Beranda > What I See > Berbicara tentang Indonesia…

Berbicara tentang Indonesia…

beauty of indonesiaBerbicara tentang Indonesia, seakan tidak ada habisnya. Bagi saya, sangat menyenangkan untuk mendengarkan keindahan-keindahan alam dari Sabang hingga Merauke. Entah itu sedang berada di darat maupun di laut, atau mengambilnya saat sedang berada di dalam pesawat terbang. Keindahan itu seakan pemberian khusus dari Yang Maha Kuasa untuk kita yang berada di negara tropis. Walaupun masih jauh dari kata sempurna, tapi bercerita tentang keindahan Indonesia seakan tidak cukup waktu semalam.

Salah satu teman kos saya, bercerita tentang liburannya ke Kepulauan Belitung. Dengan kondisi pantai yang sangat indah, dia percaya jika dikelola dengan baik maka pariwisata akan tetap datang ke Belitung. Suasana sepi mungkin akan menjadi ramai di sana kala wisata berbondong-bondong melihat indahnya Negeri Laskar Pelangi tersebut. Tentu bukan hanya keindahannya yang diangkat, tapi juga ada cerita-cerita tentang penambangan timah di sana. Bahwa alam yang diberikan bisa akan hilang sekejap jika ada pertambangan di sana. Para nelayan atau mereka yang berkepentingan dalam melindungi laut dan pantai berusaha mengusir kapal-kapal penghisap timah yang ada di laut karena bisa merusak ekosistem di dalam laut.

Lain lagi sahabat saya, yang balik ke kampungnya di Purbalingga. Walaupun sudah menjadi kota, yang cukup ramai toh udara sejuk masih bisa dinikmati. Kota yang juga terkenal dengan wisata kulinernya sangat menarik untuk dikunjungi. Rasanya sih pengen ke sana, tapi belum punya waktu. Begitu juga teman kantor saya yang tinggal di wilayah Boyolali. “Waduk Kedung Ombo sangat besar, mas,” kata Mas Tono menjelaskan dengan semangat. “Nanti kalo pengen ke sana, kita ke Kemukus,” lanjutnya. Kemukus merupakan semacam bukit jika dilihat dari penjelasan Mas Tono.

Belum lagi cerita tentang keindahan dari Puncak Gede, wah kalo yang ini saya sudah dua kali mengunjunginya. Dan belum bosan dengan pemandangannya. Teman saya, dua orang, ingin pergi lagi ke sana. Pemandangan di pagi hari dengan kabut dan embun yang menutupi bagian wilayah yang bisa dijangkau oleh mata dari Puncak Gede. Beralih ke kampung saya, Manado. Entah siapa sih yang belum mengenal Taman Laut Bunaken. Salah seorang kawan yang sementara bekerja di Ambon pun pengen ke sana, padahal dia orang Pontianak yang terdampar di Yogya untuk kuliah hahaha. Namun sampah di Taman Laut Bunaken tidaklah sedikit, namun tidak juga banyak karena sudah ada kesadaran masyarakat walaupun tindakannya masih bersifat reaktif.

Raja Ampat juga, salah satu sahabat saya namanya Citra bekerja di sana. Bercerita sedikit mengenai keindahan Raja Ampat serta sedikit menggoda untuk bisa liburan ke sana. Tapi biaya untuk ke sana cukup mahal, mungkin kalau ada yang mau nalangin sih saya mau. Raja Ampat terkenal dengan gugusan-gugusan atolnya yang menarik dan belum banyaknya wisatawan lokal yang ke sana membuat daerah tersebut masih asri. Wisatawan Mancanegara biasanya lebih menyayangi dan menghormati sebuah objek wisata.

Alamnya belum cukup untuk menjadi bahan perbincangan setiap malam antara saya dan teman-teman sekos saya. Penduduknya adalah hal yang menarik. Toh kita bukan ahli-ahli antropologi ataupun sosiologi yang mengerti masalah kependudukan. Mulai dari sikap pemabuk penduduk di Indonesia Timur, hingga konspirasi-konspirasi pengusaha suatu etnis di salah satu wilayah di Sumatera. Ada juga tentang kalemnya orang Jawa, baik itu Sunda maupun Jawa tapi hanya bisa dinikmati di wilayah yang cukup jauh dari perkotaan, menurut saya. Ada juga lho, di salah satu kawasan di Sumatera orang-orangnya ada yang belum beradab. Tapi saya tidak mau menyebutkan karena belum beradab adalah sikap kita juga sebagai penduduk Indonesia.

Di Minahasa, seorang kawan dari Jakarta keturunan Tionghoa cukup kaget dengan salah satu wanita yang putih, cantik, dan pintar mirip dengan seorang gadis keturunan Tionghoa, tapi bukan. Di kawasan Sunda juga saya pernah menemukan hal seperti itu. Artinya, kita tidak bisa menilai suatu penduduk hanya dari khas yang ada, adakalanya kita harus menilai kemampuan mereka dalam menjelaskan adat budayanya. Penduduk Indonesia adalah penduduk yang ramah, dan saya aminkan itu. Karena saya mengalaminya, mungkin karena belum merasakan juteknya jadi mengatakan ramah.

Jika bicara tentang Indonesia, maka politik pun tidak lepas dari pembicaraan. Politik adalah hal yang lumrah dibicarakan di warung-warung kopi. Di Manado ada satu jalan namanya Jalan Roda, yang merupakan tempat minum kopi karena ada berbagai warung kopi di sana, adalah tempat di mana masyarakat sering berbicara politik. Ketika salah seorang warga Manado, Angelina Sondakh, tertangkap karena kasus korupsi, maka namanya menjadi perbincangan yang panjang mengingat dia adalah salah satu tokoh politik Sulawesi Utara yang cukup bersinar. Belum lagi masalah partai politik, adalah tema-tema yang muncul mengenai politik di ruang-ruang percakapan masyarakat.

Menjelang 2014, tahun di mana Pemilu diselenggarakan, pembicaraan tiba-tiba sudah mengenai partai politik (parpol). “Lu milih apa nanti?” adalah hal yang mulai sering terdengar. Saya sih gak bakal milih, biarin golput. Parpol-parpol mulai berdandan menyambut Pemilu 2014. Dandanannya juga tidak cantik, dan banyak korupsinya. Wajar kalau beberapa dari teman saya dan saya meragukan mereka untuk dipilih. Bukan personal, tapi parpol. Lihat saja bagaimana orang-orang parpol yang duduk di kursi ‘empuk’ parlemen bolak-balik gedung KPK, entah itu saksi ataupun tersangka. Mereka yang tidak duduk di kursi ‘empuk’ pun berantem kok dengan rekan sesama partai, memperlihatkan betapa mereka tidak layak untuk dipilih. Ada lagi yang bersuara saat mendekati Pemilu, tapi dulu bungkam seribu bahasa.

Parpol usai, eh masuk ke Pemilihan Presiden (Pilpres). Calon-calon presiden (capres) sudah bermunculan dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan dari 2009! Toh kalau KPU (Komisi Pemilihan Umum) belum menetapkan pasangan resmi yang akan ikut Pilpres, jadi santai aja. Tapi dari capres-capres yang muncul, banyak yang mengundang gelak tawa ketimbang rasa respek.

Jokowi adalah sosok yang melegenda di survey-survey siapa yang cocok jadi presiden, atau paling populer saat ini. Sampe-sampe PDI-P, partai  yang menaungi Jokowi, pun pengen ikut ‘kecipratan’ populernya. Gara-gara kemeja kotak-kotak saat kampanye Gubernur DKI Jakarta tahun lalu, kemeja tersebut pun langsung ngetren di kalangan politisi PDI-P yang mengikuti pemilihan kepala daerah. Toh gak semua manjur, ada malah yang kececer di the last place. Sampai-sampai dikritik juga mereka karena hanya ikut rame aja. Mengenai pilpres, kita harus mengenal dan mencari tahu sosok yang benar-benar ingin membawa Indonesia kepada perubahan dan bukan hanya sebatas slogan-slogan yang tergantung di depan kantor-kantor pemerintah. Inspirasi perubahan bukan hanya dicetuskan oleh KPK. Karakter seorang presiden akan menentukan karakter pemerintahannya. Jika karakternya ingin maju, contohilah Jakarta yang pihak eksekutifnya ingin maju sehingga karakter pemerintahannya perlahan harus mengikuti karakter eksekutif. Semoga saya bisa ikut dalam pilpres nanti.

Ada satu lagi mengenai korupsi, tapi sudahlah. Nanti terlalu panjang.

ugly of indonesia

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: