Beranda > Umum > Banjir Di Manado

Banjir Di Manado

2212361Mobil-Tumpang-tindih-di-Manado780x390Broadcast Blackberry Messenger (BBM) untuk meminta pertolongan cukup banyak, belum lagi kicauan-kicauan (tweet) di akun twitter kota Manado @ManadoKota menginformasikan beberapa kawasan butuh pertolongan karena banjir semakin tinggi. Banjir bandang yang melanda kota Manado pada Rabu (15/1) menutupi sebagian besar kota, sehingga kota menjadi lumpuh dan tidak bisa beraktivitas. Bukan hanya di Manado saja, beberapa daerah seperti Tinoor dan Minahasa Utara mengalami hal yang sama. Tanah longsor pun memutuskan jalur Manado-Tomohon dan memakan puluhan korban jiwa.

Menurut apa yang dikatakan oleh BMKG, banjir Manado tahun 2014 disebabkan oleh ekor  bibit siklon yang berada di wilayah Sulawesi Utara serta anomaly suhu muka laut. Padahal curah hujan sebelum tanggal 14 Januari 2014 cukup rendah. 11 Januari curah hujan di Manado hanya 11mm/hari, 12 Januari 0,2mm/hari, 13 Januari menjadi 45mm/hari. Tanggal 14 Januari 2014, curah hujan tiba-tiba melonjak menjadi 145mm/hari dan 66mm/hari pada 15 Januari. “Lebih tinggi dari Jakarta” kata bapak Edvin Aldrian dari BMKG (dikutip dari Kompas.com).

Banjir dengan skala cukup besar telah terjadi 7 kali dalam 14 tahun terakhir (hingga banjir 2014; data dari Harian Kompas). Kebanyakan penyebabnya terjadi karena curah hujan yang cukup tinggi di daerah hulu (Tondano) yang menyebabkan meluapnya air Danau Tondano. Akibatnya, daerah pesisir yang merupakan muara dari sungai-sungai yang berasal dari Tondano datang dengan jumlah lebih. Kurang lebih, hampir sama dengan apa yang terjadi di Jakarta di hampir setiap tahun. Musibah banjir bandang ini lebih dahsyat ketimbang bencana yang sama yang terjadi pada tahun 2000 dan Februari 2013.

Banyak pendapat mengenai kenapa banjir bandang ini bisa terjadi di Manado. Menurut Kepala BPBD Provinsi Sulawesi Utara, bapak Noldy Liow (seperti yang tertulis di Harian Kompas 16/1) banjir bandang terjadi akibat meluapnya 5 sungai yang melewati Manado secara bersamaan akibat hujan deras yang turun dari Selasa (14/1) hingga Rabu (15/1) siang. Tingginya curah hujan sesuai dengan anomali cuaca yang terjadi di sekitaran wilayah Sulawesi Utara.

Sejauh ini (hingga saya mengetik blog ini pada 18/1), korban jiwa berjumlah 16 orang. Belum terhitung mereka yang hilang dalam banjir bandang dan tanah longsor. Proses evakuasi berjalan cukup baik di beberapa tempat, sedangkan di wilayah lain tidak berjalan sehingga muncul broadcast BBM tersebut. Kawasan-kawasan rawan seperti Tikala Banjer, Karame, Perkamil, Dendengan Dalam sempat sulit dijangkau oleh Tim SAR karena keterbatasan perahu karet dan personil. Saudara saya mengatakan, luas wilayah yang terkena bencana banjir dan tanah longsor ini lebih luas daripada banjir pada 2013 dan 2000. Anggota TNI dan Kepolisian serta para warga yang tidak terkena musibah ini bahu-membahu melakukan evakuasi, membangun posko bantuan dan dapur umum.

Secara keseluruhan, menurut saya, tindakan evakuasi memang kurang baik karena keterbatasan sarana dan prasarana. Belum lagi banjir kali ini begitu ganas sehingga bisa menghanyutkan mobil, bahkan rumah dan jembatan. Hujan dan angin kencang yang mengguyur kota Manado pun menjadi tantangan bagi para relawan dan Tim SAR menyelematkan banjir. Di satu sisi, bencana banjir dan tanah longsor ini bukanlah bencana yang benar-benar baru. Pihak pemerintah sendiri jarang mensosialisasikan tindakan mitigasi dan evakuasi karena bencana ini memang jarang terjadi. Warga pun seolah turut serta memperparah bencana dengan membuang sampah di kali atau got-got. Saya masih ingat dulu ada program yang bernama JUMPA BERLIAN (Jumat Pagi Bersih-bersih Lingkungan), tapi saya tidak mengetahui apakah program seperti ini masih berjalan atau tidak.

Kerusakan ekologi juga menjadi penyebab yang menyumbangkan “andil” paling besar di dalam setiap bencana. Menurut bapak Sutopo Purwo dalam diskusi Bencana dan Kita di Jakarta (sumber: detik.com) mengatakan “kalau di Indonesia bencana itu pasti terjadi dan tren bencana terus meningkat dari tahun ke tahun, di mana 80% terkait efek cuaca seperti banjir longsor, puting beliung, dan sebagainya. Dalam hal ini di Indonesia faktor antropogenic yaitu ulah manusia lebih dominan dibanding faktor alam”. Hal ini senada dengan Jusuf Kalla, Ketua Umum PMI bahwa banjir bandang di Manado terjadi akibat kerusakan ekologi. Menurutnya, adanya perubahan fungsi lahan di perbukitan kota. “Belum lagi reklamasi di sepanjang pantai Manado dan penyempitan sungai yang dirambah untuk pemukiman sehingga air tidak dapat keluar” sambungnya. Hal yang sama sebenarnya terjadi juga di daerah-daerah lain seperti Jakarta.

Harus ada perubahan sikap dari setiap warga di kota Manado, dan Sulawesi Utara dalam menyikapi bencana yang terjadi, di mana setiap kali bencana terjadi peningkatan kerusakan yang terjadi akibat bencana. Di Sulawesi Utara, permasalahan ekologi tidaklah serumit dengan Jakarta karena masih berada di dalam 1 provinsi yang sama. Berbeda dengan Jakarta, di mana daerah hulu sungai dan sebagian daerah resapan air berada pada provinsi yang lain dan belum tentu mempunyai kebijakan yang sama dengan provinsi DKI Jakarta.

Perubahan fungsi lahan harus diminimalisir oleh para elit daerah jika mereka ingin efek dari bencana ini berkurang dan tidak terjadi peningkatan. Luas daerah akibat bencana ini sudah mulai meluas. Pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten/kota sudah harus mengetatkan izin pembangunan. AMDAL dalam pembangunan tidak bisa disepelekan lagi. Pengamat tata perkotaan, ibu Veronica Kumurur mengatakan banjir bandang akan berulang karena daerah resapan air digunduli serta wilayah sungai dan pantai menjadi permukiman. “Jika tidak diperbaiki dan izin pembangunan masih longgar, Manado harus bersiap banjir lagi” lanjutnya.

Menurut saya, akibat dari masa lalu tidak bisa kita lupakan. Pembangunan memang mendatangkan pertumbuhan ekonomi. Tapi kesadaran kita dalam menjaga alam justru menurun. Sesal saat ini tidak berguna, program-program tindakan preventif dan antisipatif harus digalakkan. Pemerintah kota telah mengeluarkan peta Rencana Tata Ruang Wilayah 2009-2029, kemudian peta rawan bencana (kalau perlu dievaluasi setiap tahun). Peta rawan bencana bisa digunakan untuk program-program tindakan preventif dan antisipatif terhadap jatuhnya korban jiwa. Titik-titik evakuasi, pengungsian dan dapur umum bisa didasarkan melalui peta tersebut. Kemudian memaksimalkan peran kelurahan dalam bencana. Di setiap kelurahan-kelurahan yang rawan bencana, sebaiknya memiliki Tim SAR. Dengan bekerja sama dengan organisasi Karang Taruna (kalau masih jalan), pemerintah bisa melatih mereka menjadi Tim SAR relawan yang bertugas sebagai lini terdepan memberikan informasi serta kemampuan mengevakuasi korban-korban bencana. Hal ini saya rasa perlu, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap BPBD, BPBN, dan anggota TNI/Polri yang saat bencana tiba masih memerlukan koordinasi. Dan tim inilah yang bersiap menjadi yang terdepan dalam proses evakuasi dan mitigasi di wilayah-wilayah yang rawan bencana banjir dan tanah longsor di Manado. Bencana ini bukanlah bencana yang baru, pemerintah dan warga sudah seharusnya saling antisipasi dan mengingatkan.

Berita terakhir yang saya terima, kerugian akibat banjir bandang di Manado pada Januari 2014 mencapai 1,87 triliun atau 10 kali lebih besar daripada kerugian pada banjir tahun 2006. 80.000 jiwa terdampak bencana di Sulawesi Utara.

Keep praying for Manado. It’s my hometown.

 

Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: