Beranda > What I See > Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Pernyataan ini sudah sejak SD saya dapatkan. Begitu bermanfaat dan terngiang dalam benak saya bahwa sakit itu menyakitkan, daripada saya lebih dulu sakit alangkah baiknya kalau saya mencegah agar saya tidak sakit. Dari kecil, balita mungkin, saya tidak begitu menyukai yang namanya obat dan dokter (kecuali dokter gigi). Dipaksa untuk menelan obat puyer yang begitu pahit, tetap terasa pahit walaupun dicampur gula, adalah pengalaman yang tidak mengenakkan. Saat SMP, saya terkena penyakit demam berdarah. Membuat saya harus absen dari sekolah hingga seminggu (bersyukur cuma seminggu, berkat Tuhan dan orang tua). Pengalaman ini makin membuat saya skeptis terhadap sakit dan mencari cara bagaimana untuk tidak sakit lagi.

Pengalaman yang menjadi trauma terhadap sakit bertambah ketika dokter memberikan obat berdosis tinggi yang menyebabkan saya panas dalam. Penyakit yang satu sembuh, tapi saya kena sariawan hingga membuat bibir saya bengkak. Walaupun bisa beraktivitas tapi tidak maksimal. Papa sering mengajarkan mengenai bagaimana mencegah penyakit. Katanya makan makanan yang berserat seperti buah dan sayur, kurangi gorengan (yang sampai sekarang saya belum bisa menguranginya), banyak minum air, dan beraktivitas yang memerlukan gerakan seperti jalan kaki. Jadi tidaklah heran  jika saya makan bersama papa, aktivitas setelah itu adalah jalan kaki.

Lama kelamaan, rasanya pernyataan yang sejak SD diajarkan itu memberikan manfaat. Bukan saja dari manfaat biaya tapi juga waktu. Ketika saya sakit, maka saya hanya akan menghabiskan waktu saya untuk kegiatan yang kurang produktif yaitu beristirahat untuk memulihkan penyakit saya. Saya tidak bisa mengikuti pelajaran, tidak bertemu dengan teman-teman kecuali dikunjungi, dibatasi sedemikian rupa agar tidak sakit lagi.

Di Indonesia, tragedi bencana alam mengakibatkan banyak kerusakan material. Kerusakan Rumah, mobil, perabotan rumah tangga, dan lain-lain adalah hitungan dari kerugian dari dampak sebuah bencana alam. Kerugian makin besar ketika dampak bencana alam itu luas dan begitu signifikan hingga bisa melumpuhkan suatu daerah. Kita bisa membayangkan bagaimana wilayah Aceh dilanda bencana tsunami langsung lumpuh total. Pemerintah dan masyarakat harus memulai membangun lagi dari awal, yang membutuhkan waktu, untuk mencoba mencapai apa yang telah mereka lakukan sebelumnya bahkan lebih baik. Saat ini, wilayah yang terkena bencana tersebut sudah bangkit dan mencoba mengenyahkan trauma tragedi tersebut.

Bencana-bencana berskala besar pada tahun 2000 hingga saat ini terjadi hampir di seluruh Indonesia. Jakarta yang hampir setiap tahun mengalami bencana banjir. Yogyakarta terjadi gempa dan letusan gunung berapi. Pangandaran terjadi gempa bumi dan tsunami, begitu juga Nias. Bencana lainnya adalah lumpur di Sidoarjo. Tanah longsor hampir terjadi di seluruh Indonesia. Banyak bencana dan hampir 95% adalah bencana lama (yang sering terjadi) yang katanya sekitar 80% diakibatkan oleh ulah manusia bukan alam.

Dan selama proses pemulihan, waktu yang digunakan cukup besar. Khusus untuk bencana-bencana yang baru terjadi seperti tsunami, butuh suatu pembelajaran mengenai bencana ini agar kita bisa meminimalisir resiko kerusakan. Tapi untuk bencana seperti banjir dan tanah longsor, sudah bisa diantisipasi karena hal tersebut bukanlah hal baru. Dampak banjir berupa hilangnya waktu adalah bagian material yang hilang. Berapa banyak pekerja yang tidak bisa bekerja, menghabiskan waktunya untuk memulihkan barang-barang mereka yang rusak. Seandainya kita bisa meminimalkan resiko akibat bencana-bencana lama, maka kita bisa meminimalkan waktu yang terbuang. Demikian pula dengan biaya kerugian material dan biaya sosial bisa diminimalisir.

Dari pernyataan mencegah lebih baik daripada mengobati, di Indonesia masih minim yang menerapkan pernyataan ini. Pembangunan yang masif hingga mengorbankan fungsi alam menyebabkan bencana berkekuatan masif pula seperti banjir dan tanah longsor. Padahal di zaman kolonial Belanda, mereka telah menerapkan sistem tersebut di Batavia. Beberapa kanal di Jakarta merupakan peninggalan mereka walaupun tetap dilanda banjir. Mundur lebih jauh ke belakang, Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara melakukan penggalian saluran Gomati sepanjang 12 kilometer yang kemungkinan besar dibuat untuk mengendalikan banjir saat itu. Hal itu tentu saja dilakukan untuk melindungi aktivitas kerajaan yang berkaitan dengan sosial ekonomi saat itu.

Belajar lagi dari masa lalu, Raja Airlangga memerintahkan pengendalian terhadap Sungai Brantas yang selalu meluap tiap tahun. Untuk melindungi pertanian penduduk, maka dibangunlah Bendungan Kamalgyan. Di zaman Majapahit, seperti yang ditemukan oleh arkeolog Maclaine Point bahwa terdapat sejumlah bendungan untuk mengendalikan banjir dan irigasi.

Di Indonesia saat ini, hal yang sama juga dilakukan. Pembangunan bendungan, situ, waduk diupayakan untuk berbagai macam aktivitas. Aktivitas pengairan atau irigasi, bahan baku air minum, pembangkit listrik, hingga pengendali banjir. Hanya muncul masalah baru dengan pembangunan tersebut. Anggapan bahwa proyek-proyek tersebut sudah cukup mengatasi masalah banjir, maka pembangunan masif dan liar pun dilakukan. Sampah-sampah perkotaan dibuang di kali, got, atau aliran sungai. Ahli fungsi lahan tepian sungai menjadi pemukiman, lokasi bisnis, dan industri kecil hingga menengah tanpa memedulikan dampak lingkungan. Pendangkalan terjadi di setiap jalur air yang akan mengalir ke muara (laut). Akhirnya, sejumlah proyek pengendalian pun terasa percuma. Banjir tetap melanda.

Bukannya tanpa akal untuk menanggulangi masalah ini. Banyak masukan dari para pakar tata kota hingga ahli hidrologi mengenai pengendalian banjir. Mulai dari pembangunan sumur resapan di hampir setiap bangunan hingga tindakan tegas melalui pengetatan izin pembangunan di wilayah-wilayah yang merupakan bagian dari DAS (Daerah Aliran Sungai) dan modifikasi cuaca. Normalisasi dilakukan, sosialisasi “Dilarang Buang Sampah di Kali” digalakkan. Toh tetap saja, belum maksimal semua yang dilakukan tanpa kerja sama dari setiap elemen masyarakat dan pemerintah.

Tidak terintegrasinya pembangunan antar wilayah dan daerah menyebabkan ada wilayah dan daerah yang terkena dampaknya. Simbiosis mutualisme tidak bisa dibangun karena setiap pemimpin wilayah merasa diri adalah raja dibandingkan merasa menjadi bagian dari republik. Akhirnya rakyat lah yang menjadi korban.

Sudah seharusnya kita mulai berhitung mana yang lebih besar biayanya. Apakah kita mengeluarkan biaya untuk mencegah banjir melalui kerja bersama? Atau kita mengalami bencana banjir dan berusaha saling membantu? Di negara-negara maju dan sebagian negara berkembang, banjir adalah sebuah penyakit yang perlu dicegah. Untuk itu mengapa mereka membangun sistem pengendalian banjir. Singapura yang terlanda banjir beberapa tahun silam pasti sudah mengevaluasi kesalahan mereka dalam mengantisipasi banjir. Malaysia, membangun deep tunnel untuk mengendalikan banjir di Kuala Lumpur. Bagaimana dengan kita di Indonesia?  Apakah kita sudah pasrah pada banjir?

Iklan
Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: