Beranda > Olah Raga > Performa AC Milan dan Newcastle United

Performa AC Milan dan Newcastle United

Dua tim favorit saya, AC Milan dan Newcastle terpuruk di papan tengah. Newcastle masih mending, papan tengah-atas jadi kalo menang terus masih bisa menyodok ke top 6. Sedang AC Milan bagai kapal yang akan segera tenggelam. Posisi papan tengah-bawah membuat degradasi mengancam. Kedua tim baru saja mengalami kekalahan. AC Milan kalah 1-3 saat bertandang ke Napoli, walaupun sempat unggul melalui gol pemain debutan Adel Taarabt. Newcastle kalah 0-3 dari penantang serius kejuaraan, Chelsea.

Yang menjadi masalah bukanlah skor yang telak tersebut, tapi bagaimana kedua tim merespon perubahan sangatlah buruk. AC Milan memecat Massimiliano Allegri setelah kalah 3-4 dari tim promosi Sassuolo. Newcastle baru saja melepas pemain kreatifnya Yohan Cabaye, kejadian ini membuat pelatih Alan Pardew berkomentar bahwa Newcastle akan segera mengubah gaya permainan mereka dengan model pemain yang ada.

AC Milan

hi-res-6994a5e7f90c8e8308f64fffaa12821f_crop_northPertama, mulai dari AC Milan. Roster pemain AC Milan musim ini tidak banyak berubah. Di awal musim, Allesandro Matri dan Kaka masuk bersama Andrea Poli, Matias Silvestre. Cristian Zapata dipermanenkan dan Urby Emmanuelson kembali dari masa peminjaman. Kondisi roster di awal musim juga dipenuhi banyak pemain cedera. Stephan El Shaarawy baru mencetak 1 gol dari jumlah mainnya yang sangat minim dibanding musim lalu, Giampaolo Pazzini juga tidak bermain pada paruh musim pertama, bek belia Mattia De Sciglio keluar masuk ruang perawatan. Bek Matias Silvestre juga demikian. AC Milan di bawah Allegri tidak memiliki starting XI yang tetap.

Di paruh musim kedua, atau bulan Januari (walaupun jumlah pertandingan belum menyentuh angka separuh), AC Milan juga masih naik turun. Masuknya Adil Rami dan Keisuke Honda belum juga memuaskan Milanisti. Puncaknya adalah kekalahan dari Sassuolo membuat Milan memecat Allegri. AC Milan langsung menunjuk mantan pemain Clarence Seedorf, yang sama sekali dan merupakan suatu pertaruhan besar untuk menggantikan Allegri. Sementara transisi dipegang oleh Mauro Tasotti. Transisi berlangsung mulus ketika Milan mampu menghantam Spezia 3-1 di kancah Coppa Italia.

Di Serie A, melawan Verona adalah pertandingan debut pelatih yang belum berpengalaman itu. AC Milan menang, dengan susah payah dan mengandalkan tendangan penalti saja pada pertandingan tersebut. Pertandingan itu juga menjadi awal Milan menggunakan formasi 4-2-3-1. Selama ini AC Milan menggunakan pakem 4-3-3 dan 4-5-1, dan kedatangan Kaka membuat Milan kembali ke pakem lama 4-3-1-2/4-3-2-1. Sehingga kedatangan Seedorf membuat AC Milan membuat dua perekrutan tambahan, yaitu Adel Taarabt dan Michael Essien.

Adel Taarabt adalah salah satu pemain berbakat di Liga Inggris. Tapi sayang, bakatnya tidak mampu diutilisasi dengan sempurna di kancah liga yang berlabel terbaik di dunia tersebut. Para analis hanya menyebutkan dia adalah sebuah “flop” di kancah liga papan atas. Menjadi terbaik di divisi yang lebih rendah tapi gagal di level atas. AC Milan membuat pertaruhan dengan meminjam Michael Essien, yang permainannya tengah menurun akibat cedera panjang sewaktu berada di Chelsea. Seedorf mengutarakan bahwa Essien dibutuhkan untuk melapis duo Riccardo Montolivo dan Nigel de Jong. Sedangkan Taarabt didatangkan untuk kebutuhan pemain yang bermain melebar. AC Milan melepas Antonio Nocerino ke West Ham sebagai tumbal kedatangan Essien.

Pemain-pemain yang bisa bermain melebar di Milan ada Stephan El Shaarawy, M’baye Niang, Keisuke Honda, Robinho, bahkan Kaka pun bisa tampil baik di posisi tersebut saat melawan Barcelona. Sayang, El Shaarawy belum sembuh-sembuh (juga), Niang dipinjamkan ke Montpellier, dan Robinho masih sering tampil angin-anginan. Di lini tengah, Seedorf belum mengeksploitasi kemampuan Andrea Poli tapi sudah mendatangkan Essien. Poli adalah pemain alternatif yang bisa mengisi kekosongan Ricardo Montolivo maupun Nigel de Jong, selain itu dia masih muda dan enerjik.

Hingga saat ini, Seedorf belum mampu meyakinkan saya bahwa dia akan bisa membawa Milan ke level tertinggi. Pertama, Seedorf belum pernah menjadi pelatih dan menurut pandangan saya masih lebih sering menggunakan intuisi ketimbang pertimbangan taktik. Pada saat melawan Napoli, Montolivo diturunkan saat posisi sudah tertinggal. Padahal Montolivo juga baik dalam bertahan, bahkan lebih baik daripada de Jong ataupun Essien. Musim lalu Montolivo menjadi pemain box-to-box yang efektif baik menyerang dan bertahan.

Kedua, terlalu mengutamakan kompatriotnya. Tidak ada yang bisa mencegah kepergian Urby musim depan karena kontraknya belum diperpanjang. Tapi, Seedorf berusaha menahannya dan seakan memberikan ‘tempat’ padanya. Posisi yang ditempati Urby adalah bek kiri, posisi favoritnya. Dan hal itu mengorbankan duo bek sayap terbaik Milan Ignazio Abate dan Mattia De Sciglio. Pertandingan melawan Napoli, Abate digeser ke pemain sayap kanan. Keterbatasan pemain atau apa saya juga tidak mengerti padahal ada Andrea Poli di roster yang mampu bermain di sisi kanan dan beberapa kali di bawah Allegri pemain ex-Sampdoria tersebut mampu tampil baik.

Ketiga, apakah tidak ada alternatif formasi selain 4-2-3-1? Seedorf belum menunjukkan bagaimana proyek jangka 2 tahunnya karena penampilan Milan masih jauh dari kata konsisten. Kalah 1-2 melawan Udinese di kandang pada kancah Coppa Italia, imbang melawan Torino juga di kandang pada minggu lalu membuat saya bertanya-tanya, apakah Milan mampu tampil seperti musim lalu? Hanya 1 kekalahan pada periode Januari hingga berakhirnya kompetisi. Mungkin langkah yang diambil Milan dengan memecat Allegri adalah salah karena pemain Milan belum kembali seperti pada sedia kala.

Newcastle United

hi-res-2303a22122c0d03685d9e5b2a041575a_crop_northPemain kreatif, yang menjadi lebih dari sekedar key player bagi tim dilepas dengan harga 20 juta poundsterling. Penggantinya? Jangan tanya pemilik Newcastle, Mike Ashley, akan mengeluarkan uang besar untuk mencari pengganti yang sepadan. Target pertama adalah Remy Cabella, pemain muda yang sedang bersinar di Perancis walaupun timnya sementara kececer di papan bawah. Kemudian, pemain yang dibeli adalah Luuk de Jong. Pemain ini sudah menjadi target dari musim-musim sebelumnya, tapi lebih memilih berlabuh ke Bundesliga. Sempat terbersit nama Wilfried Zaha juga tapi hanya rumor berlebihan dari pers di sana.

Dari pemain-pemain target yang diincar, tidak ada yang bertipe seperti Cabaye. Jika Arturo Vidal menyatakan dirinya sebagai pemain box-to-box terbaik dunia karena jumlah golnya melebihi rata-rata pemain yang setipe dengannya itu, Cabaye adalah pengecualian. Umpan-umpan panjangnya bisa disamakan dengan Andrea Pirlo dan intersep serta kemampuan membangun serangan bisa disamakan dengan Steven Gerrard. Sayangnya, tipikal pemain seperti itu jarang. Dan hingga bursa transfer ditutup, tidak terjadi pembelian untuk menutup kekosongan tersebut.

 Alan Pardew sudah menyatakan akan mengubah gaya permainan Newcastle. Mungkin akan lebih direct football ketimbang saat Cabaye masih di tim. Kunci permainan kali ini berada di kaki Moussa Sissoko. Pemain yang sempat digadang-gadang menjadi The Next Vieira memiliki kecepatan, yang oleh karena kecepatannya pemain ini dijuluki Moussain Bolt. Jika sebelumnya, permainan Newcastle berpusat pada Cabaye, saatnya Sissoko menjadi pusat permainan. Untuk segi kreatifitas, pemain ex-Toulouse ini masih kalah dibanding Cabaye. Untuk itu dibutuhkan pemain setipe dengan Vurnon Anita atau Sylvain Marveaux di lini tengah jika memakai formasi 4-3-3. Trio Marv/Anita-Sissoko-Tiote bisa menjadi alternatif sejenak dari kepergian Cabaye sambil menunggu bursa transfer musim panas dibuka lagi.

Permainan Hatem Ben Arfa masih angin-anginan, kurang konsistensi. Mengoptimalkan pemain yang pernah dilabeli pemain paling berbakat Perancis ini adalah key offensive dari tim. Tidak cukup hanya Sissoko, dibutuhkan juga pendamping untuk menghubungkan sisi depan. Cabaye saat masih ada menghadirkan Newcastle keseimbangan, baik dalam menyerang maupun bertahan. Walaupun hanya Cabaye seorang, pemain sudah cukup untuk peran tersebut. Cabaye on offense dan Cabaye on defense.

Di lini depan, Newcastle memiliki Loic Remy, Yoann Gouffran, Shola Ameobi, Sammy Ameobi, Papiss Cisse dan pemain baru Luuk de Jong. 3 pemain memiliki karakter sejenis, yaitu Luuk de Jong, Shola Ameobi, dan Papiss Cisse yaitu ujung tombak, memiliki fisik yang bagus untuk bertarung dengan bola-bola atas. Gouffran dan Remy bisa bermain melebar dalam pakem 4-2-3-1 milik Pardew. Biasanya Remy ditempatkan di kiri sebagai false winger yang bisa menyodok ke depan dengan tiba-tiba. Gouffran memiliki work rate yang baik dalam tim, dia berlari ke sisi sayap baik kiri maupun kanan. Kedua pemain Perancis tersebut tidak bermain karena dihukum dan cidera.

Di lini belakang, Newcastle tidak banyak mengalami perubahan. Kwartet Mathieu Debuchy, Fabricio Collocini, Mike Williamson/Steven Taylor/Mapou Yanga Mbiwa, dan Davide Santon. Peran Mike Williamson pada akhir tahun paruh pertama yang konsisten menjadikannya pemain inti. Padahal musim sebelumnya, Williamson menjadi bulan-bulanan fans Newcastle atau yang dikenal dengan nama Geordies. Pertahanan lini belakang memang belum sebagus saat Newcastle nangkring di posisi 5 tapi tidaklah seburuk musim sebelumnya. Peningkatan ini membuat lini belakang lebih menjadi andalan, sayang di beberapa pertandingan terakhir lini belakang menjadi sorotan. Apalagi 2 kali mengalami kekalahan 0-3 dari Sunderland dan Chelsea.

Apa yang harus dilakukan? Mendesak Pardew mundur bukanlah kebijakan yang bagus saat ini, dan Newcastle masih berada di papan tengah dengan 35 points, 5 points lagi untuk bisa survival (biasanya). Memecat Pardew apalagi. Saya setuju dengan pernyataannya untuk menyesuaikan lagi permainan Newcastle dengan kekosongan posisi Cabaye. Dan itu sudah mulai terlihat walaupun amat terasa ketiadaan Cabaye.

Pertama, yang dibutuhkan Pardew adalah berani menambah pemain dengan karakter offense untuk mendongkrak kreatifitas. Sissoko adalah pemain bertahan yang baik, tapi tidak cukup baik dalam kreatifitas terutama jika dilihat dari umpan-umpan jauh. Kecepatannya dan tembakan jarak jauh adalah andalannya. Terlihat saat menghadapi Chelsea, Sissoko mencoba memerankan peran Cabaye tapi tidak berhasil. Oleh karena itu ketimbang memaksa Santon bermain sebagai winger kiri, ada baiknya tetap memasang 1 pemain ofensif di posisi tersebut. Sylvain Marveaux adalah salah satu pemain yang memiliki umpan-umpan jauh yang baik, akselerasi, dan skilnya juga mumpuni walaupun fisiknya tidak sekuat Cabaye dan kemampuan bertahannya lebih buruk dari Shola. Untuk menambal defensifnya, kehadiran Tiote dan Sissoko penting.

Kedua, optimalkan Ben Arfa. Tidak dipungkiri, bahwa Hatem Ben Arfa adalah pemain dengan skil paling mewah di tim. Naluri ofensifnya paling tinggi di tim. Membangun pusat ofensif pada dirinya dan ditopang oleh Gouffran-Remy ataupun Marveaux bisa membantu tim mencetak gol. Ketimpangan tidak adanya Cabaye untuk memulai serangan terasa ketika melawan Norwich, Sunderland, dan Chelsea. Pada ketiga pertandingan tersebut, Newcastle sama sekali tidak mampu mencetak gol!

Ketiga, sudah saatnya mengincar pemain dari sekarang. Piala Dunia 2014 adalah ajang yang bagus untuk memilah, memilih, membeli pemain berlabel terbaik. Namun harganya bisa selangit dan tergantung seberapa baik pemain itu tampil dalam kancah paling elit sedunia ini. Remy Cabella mungkin hanya khayalan jika tidak diburu secepat mungkin. Dan pemain yang paling penting diincar adalah pengganti Cabaye. Jika tidak, sebaik apapun formasi yang digunakan untuk menutup Cabaye saat ini, musim depan akan terlihat usang. Ingat musim lalu bagaimana Newcastle terperosok dari peringkat 5 ke papan bawah sebelum ke papan tengah-bawah lagi.

Perubahan memang selalu terjadi, entah itu frekuensinya cepat/sering atau lambat/jarang. Tapi bukan berarti tim tidak meresponnya dengan cepat. Responnya juga bukan sembarang respon tapi harus memakai perhitungan agar bisa efektif. Di tengah keadaan seperti ini, efisien adalah kata tabu. Bagaimana efektif itu adalah mencetak gol dan tidak kebobolan. Itu saja. Berharap AC Milan dan Newcastle United mampu tampil baik di tengah perubahan yang terjadi di dalam tim ini.

Forza Milan!! Howay Newcastle United!!

Kategori:Olah Raga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: