Beranda > Umum > Fenomena ‘Label’ Kristen

Fenomena ‘Label’ Kristen

Suatu hari saya membaca buku Catatan Seorang Demonstran terbitan LP3ES. Buku itu adalah kumpulan catatan harian seorang aktivis tahun 1966 Soe Hok Gie. Buku ini cukup terkenal di kalangan aktivis maupun para pecinta alam. Dari buku ini pula, film Gie diciptakan dan kemudian masuk ke bioskop-bioskop di Indonesia. Buku ini sangatlah laris sehingga dicetak sampai cetakan ke 12 pada Juli 2012.

Apa yang menarik dari buku ini bagi saya? Pertama, Soe Hok Gie mencoba mengajarkan kita bagaimana menjadi seorang idealis. Pada cover buku belakangnya yang edisi Gie Movie terdapat kutipan “lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan” . Dan selama hidupnya memang Soe Hok Gie tidak mau menyimpang dari jalan apa yang telah dia anggap sebagai kebenaran. Kedua, dia adalah sosok pemuda, di usianya yang masih muda telah menghasilkan banyak karya setara orang dewasa, seperti tulisan-tulisan yang ditulisnya di koran-koran nasional seperti Sinar Harapan, Indonesia Raya, maupun Kompas, menjadi inspirasi untuk memperjuangkan kebenaran apapun harga yang dihadapinya. Tidak sedikit dalam catatan hariannya, Soe Hok Gie melayangkan pesimismenya dalam melihat dunia ini. Ketiga, adalah sifat kritisnya dengan lingkungan di mana dia tinggal atau berada. Sasaran-sasaran tulisannya bukan saja pejabat-pejabat, bahkan hansip pun menjadi sasaran penanya untuk mengkritik perilaku-perilaku yang dianggapnya melanggar sisi humanisme. Dia tidak takut tentang apa yang dihadapinya tetapi dia berkata bahwa ada sesuatu yang lebih besar yaitu kebenaran.

Suatu bagian dari buku Catatan Seorang Demonstran, pada tanggal 20 Oktober 1961, ketika Soe Hok Gie tengah memasuki bangku kemahasiswaannya sedang bertukar istilah dengan teman-teman sebayanya. Di situ dia mendapati suatu istilah Islam Statistik. Apa itu Islam Statistik? Menurut kawannya itu, Islam Statistik adalah Islam yang tidak pernah puasa, sembahyang, dan seterusnya. Jadi cuma buat memenuhi statistik semata. Lucu tapi memiliki esensi yang begitu dalam. Saya berpikir hal demikian juga terjadi di dalam Kekristenan sekarang ini. Tetapi yang terjadi sebaliknya dengan kehidupan Islam Statistik menurut teman Soe Hok Gie tersebut. Orang Kristen sendiri tidak tahu dengan apa yang dia lakukan di dalam Kekristenannya sendiri.

Untuk apa sih orang datang ke gereja pada hari Minggu? Ada orang yang akan menjawab karena memang sudah sejak lahir demikian, tapi ada juga yang menjawab ingin bertemu dan bersekutu dengan Tuhan (Tuhan yang mana?), ada juga yang punya motivasi yang berbeda untuk ke gereja seperti datang ke gereja untuk menghapus dosa, untuk berkat, biar tidak dihukum Tuhan, dan banyak jawaban lagi. Di dalam Perjanjian Lama, Tuhan memang memerintahkan orang Israel untuk beribadah kepada-Nya setiap hari Sabat. Di Perjanjian Baru, Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya serta rasul-rasul beribadah kepada-Nya pada setiap hari Sabat. Dan dengan mudahnya pula, kita akan bilang bahwa kita masuk gereja untuk mengikuti teladan Tuhan Yesus. Ah jawaban yang menurut saya terlalu dangkal. Sama ketika pertanyaannya, kenapa kamu berdoa? Maka beribu jawaban berbentuk “permintaan” muncul ketimbang sebagai keperluan untuk selalu berkomunikasi dengan-Nya.

Fenomena di Indonesia dalam dunia Kekristenan adalah pertumbuhan gereja yang cukup tinggi. Menurut data Kepala Kerukunan Umat Beragama Departemen Agama, gereja Protestan tumbuh 131 persen dari jumlah 18.977 gereja pada kurun waktu 1997-2004 menjadi 43.909 pada 2010. Sedang gereja Katolik menurut data yang sama naik 153 persen dari jumlah 4.934 gereja pada kurun waktu 1997-2004 menjadi 12.473 pada 2010. Sebuah pertumbuhan yang fantastis untuk ukuran minoritas di Indonesia yang tercinta ini. Bagaimana dengan pertumbuhan iman atau pertumbuhan secara kualitatif? Seharusnya ada peningkatan kualitas dalam kehidupan orang Kristen seiring bertambahnya jumlah gedung gereja di Indonesia.

Berbicara tentang Kekristenan di Indonesia, maka tidak akan lepas pula pembicaraan kita terhadap daerah-daerah yang menjadi kantong Kekristenan itu berada. Daerah-daerah seperti Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Papua, Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah-wilayah dengan jumlah orang Kristen terbanyak di Indonesia walaupun di Sumatera Utara bukan merupakan sebuah dominasi yang kentara.

Dari 240 juta penduduk Indonesia, ada 9,2 persen penduduk yang memeluk agama Kristen atau setara dengan 22 juta penduduk yang memeluk agama Kristen. Jumlah yang besar tentunya. Apakah kualitas Kekristenan telah mantap sehingga bisa memiliki 22 juta penduduk beragama Kristen di negara Indonesia atau setara dengan jumlah penduduk benua Australia? Melihat sejarahnya, saya ragu akan hal tersebut. Apalagi pada era Orde Baru terjadi perpindahan agama secara massal akibat tekanan pemerintah saat itu, dan sebagian besar mereka pindah ke agama Kristen (Protestan dan Katolik). Imbas dari kebijakan tersebut berdampak dengan pertumbuhan yang tiba-tiba pula saat itu. Dan hal tersebut bertambah karena adanya sistem “warisan” di dalam keluarga Indonesia.

Keluarga yang menjadi Kristen terpaksa kemudian mewariskan Kekristenannya yang terpaksa kepada anak-anaknya. Dan terus berlanjut demikian hingga terjadi ledakan penduduk pada saat ini. Jarang saya mendapati orang yang menjadi Kristen karena pertobatan, lebih banyak setelah mendapati dirinya lahir dalam sebuah keluarga Kristen kemudian diberi label Kristen oleh orangtuanya melalui baptisan. Saya pun demikian, generasi Kristen Warisan, sejak lahir telah dilabeli Kristen melalui baptisan oleh kedua orangtua saya yang merupakan pelayan (evanglish) dan seorang yang aktif dalam lingkungan gereja sebelum mendapatkan pengalaman di dalam Kristus yang mengubah saya pada masa kuliah. Mama saya, memiliki cerita yang jauh mengesankan, karena menjadi Kristen yang datang dari pertobatan pada saat masa SMA. Papa saya telah menjawab panggilan Tuhan sejak remaja dengan aktif di persekutuan gereja. Jauh berbeda dengan saya.

Tentunya bukan cuma saya saja yang menjadi generasi Kristen Warisan, banyak teman-teman saya juga yang akhirnya kadang-kadang malah bingung dengan keadaannya sehingga menjadi bagai kerbau yang ditarik kesana kemari. Ditambah pula dengan khotbah-khotbah di gereja yang kurang mendidik orang di dalam kebenaran karena terlalu banyak kompromi di dalamnya sehingga menggeser esensi Kekristenan itu sendiri. Tidak sedikit orang Kristen yang tidak tahu kenapa dia menjadi Kristen dan kenapa Tuhan Yesus datang menyelamatkan dunia ini. Dan ini akan terus bertambah jumlah orang-orang Kristen yang berlabel warisan akibat makin lemahnya kebenaran yang disampaikan di balik mimbar-mimbar gereja. Ketika gereja lebih menikmati pertumbuhan jemaatnya dan mulai melupakan kualitas jemaatnya, membius mereka dengan program-program yang membuat jemaat menjadi objek semata ketimbang subjek dalam pelayanan.

Fenomena label Kristen ini akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama mengingat gencarnya tekanan globalisasi serta kebutuhan pengakuan diri dari manusia-manusia lain akan menggeser nilai-nilai original dari Kekristenan. Bukan hal yang baru ketika orang-orang lebih senang mendengar khotbah-khotbah tentang berkat dan surge ketimbang kebenaran yang nyata di dalam diri Yesus Kristus. Apakah Kekristenan itu hanya berkat dan surga saja? CS Lewis berkata dalam tulisannya Is Theology Poetry? pada tahun 1945 I believe in Christianity as I believe that the sun has risen, not only because I see it, but because of it I see everything else. Kekristenan bukan saja semata berkat dan surga, tetapi Kekristenan membuka segala sesuatu, memperlihatkan segala sesuatu. Dan ketika di gereja kita hanya diberi cuap-cuap tentang hal-hal yang sempit seperti berkat dan surga saja, maka janganlah heran jika doa-doa manusia-manusia Kristen lebih bersifat seperti budak yang meminta kebebasan tapi tidak mempergunakan kebebasan itu sebagai anugerah tetapi malah lari kepada tuan yang lain untuk diperbudak.

Apa yang harus kita lakukan untuk kembali membawa nilai Kekristenan pada jalur yang benar, seturut kehendak Allah akan dunia ini? Banyak dan sulit! Pertama kita harus meminta pekerja kepada yang empunya yaitu Tuhan Allah sendiri. Bukan hanya karena ladang yang sudah menguning dan kita bisa memanennya seenaknya saja. Perlu cara yang baik untuk memanennya, butuh suatu aturan untuk menciptakan keteraturan dalam memanen ladang tersebut sehingga tidak menghasilkan hasil yang cacat. Para pekerja perlu dididik di dalam roh dan kebenaran Tuhan, perlu dilatih bagaimana memiliki standar Allah dalam memanen ladang yang menguning ini. Kedua, kekonsistenan dalam penginjilan. Artinya setiap mereka yang mengaku “pekerja” memiliki visi yang sama yaitu untuk kemuliaan Tuhan bukan kemuliaan diri semata. Kita harus konsisten akan hal tersebut. Sulit? Tentunya, dengan jumlah yang mencapai 22 juta penduduk (dan mungkin 60% s/d 70% adalah kelas menengah dalam ekonomi) menjadi suatu jumlah yang besar untuk kepentingan diri sendiri (bisnis). Bisa saja ladang yang sudah menguning, dipanen kemudian diasingkan dari lumbung yang semestinya menjadi tempat hasil panen, lalu mati tidak berdaya dan tidak dipergunakan lagi. Hasil yang sia-sia karena tidak bermanfaat. Ketiga, bagaimana kita menciptakan Kekristenan bukan sebagai label semata tetapi menjadi sebuah esensi kepribadian yang berlandaskan nilai-nilai Kristen yang tidak kompromi terhadap zaman tetapi fleksibel menghadapi perubahan zaman.

Apakah kita menjadi Kristen karena sebatas sebagai warisan orangtua kita? Introspeksi diri kita masing-masing apakah kita mengasihi Kristus sungguh-sungguh atau hanya pura-pura. Jika hanya pura-pura, maka kita adalah orang-orang Kristen Statistik, yang datang beribadah dan melakukan hal-hal yang berbau Kekristenan tanpa mengetahui esensinya kemudian masuk dalam statistik gereja.

Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: