perubahan pola pikir dalam berbangsa dan bernegara. Penerapan ideologi Pancasila yang bukan hanya sekedar baca, tulis, dengar, dan cuap-cuap di media massa tapi dihidupkan dalam kehidupan rakyat Indonesia. Jokowi bukanlah simbol euforia seperti para tokoh-tokoh reformasi yang menumbangkan rezim, tapi simbol kemauan bersama. Simbol pergerakan untuk menuju Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang benar-benar merdeka dari kepentingan-kepentingan satu-dua kelompok yang subjektif dan hipokrit.

Jokowi tidak terikat tindakannya menurut partai semata, selama ini tindak-tanduk beliau tidak pernah diatur-atur oleh Partai. Beliau adalah pemimpin. Pemimpin yang menduga perasaan rakyat dan memberikan jalan kepada perasaan itu, melahirkan kewajiban untuk menggerakkan rakyat. Indonesia saat ini bukan berada pada zaman pergerakan untuk mencapai kemerdekaan, tapi zaman di mana pergerakan terus ada untuk membawa, menjaga, dan melindungi Indonesia menuju cita-cita yang tertera dalam Pembukaan UUD 1945.

Dalam otobiografi Bung Hatta pada buku tentang Berjuang dan Dibuang, ada sebuah ungkapan yang beliau kutip dari cerita ayam jantan Egmond Rostand. Ungkapan itu mengatakan, hari mulai siang bukan karena ayam berkokok, melainkan ayam berkokok karena hari mulai siang! Sama seperti kehadiran Jokowi dalam Pemilihan Presiden nanti, bahwa pergerakan rakyat mendukung Jokowi bukan karena Jokowi ada, melainkan Jokowi ada karena pergerakan rakyat menuntut perubahan!

Iklan
Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: