Beranda > What I See > Arnold Mononutu

Arnold Mononutu

Arnold_mononutu_risTentu ada alasan mengapa ada nama-nama seseorang yang diabadikan menjadi nama sebuah jalan atau sebuah institusi. Bahkan sebuah jalan kecil seperti gang pun yang diberikan nama seseorang pastilah karena orang tersebut adalah orang yang spesial di wilayah tersebut. Misalnya, nama jalan Sam Ratulangi di Manado yang merupakan salah satu jalan utama, kemudian nama jalan MH Thamrin di Jakarta, ada Universitas Jendral Soedirman di Purwokerto, atau nama stadion Gelora Bung Tomo di Surabaya adalah contoh-contoh persona yang spesial di wilayah tersebut.

Suatu peristiwa pada akhir tahun 2013 tentang pengukuhan salah satu tokoh Sulawesi Utara, atau dipersempit lagi, salah satu tokoh Minahasa bernama Lambertus Nicodemus Palar atau yang lebih dikenal dengan nama Babe Palar dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional. Nama Babe Palar adalah hal yang lazim di Manado karena merupakan salah satu jalan utama di sana, tapi apa spesialnya hanya sedikit yang mengetahui. Begitu juga dengan tokoh seperti B.W. Lapian atau Arie Lasut tidak banyak yang mengetahui kiprah mereka dalam sejarah. Saudara sepupu saya sampai baru sadar bahwa pahlawan yang namanya dijadikan nama jalan tersebut sudah melakukan hal yang besar pada masa Pergerakan dan Perjuangan Indonesia. Berbeda dengan pahlawan-pahlawan lebih familiar dari Minahasa seperti Sam Ratulangi, Maria Walanda Maramis, Robert Wolter Mongisidi, Kapten Pierre Tendean, beberapa pahlawan seperti Babe Palar atau Arie Lasut kurang dikenal oleh generasi-generasi saat ini karena perjuangan mereka kebanyakan tidak diangkat ke dalam sejarah daerah atau perjuangan mereka tidak diketahui karena berjuang melalui meja negosiasi atau perundingan. Mungkin hanya mereka yang mempelajari sejarah Indonesia seutuhnya baru bisa mengetahui tokoh-tokoh tersebut.

Suatu malam, saya membaca otobiografi Mohammad Hatta: Untuk Negeriku. Buku tersebut terbagi atas 3 jilid besar yang berisi kisah Bung Hatta mulai dari masa kecil hingga membawa Indonesia ke kemerdekaan. Buku yang menarik bagi mereka yang menyukai sejarah. Nah, ada satu-dua tokoh yang disebut dalam buku ini berasal dari Sulawesi Utara. Yang mengejutkan saya adalah munculnya nama Arnold Mononutu. Beliau adalah salah satu tokoh dari Sulawesi Utara yang jarang diangkat ke permukaan. Secara intelektual, beliau tidak kalah dari tokoh Sam Ratulangi. Dalam organisasi kemerdekaan, beliau terlibat sejak bersekolah di Belanda di mana beliau bertemu dengan rekan-rekan seperjuangan seperti Bung Hatta ataupun Soebardjo (Ahmad Soebardjo).

Saya mencoba membuka lebih dalam lagi mengenai Arnold Mononutu ini, yang jika kalian memasukkan namanya ke dalam mesin pencari Google, ada beberapa blog yang memuat tentang kiprah pahlawan yang satu ini. Salah satu riwayat pentingnya adalah beliau tercatat sebagai Menteri Penerangan Indonesia pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS). Posisi tersebut bukanlah karena balas jasa atas keterlibatannya dalam Pergerakan Kemerdekaan, tapi karena intelektual dari beliau. Jika mau dilihat dari segi jasa, beliau terlibat dalam Pergerakan Perjuangan Bangsa saat berada di Eropa. Kemudian, beliau terlibat dalam perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) untuk mempertahankan Indonesia yang merdeka. Beliau juga yang pertama mengabarkan bahwa Batavia telah berganti menjadi Jakarta di Indonesia. Untuk soal jasa, beliau sebanding dengan para tokoh-tokoh pergerakan nasional.

Dalam buku otobiografi Bung Hatta, nama Arnold Mononutu muncul dalam bagian yang menceritakan mengenai rapat Indonesische Vereeniging untuk mengambil langkah terhadap Noto Soeroto, seorang penyair yang sering disebut imitator Rabindranath Tagore (anak Sastra terlalu kalo nggak kenal Tagore). Kesalahan dari Noto Soeroto ini adalah, mengkritik langkah non-kooperasi dari organisasi cikal bakal Perhimpunan Indonesia ini dalam majalah Oedaya, yang dikeluarkannya sendiri. Tujuannya adalah untuk memperoleh simpati dari pihak yang memimpin perusahaan Belanda yang bekerja di Indonesia. Tipe-tipe manusia seperti Noto Soeroto saat ini cukup banyak dan menghuni pada posisi-posisi penting di pemerintahan dan badan legislatif. Arnold Mononutu berperan sebagai penuduh atas nama organisasi.

Bung Hatta menuliskan kekagumannya terhadap pidato Mononutu dalam rapat tersebut. “Ia (Mononutu) bicara dengan tiada menuliskan tuduhannya lebih dahulu… pidato Mononutu begitu tegas dan tegas, sehingga beberapa anggota yang mula-mulanya berniat untuk memintakan klemensi (kemurahan hati) bagi Noto atas dasar kebebasan pendapat tidak mau bicara lagi” (hal 221). Pujian Bung Hatta tersebut menggambarkan bagaimana Mononutu memberikan pendapat yang menyudutkan Noto Soeroto dan tidak ada yang mampu membelanya dan melawan pandangan Mononutu tersebut. Bung Hatta menggambarkan pula bagaimana mereka yang hadir dalam rapat itu terpukau oleh pidato Mononutu.

Bung Hatta tidak berhenti sampai di situ saja dalam memuji Mononutu.

Pada pemilihan pengurus Indonesische Vereeniging, Mononutu dipilih oleh ketua terpilih saat itu, Soekiman Wirjosandjojo, menjadi wakil ketua. Organisasi ini sebelumnya telah menjadi bulan-bulanan oleh media massa Belanda karena menganggap organisasi ini sebagai pembangkang pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Januari 1925, organisasi ini mengganti namanya menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) sebagai sebuah kelanjutan daripada pemakaian Indonesia Merdeka untuk majalah. Dalam tahun yang sama, pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai menekan orang tua dari mahasiswa-mahasiswa yang terlibat organisasi tersebut. Ayah dari Mononutu adalah komisaris pada Kantor Residen di Manado, suatu posisi yang tinggi bagi seorang inlander saat itu. Tekanan yang diarahkan pada orangtuanya membuat Mononutu harus memilih, keluar dari organisasi atau tetap berada di organisasi tapi uang untuk hidup di Belanda tidak dikirimkan lagi. Bagi seorang mahasiswa yang masih muda, hal tersebut adalah suatu situasi yang sangat memberatkan. Ditambah lagi dengan keberadaannya di negeri orang, bukan di Batavia. Tapi yang dilakukan oleh Mononutu adalah menulis surat kepada ayahnya tercinta dan “saya menjadi anggota Perhimpunan Indonesia atas keyakinan saya dan saya tidak dapat mengundurkan diri, dan karena itu saya memaafkan ayah apabila ayah memutuskan kiriman uang belanja pada saya”. Jawaban yang bukan hanya membutuhkan kebulatan tekad semata, tapi mental serta kepercayaan bahwa ini adalah sebuah panggilan Tuhan pada dirinya yang harus dijawab.

Mengambil artikel Ahmad Syafii Maarif yang berjudul Keindonesiaan Mononutu menuliskan bahwa ketegaran Arnold Mononutu tidak bisa ditawar lagi sehingga tulisan suratnya kepada ayahnya adalah sebuah keyakinan. Maarif mengutip ungkapan “Manakala karakter yang hilang, semuanya menjadi musnah” untuk memuji karakter Mononutu yang tidak bisa ditawar tersebut. Mononutu adalah salah seorang yang sudah “demam” dengan Indonesia Merdeka pada tahun 1920an itu.

Bung Hatta menuliskan bagaimana para pengurus dan anggota organisasi saling bahu-membahu membantu para anggotanya (termasuk Mononutu) yang ditimpa “kekejaman” pemerintah kolonial (hal 227). Mononutu pula yang menjadi delegasi Perhimpunan Indonesia untuk mencari hubungan dengan organisasi-organisasi mahasiswa Asia yang kemudian dikirim ke Paris. Dari cerita Bung Hatta, bisa dilihat kemampuan Arnold Mononutu sebagai penghubung yang ulung dan mungkin hal ini adalah alasan mengapa beliau diangkat menjadi Menteri Penerangan (1951-1953) pada era RIS. “Di sana, cepat ia (Mononutu) memperoleh hubungan dengan pemuda-pemuda India, Cina, dan Annam. Hasil kerja sama ialah berdirinya di Paris sebuah organisasi pemuda Asia yang bernama Association pour l’Etude des Civilisation orientales – Persekutuan untuk Pengkajian Peradaban-peradaban Timur… juga Mononutu mendekati beberapa orang terkemuka dari perkumpulan ahli kebudayaan dan seni itu. Akhirnya perkumpulan itu mengundang Perhimpunan Indonesia…” (hal 227).

Karakter “ngotot” pada keyakinan akan kebenaran oleh Mononutu adalah ketika beliau menjadi anggota Majelis Konstituante (1956-1959) sebagai perwakilan Partai Nasional Indonesia (PNI). Maarif menggambarkan beliau sebagai tokoh yang gigih membela Pancasila sebagai Dasar Negara (bukan pilar seperti pada masa saat ini). Mononutu harus berhadapan dengan kelompok Islam yang mengusung Islam sebagai dasar negara. Salah satu blog di Kompasiana menulis bahwa sikap Mononutu dalam mempertahankan Pancasila adalah menegaskan semangat satu dalam keberagaman yang juga menjadi sikap dan praktik yang beliau dan teman-temannya hidupi saat perjuangannya di Belanda dalam Perhimpunan Indonesia. “Hal ini menjadi penting untuk memberi dasar kepada sebuah negara yang baru bertumbuh untuk memelihara dan mengayomi hak-hak setiap anggota masyarakatnya” lanjut penulis blog tersebut.

Sikap yang perlu kita cermati adalah kegigihan dan keyakinan seorang Arnold Mononutu dalam menentukan sikap yang beliau percaya itu adalah suatu hal yang benar. Benar dalam arti bukan sebagai suatu pandangan subjektif semata yang bisa melahirkan sebuah relatifitas. Tetapi kegigihan karena beliau telah mempelajari, mengkaji, dan mengalami sebuah perjuangan yang benar itu. Sama seperti Bung Hatta, saya percaya Arnold Mononutu juga dipengaruhi oleh bacaan-bacaan mengenai pergerakan-pergerakan massa melawan penjajahan, dan bagaimana kesulitannya yang dialami semasa perkuliahannya di Belanda membuka mata bahwa dalam keberagaman pun kita ternyata bisa saling memahami dan membantu untuk mencapai satu tujuan. Dan kalau melihat apa yang dialami oleh Mononutu dan Perhimpunan Indonesia, rasanya Bhinneka Tunggal Ika berarti Berbeda-beda Tapi Satu (Tujuan) di mana sebagai suatu bangsa kita memiliki tujuan bersama, bukan hanya tujuan kelompok atau suatu kepentingan semata.

Untuk mengakhirinya, suatu kutipan Bung Hatta dari blog Kompasiana tertulis “Pergerakan kita tak boleh tinggal pergerakan pemimpin, yang hidup dan mati dengan pemimpin itu. Akan tetapi, pergerakan kita harus menjadi ‘pergerakan pahlawan-pahlawan yang tak punya nama’, artinya pergerakan rakyat sendiri, yang tidak tergantung kepada nasibnya sendiri”.

 

Sumber:

Otobiografi Mohammad Hatta: Untuk Negeriku

Keindonesiaan Mononutu oleh Ahmad Syafii Maarif (pada blog klikpolitik.blogspot.com)

Mononutu, Pahlawan Tanpa Nama oleh Werenfridus Talia (pada blog Kompasiana)

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: