Beranda > Umum > NASAKOM: Nasionalisme, Agama, dan Korupsi Massal

NASAKOM: Nasionalisme, Agama, dan Korupsi Massal

NASAKOM adalah singkatan dari Nasionalis, Agama, dan Komunis. Konsep yang diperkenalkan oleh Soekarno saat menjadi presiden Republik Indonesia yang pertama menekankan adanya persatuan dari segala macam ideologi Nusantara untuk melawan penjajahan, sebagai pemersatu bangsa untuk revolusi rakyat dalam memberantas upaya kolonialisme di Indonesia. Alasan yang dipakai oleh Soekarno kala itu sangatlah baik yaitu mengajak segala komponen bangsa tanpa melihat perbedaan yang ada.

NASAKOM yang terdiri dari 3 konsep yang sangat berbeda satu sama lain. Yang pertama adalah konsep Nasionalis yang berpandangan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang diciptakan dan dipertahankan dalam kedaulatan sebuah negara atau nation. Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai merosot. Ikatan tersebut terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tak beranjak dari situ. Misalnya, saat Indonesia mengalami gejala nasionalisme pertama secara bangsa pada tahun 1908 di mana organisasi Boedi Oetomo berdiri, ada perasaan yang muncul bahwa mereka prihatin dengan keadaan sesama mereka. Yaitu orang-orang yang kesulitan keuangan yang mereka lihat sebagai saudara sebangsa. Kemudian nasionalisme itu berkembang terus saat Indonesia memerdekakan  diri sebagai satu bangsa sebagai bentuk pertahanan diri dari kolonialisme. Itulah yang melandasi mengapa konsep Nasionalisme selalu tidak jauh dari Soekarno, karena beliau lebih memikirkan bagaimana mempertahankan negara Indonesia dari kolonialisme melalui pembangunan militer. Karena hal itu pula, konon Soekarno bertengkar dengan Hatta.

Karena NASAKOM adalah sebuah konsep politik ala Soekarno dalam mempertahankan kedudukannya, maka Agama pun dimasukkan ke ranah politik. Indonesia yang memiliki penduduk beragama Muslim sehingga konsep Agama di sini merujuk kepada Muslim yang notabene adalah agama dengan jumlah penduduk terbesar. Menurut salah satu sumber, golongan agama diwakili oleh 2 kelompok yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Mengenai Agama, kita tahu bersama bahwa konsep Agama berbeda dengan konsep Nasionalisme. Agama, menurut KBBI, adalah sistem yang mengatur tata keimanan/kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan YME. Fungsi Agama dalam kehidupan adalah sebagai pedoman hidup, mengatur cara antara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia. Seharusnya landasan Agama ini akan cocok jika digabungkan dengan konsep Nasionalisme dalam menjalankan hidup antara sesama bangsa. Agama adalah pedoman keberadaan, di mana kita meyakini keberadaan Tuhan melalui agama. Dalam Pancasila, konsep keagamaan merupakan Sila Pertama.

Konsep terakhir dari NASAKOM adalah Komunisme. Komunisme lahir sebagai sebuah koreksi terhadap paham Kapitalisme. Dalam ajaran Komunisme yang berlandaskan pada teori Materialisme Dialektika dan Materialisme Historis oleh karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan mitos, takhayul, dan agama. Prinsip Komunisme adalah “agama dianggap candu”. Tuhan pun dianggap mitos ataupun takhayul sehingga konsep Komunisme sangatlah ditentang oleh kaum Muslim ataupun kaum Militer yang mewakili golongan Nasionalisme. Komunisme dipandang oleh Soekarno sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaanya di Indonesia. Poros Jakarta-Beijing-Pyongyang merupakan poros Komunisme. Prasangka liberalisme adalah alat kolonialisme membuat Soekarno berlari kepada konsep Komunisme. Ketiga konsep ini saling bertentangan di Indonesia, bukan karena tidak saling menerima konsep, tetapi kisruh politik yang melihat bahwa hanya salah satu konsep yang unggul. Kecemburuan tersebut membawa Indonesia ke dalam peperangan dalam wilayahnya sendiri.

Konsep NASAKOM ini berakhir setelah adanya peristiwa G30S/PKI yang meruntuhkan dominasi Komunis di Indonesia. Berpaling pada waktu saat ini, saya rasa konsep ini kembali lagi ke Indonesia dengan konten yang berbeda. Ancaman disintegrasi bangsa sebagai tanda awas membangkitkan gerakan nasional yang bernama 4 Pilar. Fungsinya adalah untuk mengembalikan bangsa kita dalam persatuan di bawah satu identitas. Nasionalisme adalah alat gembar-gembor saat ini, ketika hari-hari penentuan kekuasaan mendekat. Politik partai yang mengatasnamakan Nasionalisme tidaklah sedikit. Tapi jika makin diperhatikan lebih jauh lagi, Nasionalisme adalah selimut dari partai-partai untuk mengamankan kekuasaan. Nasionalisme saat ini bukan lagi menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia, melainkan adalah komoditas ekonomi. Lihat saja, lambang negara yang terpampang di dada kiri orang-orang pecinta sepakbola. Komoditas tersebut tidak melahirkan kesadaran suatu identitas, melainkan hanya tanda pengenal bahwa “kita adalah warga negara”. Ya, hanya sekedar itu. Saat berkomunikasi dengan sesama warga negara, eits tunggu dulu, dari suku apa kamu?

Partai-partai yang berbasiskan Nasionalisme sangatlah mencerminkan bahwa konsep tersebut bukanlah sesuatu yang benar-benar dipahami dan diresapi dalam kehidupan berbangsa. Nasionalisme adalah alat yang paling pas untuk meraih kekuasaan. Lihat saja korupsi-korupsi yang terjadi jika tidak melibatkan partai-partai yang berbasis Nasionalisme. Nasionalisme partai lebih besar daripada Nasionalisme kebangsaan. Nasionalisme kebangsaan dijual untuk kenikmatan sesaat, tanpa memikirkan hari besok, mereka menjual bangsa ini. Memasuki tahun politik 2014, partai-partai berbasis nasionalisme telah memulai gerakan-gerakan yang mampu mendorong elektabilitas partai pada Pemilu nanti. Entah kenapa, saya tidak percaya mereka akan membawa perubahan. Jika tidak dalam jangka waktu 5 tahun, mereka akan berdalih bahwa proyek kekuasaan politik memerlukan waktu 2 periode. 5 tahun apa tidak cukup untuk membuat hukum tegas terhadap koruptor?

Nasib yang sama juga dialami partai-partai yang berbasis Agama. Kecenderungan turunnya elektabilitas partai-partai berbasis Agama tidak lain dan tidak bukan partai tersebut gagal mempertahankan idealisme agamanya dalam dunia politik. Terseret arus KKN, dan didorong oleh ancaman eksistensi dan politik praktis membuat partai-partai ini masuk ke dalam lubang lumpur. Lihat saja partai saat ini yang tengah menjadi sorotan. Mungkin tidak lama lagi partai-partai berbasis agama tersebut tidak akan bertahan lama. Dengan menggaet para artis untuk menjadi calon anggota legislatif adalah salah satu strategi untuk mendulang suara di 2014 nanti. Kalau soal meraih elektabilitas melalui perekrutan tokoh-tokoh yang mekar di dunia pertelevisian lebih jago ketimbang menentukan suatu kebijakan di dalam ruangan DPR. Soal BBM saja mereka takut, apalagi jika kita menuntut kebijakan koruptor dan orang-orang yang merugikan negara dimiskinkan dan dihukum mati? Elus-elus dada saja.

Nasionalisme, Agama, dan Korupsi Massal adalah konsep demokrasi kita saat ini. Hanya teriak-teriak soal lemahnya Nasionalisme saat ini, fungsi Agama tidak ada di dalam kehidupan masyarakat menciptakan Korupsi Massal semata. Orang yang memiliki kesadaran Nasionalisme tidak akan melakukan korupsi. Korupsi adalah suatu hal yang merugikan kawan seperjuangan, senasib, dan sepenanggungan yang merupakan konsep utama nasionalis. Orang-orang yang teriak-teriak Tuhan di mesjid dan gereja pun tidak jauh beda dengan mereka yang teriak-teriak nasionalis. Malu-maluin saja, mereka yang berpolitik mengusung nama Agama kemudian hanya menciptakan kerugian di dalam negeri. Percuma persatuan tanpa adanya hukum yang jelas. Korupsi massal para elite politik adalah konsep politik kita saat ini. Di tengah gempuran ancaman disintegrasi, korupsi malah bertumbuh. Bukan hanya di sektor publik, sektor swasta pun merasakannya. Entah dari mana para orang-orang asing itu meramalkan Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun X. Tanpa memperhatikan karakter penduduk dan bangsa ini, wajar mereka hanya berpatokan pada angka-angka.

Indonesia, saat ini, baik mereka yang nasionalis maupun yang beragama menjalankan konsep Korupsi Massal. Sama seperti Komunisme di masa Soekarno yang menjadi ancaman, Korupsi Massal adalah ancaman nyata yang harus dilawan oleh mereka dengan idealisme Nasionalis dan Agamawis yang sejati. Ketidakkompakan masyarakat saat ini melawan korupsi membuat kejahatan yang meresahkan tersebut berkembang makin besar dan besar, menjadi budaya dan sulit dicegah apalagi dihilangkan.

Dengan korupsi yang membudaya menyebabkan tingginya ketidakpercayaan orang pada suatu rezim di era reformasi, ketidakpercayaan masyarakat pada suatu program kerakyatan yang bebas korupsi, kebijakan yang benar-benar memikirkan rakyat pun akan diprasangkakan dengan korupsi. Dan itu adalah wajar di tengah negara yang menjamin koruptor tetap hidup.

Korupsi yang terstruktur tidak terjadi hanya pada apa yang diberitakan televisi. Di kalangan rakyat kecil pun, kejahatan-kejahatan seperti korupsi, suap, penggelapan uang adalah hal lumrah dan bisa ditemui di mana saja. Contoh yang paling nyata adalah kasus-kasus yang terjadi dalam hal dagang. Sudah ada persetujuan-persetujuan sebelumnya antara pihak yang menjual dan pihak yang memiliki wewenang dalam mengambil keputusan, dan itu lumrah. Jika tidak lumrah, akankah divisi pembelian disebut “lahan basah” di kantor-kantor? Suatu hari saya menemani teman saya ke suatu pusat perbelanjaan (bukan mall) untuk menjual lensa kameranya. Awalnya sudah deal antara teman saya dengan penjaga toko (bukan pemilik) mengenai harga yang akan dijual dan nota yang akan diterima. Tapi, uang yang akan diterima teman saya tidaklah sebanyak dengan apa yang ada di nota. Sejumlah uang lain diserahkan kepada pemilik toko. Dari hal yang sepele ini, saya sudah mulai menarik kesimpulan bahwa di Indonesia korupsi massal adalah hal yang lumrah!

Adakah harapan bagi bangsa Indonesia untuk lepas dari kejahatan ini? Selama matahari masih terbit dari timur dan terbenam di barat, Indonesia masih memiliki harapan! Semua berhubungan lagi dengan bagaimana kehidupan masyarakat ini berinteraksi satu sama lain dalam hal nasionalisme dan dalam hal agama yang dianut. Nasionalisme menuntut kita untuk hidup sebagai suatu bangsa, yang memiliki kesamaan-kesamaan nasib dan visi serta mementingkan kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan golongan. Tuntutan itulah yang harus ditanyakan dan ditanamkan dalam diri kita. Ajukan pertanyaan, untuk apa sih kita dilahirkan di Indonesia ini, apakah untuk memperbaiki bangsa ini atau hanya menjadi penyebar virus yang merusak? Apakah kita hidup lebih berdedikasi untuk diri kita ketimbang kepada negara? Dan apakah kita bisa hidup dengan tenang dengan kejahatan yang kita lakukan untuk memperkaya diri? Agama di satu sisi lebih menekankan kepada misi yang diberikan Sang Pencipta di negara ini. Sebagai agen-agen yang melambangkan eksistensi Tuhan, korupsi adalah suatu pelanggaran eksistensi Tuhan. Memang hukuman tidak akan ada saat ini, tapi bukankah semua umat yang percaya Tuhan menyadari eksistensi tempat yang bernama Neraka?

Perubahan memang dimulai dari dalam diri kita sendiri, tapi perubahan seperti apa yang kita mau? Apakah kita akan menjawab eksistensi kita hidup di Indonesia dan eksistensi kita hidup sebagai perwakilan Tuhan di dunia melalui perbuatan korupsi dan kejahatan yang lainnya? Untuk menutupnya, saya ingin mengutip suatu ayat Alkitab, yang menurut saya terkait dengan nasionalisme dan agama kita. “Usahakanlah kesejahteraan kota (baca: negara/tempat) ke mana Aku (Allah) buang (baca: utus), dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7). Apakah kita ingin negara kita sejahtera dan kita sebagai masyarakat yang mengakui adanya Tuhan bisa mewujudkan eksistensi Tuhan dalam diri kita melalui mengusahakan kesejahteraan negara di mana kita diutus Tuhan? Korupsi tentu bukan jalan untuk mewujudkan nasionalisme dan kehidupan agama kita.

Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: