Beranda > Olah Raga > 4-2-3-1 dan Kondisi AC Milan

4-2-3-1 dan Kondisi AC Milan

4231Menjadi fan sebuah klub terkenal seperti AC Milan memang agak susah. Setelah mengalami masa-masa gemilang pada periode 2000 hingga 2013, Rossoneri seakan tenggelam pada tahun ini. Menyebalkannya lagi adalah kita hanya menjadi sebuah fan yang tidak bisa berbuat banyak untuk klub tersebut selain tetap mendukungnya. Dukungan yang diberikan pun terbatas, seperti membeli merchandise resmi klub, ikut nonton bareng (sesuatu yang saya jarang lakukan terutama untuk AC Milan), dan tetap berdoa untuk klub kesayangan. Di luar itu, kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Pada awal tahun, manajemen klub menunjuk bekas pemain pada era gemilang yaitu Clarence Seedorf untuk melatih Rossoneri. Penunjukkan itu terkait jebloknya penampilan AC Milan pada putaran awal musim 2013/2014 yang mengakibatkan dipecatnya Massimiliano Allegri dari kursi kepelatihan. Kekalahan 3-4 dari Sassuolo menjadi akhir dari pelatih yang berhasil membawa AC Milan juara pada 2010/2011 yang ke 18 kalinya. Titik itu adalah titik terendah AC Milan sepanjang 3 tahun terakhir. Titik nadir tersebut diperparah tiadanya perbaikan setelah mendatangkan bek sekelas Adil Rami dan trequartista Jepang Keisuke Honda. Titik didih sang presiden, The Godfather, pun naik dan memecat pelatih tersebut. Penunjukkan Seedorf dianggap sebagai bagian meregenerasi AC Milan untuk menapaki kembali ke tempat mereka seharusnya berada, papan atas.

Sejauh ini, Seedorf menggunakan 1 pakem formasi yaitu 4-2-3-1. Formasi 4-2-3-1 adalah formasi yang umum saat ini. Dipakai oleh beberapa tim di Spanyol seperti Valencia, dan tim-tim kecil lain. Di Jerman, formasi ini berkembang pesat seperti yang diperlihatkan Borussia Dortmund pada tahun 2013 yang menunjukkan betapa mematikannya formasi tersebut. Ada 3 hal yang menjadi alasan mengapa 4-2-3-1 begitu populer di kalangan klub-klub dan begitu umum untuk menerapkannya, yaitu:

  1. Peran para pemain jelas. Memang formasi ini sederhana, 4 pemain belakang dengan kedua sisi sayapnya naik turun, kemudian 2 gelandang bertahan yang berfungsi sebagai pendistribusi bola dari pertahanan ke para pemain depan dan berfungsi sebagai penahan serangan pertama ketika mendapat serangan balik. 3 pemain di belakang seorang striker lebih banyak berkutat untuk menyerang dari 3 sisi (tengah, kanan, dan kiri), serta seorang striker yang mobile bergerak dan berfungsi sebagai titik serang. Formasi lebih mengalir ketimbang formasi 4-4-2 tradisional yang sering memainkan bola-bola panjang.
  2. Dengan peran pemain yang jelas, formasi ini menjadi formasi alternatif untuk menutup masalah bahwa para pemain memiliki waktu berlatih bersama begitu terbatas. Formasi ini bisa dibilang formasi yang tidak awet, jarang klub yang mempertahankan formasi ini lebih dari 5 tahun. Inter Milan pada era Jose Mourinho adalah salah satu era di mana formasi ini begitu mematikan yang menghasilkan treble. Tapi setelah Mourinho pindah, Inter kehilangan pakem ini dan gagal melanjutkan pola ini sehingga permainan mereka terbaca dan hasilnya, pelatih sekelas Rafael Benitez harus angkat kaki.
  3. Pemain di setiap posisi pada formasi 4-2-3-1 paham apa yang harus mereka lakukan tanpa perlu diinstruksikan banyak. Sama seperti pola 4-4-2, formasi ini mudah dimengerti setiap perannya sehingga pelatih hanya membutuhkan motivasi-motivasi untuk pemain agar workrate mereka meningkat. Kecuali ada perubahan dalam peran, misalnya ketika Samuel Eto’o dan Goran Pandev lebih bertindak sebagai defensive winger ketimbang attacking yang membuat trequartista dan striker Inter Milan saat itu lebih bebas untuk bergerak.

Dengan alasan seperti itu, maka saya seakan paham mengapa Clarence Seedorf memilih pola demikian. Jangka panjang yang dimiliki oleh “pelatih anyar” ini adalah mengembalikan sepakbola atraktif milik Leonardo yang pada masa itu disebut 4-2-Fantasia (padahal Silvio Berlusconi marah kepada Leonardo dengan alasan “Mainkan (Alexandre) Pato di tengah, jangan biarkan dia berada jauh dari gawang). Sah-sah saja bagi seorang pelatih menetapkan rencana jangka panjang tersebut (bagi saya sementara ini adalah jangka 2,5 tahun kontrak). Dan pakem 4-2-3-1 adalah langkah awal untuk memulai transisi, yang pada era Leonardo diawali dengan kekalahan telak 0-4 dari Inter Milan.

Setelah berdiskusi dengan guru transfer Milan, Adriano Galliani, Clarence Seedorf mendapat lampu hijau untuk mendapatkan pemain (dana yang sangat terbatas karena transfer hanya sebatas peminjaman) yang diinginkannya untuk pola baru tersebut. Pemain AC Milan, sebagian besar, sudah terbiasa dengan pola 4-3-2-1 atau 4-3-1-2 atau 4-3-3 pada era Ancelotti maupun Allegri. Dengan mengubah pakem menjadi 4-2-3-1 untuk pertama kalinya AC Milan mengincar pemain yang berposisikan winger! Pemain winger murni yang direkrut Milan sebelumnya hanya Serginho, Marek Jankulovski dan Andreas “Guly” Guglimimpietro. Dan saat itu, Milan mencari pemain yang jarang mereka beli tersebut. Pemain-pemain seperti Allesio Cerci sulit didapat, pendekatan Milan terakhir adalah pada Jonathan Biabiany dari Parma yang juga ujungnya gagal karena klub pemilik menginginkan penjualan bukan peminjaman. Akhirnya seorang pemain “flop” bernama Adel Taarabt dipinjam dari QPR setelah gagal (pada masa peminjaman juga!) di Fulham. Seedorf menambah 1 gelandang bertahan untuk melapis duo Ricardo Montolivo dan Nigel de Jong, yaitu Mikael Essien. Kedatangan Essien membuat Antonio Nocerino menjadi tumbal. Allesandro Matri juga dipinjamkan ke Fiorentina (satu-satunya kesalahan Allegri dan kesalahan lain dari Milan karena meminjamkan ke klub rival).

Hasilnya? 11 pertandingan dilalui, AC Milan menelan kekalahan 6 kali! 3 kekalahan mengakibatkan Milan tersingkir dari Coppa Italia dan UEFA Champions League (kalah dari Udinese dan Atletico Madrid), 3 kekalahan lain masing-masing dari Napoli, Juventus, dan Udinese di kancah Serie A. Dalam pertandingan tersebut, permainan AC Milan tidak buruk-buruk amat, menguasai pertandingan pada awal tapi gagal dalam penyelesaian akhir serta pertahanan yang kurang fokus menjadi momok. Sisi pertahanan menjadi sorotan dalam 11 pertandingan tersebut karena telah kebobolan 15 kali. Penyerangan?? Hanya mencetak 10 gol (artinya kurang dari 1 gol per pertandingan).

Pelatih anyar Rossoneri ini rupanya masih keukeuh dengan formasi jangka pendek ini. Di sisi lain, Seedorf belum memanfaatkan dengan baik para pemain yang memiliki potensi seperti Andrea Poli ataupun Keisuke Honda. Pemilihan lini pertahanan pun diisi oleh Daniele Bonera yang notabene pemain yang sering blunder. Cederanya Cristian Zapata dan naik-turunnya penampilan Philip Mexes mengurangi kedalaman pemain bertahan Milan. Untungnya, Adil Rami mampu tampil baik selama ini. Mario Balotelli juga belum menunjukkan daya serangnya padahal pemain berdarah Ghana ini ditopang oleh para gelandang sekelas Montolivo, Kaka, maupun Honda.

Ada 2 kelemahan pada AC Milan, yang dirangkum oleh seorang blogger pecinta Milan, pada formasi 4-2-3-1 ini, yaitu:

  1. Kekurangan pemain yang berposisi winger. Ignazio Abate pernah dicoba oleh Clarence Seedorf untuk mengisi sisi kanan, padahal Abate adalah seorang wing back. Posisi false winger pada zaman Allegri pada pola 4-3-3 diisi oleh Stephan El Shaarawy dan Kevin Prince Boateng yang dilapis oleh M’baye Niang dan Robinho. El Shaarawy entah kapan sembuh dari cederanya (Alexandre Pato pernah komplain mengenai tim medis di Milan), Kevin Boateng sudah hijrah ke Jerman, M’baye Niang sementara menimba ilmu di Perancis, dan Robinho kadang berkutat dengan inkonsistensinya. Dengan masalah-masalah tersebut, wajar kalau Seedorf ingin menambah lagi 1-2 pemain yang murni seorang winger untuk formasi yang akan dipakainya. Hanya Adel Taarabt yang berhasil didatangkan. Taarabt sendiri bukanlah seorang winger murni. Dia sama seperti Kevin Boateng yang diuji coba menempati posisi winger dan berhasil. Ketiadaan pemain yang memiliki high versatility untuk memenuhi formasi ini membuat Seedorf kesulitan memperoleh hasil maksimal. Dia sudah berusaha menggeser Keisuke Honda ke sisi sayap kanan tapi malah kurang menunjang, menggeser Ignazio Abate ke depan tidak berfungsi baik. Sudah saatnya Seedorf mulai memikirkan pola lain untuk mengarungi sisa musim ini. Peran winger dalam formasi ini sangat menentukan. Dan,
  2. Lemahnya dual-pivot yang dimiliki Milan. Apa langkah yang dilakukan Jose Mourinho pertama kali ketika melihat potensi Inter? Membeli Thiago Motta! Diego Milito? Dia hanya mengganti peran Zlatan Ibrahimovic yang hijrah ke Barcelona. Samuel Eto’o pun dianggap pelengkap lini depan Inter. Duet Thiago Motta dan Esteban Cambiasso membuat lini tengah Inter kuat dalam bertahan dan efektif dalam menyerang. Pada masa-masa belakangan ini, pemain-pemain gelandang bertahan yang bisa mengisi dual-pivot dalam formasi 4-2-3-1 atau single holding-midfield dalam formasi 4-3-3 dibandrol dengan mahal. Seorang Javi Martinez berharga 40 juta Euro kala diboyong Bayern Muenchen dari Athletic Bilbao! Fernandinho (dan usianya sudah menginjak 28 tahun!) dihargai kurang lebih 37 juta Euro oleh Manchester City untuk mendampingi Yaya Toure (salah satu pemain yang bergaji tinggi di City), Xabi Alonso emoh dilepas Real Madrid yang bahkan membeli  Illaramendi senilai 35 juta Euro, contoh lain lagi adalah Blasé Matuidi diperpanjang kontraknya oleh PSG dengan gaji wah. Pemain lain seperti Paul Pogba bahkan sudah bernilai 40 juta Euro saat ini padahal Juventus hanya mendapatkannya gratis, belum lagi Arturo Vidal. Dengan melihat keadaan di atas, maka peran gelandang bertahan sebagai pivot sangat berarti. Siapa saja yang dimiliki Milan? Selain Montolivo, Milan memiliki cukup banyak gelandang di posisi tersebut seperti Andrea Poli, Sulley Muntari, Nigel de Jong, Bryan Cristante, hingga Michael Essien. Sulley Muntari, Nigel de Jong, dan Michael Essien sudah melewati era keemasan. Andrea Poli tidak begitu meyakinkan dari segi fisik untuk menemani Montolivo (selain daripada peran Poli sudah bisa ditutup oleh il Capitano). Bryan Cristante masih terlalu hijau untuk bermain di level atas.

Jika pada musim mendatang Seedorf tetap akan mempertahankan formasi 4-2-3-1, kedua posisi di atas adalah hal utama untuk meminimalisir kesalahan seperti saat ini. Memang belum terlambat dalam soal waktu, tapi sudah sangat terlambat untuk menyelamatkan musim ini. Ada beberapa pemain yang bisa menjadi opsi musim mendatang seperti Alessio Cerci dan Jonathan Biabiany di posisi sayap. Pulihnya El Shaarawy bisa membuat Seedorf lebih banyak pilihan di sisi sayap. Mengembalikan pemain enerjik M’baye Niang adalah opsi terbaik karena duet El Shaarawy dan Niang musim lalu sangat baik. Untuk gelandang bertahan, sungguh disayangkan ketika Milan melepas Mathieu Flamini dan tidak mendatangkan pengganti yang sepadan. Umpamanya Milan masih bertahan dengan kebijakan “pemain pergi baru pemain datang”, melepas Urby Emmanuelson, Muntari, Nocerino, dan tidak mempermanenkan Essien adalah langkah yang jitu pada musim mendatang. Memberikan porsi bermain yang lebih pada Cristante dan Bartosz Salamon serta mendatangkan 1-2 pemain bertipe bertahan bisa menutupi kelemahan pada dual-pivot Milan yang terjadi saat ini.

Mengkritik bukan berarti tidak berharap Milan menang, semoga Milan akan terus menang di sisa musim ini dan musim depan menjadi suatu awal yang baru (lagi) buat Milan. Forza Milan!

 

sumber gambar: Google (keyword 4-2-3-1 AC Milan)

Iklan
Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: