Beranda > What I See > Berpetualang Ke Gunung Gede: Sekali Lagi

Berpetualang Ke Gunung Gede: Sekali Lagi

Sebuah pesan singkat dari Pak Sugianto masuk. Ajakan untuk berpetualang ke Gunung Gede tanggal 7 September isi dari pesan itu. Tidak perlu berpikir lama, saya pun mengiyakan. Pak Sugianto mengajak anaknya Jasie dan beberapa temannya (awalnya). Saya juga mengajak Ko Melvin, teman di Areopagus dan Joe teman sekantor saya. Kita semua pun berusaha memenuhi administrasi dari pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) melalui teman Wury yang sebelumnya juga mengurus administrasi kita saat ke Gunung Gede 3 bulan lalu, Dilau namanya. Setelah semuanya diurus, ternyata kuota untuk mendaki saat itu sudah tidak memungkinkan lagi. Akhirnya pendakian kita diundur ke tanggal 5 Oktober 2013.

Kita bertemu di salah satu mall di Jakarta untuk membahas persiapan-persiapan terakhir yang diperlukan untuk melakukan petualangan. Kali itu minus Joe dan Monica yang sedang berhalangan. Setelah melalui berbagai diskusi dan pengarahan dari Pak Sugianto, kita sepakat dalam hal meeting point, dan rencana-rencana lain yang sudah disusun. Rencana biasanya tinggal rencana saat itu, jadi yang ada hanyalah kegiatan teknis yang dijalankan berdasarkan situasi dan kondisi saat hari H.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore ketika saya beranjak dari tempat saya tinggal. Sesuai rencana awal, meeting point berada di JDC, sedangkan Joe yang awalnya akan bertemu di JDC lebih memilih untuk bertemu di tempat transit busway ke Kampung Rambutan yaitu Cawang BNN. Di JDC, Ko Melvin sudah datang lebih awal dan kita ngobrol banyak hal. Pak Sugianto, Jasie, dan Monica tiba sekitar jam setengah 4 sore dan langsung menuju halte busway di depan JDC. Setelah menunggu, akhirnya kita bisa naik busway yang minta ampun penuhnya. Dengan tas-tas besar ala pendaki, busway makin sesak. Dan perjalanan ke Cawang itu tidaklah dekat.

Joe memutuskan untuk menunggu di halte Cawang BNN, tapi kita dalam rombongan yang besar memutuskan untuk turun di halte Cawang UKI sehingga Joe harus pergi ke halte itu. 5 menit menunggu, Joe tiba. Perkenalan yang sebentar dengan Pak Sugianto, Ko Melvin, Jasie, dan Monica. Kita antri di barisan penumpang yang akan menuju Terminal Kampung Rambutan.

Tiba di Terminal Kampung Rambutan dalam keadaan rempong. Macet yang luar biasa menyebabkan perjalanan ke Terminal mencapai 2 jam! Kita juga pada gempor, sampe-sampe harus cari tempat duduk. Belum lagi tas-tas dalam ukuran besar yang harus dijaga. Walaupun akhirnya tiba. Di terminal ini, kita mencari bus yang menuju Cianjur yang melewati Cibodas. Bus yang menuju Cianjur rupanya masih ngetem, dan kosong. Kita pun masuk dan menaruh barang-barang di dalam bagasi. Sedikit energi dari sukun goreng (kalo di Manado dibilang amu) membuat suasana cukup ceria.

Cibodas

Perjalanan ke Cibodas agak terasa lama, menurut saya. Bis melaju lambat padahal macetnya tidak parah-parah amat dan penumpang tidak berdesak-desakan di dalam bis. Tapi bis tetap saja melaju dengan kecepatan biasa-biasa saja. Malam pun turun dengan lebih cepat ketimbang laju bis menuju Puncak.

Tiba di pertigaan Cibodas kira-kira pukul 8 malam, kemudian belanja beberapa logistik untuk perjalanan pada keesokan harinya. Di dekat situ ada sebuah tempat makan kecil, bisa dibilang warteg yang menyajikan banyak makanan. Perut memang belum diisi oleh nasi sejak dari Jakarta. Makanan pokok orang Indonesia adalah nasi jadi wajar saja kalo sukun itu tidak cukup bagi perut. Kita berenam duduk bersama menikmati makanan warteg tersebut. Warteg tersebut memberikan kebebasan bagi kita untuk melayani sendiri alias bebas ngambil. Wah, rupanya ibu itu belum tahu kalau kita makannya banyak. 4 laki-laki dewasa sedang kelaparan mencoba menyantap masakan ala kadarnya dengan lahap, 2 anak SMA pun tidak kalah lahap. Tambahan teh tawar hangat untuk melancarkan makanan masuk ke perut. Sembari makan, obrol-obrol ringan maupun berat terjadi di meja makan. Mulai dari masalah politik, pekerjaan, hingga pelayanan adalah perbincangan hangat di malam yang dingin itu. Makanan di tempat itu cukup murah untuk berenam, 89ribu untuk 6 orang yang lapar itu sudah lebih dari cukup.

Sehabis makan, Joe bertanya kepada saya berapa tarif angkot ke Cibodas dan saya jawab pada pengalaman sebelumnya kita menghabiskan uang 10ribu per orang untuk bisa ke Cibodas. Dan uang 10ribu itu untuk berdesak-desakan dalam angkot. Saat itu ada sekitar 10 hingga 11 orang dalam angkot, jadi bayangkan untung sopir saat itu. Kemudian Joe bilang, nanti dia akan coba tawar kepada sopir angkot 50ribu sampe Cibodas. Bagi saya tidak masalah, yang penting kita harus segera menuju ke Cibodas karena sudah ada Bang Dilau yang menunggu kita di sana. Joe pun bergegas ke tempat angkot ngetem untuk menjalankan misinya. Pak Sugianto pun mencoba menawar-nawar para sopir angkot. Akhirnya, dengan kemampuan berbahasa Sunda yang baik dan benar Joe bisa menaklukkan hati seorang sopir angkot dengan 50ribu untuk kita bisa diangkut hingga kantor Taman Nasional. Malam dingin disertai hembusan angin saat angkot membawa kita ke kantor Taman Nasional

Berhenti tidak jauh dari kantor Taman Nasional, kita sudah disambut oleh para penduduk lokal yang menjajakan barang jualannya. Mulai dari senter, sweeter, sarung tangan, kupluk, dan sebagainya ditawarkan kepada kita. Saya hanya membeli sarung tangan, Joe membeli kupluk dan sweeter merah putih, dan Ko Melvin membeli senter. Pak Sugianto, Jasie, dan Monica sudah menuju ke kantor sembari kita lihat-lihat barang yang ditawarkan penjual. Setelah belanja seadanya lagi, saya, Joe, dan Ko Melvin bergegas menuju kantor untuk menemui Pak Sugianto. Pak Sugianto ternyata sudah bertemu dengan bang Dilau, dan bang Dilau bersama dengan porter yang akan menuntun dan membawa perlengkapan.

Berjalan ke arah pintu masuk pendakian selalu gelap tanpa lampu, padahal malam membuat jalan menjadi samar terlihatnya. Bang Dilau dan Pak Sugianto berjalan cepat. Saya, Joe, dan Ko Melvin bersama porter bernama Hendrie berada di belakang. Monica dan Jasie masih bercakap-cakap sambil jalan cukup lambat. Mau foto di depan pintu masuk Taman Nasional merupakan hal yang mubasir di malam gelap dan cahaya yang minim.

Menaiki tangga-tangga yang tersusun tidak teratur oleh batu-batu besar harus perlahan-lahan. Senter pun harus dihemat batereinya karena pendakian besok hari bisa saja hingga malam. Pak Sugianto sudah sampai terlebih dahulu bersama bang Dilau. Bang Dilau menunjukkan lokasi kita akan menginap hingga pagi hari, sebuah gedung di belakang kantor pemeriksaan untuk pendakian. Yah namanya juga pendaki, ya tidak ada tempat yang senyaman tempat tidur sendiri. Kita semua harus selonjoran bersama di atas sebuah karpet yang belum diketahui rimbanya. Kedua perempuan SMA membuka matras mereka untuk tidur di atas matras. Dan langsung terlelap dalam tidur setelah bersih-bersih muka di kamar mandi yang memungut biaya. Saya, Joe, dan Ko Melvin masih ngobrol, dan dingin pun mulai menyapa kaki saya yang memakai celana pendek milik Andri. Joe merasa enjoy dan sesekali keluar untuk merokok.

Malam makin dingin, untung ada selimut Ko Melvin. Saya agak malas harus mengambil sleeping bag yang sudah dari awal ditaruh di tempat paling bawah. Toh akhirnya saya mengambil celana panjang untuk menutupi kaki dari serangan dingin. Pak Sugianto merasa dingin saat itu lebih dingin daripada pendakian kita sebelumnya (bersama Wuri dan Andri). Saya juga merasa demikian. Toh akhirnya bisa tidur, walaupun sedikit gelisah. Joe paling belakangan tidur bersama Ko Melvin. Mereka sepanjang malam aktif dalam ketidaksadaran mereka dalam bentuk dengkuran kencang. Pagi belum menjelang.

Perjalanan ke Kandang Batu

Tanpa suara berisik ayam jantan yang sok, pagi sudah tiba. Suasana masih gelap karena matahari masih malas-malasan untuk bangun. Kita menargetkan jam 6 untuk melakukan pendakian, toh namanya orang Indonesia masih ada sifat ‘ngaret’. Akhirnya keterusan hingga jelang setengah tujuh pagi. Kita mulai mengatur barang-barang yang akan dibawa. Hendrie sudah menunggu di kantor yang ada di depan.

P1110754Dari ki-ka: Monica, Jasie, Ko Melvin, Joe, dan saya. Pak Sugianto berada di depan kita.

Setelah ketemu Hendrie, doa dipanjatkan. Meminta pertolongan Tuhan Yang Maha Esa dalam menuntun perjalanan kita menuju Puncak Gede. Dan tentunya berharap akan menjadi petualangan yang menarik bagi saya. Walaupun ini adalah kali kedua, perjalanan ke Puncak Gede tidak pernah membosankan, pengennya sih naik lagi dan lagi.

P1110757Ki-ka: Pak Sugianto, Hendrie (kecil-kecil naga bonar euy!), Jasie, Monica, Joe (di belakang Jasie-Monica), ko Melvin, dan saya.

Setelah mengambil foto kenang-kenangan, maka kita segera memulai perjalanan. Untuk meringankan beban Hendrie, maka Pak Sugianto meminta Hendrie berjalan lebih dahulu dengan titik pertemuan di pertigaan Payangcangan. Kita berjalan lebih woles aka santai. Urutannya demikian, seperti biasa, Pak Sugianto berada paling depan dan yang menuntun tim, diikuti oleh Jasie dan Monica, kemudian Ko Melvin, Joe, lalu saya di tempat favorit. Perjalanan pun dimulai!

Rute yang dilalui masih sama dengan yang lalu. Awalnya masih menyenangkan, jalan masih cukup bersahabat dengan kekuatan fisik kita. Saya masih agak ngos-ngosan dalam mengatur nafas, nanti setelah berjalan 200 meter baru mulai terbiasa mengatur nafas. Saya tidak tahu yang lain bagaimana. Kita berjalan cukup cepat, ketimbang saat pendakian yang pertama. Perjalanan cepat membuat kita cepat pula melewati Telaga Biru dan menuju Rawa Gayonggong. Jembatan batu tetap tegar berdiri di atas rawa-rawa ketika kita melewatinya. Cuaca cerah dengan udara pagi yang menyegarkan membuat kita bisa melihat indah dan kokohnya Gunung Pangrango. Bayangkan kalau udara tidak menyegarkan terus melihat Pangrango, mungkin tidak tahan lama.

P1110773Jasie, Joe, dan Monica dengan latar Gunung Pangrango yang indah.

Gunung Pangrango, kapan ya bisa ke puncaknya. Dalam hati sih punya niat, hanya kalau dengar cerita teman-teman yang pernah ke sana, nyali langsung ciut. Kita tidak berlama-lama di sini, langsung jalan menuju tempat perhentian pertama, yang seharusnya.

Jarak dari Rawa Gayonggong ke pertigaan Payangcangan tidaklah begitu jauh. Kira-kira 10-20 menit sampai. Ketika melewati bagian terakhir dari jembatan ini, saya cukup kaget. Ternyata jembatan kayu sudah tidak ada lagi dan diganti dengan jembatan batu juga. Padahal pada pendakian bulan Juli, jembatan kayu masih ada. Perubahan yang begitu cepat, salut untuk mereka yang membawa material-material yang diperlukan ke tempat ini.

Setibanya di pertigaan Payangcangan, kita beristirahat cukup lama. Mungkin ada setengah jam, dan kita berjalan cukup cepat untuk mencapai di mana Hendrie berada. Pak Sugianto membagikan kurma untuk menambah energi, dan memang bermanfaat. Beliau pun mempromosikan bahwa buah yang dipromosikan oleh Nabi Muhammad itu memiliki manfaat untuk menjaga energi. Di pertigaan ini pula tidak banyak pendaki yang beristirahat, mungkin pas kita sampai, mereka sudah pada berangkat.

IMG00769-20131005-0859Ko Melvin menghadap kamera, kecapean rupanya. Pak Sugianto, Hendrie, dan Joe sementara berbincang dan diperhatikan oleh Jasie-Monica.

Monica rupanya penasaran dengan tas carrier yang dibawa Hendrie. Perawakan Hendrie yang begitu kecil membuat Monica bertanya berat badannya. “57” jawab Hendrie, kemudian Monica melanjutkan dengan pertanyaan berapa berat tas carrier yang dibawa Hendrie. “50” jawab Hendrie santai. Sebenarnya bukan hanya Monica saja yang kaget, saya juga kaget dengan jawaban Hendrie. Tas carrier Hendrie membawa 3 buah tenda, dan beberapa perlengkapan masak. Monica rupanya penasaran dengan tas carrier seberat 50kg itu, jadi dia coba menaruh dipundaknya. Ya terang saja, karena belum terbiasa tas tersebut terasa lebih berat bahkan hampir tidak bisa jalan si Monica.

Istirahat yang cukup lama untuk mengisi tenaga. Perjalanan dari pertigaan ini sudah lebih berat dengan tanjakan yang lebih wah! Pak Sugianto kembali meminta Hendrie untuk berangkat lebih dahulu. Titik pertemuannya adalah Kandang Badak atau Kandang Batu tergantung sikon. Menurut mereka yang baru saja kembali dari sana, lokasi Kandang Badak penuh oleh mereka yang baru saja turun dari puncak. Ketika Hendrie bergegas, kita segera bersiap. Mengatur perlengkapan kembali dan menyusun barang-barang yang diperlukan seperti makanan ringan untuk ditaruh di tempat yang mudah diambil. Perjalanan dilanjutkan, dan hari begitu cerah.

Menuju Kandang Badak, mungkin ada sekitar 6km dari pertigaan Payangcangan. Jalan diawali dengan sebuah tanjakan yang lumayan bisa buat kaki pegel kalo 5 kali bolak-balik. Tidak ada belanja-belanja sayur pakis seperti yang dilakukan Wury.  Pak Sugianto memimpin tim woles ini berjalan woles alias menikmati perjalanan. Hendrie sudah jauh di depan. Urutan sering berganti, kadang-kadang Joe dan Ko Melvin sering bertukar atau Jasie dan Monica tapi tak apa.

Pohon-pohon di perjalanan menuju Gunung Gede dan Gunung Pangrango menjulang tinggi, hutan-hutan Montana khas alam tropis menghiasi perjalanan. Kesegaran udara yang dihasilkan oleh pepohonan sekitar menjadi nilai tambah. Nilai tambah di sini adalah sesuatu yang tidak bisa kita nikmati di perkotaan, walaupun kota itu sekecil Tomohon yang ada di daerah saya. Burung-burung tidak bermunculan, tidak tahu mengapa, apa karena sibuk mencari makan. Suara-suara jangkrik malah saling bersahut-sahutan sejak malam hingga siang hari. Beberapa kali kita berpapasan dengan teman-teman pendaki, baik mereka yang akan naik maupun turun. Saling sapa menyapa ala semut pekerja sudah biasa di alam terbuka ini. Saya rasa hidup bersosialisasi seperti saat mendaki ini perlu di dalam kehidupan perkotaan. Bagi saya, saling sapa dalam lingkungan tempat kita tinggal adalah hal yang perlu. Menurut wejangan mama, tetangga adalah keluarga terdekat kita saat kita tinggal jauh dari keluarga yang sesungguhnya. Jadi bergaul dengan tetangga, sapa mereka. Di dalam pendakian ini, bagi para pendaki yang naik, mungkin nanti mereka akan jadi tetangga kita saat berkemah nanti. Nothing is impossible harus selalu dipegang.

P1110817

Di suatu tempat peristirahatan, terlibat percakapan dengan teman-teman pendaki dari Jakarta. Mereka adalah teman-teman dari Budi Luhur berencana berkemah di Suryakencana. Pak Sugianto yang memimpin tim ini akrab dengan mereka. Kita mendapatkan tawaran untuk pulang bersama dengan mereka saat turun nanti. Untuk mempermudah komunikasi nanti, Pak Sugianto tukar-tukaran nomor handphone dengan salah satu rombongan mereka. Perjalanan dilanjutkan untuk tetap menjaga kaki tetap bergerak supaya tidak jadi malas karena terlalu lama berhenti.

Sesuai pesan Bang Dilau, saat jam 12 siang teng, di manapun kita berada harus berhenti dan makan siang. Sayang saat jam 12 itu, belum ada tempat yang begitu nyaman untuk duduk sejenak jadi kita tetap berjalan sampai menemukan “sofa”. Sofa adalah semacam pos bayangan yang ada di beberapa titik perjalanan. Di situ ada semacam kursi yang dibuat dari batu lengkap dengan meja. Walaupun “sofa’ itu sudah terlihat usang, karena beberapa bagiannya sudah tidak rata lagi, tapi tetaplah jadi tempat yang nyaman untuk menikmati makan siang.

Pak Sugianto baru sadar bahwa kompor kecil di bawa oleh Hendrie dan yang ada di kita hanya tinggal gas. Toh itu tidak menyurutkan Pak Sugianto untuk berkreatif dengan makanan yang ada, jadi dikeluarkan makanan apa yang ada pada kita. Jadilah 5 roti dan 2 ikan, eh salah, ada roti tawar dan rendang. Bukan soal mau atau tidak mau memakan roti lapis rendang, lagian di salah satu resto cepat saji sudah ada kok roti lapis rendang hanya saja mahal harganya. Roti gandum dan rendang adalah makan siang kita. Monica rupanya maag harus makan nasi, tapi roti gandum tak apalah untuk sekedar melapis. Perjalanan kita belum melewati air panas, jadi masih agak jauh karena tanjakan ke Kandang Badak tetap dihitung sebagai bagian sulit untuk dilewati kaki-kaki yang mulai pegel dikit. Ehm, untuk soal pegel, Andry sudah menyarankan saya memakai gel anti pegel merek Salonpas. Jadi tiap kali perjalanan saya menggosokkannya di betis dan paha sebagai doping. Wanginya yang khas membuat teman-teman lain ikut menggunakannya.

Roti rendang itu ternyata enak. Enak karena dalam keadaan terbatas, coba saja kalau ada di kota, belum tentu jadi enak. Karena rendang dan roti itu terbatas, maka seorang hanya mendapat 2 potong roti dan sepotong daging rendang. Air pun harus dihemat agar tidak kehabisan sebelum mencapai minimal Kandang Batu. Perjalanan dilanjutkan setelah semuanya merasa cukup.

Selanjutnya adalah melewati air panas. Jarak sekitar kurang lebih 100 meter harus dilewati perlahan. Saya agak ngeri kalau melewati jalur ini, karena hanya ada satu jalur untuk 2 arah. Jadi harus sabar dan gantian agar tidak menjadi bencana. Batu-batu pijakan pun agak licin jadi harus berpegang pada tali yang ada di sisi kiri, dan sisi kanan di beberapa tempat. Belum lagi uap panas yang keluar dari hangatnya air menjadi hambatan lain dalam hal jarak pandang. Jadi jalannya harus dekat-dekatan. Jasie dan Monica harus diingatkan mengenai uap panas itu karena mereka memakai kacamata, jadi bisa saja tidak terlihat apa-apa karena uap menempel di kaca. Untuk menghemat waktu, kita harus melewati sesegera mungkin.

P1110777Joe, Jasie, Monica, Ko Melvin, dan saya mulai memasuki jalur air panas, tapi pose dulu.

P1110778Hanya Joe dan saya yang sadar kamera hahaha.

P1110783Joe di paling depan lagi lihat jurang, Jasie (tas cokelat) coba bantu Monica, Ko Melvin menunggu giliran, saya tertutup uap. Pak Sugianto yang foto.

Di ujung jalan, tempat kecil untuk beristirahat penuh dengan para pendaki. Jadi kita berinisiatif untuk jalan terus. Bagi mereka yang kecapean diharapkan menunda dulu capeknya. Karena saya masih lumayan kuat, jadi berjalan lebih dahulu untuk cari tempat istirahat. Pak Sugianto menuntun mereka. Jadi saya jalan sendiri. Dulu Wury pernah istirahat di daerah dekat air panas, karena saya ingat Andry pernah ngetes air yang mengalir di sekitar tempat yang saya lalui. Sayang penuh semuanya. Ada yang sampe buka tenda, mungkin mereka baru saja akan turun kembali ke asal mereka. Setelah tidak menemukan tempat peristirahatan saya masih jalan terus dan tiba di Pos Kandang Batu. Karena tidak menemukan tempat yang enak juga untuk duduk karena banyaknya pendaki yang mengokupansi tempat tersebut saya jalan terus. Tidak lama kemudian, Hendrie menepuk saya dari belakang. Ternyata Hendrie berhenti di sini dan bukan di Kandang Badak. Menurut info dari rekan-rekan yang turun, pos Kandang Badak penuh, jadi kita berhenti di sini. Setelah bertemu Hendrie, saya malah lupa dengan tim yang ada di belakang. Setelah 10 menit, akhirnya Pak Sugianto dan kawan-kawan tiba.

Kandang Batu adalah salah satu lokasi perkemahan alternatif jika Kandang Badak penuh. Di sini ada mata air, walaupun (katanya) tidak sebaik yang ada di Kandang Badak. Banyak pendaki di tempat ini yang beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan baik naik maupun turun. Kita pun segera membuka matras dan selonjoran di bawah pepohonan. Hendrie rupanya sudah book tempat itu. Kompor-kompor dinyalakan, bahan-bahan makanan dikeluarkan. Jasie dan Monica ditemani Hendrie menjawab ‘panggilan alam’. Saya, Pak Sugianto, dan Joe menikmati nikmatnya tiduran di bawah pohon. Terakhir saya tiduran di bawah pohon ketika berkuliah. Cuaca cerah menggantung di atas kita, angin mendorong awan-awan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Para pendaki lalu-lalang dengan tas-tas besar berisi perlengkapan pendakian.

P1110811Monica dan Jasie bernarsis itung-itung istirahat.

P1110830Saya, Hendrie, Jasie, Joe, Monica, dan Pak Sugianto. Ko Melvin fotografer. Khawatir adanya zat asam yang naik ke langit karena Jasie dan Monica.

2 kompor dinyalakan, nasi dimasak. Ko Melvin membawa bumbu nasi goreng buatan mamanya, dicampurlah bumbu yang seperti kecap itu ke nasi. Pak Sugianto juga membuat 1 lagi nasi putih untuk dimakan bersama kornet yang dibawa oleh Ko Melvin. Ko Melvin membawa banyak makanan siap saji, seperti pop mie, maling (yang ini dari babi), kornet. Menurut Ko Melvin, itu disediakan oleh mamanya agar anaknya tidak kelaparan. Saya hanya bawa 2 kaleng sarden saja untuk makan malam. Adanya makanan yang banyak dari Ko Melvin jadi kita sebut makan besar. Makan di bawah rindangnya pohon dan digoda oleh lembutnya angin.

Di Pos Kandang Batu, kita juga sepakat untuk menginap di Puncak atau Suryakencana. Awalnya Pak Sugianto menolak, lebih baik membuka tenda di Kandang Badak, tapi setelah melihat semangat 2 anak perempuan paling bontot ini, Pak Sugianto memutuskan kita akan menginap di Puncak. Setelah berbicara tentang Puncak, semuanya semangat. Jalan menuju Puncak menurut Hendrie lebih menanjak. Namanya juga puncak. Tapi kita tetap semua yakin bisa sampai Puncak dengan selamat. Dengan asumsi cuaca baik-baik saja. Padahal angin sudah membawa awan mendung, dan sudah terasa tetesan-tetesan air langit dengan intensitas sangat rendah. Toh itu tidak menyurutkan untuk tetap melaju. Di Pos Kandang Batu kita menikmati makan besar untuk persiapan menuju Puncak. Dengan trek yang lebih sulit dan kemungkinan tiba di atas pada malam hari, maka persiapan-persiapan seperti senter harus disediakan.

Perjalanan ke Puncak

Melewati sebuah curug yang indah yang tersembunyi dalam hutan dengan pohon-pohon yang tinggi, menaiki tanjakan yang mulai curam. Banyak orang sedang berendam di bawah curug yang jernih dihiasi warna cokelat bebatuan. Pengennya sih foto, tapi tidak jadi. Hendrie kembali sudah bergegas terlebih dahulu ke pos Kandang Badak. Waktu menunjukkan pukul 2 siang, dan kita masih berjalan melewati jalanan yang makin curam, tapi itu belum seberapa dibandingkan jalan menuju puncak. Energi sudah diisi dengan makan siang. Banyak pendaki juga yang lalu lalang, turun dan naik, saling nyalib itu biasa. Sesekali ke teman-teman pendaki yang turun, kita bertanya tentang suasana di Puncak. Kadang membesarkan hati, kadang mengecilkan hati. Soal tidak adanya air di Suryakencana, dan penuhnya tempat perkemahan di Puncak adalah hal-hal yang mengecilkan hati. Tapi hal-hal yang membesarkan hati adalah air tetap ada di Suryakencana dan di Puncak tidak terlalu penuh. Memang awalnya kita bersemangat untuk menginap di Suryakencana, dengan estimasi tiba sekitar pukul 8 malam.

Sempat ketemu orang Jepang, yang baru saja turun dari arah Kandang Badak. Mau ngomong apa saya nggak tau, cuma tau bilang ganbatte hehehe. Di depan, Pak Sugianto masih segar dalam berjalan, dan urutannya seperti pada posisi awal. Sesekali berbincang, dan sesekali Jasie dan Monica putar lagu, lagu-lagu galau ala ABG saat ini. Sangat tidak menarik hati, lagian lagu galau tidak mengubah fakta bahwa perjalanan masih jauh.

Agak jauh memang ke Kandang Badak dari Kandang Batu, tapi tidak sejauh perjalanan dari Payangcangan ke Kandang Batu. Wah bikin kaki pegal. Tiba di Kandang Badak, suasana tidak ubahnya seperti pasar, tapi tidak serame Pasar Tanah Abang. Sekeliling pandangan hanyalah tempat-tempat yang sudah diokupansi oleh tenda-tenda, ada yang berdiri sendiri dan ada yang seperti kompleks lengkap dengan teras. Ada juga yang hanya membuka matras, dan dudukan sambil berbincang. Sampah-sampah pun tidak luput dari penglihatan. Lama-lama saya bingung dengan istilah Pecinta Alam yang meninggalkan sampah cukup banyak.

Di Kandang Badak, istirahat sejenak. Mengisi air dan mencuci peralatan makan. Hendrie sudah ada lebih dahulu pun sibuk cuci. Yang lain mengisi air, botol-botol kosong dikeluarkan untuk diisi air. Botol-botol tersebut dimiliki semua orang, tidak ada yang komplain. Di Kandang Badak, aliran air tidak sekencang saat pendakian dengan Wury dan Andry. Lebih pelan dan tidak melimpah. Antrian juga lumayan, dengan susunan tempat-tempat makan para pendaki lain yang mengantri untuk dicuci. Pak Sugianto mengetes kemampuan filter yang dibelinya dengan mengambil air yang ada di bak yang sudah sejajar tanah. Dan memang, kemampuan filter itu luar biasa karena air jadi bersih tanpa satupun titik tanah yang ikut masuk ke dalam. Ada 4-5 botol air minum yang diisi untuk memenuhi kebutuhan air saat di Puncak.

Sekembalinya, istirahat tinggal 15 menit lagi. Jam mulai menunjukkan pukul setengah 4 sebelum kita mulai mendaki lagi.

***

 Kali ini bersama dengan Hendrie. Hendrie berada di paling depan bersama Pak Sugianto. Ketika mulai melangkah melanjutkan perjalanan ke Puncak, sudah tidak ada waktu lagi untuk mengganti rencana. Waktu sudah berjalan, dan keputusan sudah diambil. Jalan terus adalah hal yang harus dilakukan. Setelah melewati pertigaan antara ke Puncak Gede dan Puncak Pangrango, perjalanan mulai menanjak, perlahan namun pasti. Melewati tenda terakhir maka kita sudah memasuki hutan dengan pepohonan yang tinggi, akar-akar yang kuat membentuk tangga-tangga, dan tidak terlihat lagi jalan batu yang ada di sepanjang jalan dari pintu masuk Cibodas hingga Kandang Badak. Yang ada hanyalah tanah yang tertahan akar akibat adanya dorongan air dari puncak, batu-batu yang tidak teratur. Di beberapa tempat masih terlihat bentuk jalannya yang dari tanah.

Belum setengah jarak perjalanan, kita terhenti oleh Monica yang ingin BB. Setelah tidak menemukan tempat yang ‘menyukakan hati’ untuk menjawab panggilan alam tersebut, akhirnya terdapat sebuah pos bayangan lengkap dengan ‘sofa’. Kita berhenti sejenak. Terlihat Ko Melvin sudah kecapean, dan Joe sudah menghilang di balik pepohonan berjalan terlebih dahulu.

Teriakan Jasie mengguncang kita yang sedang bersantai ria di bawah pepohonan. Ternyata Jasie habis terkena ‘ranjau alam’. Pak Sugianto mencoba menenangkan anaknya yang bungsu itu. Anggap aja pengalaman, kira-kira seperti itu kata Pak Sugianto. Monica juga masih belum menyelesaikan ‘tugasnya’. Ko Melvin kemudian tertidur, mengigau beberapa kali. Saya, Hendrie, dan Pak Sugianto sempat terkejut, tapi Ko Melvin tengah pulas saat itu. Joe? Entah di mana posisinya. Kira-kira setengah jam kita berhenti saat itu.

Perjalanan awalnya menyenangkan dengan cuaca begitu mendukung. Lumayan cepat berjalannya, Joe juga belum bisa ditemukan. Hendrie juga terus berjalan dengan cepat. Tapi tak masalah karena Pak Sugianto juga bisa trekking. Kita sepakat untuk tidak melewati tanjakan setan, mengingat fisik harus dijaga, jadi jalur alternatif lah yang kita ambil. Agak curam, tapi tidak securam tanjakan setan. Kalo diingat-ingat pas pendakian pertama, melewati tanjakan setan saat subuh sangat menegangkan.

Setelah melewati jalur alternatif, perjalanan tinggal setengah lagi untuk mencapai pos puncak bayangan. Sesuai rencana, kita akan istirahat di sana dan melanjutkan perjalanan ke Suryakencana tapi jika sudah tidak sanggup maka kita akan buka tenda di puncak bayangan. Setelah melewati jalur alternatif, kita dapat bonus.

Titik-titik air dari langit yang kecil mulai berjatuhan menyapa kita yang ada di bawah langit dan terlindung pepohonan. Daun-daun yang lemah tidak mampu menghalangi titik-titik air tersebut. Awalnya kita mengira ini hanyalah sebentar, lama kelamaan titik-titik air berjatuhan lebih banyak dan lebih besar. Tas saya tidak memiliki rain cover, pasrah harus menerima basah. Kita terus berjalan dan hujan makin deras. Kita semua sudah berganti jaket anti air. Saya khawatir Joe karena dia tidak membawa perlengkapan untuk hujan selain yang ada pada tasnya.

Kita akhirnya menemukan Joe yang lagi berteduh. Saya memiliki rain coat, tawarkan ke Joe tapi tidak mau jadi saya pakaikan ke tas saya yang sudah kebasahan. Joe lebih memilih berbasah ria. Ko Melvin juga tidak membawa peralatan untuk mengantisipasi hujan sama sekali, dan so pasti basah semua tasnya. Badannya Ko Melvin hanya dilindungi jaket. Pak Sugianto, Jasie, Monica juga sudah berganti jaket anti hujan. Hendrie sudah melaju ke atas terlebih dahulu dan berharap dia menemukan tempat untuk membuka tenda.

Tidak ada jalan lain, kita harus tetap jalan walaupun capek! Itulah satu-satunya jalan untuk menjaga tubuh tetap hangat. Joe berada di depan, saya, Ko Melvin, Jasie-Monica, dan Pak Sugianto. Meminta istirahat dan berhenti dilarang. Kita harus berjalan terus untuk menghindari dingin masuk dalam tubuh. Ko Melvin yang sudah terlihat capek terus berusaha berjalan mengikuti kecepatan saya dan Joe. Senter pun terbatas, jadi saya mempunyai dua tugas yaitu menerangi jalan Ko Melvin dan menjaga jarak dengan Joe tetap dekat. Beberapa kali Ko Melvin terpeleset dan meminta istirahat sejenak, tapi perjalanan terus dilanjutkan. Hujan terus mengguyur, dan waktu menjelang jam setengah 6. Gelap mulai turun seiring hujan terus berjatuhan dari langit. Makin mendekati malam, suhu makin turun. Ditambah angin yang menerpa, bayang-bayang hipotermia sudah berada di pikiran.

Putus asa mulai mewarnai. Suara-suara orang banyak yang terdengar kadang mendekat tapi tidak tahu apakah memang sudah dekat karena kita berjalan terus dan belum terlihat titik perhentiannya. Jasie dan Monica coba berteriak tapi tidak ada tanggapan. Beberapa tenda kita lewati didirikan untuk beristirahat. Tidak ada tempat yang pas sebenarnya untuk mendirikan tenda di tempat ini. Joe sudah mulai bertanya apakah jalan ini sudah benar, kadang ada 2 jalan yang mempunyai tujuan yang sama membuat kita bingung. Kiri atau kanan? Pak Sugianto hanya berkata jalan terus. Dan itu memang opsi satu-satunya yang kita miliki, mau apalagi? Kalau kita berdiam, maka hangat dari dalam tidak akan keluar malah lebih membuat tubuh lebih dingin.

Sayup-sayup suara keramaian mendekat, dan puncak bayangan sudah kelihatan.

***

Ramai sekali di puncak bayangan. Ketika kita tiba, kita langsung mencari bantuan kepada teman-teman pendaki yang sudah membuka tenda. Kebersamaan begitu lekat, sehingga kita dipinjamkan tenda untuk ganti pakaian. Joe tampaknya mulai kebingungan mencari Hendrie, Ko Melvin juga bingung mau buat apa sementara badannya kedinginan. Akhirnya ada tenda yang bisa digunakan untuk ganti pakaian. Baju saya basah semuanya. Jadi tetap memakai baju sebelumnya yang tidak terlalu basah. Pakaian telah berganti, dan tenda yang kita pinjam akan segera dipakai. Dengan cepat kita segera keluar.

Posisi Hendrie tidak diketahui. Sempat bertemu, katanya dia mencari tempat untuk membuka tenda. Rupanya dia sudah menunggu kita hingga harus bolak-balik, dan bertemu di tenda tempat kita ganti pakaian. Hendrie kemudian menghilang dan mencari tempat untuk membuat tenda. Ko Melvin beristirahat dengan lelap di dalam salah satu tenda, di mana di dalamnya ada teman dari Tangerang bernama Heri. Monica dan Jasie juga ada di dalam. Joe berada di tenda yang lain. Pak Sugianto menghangatkan diri bersama teman-teman. Di dalam tenda juga kebasahan, si Heri pakaiannya basah semua jadi mengurung diri di dalam sleeping bag. Ada orang yang minta tolong, dia bilang bahwa temannya masih di bawah dan pingsan. Dia sendiri ke atas mencari temannya. Kemungkinan temannya pingsan terkena hipotermia. Dua hingga tiga orang turun ikut membantu, tapi salah satu kembali meminta bantuan logistik yang banyak termasuk air minum. Yang teman mencari pertolongan menghangatkan diri di dalam tenda dengan saya. Jasie-Monica juga mencari bantuan ke tenda-tenda lain untuk membantu seorang pendaki yang berada di bawah yang pingsan. Kebersamaan begitu erat di puncak bayangan ini. Minuman hangat dibagikan, walaupun tidak berasa tapi sudah cukup menghangatkan. Dan kita semua berbincang-bincang hingga Hendrie tiba memberitahukan bahwa tenda sudah jadi. Angin begitu kencang, amat kencang dengan suara nyaringnya.

Keluar dari tenda, serasa ingin nangis karena dinginnya suhu dan terpaan angin yang luar biasa kencang. Tenda sudah berdiri tidak jauh dari tempat kita menghangatkan diri. Tenda yang didirikan ada 3 dan tersembunyi di balik pepohonan untuk melindungi terpaan angin. Saya setenda dengan Joe dan Ko Melvin langsung beringsut masuk ke dalam sleeping bag, menghangatkan diri. Angin masih menerpa tanpa ampun. Tidur pulas pun susah di tengah angin yang berkecamuk. Sesekali mau tidur tapi tetap tidak bisa. Tidak tahu bagaimana yang ada di tenda lain. Pagi masih lama, waktu baru menunjukkan pukul 9 malam. Kita bertiga tidur berdekatan untuk menjaga kehangatan. Di luar masih ramai, tapi kita memutuskan untuk tidur menanti cuaca yang lebih bersahabat besok hari.

***

Suara Pak Sugianto terdengar memanggil untuk melihat matahari terbit, tapi mata dan fisik saya lebih nyaman berada di balik hangatnya sleeping bag. Dan kemudian pulas lagi di dalam mimpi. Saya bangun sekitar jam 7, masih meringkuk di balik hangatnya sleeping bag. Joe dan Ko Melvin sudah terjaga juga, dan Joe langsung mencari pakaian basah yang kita tinggalkan di tenda orang semalam. Baju-baju tersebut langsung dijemur. Cuaca cerah tapi angin masih mengganggu. Hangatnya mentari menjadi mubasir akibat kerasnya tiupan angin pagi itu.

P1020074Siluet Joe di balik mentari dan pepohonan.

Hendrie mempersiapkan kompor untuk ‘makan besar’. Logistik yang tersisa cukup untuk 2 kali makan besar. Awalnya mau makan indomie, tapi indomie yang dititip ke tenda orang sudah habis digasak. Tak apalah, toh kita masih ada kornet, maling, dan sarden. Sementara Hendrie masak, saya, Joe, dan Ko Melvin jalan-jalan sejenak untuk cari sandal Joe yang tertukar, ceritanya bagaimana pokoknya mirip sinetron.

P1020077Suasana di puncak bayangan. Di lokasi yang strategis untuk foto.

P1020086Ko Melvin dan Joe dengan latar alam di sekitar Gunung Gede.

P1020091Foto dengan para pendaki lain. Itu niat banget bawa bendera pramuka.

Sempat ngopi sebentar sebelum kembali ke tenda untuk packing barang-barang dan siap-siap untuk turun. Hanya saja, kita belum sampai ke puncaknya baru bayangannya saja. Jalan ke puncak tinggal dekat dan hanya melewati sedikit tanjakan saja, yang cukup panjang tapi. Pak Sugianto, Jasie, Monica, dan Hendrie sudah menikmati makan besar, kali ini giliran kita yang tadi abis jalan-jalan dan foto-foto menikmati makan besar. Maling, sarden, dan kornet habis disantap dan laku keras. Monica dan Jasie ingin ke puncak, begitu juga Joe. Ko Melvin masih terserah tapi Pak Sugianto tinggal. Angin masih begitu kencang menyurutkan niat Pak Sugianto untuk ke puncak. Hendrie juga sementara bersiap-siap packing barang-barang yang ada. Kita juga packing sedikit demi sedikit barang-barang yang ada sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak. Jam menunjukkan hampir setengah sepuluh pagi.

***

Pak Sugianto memilih untuk tinggal di bawah sembari kita (saya, Joe, Ko Melvin, dan Monica-Jasie) melanjutkan perjalanan ke puncak. Sudah terlihat dan angin masih kencang. Angin yang kencang memaksa kita berjalan perlahan, tapi makin menuju ke puncak tiupan angin tidak sekencang di bawah.

P1020094Joe, Jasie, Ko Melvin, dan Monica. Di belakang ada Gunung Pangrango yang tampak cerah.

Jalan ke Puncak tidaklah terlalu sulit karena dibantu oleh tali-tali di sebelah kiri jalan. Pemandangan indah terlihat memikat dan sering berhenti untuk mengabadikan pemandangan ciptaan Tuhan ini. Ada sebuah joke yang diungkapkan teman saya, katanya kita akan dengan mudah mengucapkan betapa indah alam ciptaan Tuhan tapi sulit sekali mengucapkan hal yang sama kepada ciptaan-Nya yang lain yaitu manusia. Saya hanya tertawa saat itu. Hamparan hijau pepohonan terlihat dari atas, asap putih membumbung ke atas menandakan adanya aktivitas vulkanik dari kawah. Gunung ini masih aktif tapi bersahabat. Di satu sisi kita bisa melihat indahnya Gunung Pangrango dengan hutan-hutannya yang gelap serta lereng-lerengnya yang elok. Di belakang Pangrango tampak dari kejauhan dua puncak Gunung Salak. Katanya kalau dari lembah Mandalawangi di Pangrango, kecantikan Gunung Salak bisa terlihat jelas. Cerahnya langit memberikan kita pemandangan yang jelas dari perjalanan ke Puncak Gede.

Pendaki-pendaki tampak gembira dengan suasana ini. Kata Joe, ada seorang pendaki yang begitu takjub dengan pemandangan dari Gunung Gede, padahal belum sampai puncaknya. Keindahannya tidak membuat mata ini bosan, dan aktivitas seperti ini semoga tidak akan luntur dan menjadi kebiasaan semata untuk menunjukkan diri hebat. Saat menghadapi hujan pada saat malam itu, berserah kepada Tuhan adalah cara terbaik. Dan melihat pemandangan yang menjadi ciptaan Tuhan ini membuat kita bersyukur, takjub, dan memuji Tuhan yang empunya semesta. Stephen Hawking mungkin belum pernah melihat pemandangan yang demikian indah sehingga dia sulit menerima eksistensi Yang Maha Kuasa.

P1020099

P1020101Foto-foto saat menuju Puncak Gede.

P1020102

P1020109

P1020110Jujur ya, ini saya nggak ngerti maksud gaya ini apa. Apa kepanasan? Masa sih panas.

P1020112Satu-satunya tempat yang gagal kita singgahi adalah Alun-alun Suryakencana. Monica begitu niat pengen ke sana, tapi apa boleh buat. Maybe next time.

P1020120Bendera merah putih itu bukan kita yang bawa, tapi ada rombongan lain yang membawanya. Jadi kita pinjam buat dipake foto-foto

P1020121Kali ini lengkap, minus Pak Sugianto dan Hendrie.

P1020122Ko Melvin tiba di Puncak Gede, 2958 mdpl!

P1020123Jasie dan Monica.

P1020130

Joe!

Kita tidak lama berada di Puncak Gede, mengingat perjalanan kembali masih panjang. Kecuali kita ingin tinggal beberapa hari lagi di sini. Sayang tidak bisa menikmati Alun-alun Suryakencana, padahal di sana merupakan tempat yang indah dengan bunga-bunga edelweiss yang memikat. Monica sudah begitu semangat, tapi jalur pendakian Gunung Putri ditutup jadi lebih baik tidak usah ke sana agar bisa menghemat tenaga saat kembali ke Cibodas.

P1020135

Perjalanan Pulang

Tidak enak sebenarnya menceritakan saat kembali ke Jakarta. Tapi terdapat kisah juga di perjalanan balik. Kita menuruni jalan-jalan berpasir yang tadi dilewati saat menuju puncak. Angin di bawah cukup kencang. Pak Sugianto dan Hendrie sudah selesai bersiap. Kita melakukan persiapan terakhir sebelum kembali ke Cibodas. Setelah selesai, kita tunduk berdoa mengucap syukur sembari meminta pertolongan Tuhan dalam menuntun dalam perjalanan kembali. Lagu Nidji yang menjadi soundtrack film 5 cm menjadi penyemangat, Di Atas Awan.

Perjalanan kembali pun dimulai. Kita singgah sejenak kepada teman-teman pendaki yang sudah menolong kita pada Sabtu malam. Mereka masih sibuk dengan kegiatan mereka, belum bersiap untuk turun. Kita mengucapkan selamat tinggal, dan semoga bertemu lagi di lain kesempatan walau nanti mereka akan bertemu dengan kita saat berada dalam perjalanan kembali. Tidak lupa pula kita menargetkan waktu tiba sebelum jam 9 malam agar kita bisa nebeng dengan teman-teman Budi Luhur.

Tempat tidur empuk yang ada di kamar tidur adalah semangat dalam melewati rintangan. Beberapa pendaki yang sementara naik bertanya seberapa dekat diri mereka dengan puncak, dan jawaban kita adalah ‘sudah dekat, semangat!’. Hendrie sudah mendahului kita menuju Kandang Badak. Perjalanan terasa ceria di bawah hangatnya mentari, maklum sudah siang.

Kalau melihat apa yang kita lewati pada malam harinya, terasa berat. Tapi pas saat turun terasa mudah, namun tetap berjalan mengikuti irama. Kita berhenti sejenak saat akan melewati tanjakan setan. Untungnya, kita berhenti dan numpang tanya. Jalur alternatif adalah jalan yang kita pilih karena fisik dan beban tidak mendukung untuk melewati tanjakan setan. Lagian, kemungkinan jalan tanjakan itu licin akibat hujan semalam. Beberapa waktu kemudian ada pendaki yang lewat dari bawah, sehingga kita bisa bertanya. Kita pun melewati jalur alternatif.

P1020146

P1020147

Menjelang Pos Kandang Badak, Monica jatuh dan terkilir. Dia tidak hati-hati dan terlalu semangat sehingga tidak memperhatikan fisiknya. Terkilirnya Monica membuat estimasi waktu kita tiba di Cibodas bertambah. Kita satu tim jadi harus memperhatikan satu sama lain. Joe dan saya membawa tas Monica ke Kandang Badak, sementara Pak Sugianto, Jasie, dan Ko Melvin menemani Monica. Mereka berjalan perlahan. Saya dan Joe tiba di Kandang Badak memberitahukan kepada Hendrie, yang kemudian langsung menjemput barang-barang dari Jasie dan Ko Melvin. Kelihatannya mereka sudah begitu capek dan harus istirahat. Untung Kandang Badak sudah tidak begitu jauh dan jalan yang dilewati tidak begitu curam.

Di Kandang Badak kita juga makan besar. Makan siang. Kompor-kompor dinyalakan, dan matras-matras dibuka. Monica coba dipijat oleh Hendrie menggunakan balsam. Beberapa dari kita cuci tempat makan yang kotor, sembari mengisi botol-botol air minum. Makanan yang tersisa ada maling, kornet, dan pop mie. Kuah dari pop mie coba kita bagi bersama. Biar segar. Lahap kita menyantapnya, kemudian setelah selesai mencucinya kembali. Sampah-sampah dikumpulkan dan disatukan dalam tas plastik yang sudah ada sebelumnya. Monica dengan kaki terkilirnya tidak akan sanggup membawa carrier yang berat, jadi Hendrie mengambil alih tugasnya.

Hendrie berjalan lebih dahulu dengan titik pertemuan adalah Payangcangan. Kita kemudian menyusul Hendrie dengan kecepatan lambat, lebih lambat daripada saat kita naik. Karena Monica mengalami kesulitan saat berjalan, jadi Pak Sugianto membantu dan lebih memprioritaskan Monica untuk dibantu. Ko Melvin bersama saya dan Jasie bersama Joe. Suasana masih terang karena sore akan jelang.

Untuk meramaikan suasana, ya kita ngobrol. Suram rasanya perjalanan tanpa ada obrolan sepanjang jalan. Kandang Batu menjadi tempat pertama kita beristirahat setelah berjalan dari Kandang Badak. Walaupun sempat terhenti karena Pak Sugianto menyarankan mengganti sandal Monica dengan sepatu beliau. Dan saya sudah berjalan lebih dahulu mencapai Kandang Batu. Kita harus melewati air panas sebelum gelap turun, karena adanya kawan yang terkilir ditambah gelap akan berbahaya. Untung kita tiba di air panas dan sempat beristirahat sejenak. Saat turun, jumlah kita beristirahat lebih banyak dan sering ketimbang saat kita naik. Mungkin ini karena kelelahan fisik.

Saat malam menjelang, senter dikeluarkan. Perjalanan jauh lebih lambat, pertama karena Monica terkilir dan kita harus tetap bersama, kedua fisik kita sudah terkuras akibat hujan yang menerpa pada malam Sabtu. Tapi tidak mengurangi suasana untuk obrolan-obrolan ringan. Ada suatu kejadian lucu, saat gelap turun menyelimuti kita, seekor kunang-kunang turun dengan cahayanya yang memikat. Tapi karena kita takjub dengan keindahannya jadi mengarahkan lampu-lampu senter ke arah kunang-kunang tersebut yang kemudian menghilang dibalik cahaya senter. Akhirnya bisa terlihat jelas ketika kita semua mematikan lampu senter itu.

Jasie adalah rekan yang paling capek saat itu. Baru sadar ketika melihat Joe membawa tasnya. Sebenarnya agak khawatir dengan Jasie yang tidak mau berterus terang kalau dia capek, tapi tetap terus berjalan. Padahal kita tidak akan melihatnya sebagai penghambat, toh semua juga akan terima kalau ada yang capek dan beristirahat. Pak Sugianto juga baru sadar saat di rumah ketika Jasie bercerita. Seberapa jauh lagi pertigaan itu, saya dan Pak Sugianto hanya bisa memberikan semangat “sudah dekat” dan kadang beberapa pendaki menyatakan bahwa dekat itu masih sekitar 1,5 jam yang justru membuat semangat teman-teman lain bisa jatuh.

Hujan kembali turun deras ketika kita tiba di rumah tua di Payangcangan. Dengan fisik yang terkuras langsung saja kita membuka matras dan mengambil sleeping bag untuk beristirahat. Jam saat itu sekitar pukul setengah 10 dan derasnya hujan membuat kita berhenti lama. Saat kantuk mulai menyapa untuk tidur lebih lama, Hendrie datang menyapa dan membawa kabar bahwa hujan sudah berhenti. Perjalanan, jika berjalan normal bisa ditempuh dalam waktu 1 hingga 1,5 jam. Monica nanti akan digendong Hendrie dan berjalan lebih dahulu. Toh Hendrie juga punya fisik yang terbatas dan tidak bisa selamanya menggendong Monica yang lebih berat darinya.

Kita menjumpai Hendrie dan Monica di ujung jembatan batu. Karena Hendrie membutuhkan bantuan, jadi saya yang menemani mereka dan rombongan lain berjalan lebih dahulu. Dalam perjalanan bersama Hendrie dan Monica, kita terlibat percakapan seru mengenai kehidupan. Dan di dalam perjalanan itu pula saya menaruh simpati yang amat dalam kepada Hendrie setelah mendengar kisahnya. Hendrie putus sekolah sejak kelas 1 SMP, kini dia berusia 23 tahun. Dia lebih muda 2 tahun dari saya, Monica juga kaget mendengar ceritanya. Saat ini dia bekerja membantu temannya di perkebunan bunga. Dia menceritakan bagaimana dia mendapatkan luka jahitan di kepala sebanyak 15 jahitan yang membuat Monica setengah mati penasaran dan meminta Hendrie untuk mengizinkannya memegang luka jahitan itu. Saat ini dia sedang mencoba pekerjaan sampingan dengan menjadi porter dengan bantuan kakak sepupunya Dilau. Menurut Hendrie, dia belum pernah mendaki gunung lain selain Gunung Gede. Tapi dia akan mencoba mendaki Gunung Pangrango jika memiliki waktu.

Mendekati Cibodas, kita dijemput oleh Pak Sugianto yang kembali. Mungkin khawatir kenapa kita belum sampai juga. Tenaga Hendrie terkuras karena belum makan, terakhir di Kandang Badak. Signal handphone yang sudah ada membuat saya menghubungi Pak Sugianto sebelum beliau datang menjemput. Monica juga mengirimkan pesan kepada mama dan papanya. Saya juga melihat perkembangan AC Milan melawan Juventus melalui salah satu media sosial. Kita tiba di Cibodas sekitar pukul 3 subuh, Senin (7/10). Saya melewatkan ulang tahun papa yang jatuh pada tanggal 6 Oktober, saya masih di puncak dan berjuang untuk kembali pada hari itu. Setibanya di Cibodas, kita disambut dengan enaknya Joe, Jasie, dan Ko Melvin tiduran. Indomie kuah rasa soto pakai telor menyambut, dengan teh manis hangat. Saya pulas tertidur di kursi tempat kita makan indomie. Pak Sugianto membangunkan kita dan bersiap untuk kembali ke Jakarta dengan mobil carteran. Saya tiba di kosan sekitar jam 9 pagi, dan sehabis mandi langsung tenggelam dalam mimpi panjang.

Saya bertemu dengan Joe dan Pak Sugianto, pada hari Selasa dan Rabu. Bagi Joe, perjalanan ini sangat menarik dan dia berharap sebelum tahun 2014, kita akan melakukan satu kali lagi pendakian ke Gunung Gede dengan persiapan yang lebih matang. Saya ketemu dengan Pak Sugianto pada hari Rabu, beliau mengatakan bahwa pendakian saat itu adalah pendakian paling berat yang pernah beliau hadapi. Karena kebanyakan kita belum kenal satu sama lain, karakter dan fisik yang masih belum dikenali. Saat itu beliau juga cerita mengenai Jasie yang kelelahan dan hampir menangis.

Pendakian yang berat memang, tapi tentu akan sulit dilupakan. Dan dari sana kita belajar untuk tidak pernah menyepelekan alam, seperti tidak memperkirakan akan terjadinya hujan padahal wilayah Gunung Gede curah hujan cukup tinggi. Kemudian kebersamaan yang dirasakan selama perjalanan begitu dalam, sehingga dari tidak saling kenal menjadi kenal satu sama lain walau hanya selama berada di Gunung Gede. Perjalanan mendaki gunung semoga tidak akan menjadi suatu rutinitas, tapi memiliki suatu nilai dalam arti persahabatan.

Kategori:What I See
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: