Beranda > Umum > Nilai Seorang Pemimpin oleh Bung Hatta

Nilai Seorang Pemimpin oleh Bung Hatta

Bung Hatta dalam otobiografinya terdapat sebuah bagian yang membahas kepemimpinan. Bung Hatta adalah salah satu sosok dari banyak founding fathers Indonesia. Tokoh Proklamator dalam otobiografinya menceritakan tentang karangannya dalam Daulat Ra’yat no. 72, 10 September 1933 yang berjudul Pemimpin Majalah dan Anggota Dalam Pergerakan. Tulisan ini, dalam otobiografinya, ditujukan kepada para kader PNI (Pendidikan Nasional Indonesia) yang di dalamnya Bung Hatta terlibat. Karangannya menarik pada saat ini, ketika Indonesia akan menyelenggarakan Pemilihan Umum pada tahun 2014. Karangannya masih relevan dengan keadaan zaman sekarang, di mana negara yang dengan susah payah didirikan oleh Bung Hatta dan rekan-rekan perjuangan lainnya menjadi negara “auto pilot”. Judul bagian karangan dari Bung Hatta adalah Nilai Seorang Pemimpin.

Nilai Seorang Pemimpin oleh Bung Hatta

Menduga perasaan rakyat dan memberikan jalan kepada perasaan itu keluar kewajiban yang amat sulit dan susah. Itulah kewajiban leadership! Caranya memenuhi kewajiban itu bergantung pula pada waktu dan tempat.

Ambillah sebagai contoh sejarah Rusia sebelum perang besar, ambillah sejarah Italia sebelum ia bersatu dan merdeka, ambillah pula sejarah Indonesia sendiri. Apa yang kita katakan itu akan ternyata semuanya.

Rakyat yang banyak pada mulanya tidak tahu bergerak apa-apa, sungguh pun sakit dan gusar yang ditanggungnya hampir tidak tertahan lagi. Langkah terikat oleh ketiadaan pengetahuan pandangan sayap oleh kekurangan penerangan. Sitani yang miskin dan bodoh mempunyai alam pikiran yang tidak lebih luas daripada batas tanah yang dikerjakannya. Paham tertutup dan ingatan tak lain daripada memikirkan bagaimana makan dari sehari ke sehari dan bagaimana membayar pajak kalau pegawai datang menagih. Dalam rasa sakit yang seperti itu, dalam tindakan yang menutup kalbu, banyak orang tawakal saja kepadanya, menyerahkan untung kepada “apa boleh buat”. Apalagi di zaman despotisme yang tidak terhingga, seperti di Rusia dahulu. Orang takut akan murka rajanya, yang gampang membuang orang ke Siberia. Berkata tidak berani karena takut akan mendengar oleh mata-mata rahasia yang mempunyai kuping di mana-mana.

Siapakah berani mengatakan bahwa rakyat yang hidup semacam itu tidak mempunyai perasaan dan kemauan? Selagi manusia tinggal manusia, ia insaf akan nasibnya, berapa juga bodoh dan bebalnya. Hanya ada perbedaan antara rakyat dan rakyat. Yang satu lekas mencari jalan sendiri dan yang lain lambat bergerak. Di sinilah tempatnya pemimpin, menduga apa yang terasa dalam hati rakyat, menggerakkan apa yang tidak bisa berjalan sendiri, menyuluhi jalan yang masih gelap di mata rakyat, tetapi telah terkandung di hatinya. Pemimpin mengemudikan apa yang sudah dikehendaki oleh rakyat. Itulah sebabnya pemimpin lekas dapat pengikut dan pergerakan yang dianjurkan cepat berkembang.

Sebelum pemimpin ada dengan pergerakan, yang menjadi juru bahasa hati rakyat terdapat kaum terpelajar, pemuda-pemudi yang sudah mendapat pelajaran sekolah. Hatinya sedih melihat nasib rakyatnya yang begitu melarat. Dalam hatinya terasa suruhan untuk membela nasib rakyat jelata itu. Belas kasihan melihat keadaan rakyat, itulah yang menjadi sebab mula-mula, maka kaum terpelajar dan pemuda-pemuda anak bangsawan maju ke muka, menceburkan diri sebagai pembuka jalan kepada orang banyak. Dengan bukti ia akan memberikan contoh kepada orang banyak, bagaimana harus bergerak menuntut perbaikan nasib. Dan, dengan korban, ia hendak memberikan contoh supaya perbuatan itu diikuti oleh rakyat yang banyak. Dengan tiada gentar dan takut, seorang pemuda tadi memajukan aksinya, berpropaganda ke mana dengan rahasia, untuk membangunkan semangat rakyat yang tertutup. Demikianlah keadaan di Rusia pada zaman Tzarisme, demikian juga di Italia pada waktu Mazzini dan Garibaldi menganjurkan persatuan dan kemerdekaan tanah air. Supaya rakyat yang banyak terbangun dan tahu menuntut hak-haknya, orang-seorang berkorban, hidup dalam bui dan sengsara dalam pembuangan.

Inilah masa “romantisme” dalam pergerakan kemerdekaan. Penganjur-penganjur, yang belum lagi bernama pemimpin, berkorban supaya terbuka jalan bagi pergerakan rakyat, supaya perasaan rakyat yang tertutup dalam hati dapat mencari jalan keluar.

Setelah terbuka mata rakyat, individuele-actie berganti massa-actie, yaitu aksi orang banyak yang tersusun sebagai satu badan. Dengan itu, timbullah leiderschap, pemimpin yang mempunyai pekerjaan tertentu. Ia mengemukakan apa yang terasa oleh rakyat, yang tidak dapat dikeluarkannya sendiri. Di sini timbul organisasi rakyat yang mempunyai semangat sendiri, gelagat dan sifat sendiri. Pendeknya, timbul satu collective psyche dan “kemauan bersama”, yang dikemudikan oleh pemimpin.

Pada satu ketika, kemauan bersama itu tampak keluar dengan jelas. Misalnya pada kongres, pada rapat umum, dan pada beberapa keputusan yang diambil dalam rapat tertutup dan diumumkan. Pada waktu anggota-anggota tidak berkumpul, pemimpin itulah yang menjadi juru bahasa (tolk) perasaan dan kemauan pergerakan. Semuanya ini menyatakan bahwa tiap-tiap organisasi itu mempunyai jiwa sendiri dan kemauan sendiri. Dan inilah yang dianjurkan dan dikemudikan oleh pemimpin. Tidak lain kedudukan pemimpin. Sejak ayam jantan yang berkokok sebab hari akan siang, pemimpin bersuara sebab pergerakan dan rakyat mempunyai kehendak.

Kebenaran ini ternyata pula dengan jelas dalam sejarah pergerakan umum. Kalau seorang pemimpin menyimpang dari dasar organisasinya, kepercayaan rakyat hilang kepada dia dan ia disingkirkan dari pimpinan. Dan, kalau ia terlalu melewati batas, ia dilemparkan ke luar organisasi. Jalan pemimpin adalah terutama juru bahasa daripada rakyat. Betul dialah yang menyusun politik, program partai, dan lain-lainnya, tetapi bukti ini tidak lain daripada menyatakan kemauan bersama.

Dalam pergerakan rakyat, pada suatu masa organisasi, sikap pemimpin mestilah cocok dengan yang dipimpin. Tidak dapat pemimpin berbuat sesuka-sukanya, sedangkan seorang diktator pada waktu sekarang terbatas memperhatikan semangat dan perasaan yang hidup dalam hati rakyat. Dalam pada itu, pemimpin bukan pula budak pergerakan semata-mata. Ia menduga perasaan rakyat, penganjur dan juru mudi pergerakan. Dan, pemimpin yang cakap dan populer dapat melaksanakan teguhnya organisasi. Akan tetapi, pekerjaan pemimpin sedikit hasilnya kalau tidak dibantu dengan majalah dan tidak dibantu oleh anggota-anggota dengan memperkuat partai.

Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: